Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2019

Kogoro Mouri, Ayahku, A Detective Conan Fanfiction

Sinopsis: Conan tidak sengaja memanggil Mouri dengan sebutan 'Ayah' saat mereka sedang makan di restoran. One shot, warning: OOC

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baik bagi Conan, Ran, maupun Mouri. Mereka baru saja menyelesaikan kasus pembunuhan yang cukup rumit, dimana seorang pesepak bola terkenal Jepang Hidetoshi Nakata menjadi korban. Untunglah, lagi-lagi, berkat Conan, yang seperti biasa dengan jitu membius Mouri dengan jam tangan biusnya, kasus itu dapat terpecahkan. Nakata ternyata dibunuh oleh rekan setimnya sendiri, Junichi Inamoto. Inamoto merasa kesal gara-gara Nakata, ia lebih sering duduk di bangku cadangan. Pelatih lebih sering memakai Nakata di setiap pertandingan.

Adik Nakata, Izawa, sangat berterima kasih kepada Mouri karena telah berhasil menangkap pembunuh kakaknya. Ia kemudian membayar Mouri dengan bayaran yang sangat besar— yang membuat Mouri sendiri terbelalak saat menerima uang itu.

"Anak-anak," Mouri berdeham sambil menolehkan kepalanya ke Conan dan Ran, "Bagaimana jika kita makan di Restoran Kitcho? Untuk merayakan keberhasilan kita dan melepas stress?"

"Huwaaah… Ayah, benarkah?! Restoran Kitcho itu kan restoran termahal di Tokyo!" ucap Ran.

"Tidak apa-apa! Apa salahnya sekali-kali kita makan enak?" jawab Mouri sambil tertawa terbahak-bahak dengan kencang seperti biasanya. "Ayo, kita berangkat sekarang!"

Mereka bertiga kemudian berangkat dengan menggunakan taksi. Saat mereka sampai, mereka memandang interior restoran itu dengan penuh kekaguman. Tidak salah mengapa restoran ini menjadi restoran termahal di Jepang. Tempatnya sangat mewah, lokasinya berada persis di depan laut. Lantainya sangat bersih sehingga pengunjung bahkan dapat bercermin. Bahkan meja dan bangkunya pun terlihat sangat mewah.

Setelah mereka bertiga duduk, pelayan kemudian mengantarkan menu.

"Ini, silahkan, Tuan," ucap si pelayan sambil memberikan menu masing-masing satu untuk Ran, Mouri, dan Conan.

"Pilih saja makanan yang ingin kalian mau, Ran, Conan," ucap Mouri.

Conan membuka menunya perlahan-lahan, dan terbelalak. Belum pernah ia melihat makanan dengan harga semahal itu.

"Paman, harga makanannya mahal sekali. Apa Paman bisa membayar semuanya?" tanya Conan dengan polos. Ran mengangguk dengan setuju.

"Iya, Ayah, ugh, harganya hampir sama dengan biaya sewa uang kantor kita selama sebulan!"

Mouri kembali tertawa terbahak-bahak. "Tenang saja, Conan, Ran, adik Nakata memberikan aku honor yang sangat besar! Sudahlah, tidak perlu khawatir, pilih saja makanan yang kalian mau! Kau mau makan apa, Ran?"

Ran membaca menunya dengan sedikit ragu. "Hmm… Baiklah… Aku mau makan.. apa ya…? Hm… Baiklah, aku mau makan Tempura saja. Dengan lemon tea."

"Oke. Kalau kau mau makan apa, Conan?"

"Aku mau makan udon dengan es krim stroberi saja, Paman."

"Huh, dasar anak-anak." Mouri lalu menjentikkan jarinya. "Pelayan! Kami mau pesan!"

Pelayan kemudian berlari ke meja mereka dengan membawa sebuah pulpen dan kertas.

"Pesanan kami adalah 1 tempura, 1 lemon tea, 1 udon, 1 es krim stroberi, 1 Sukiyaki, dan 1 gelas sake."

"Baiklah, Tuan. Saya sudah mencatat pesanan anda. Mohon tunggu sekitar 20 menit."

"Baik. Jangan lama-lama, ya. Aku sudah lapar sekali," ucap Mouri sambil menepuk-nepuk perutnya dengan keras. Ran yang malu melihat tingkah laku ayahnya itu, langsung menyenggolnya dengan keras. "Ayah! Jangan bersikap seperti itu dong! Malu-maluin, tahu!"

Mouri hanya nyengir sambil menggosok-gosok belakang kepalanya. Sementara Conan memandangnya dengan sedikit jengkel.

Huh, dasar paman, selalu saja begitu, tidak pernah berubah dari dulu.

20 menit kemudian, pesanan mereka semua akhirnya datang. Ternyata porsi makanan di restoran itu sangat besar. Apalagi untuk ukuran Conan yang badannya sangat kecil. Conan terbelalak melihat mangkuk udon super besar di hadapannya.

"Mari makan!" ucap Mouri dan Ran secara bersamaan. Mereka kemudian mulai makan. Akan tetapi, Conan kesulitan memakan udonnya karena sendok yang diberikan sangat besar sedangkan tangan Conan sangat kecil. Ia sampai harus mengubah posisi duduknya menjadi berlutut di kursi agar bisa makan dengan lebih mudah. Saat mencoba menyendok lagi, sedikit kuah udonnya malah tumpah ke dasi kupu-kupunya.

"Aduh, kau ini kenapa, Nak?" ucap Mouri. "Kalau makan jangan berantakan!"

"Maaf, Paman, tapi sendoknya terlalu besar, aku jadi kesulitan buat makan," jawab Conan dengan salah tingkah.

"Begitu, ya? Sini, tukar saja sendok kau dengan sendok aku. Dan sini, aku bersihkan dulu dasi kupu-kupu kau," ucap Mouri lagi sambil mengelap dasi kupu-kupu Conan dengan serbet dan memberikan sendok yang kecil ke tangan Conan. Conan menerima sendok itu, lalu berkata,

"Terima kasih, Ayah."

Mouri dan Ran tersentak dan menoleh dengan cepat. Conan sendiri kaget sendiri dengan apa yang baru saja dikatakannya. Wajahnya langsung merah padam.

Sial… Kenapa sih tiba-tiba aku memanggil Paman dengan sebutan 'Ayah?' Aduh, aku harus ngomong apa? Duh, aku jadi salah tingkah begini kan…

"Kau memanggil aku Ayah, Conan?" tanya Mouri.

"A-a-aku t-tak s-sengaja, P-paman M-mouri! M-maafkan aku! A-aku t-tak bermaksud k-kurang ajar kepada P-paman!" jawab Conan dengan gugup. Tapi Mouri tidak berkata apa-apa lagi. Suasana yang seharusnya ceria, berubah menjadi canggung. Mereka bertiga melanjutkan makan dalam diam sampai makanan mereka habis, kemudian pulang ke rumah.

Di rumah, Mouri masih tidak berkata apa-apa tentang kejadian di restoran tadi. Ia bahkan tidak bicara dengan Conan. Uh-oh, jangan-jangan Paman marah karena aku tidak sengaja memanggilnya Ayah tadi… Ah, kalau begitu, aku harus minta maaf kepada Paman!

Dengan gugup, Conan kemudian melangkah ke ruang TV. Disana, Ran dan Mouri sedang asyik menonton TV. Conan berjalan menghampiri Mouri dengan takut-takut.

"Eh? Conan, kamu belum tidur? Kami kira kamu sudah tidur," ucap Ran. Sementara Mouri tidak mengalihkan pandangannya dari televisi.

"Aku…" Conan menelan ludah. "Aku ingin minta maaf kepada Paman."

Tiba-tiba saja Mouri menolehkan kepalanya, dan tampak keheranan.

"Maaf? Maaf untuk apa, Conan?"

"Karena tadi aku sudah kurang ajar memanggil Paman dengan sebutan 'Ayah' di restoran. Paman, aku benar-benar tidak bermaksud! Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut aku! Aku tahu, aku tidak pantas memanggil Paman dengan sebutan seperti itu, mengingat aku bukan siapa-siapanya Paman… Aku mohon, jangan marah, Paman!" ucap Conan dengan terbata-bata, suaranya tercekat, dan air mata jatuh di pipinya.

AGH! Kenapa aku jadi nangis gini, sih?! Dasar cengeng!

Sunyi selama beberapa saat.

Lalu, betapa herannya Conan, Mouri bangkit dari sofa, kemudian secara perlahan-lahan berlutut di depan Conan sehingga tinggi mereka sama sekarang. Mouri lalu menaruh tangan kirinya di atas bahu Conan, kemudian menghapus air mata Conan dengan tangan kanannya.

"Conan, kau rindu ayah kau, ya?"

Huh? Ini bukan jawaban yang diduga Conan sama sekali, tapi ia tidak bisa membantahnya. Ia memang sangat merindukan ayahnya yang sekarang masih tinggal di Amerika. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, paling hanya berkomunikasi sebentar saja lewat telepon. Maka, ia mengangguk perlahan.

"Aku mengerti. Ayah kau kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit… sedangkan kau masih sangat kecil. Akan sangat mengherankan kalau kau tidak merindukan ayah kau."

"Jadi…. Paman tidak marah?"

Mouri tersenyum kecil, kemudian menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku harus marah, Conan? Malah, aku menyukainya."

"Menyukainya? Maksud Paman…?"

Mouri mengangguk kecil. "Ya. Aku menyukainya saat kau memanggil aku 'Ayah.' Kau boleh tetap memanggil aku seperti itu, jika kau mau. Lagipula, meski aku sering kasar kepada kau, tapi sejak ada kau, aku selalu bisa memecahkan kasus, nama aku menjadi terkenal, bahkan penghasilan aku menjadi lebih besar. Untuk itu, aku harus berterima kasih pada kau, Nak. Kau seolah-olah seperti malaikat yang tiba-tiba datang untuk menolong aku dan Ran," ucap Mouri dengan nada suara penuh kebapakan sambil menepuk kepala Conan dengan lembut. Conan tercengang. Apakah Mouri yang di depannya ini adalah Mouri yang sama, yang sehari-harinya besar kepala, sering mabuk-mabukan, dan juga sering membuatnya jengkel? Tapi bagaimana pun, ia harus berterima kasih kepada Mouri, Mouri mau menerimanya dengan tangan terbuka, Mouri selalu mengajak ia dan Ran kemanapun ia pergi, seakan-akan ia adalah anggota keluarganya. Meski awalnya sedikit ragu, tapi Conan akhirnya memberanikan diri untuk memeluk Mouri. Lagipula, jika ia dan Ran nanti resmi menikah, toh Mouri memang akan menjadi ayahnya pada akhirnya, bukan?

"Terima kasih juga untuk segalanya, untuk menerima aku tinggal bersama kalian, untuk menjadi bagian dari keluarga kalian…. Ayah."

"Sama-sama, Conan, putraku." Mouri membalas pelukan Conan dan sedikit mengacak rambutnya.

Ran tersenyum dan tidak terasa, ia ikut menangis terharu melihat kejadian menyentuh itu.

"Ayah, aku tak menyangka Ayah bisa sweet seperti itu."

Mouri tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya dengan salah tingkah.

"Nah, Conan, sudah malam, sudah saatnya kau pergi tidur. Anak kecil tidak boleh tidur larut malam," perintah Ran. Conan menundukkan kepalanya.

"Baik, kak Ran. Selamat malam, kak Ran. Selamat malam, Ayah."

"Selamat malam, Conan. Mimpi indah, ya."

Lalu Conan pergi ke kamarnya dengan perasaan sangat bahagia. Ia bersyukur meski keluarganya berada ribuan mil jauhnya, ia memiliki keluarga lain yang akan selalu bersamanya. Yaitu Ran dan Mouri.

Senin, 11 Januari 2016

LINE, Aplikasi yang mengajarkan memaafkan

Cerita ini adalah cerita yang saya tulis untuk mengikuti lomba LINE Story bulan Ramadhan 2015 lalu...silahkan membaca! :)
Rasyad dan Raffa adalah seorang kakak-adik yang tinggal di Bandung. Keduanya begitu akrab dan saling menyayangi. Rasyad, sang kakak, yang berusia 20 tahun, sangat lihai bermain gitar. Sang adik, Raffa , yang berusia 13 tahun memiliki bakat yang begitu luar biasa dalam bermain sepakbola. Mereka berdua begitu dekat, sangat jarang sekali bertengkar hingga membuat banyak orang iri.
Suatu hari, di hari pertama bulan Ramadhan, yang bertepatan juga dengan ulang tahun Raffa yang ke 14, Rasyad bermaksud untuk mengajak sang adik ke Dunia Fantasi, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kebetulan, ia mendapat dua voucher gratis masuk ke Dufan dari teman sekantornya. Tentu saja Raffa senang sekali, karena sudah lama ia memang ingin pergi ke dunia fantasi. Dengan antusias, Raffa sudah bersiap-siap dari siang hari. Ia memakai pakaian terbaiknya dan menunggu sang kakak pulang di ruang tamu.
Pukul 4 sore, Rasyad pulang dari kantor. Setengah geli ia melihat Raffa yang sudah sangat siap menunggunya di ruang tamu. “Sudah tidak sabar rupanya? Rapi sekali kau,” ujar Rasyad setengah menahan tawa. “Ya kan biar nanti tidak buru-buru. Ayo kak cepat ganti bajunya, nanti jalanan macet,” jawab Raffa polos sambil setengah meloncat. Masih dengan menahan tawa, Rasyad melangkah ke kamarnya dan bersiap-siap.
Setelah Rasyad bersiap-siap selama kurang lebih 10 menit, berangkatlah mereka. Rasyad menyetir mobilnya dengan sangat hati-hati. Benar dugaan Raffa, jalanan sudah lumayan macet dimana-mana. Dengan gelisah Rasyad berkali-kali melihat arlojinya. Kalau begini terus, bisa-bisa sampai ke Dufan sudah tutup, keluh Rasyad dalam hati.
“Raffa, kamu tidak keberatan kan kalau kita ambil jalur lain? Macet dimana-mana. Bisa-bisa nanti ketika kita sampai Dufan sudah tutup,” kata Rasyad lembut. Raffa menoleh. “Terserah kakak saja, yang penting kita ke Dufan,” jawabnya sambil tersenyum. Rasyad kemudian memutar setirnya dan mencari jalan alternatif lain. Cukup lama mereka berputar-putar mencari jalan lain. Berkali-kali Rasyad melirik adiknya yang tampak gelisah. Rasyad bertekad tidak akan mengecewakan sang adik di hari ulang tahunnya ini. Ia pun menambah kecepatan mobilnya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dari arah berlawanan melaju sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Rasyad, yang sudah terlanjur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak dapat menghentikannya. Dan... BRAK!!! Tabrakan pun tak dapat dielakkan lagi. Rasyad hanya mendengar jeritan sang adik setelah itu ia tak sadarkan diri dan tak ingat apa-apa lagi.
Perlahan-lahan Rasyad membuka matanya. Segalanya tampak putih. Apakah aku sudah mati? Apakah ini di surga? pikir Rasyad. Rasyad mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Seorang perawat bertubuh mungil kemudian masuk. “Eh Nak Rasyad, sudah sadar, syukurlah..” ucap si perawat. Rasyad tidak dapat berpikir jernih. Tiba-tiba ia teringat dengan adiknya.
“Raffa! Raffa dimana, sus? Bagaimana keadaan adik saya?” tanyanya histeris. “Tenang Nak, kami rasa dia akan baik-baik saja. Memang dia belum sadar,” jawab sang suster lembut. “Saya mau melihatnya sus, dimana dia?” seru Rasyad. “Baiklah kalau begitu, akan kuantar kau kesana,” jawab sang suster dengan keibuan. Dengan dipapah sang suster, Rasyad berjalan terpincang-pincang ke kamar adiknya dirawat.
Alangkah terkejutnya Rasyad melihat sang adik yang terbaring lemah, penuh dengan luka dan lebam disana-sini. Rasyad meringis melihat berbagai macam selang dan infus dipasang di sekujur tubuh Raffa yang mungil. Perlahan-lahan, air mata Rasyad menetes. Ia membelai rambut adiknya dan berbisik, “Maafkan kakak ya de...” ucapnya lirih.
3 hari berlalu, Rasyad pun dinyatakan sehat dan boleh pulang ke rumah. Tapi Rasyad menolak karena ingin menjaga Raffa yang masih belum sadarkan diri. Dalam hatinya Rasyad tak henti-hentinya berdoa agar Allah tidak mengambil adik yang sangat ia sayangi.
Hari keempat di rumah sakit, Raffa akhirnya sadar, membuka matanya perlahan-lahan saat Rasyad sedang membacakan ayat-ayat Al-Quran di sampingnya.  Hati Rasyad melonjak gembira saat melihat mata adiknya terbuka. “Alhamdulillah ya Allah Kau mengabulkan doaku,” ucap Rasyad lirih. Rasyad langsung mencium rambut adik kesayangannya itu. “Bagaimana perasaan kamu, de? Maafkan kakak ya...” bisik Rasyad. “Haus,” ucap Raffa pelan.
“Sebentar kakak ambilkan minum,” ujar Rasyad. Ia kemudian mengambilkan minum dan membantu Raffa menghabiskan minumannya. Tiba-tiba saja Raffa mengernyit.
“Ada apa, dik? Minumannya tidak enak?” tanya Rasyad cemas. Raffa menggeleng lemah. “Bukan, kak. Kakiku kok tidak bisa digerakkan sama sekali ya?” tanya Raffa polos.  Bagai disambar petir Rasyad mendengar jawaban Raffa. “Apa?” pekiknya. “Coba gerakkan yang kiri, kemudian yang kanan,” kata Rasyad sambil memencet-mencet kaki sang adik. “Tidak bisa, kakak, kakiku seperti diikat di tempat tidur,” ucapnya. Masih terkejut, Rasyad memanggil dokter. Selama 20 menit Rasyad menunggu Raffa diperiksa oleh dokter. Rasyad berdoa dalam hati tidak akan terjadi apa-apa terhadap Raffa. Firasatnya tidak enak saat dokter keluar, karena wajah sang dokter tampak kusut.
“Apa yang terjadi pada adik saya, dok?” tanya Rasyad, takut mendengar jawaban sang dokter. “Tulang punggung adik kamu patah, Rasyad,” jawab sang dokter pelan. Rasyad menelan ludah. “Dan?” tanyanya takut. “Adikmu tidak akan bisa berjalan lagi. Ia lumpuh,” jawab dokter sambil menghela nafas.
Perlahan-lahan Rasyad merosot ke dinding. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. Mengapa jadi seperti ini, ya Allah? Mengapa niat aku untuk menyenangkan adikku malah menjadi malapetaka seperti ini? batin Rasyad pedih.
BRAK! Tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh. Dengan panik Rasyad berlari ke dalam kamar rawat Raffa. Didapatinya Raffa sudah tergeletak di lantai. Dengan sigap Rasyad menggendong Raffa. “Apa yang terjadi, Kak? Kenapa aku tidak bisa berdiri, malah terjatuh?” tanya Raffa polos saat sudah kembali berbaring di tempat tidur. Rasyad tidak tega untuk menjawab pertanyaan sang adik.
“Apa aku lumpuh, kak? Aku akan ditaruh di kursi roda?” desak Raffa lagi. Rasyad berpikir tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya dari Raffa. Dengan pedih ia mengangguk pelan. Tak disangka-sangka, Raffa kemudian menarik tangannya dari tangan Rasyad. Rasyad tertegun.
“Ada apa, Raffa?” tanya Rasyad heran. “Jangan sentuh aku lagi, Kak! Aku tidak mau ketemu kakak lagi! Semua ini gara-gara kakak! Gara-gara kakak!! Keluar ! Keluar kak! Aku tidak mau melihat wajah kakak lagi!” jerit Raffa. Tercengang, Rasyad tetap terpaku pada tempatnya. Tidak lama kemudian, dokter yang mendengar jeritan Raffa tergopoh-gopoh masuk.
“Ada apa ini? Kenapa kau berteriak-teriak, Raffa?” tanya Pak Dokter dengan lembut. “Dia, dok! Aku tidak mau ketemu dia! Dia yang sudah membuat aku cacat seperti ini! Aku ingin dia keluar!” teriak Raffa sejadi-jadinya. Perlahan Pak Dokter menghampiri Rasyad dan meletakkan tangannya di atas bahu Rasyad.
“Nak, lebih baik kau keluar dulu, tunggu sampai adikmu tenang. Paling besok juga dia sudah tenang,” ucap Pak Dokter. “Tapi, Dok...” kata Rasyad pelan. Pak Dokter menggelengkan kepalanya. Akhirnya Rasyad mengalah dan melangkah ke luar.
Hari-hari berikutnya, Raffa ternyata masih belum bisa menerima Rasyad kembali. Ini membuat hati Rasyad merasa sangat terluka. Adiknya yang begitu akrab, tidak bisa dipisahkan, sekarang rasanya jauh sekali. Rasyad juga merasa sangat bersalah karena telah membuat adiknya lumpuh. Berbagai cara dilakukan Rasyad untuk meluluhkan kembali hati sang adik, dimulai dari memberikan bunga, coklat, dan mainan, tapi itu semua tidak berhasil. Raffa tetap tidak mau berbicara dengan Rasyad. Sungguh merana Rasyad dibuatnya. Ia ingin sekali bisa kembali berbicara dengan Raffa.
Suatu hari, Rasyad sedang mengutak-ngatik smartphonenya. Ketika sedang mengakses internet, ia membaca review tentang sebuah aplikasi Instant Messaging bernama “LINE.” Dalam review tersebut, aplikasi instant messaging ini sedang hits, memiliki banyak fitur, dan membantu orang-orang dalam berkomunikasi. Tertarik, Rasyad pun mendownload aplikasi LINE tersebut. Ia berharap dapat kembali berkomunikasi dengan sang adik melalui aplikasi ini.
Setelah menunggu beberapa menit, Rasyad selesai menginstall aplikasi LINE dalam smartphonenya. Dengan iseng, ia pergi ke tombol “Add Friends” kemudian ia mencari nama adiknya, siapa tahu adiknya memakai aplikasi LINE juga. Dan... tara! Ternyata ID adiknya ditemukan. Rasyad kemudian meng-add-as friend Raffa.
Dengan jempol gemetar, Rasyad menulis pesan yang berbunyi, “Adikku yang tersayang, Please Forgive Me. I don’t know what I do. Please forgive me, I can’t stop loving you.” Rasyad kemudian mengirimkan pesan itu kepada id LINE Raffa.
Tring! Hp Raffa berbunyi. Raffa yang tidak pernah lepas dari handphone nya, langsung mengecek. Cukup terkejut ia melihat pesan LINE dari kakaknya. Raffa membacanya, tapi ia masih sangat marah. Ia langsung menghapus pesan itu.
Sementara itu, Rasyad yang gelisah menunggu balasan dari Raffa, tidak henti-hentinya mengecek handphone nya. Alangkah sedihnya ia saat melihat pesan yang ia kirim sudah berstatus “Read”. Rasyad tidak menyerah. Ia tetap berusaha minta maaf kepada Raffa. Ia kembali mengetikkan pesan untuk Raffa.
“Dear Raffa my lovely brother... kakak tahu kakak bersalah, sangat bersalah karena telah membuat kamu tidak bisa berjalan lagi.. tapi kakak mohon, maafkan kakak, kakak ingin kita seperti dulu lagi, bermain bersama, jalan-jalan bersama, kakak ingin melihat kehangatan mata kamu lagi, dik. Kakak mohon bukakan pintu maafmu untuk kakak, karena kakak sendiri tidak ingin kejadian seperti ini terjadi...” Sambil mengelap ingusnya, Rasyad kembali mengirimkan pesan LINE kepada Raffa.
Tring! Handphone Raffa kembali berbunyi. Raffa tetap tidak menghiraukan pesan LINE Rasyad. Ia hanya membacanya namun tetap enggan membalasnya. Rasyad pantang menyerah. Ia terus mengirimkan pesan LINE yang berisikan permohonan maaf, juga stiker-stiker lucu yang akhirnya membuat Raffa tertawa. Tapi tetap saja, Raffa tidak mau membalas pesan Rasyad. Karena jengkel, Raffa bermaksud memblock LINE Rasyad.
Sebelum memblock LINE sang kakak, Raffa kemudian iseng-iseng melihat timeline LINE nya. Raffa memang memiliki hobi melihat-lihat timeline LINE nya karena isinya banyak yang lucu-lucu dan bagus-bagus. Begitu pula dengan kali ini. Raffa dibuat senyum-senyum sendiri karena banyak yang mengucapkan semoga lekas sembuh untuknya di timeline LINE nya. Sampai akhirnya matanya terhenti pada sebuah status yang dishare oleh salah satu temannya.
Status itu berbunyi: “Tidaklah halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan beri dia salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala,dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” Dikutip dari Riwayat Abu Daud.
Bagai ditampar Raffa membaca status LINE tersebut. Ia akhirnya sadar bahwa ia telah berdosa karena telah menolak memaafkan. Setelah membaca status itu, Raffa akhirnya sadar bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan diganjar pahala oleh Allah SWT, apalagi ini perihal memaafkan kakak kandungnya sendiri, terlebih lagi bulan suci Ramadhan sedang berlangsung. Air mata Raffa menetes dan ia mengusapnya secara perlahan. Hati Raffa akhirnya luluh.
Raffa kemudian memaksakan diri turun dari tempat tidurnya. Ia kemudian memaksakan diri ngesot keluar dari kamar rawatnya untuk menemui Rasyad. “Kakak!” seru Raffa sambil tersendu-sendu. Rasyad, yang masih asyik mengotak-ngatik smartphonenya, kaget bukan kepalang, mendengar namanya dipanggil. Ia sangat terkejut melihat Raffa yang sekarang terduduk di lantai.
“Kak, maafin Raffa sudah mengabaikan permintaan maaf kakak. Raffa sudah tidak marah lagi sama Kakak. Ini semua bukan salah kakak, tapi rencana Allah. Maafin Raffa kak, sudah jahat sekali sama kakak. Kakak adalah kakak terbaik yang Raffa punya,” seru Raffa sambil menangis.
Rasyad, yang wajahnya bersimbah air mata sekarang, berlari menghampiri Raffa dan menggendongnya. Ia kemudian memeluk Raffa dan menciumi rambutnya. “Tentu saja kakak maafkan Raffa... Raffa, kakak sayang sekali sama Raffa, lebih dari apapun,” bisik Rasyad sambil memeluk adik kesayangannya itu. Kedua kakak-adik itu pun bertangis-tangisan, membuat para dokter dan suster menghambur keluar dan ikut terharu.
Raffa merasa bersyukur sekali, berkat LINE lah, hatinya dibukakan untuk memberikan maaf kepada sang kakak. Mungkin jika Raffa tidak pernah menginstall aplikasi LINE di handphonenya, ia tidak akan pernah membaca status LINE tentang hadits saling memaafkan yang mengantarkannya untuk memberikan maaf kepada kakaknya. Terima kasih, LINE, pikir Raffa lega.
Seminggu kemudian, Raffa diizinkan keluar dari rumah sakit. Meski sekarang ia harus duduk di kursi roda, tapi itu semua tidak menyulitkan karena Raffa tinggal mengirim pesan LINE kepada sang kakak atau pembantunya apabila ia membutuhkan bantuan. Tidak perlu repot-repot berteriak atau membunyikan bel. LINE memang luar biasa!

-THE END-

Minggu, 10 Januari 2016

Janji Seorang Sahabat

JANJI SEORANG SAHABAT
Di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joshua Rendy dan Hans Santoso. Joe adalah seseorang yang cerdas dan hidup sendiri tanpa orang tua. Sedangkan Hans adalah anak keluarga berada yang kurang beruntung karena memiliki penyakit yang mematikan, yaitu hemofilia .Namun persahabatan mereka tidak terhalangi oleh perbedaan itu. Keduanya sama-sama menyukai sulap. Mereka berdua sering sekali mempraktikkan trik-trik sulap bersamaan. Pada suatu hari, Joe yang sedang duduk santai di rumahnya, tidak sengaja melihat iklan audisi “Magic Grand Prix” yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta. Joe yang sangat menyukai sulap, sangat bersemangat dan tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dengan cepat ia berkunjung ke rumah Hans, dan memberitahukan tentang kompetisi itu. Hans tentu saja tertarik dan menyambutnya dengan antusias. “Ini saatnya kita menggapai mimpi kita, Hans! Menjadi pesulap professional!” kata Joe dengan riang gembira. “Kapan Joe mulai audisinya?” tanya Hans dengan antusias. “Tanggal 5.. 2 minggu lagi. Audisinya di Jakarta…bisa kau bayangkan bila kita menang, Hans? Kita akan terkenal… orang-orang mengelu-elukan kita.. bahkan kita bisa tampil di London Teater!” seru Joe gembira. Hans tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, aku akan memberitahu orangtua aku. Semoga mereka mengizinkan aku ikut kompetisi itu!” Joe mengedipkan matanya. “Beritahu aku setelah itu, ok?” kemudian Joe pulang ke rumahnya.
Waktu makan malam pun tiba. Hans dengan takut-takut menceritakan tentang kompetisi “Magic Grand Prix” tersebut. Ternyata, orangtua Hans sama sekali tidak suka dan tidak mengizinkan Hans untuk mengikuti audisinya. Tentu saja,  Hans merasa kecewa sekali dengan kedua orangtuanya. “Mama dan Papa memang tidak pernah mengerti aku!” serunya,, dan ia masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintunya. Kedua orangtuanya hanya bisa diam melihat kekecewaan anaknya itu. Keesokan harinya, seperti biasa Joe mampir ke rumah Hans. Joe dengan riang menceritakan bahwa tabungannya sudah cukup untuk pergi ke Jakarta. Ia membicarakan apa yang akan ia persiapkan untuk audisi nanti. Hans mendengarkan dengan murung. Joe akhirnya berhenti berbicara. “Kenapa kau, teman?” tanyanya. Joe menepuk pundak Hans. “Ayolah, hari ini cerah sekali! Kenapa mukamu mendung seperti itu?”
“Joe, orangtuaku tidak mengizinkan aku untuk pergi ke Jakarta dan mengikuti audisi Magic Grand Prix,” jawab Hans pelan. Joe tertegun. Ia merasa sangat iba dengan kawannya itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Kau pergi saja kesana… jangan gara-gara aku kau jadi tidak bisa menggapai mimpimu,” kata Hans. “Aku akan selalu mendukungmu”. Joe hanya terdiam. Ia sebenarnya sangat ingin mengikuti audisi kompetisi itu bersama-sama dengan Hans. Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Tapi jika orangtua Hans tidak mengizinkan, apa boleh buat. Joe tidak bisa memaksa, ia juga tidak bisa berbuat apapun, ia juga maklum akan keputusan orangtua Hans, mengingat Hans memang sangat lemah, dan penyakit hemofilianya bisa merenggut nyawanya kapan saja. Joe mengangguk pelan. “Kalau itu keputusan orangtuamu, baiklah kawan, aku bisa mengerti,” ujar Joe. “Tapi kau harus janji padaku,” jawab Hans. “Berjanjilah kau akan memenangkan kompetisi itu! Kalau tidak aku akan sangat marah kepadamu!” kata Hans diiringi gelak tawa Joe. Mereka berdua kemudian mengaitkan kelingking mereka. “Best Friends Forever!”kekeh keduanya.
Hari demi hari pun berlalu. Joe dengan giat berlatih untuk audisi Magic Grand Prix. Ia selalu berlatih bersama Hans. Tak terasa, tiba-tiba saja hari audisi akan tiba dalam kurun waktu 4 hari lagi. Joe semakin merasa tegang.  “Permainan sulapmu sudah sangat bagus Joe, tidak usah khawatir,” ujar Hans, ia geli melihat sahabatnya begitu gugup, padahal waktu audisi masih 4 hari lagi. “Kau akan datang dan mendukungku di audisi nanti kan?” tanya Joe penuh harap. Hans mengangguk mantap. “Tentu saja” ujarnya. Joe tersenyum, kemudian mengacak rambut Hans. “Kau memang sahabat terbaikku!” serunya sambil terkekeh.
Keesokan harinya, Joe kembali mampir ke rumah Hans. Ia ingin menyiapkan kebutuhan untuk audisi bersama Hans. Namun, alangkah herannya Joe, saat ia melihat ada mobil ambulans diparkir di rumah Hans. Perasaan Joe sangat tidak enak. Setengah berlari ia menghampiri rumah Hans, ketika tiba-tiba Pak Andre, ayah Hans, menghampirinya. “Joe…..Hans meninggal saat sedang tidur,” bisiknya sedih. Bagai disambar petir Joe mendengar kata-kata Pak Andre. Kemudian secara refleks ia berlari ke dalam ambulans tersebut. Dengan cepat Joe kemudian menyibakkan kain putih yang menutupi ranjang di dalam ambulans. Setelah menyibakkan kainnya, Joe tertegun. Tampak di depannya,sahabat terbaiknya, Hans, sudah terbujur kaku, memakai piama, wajahnya begitu pucat, matanya terpejam dan tangannya mendekap. Bibirnya tersenyum. Wajahnya terlihat begitu damai. Kalau tidak ada setetes darah kering yang muncul di ujung bibirnya dan ujung lubang hidungnya, Hans bisa disangka sedang tidur. Joe dilanda shock. Meski ia mengetahui tentang penyakit Hans, tetap saja Joe tidak siap untuk kehilangan sahabatnya. Perlahan-lahan ia jatuh berlutut.
2 hari kemudian, hari pemakaman Hans pun tiba.  Joe masih tidak percaya sahabat terbaiknya di dunia telah meninggalkan ia untuk selama-lamanya. Joe berusaha tampak tegar meski hatinya sakit sekali. Ia berjalan ke ruang depan rumah duka dengan langkah lesu, kemudian ia duduk. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tidak keluar.
“Joe?” panggil seseorang. Joe menoleh perlahan. Ternyata yang memanggilnya adalah Pak Andre. “Bolehkah aku duduk?” tanya Pak Andre lembut. Joe mengangguk perlahan, kemudian menggeser posisi duduknya. Ia berusaha keras untuk tidak menatap wajah Pak Andre.

Selama beberapa menit, terdapat kesunyian yang canggung di antara mereka berdua.  “Kau harus menang dalam kompetisi Magic Grand Prix itu, Joe. Jika kau tidak menang, Hans tidak akan pernah memaafkanmu,” gumam Pak Andre memecah keheningan. Joe hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa.  Ia hanya menggigit bibirnya, berusaha keras agar tidak menangis di hadapan Pak Andre.
Kemudian, secara tiba-tiba dan tak sadar, Joe menabrakkan kepalanya ke dada Pak Andre. “Hans bilang ia akan datang ke audisiku dan mendukungku! Tapi ia tidak menepati janjinya!” seru Joe tergagap, air matanya menetes secara perlahan ke kerah kemeja Pak Andre. Pak Andre memeluk dan membelai rambut Joe, layaknya Joe adalah seorang putranya sendiri. “Joe sayang, tenang Nak, Hans sudah lama sakit, kau tahu itu! Tak ada gunanya menangis. Hans tidak akan kembali! Ia sudah tidak kesakitan lagi,” ujar Pak Andre pelan. “Hapus air matamu Nak.” Joe melepaskan diri dari pelukan Pak Andre. Ia merasa malu karena tidak bisa mengontrol emosinya.  “Bolehkah aku melihat Hans untuk terakhir kali?” tanya Joe masih dengan suara sengau. “Bicara apa kau, Nak? Tentu saja boleh!” kata Pak Andre lembut.
. Joe kemudian masuk ke dalam rumah duka itu. Jenazah Hans masih berbaring disana, tangannya mendekap, matanya tertutup dan tersenyum. Wajahnya terlihat damai sekali. Ia bisa disangka sedang tidur. Perlahan-lahan Joe menatap jenazah sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kancing atas kemeja Hans terbuka. Joe kemudian mengancingkan kancing itu dengan pelan.
Secara perlahan-lahan, Joe kemudian menekukkan lututnya. Ia ingin bicara untuk yang terakhir kali kepada sahabat karibnya itu. Meski Joe tahu, tindakannya ini bodoh. Kepala Joe telah sejajar dengan kepala jenazah Hans sekarang. Joe kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Hans. “Hey ini aku, jagoan bodoh,” bisik Joe.
“Kau egois, eh? Katanya kau akan menemaniku sampai kapanpun. Kau bilang, kau akan selalu mendukungku. Kau bilang, kau akan datang ke audisiku. Tapi kau malah enak-enakan tidur disini,” gumamnya. Joe kemudian tertawa kecil. Ia kemudian menyedot ingus yang perlahan keluar dari hidungnya.
“Kau tahu, aku benci padamu. Aku benci kau melanggar janji kita untuk bersama selamanya. Aku benci kau tidak menepati janjimu untuk datang ke audisiku, ” lanjutnya lagi dengan suara yang sangat sengau. “Kau pergi begitu saja tanpa pamit. Tahukah kau itu perbuatan yang sangat tidak sopan?” Joe memaksakan diri untuk tertawa. “Aku benci kau, Hans. Aku benci kau meninggalkanku sendirian begitu saja seperti ini.” gumam Joe lagi. Selama sepersekian detik, Joe hanya menatap jenazah Hans dengan tatapan yang sangat kosong. Tiba-tiba di benaknya, terlintas sesuatu. Joe melepas sebelah sepatu Hans dengan sangat hati-hati. Ia kemudian melepas sebelah sepatunya juga. Kemudian Joe mengeluarkan spidol dari sakunya. Ia kemudian menulis inisial namanya dan nama Hans di sepatu mereka masing-masing. Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Joe memakaikan kembali sepatu yang telah ia tulisi dengan inisial namanya dan nama Hans ke kaki jenazah Hans. Sekarang jenazah Hans tampak agak ganjil dengan mengenakan sepatu yang berbeda, dengan masing-masing sepatu bertuliskan huruf “JR” dan “HS”. Tanpa disadarinya, ia tersenyum. “Pergilah ke surga, biar para malaikat menjagamu kawan,” bisiknya. “Sampaikan salamku terhadap papa dan mama kalau kalian bertemu di surga.”
Joe akhirnya berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh Pak Andre dan Bu Rita. Tampak banyak sekali pesulap yang mengikuti audisi tersebut, mungkin jumlahnya ribuan. Joe mengambil nomor antrian dengan gugup, kemudian duduk di ruang tunggu. “Tenang saja, sulapmu kan sudah hebat Nak, aku yakin kau pasti berhasil,” kata Pak Andre sambil menepuk punggung Joe.  Joe hanya bisa tersenyum kecil, ia tidak bisa berkata apa-apa saking tegangnya. Sambil membunuh waktu, Joe kemudian mengeluarkan beberapa alat sulap dari tasnya. Karena terlalu bersemangat, akhirnya alat-alat sulap tersebut berserakan di lantai. Joe kemudian membungkuk dan mengambil kembali alat-alat sulapnya yang berceceran.
Saat tengah merapikan alat-alat sulapnya, tiba-tiba Joe menemukan sebuah foto.  Dengan heran ia mengambil foto tersebut. Ternyata, foto itu adalah foto ia dan Hans. Joe sama sekali tidak ingat pernah menyimpan foto ini. Tampak di dalam foto itu Hans kelihatan sehat dan sangat tampan dengan memakai jersey Manchester United berwarna biru. Tangannya yang diperban merangkul Joe yang terlihat sedikit menutup mata dalam foto itu. Joe menatap foto itu dengan seksama. Tangannya langsung bergetar. Secara perlahan Joe membalik foto itu. Ada sebuah pesan yang ditulis tangan oleh Hans. Dengan tangan bergetar Joe membaca pesan itu.
Dear Joshua Rendy aka David Copporfield gadungan super,
Selamat ulang tahun! Sukses terus! Panjang umur! Sehat selalu……(jangan seperti aku yang bolak-balik ke rumah sakit terus seperti setrikaan).. Cepat menikah! Cepat dapat jodoh! Cepat cari pendamping hidup! Buatlah bangga terus almarhum kedua orang tuamu! Buat mereka tersenyum dari surga! (jangan seperti aku yang cuma bisa menyusahkan kedua orang tua ku dan membuat mereka sedih terus) Maaf aku cuma bisa beri kau kado ulang tahun ini. Supaya kau ingat aku terus, hahahaha!!! Maaf juga aku menaruhnya diam-diam di dalam tasmu!
Wish you all the best, my best friend and my best brother!
Dari temanmu yang tampan
Hans Santoso
Mata Joe menyusuri bagian bawah belakang foto itu. Tampak sebuah gambar yang digambar oleh Hans. Joe kemudian memperhatikannya dengan baik-baik. Ternyata gambar tersebut adalah karikatur ia dan Hans. Dalam karikatur tersebut, Hans tampak mengangkat Joe di atas pundaknya. Di sebelahnya terdapat tulisan  “JOE SI JUARA MAGIC GRAND PRIX”.
Joe menggigit bibirnya.  Dadanya terasa sesak sekali, yang tidak ada hubungannya dengan asap rokok yang kini menjalar dari peserta lain di ruangan. Dalam hatinya ia merasa sangat tolol. Bagaimana mungkin ia baru mengetahui kalau Hans memberikan kado ulang tahun ini setelah Hans tiada? Ia tidak bisa mengucapkan terima kasih atau mengacak rambut Hans karena telah memberikan ini untuknya. Ia juga tidak bisa meledek gambar Hans yang seperti gambar anak usia kelas 6 SD.  Dengan perlahan Joe memasukkan foto itu ke dalam sakunya. Foto itu memberikan kekuatan untuk Joe.  Joe akhirnya mengikuti audisi Magic Grand Prix. Dari sejak audisi, Joe sudah membuat para juri terpukau.. Perjalanan Joe cukup panjang di kompetisi Magic Grand Prix tersebut. Sampai akhirnya malam final tiba, dan Joe dinobatkan menjadi juara. Saat dinobatkan menjadi juara, Joe melihat kursi yang kosong, dalam hatinya ia berpikir, kursi kosong itu seharusnya diduduki oleh Hans.
“Untuk siapa kemenangan ini kau persembahkan?” tanya pembawa acara Magic Grand Prix tersebut. Joe menghela nafas. “Untuk sahabat saya, Hans Santoso. Seharusnya ia juga berdiri disini bersama saya, tapi kini ia telah tiada. Seharusnya ia mendukung saya di kompetisi Magic Grand Prix ini, tapi ia pergi mendahului saya. Untuk itu, saya persembahkan kemenangan saya ini untuk mengenang persahabatan kami yang tak akan lekang oleh waktu,” kata Joe.
Seluruh hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Sebagian bahkan ada yang mencucurkan air mata. Joe menatap ke atas... Hans pasti sedang mengawasinya dari surga sana... Dirinya tidak akan lekang oleh waktu.. Dan saat itu, Joe baru menyadari bahwa Hans tidak pernah benar-benar pergi, melainkan akan selalu hidup di dalam hatinya.



Minggu, 03 November 2013

Janji Ayah, Short Story written by me




Alkisah, di suatu kota, tepatnya di Bandung, hidup sebuah keluarga yang sangat bahagia. Keluarga itu adalah keluarga Santoso, yang terdiri dari Abu, sang kepala keluarga, Deasy, sang istri, dan Adrian, sang anak. Abu adalah seorang musisi yang sangat lihai memainkan gitar, sedangkan Deasy adalah seorang wanita sangat cantik yang kecantikannya pasti membuat iri wanita manapun. Sedangkan Adrian adalah anak laki-laki gagah yang sangat lihai bermain bola. Ia juga sangat menyukai musik. Bisa dibilang, keluarga Santoso adalah keluarga ideal yang sempurna.
“Ayah, tangkap!” seru Adrian yang sedang asyik bermain bola di halaman rumah. Ia menendang bolanya begitu kencang, nyaris menghantam kaca jendela rumah. Dengan sigap Abu menangkap bola itu. “Jika bolamu sampai memecahkan kaca jendela rumah kita, siapkan pelindung, Ibu mu pasti akan berubah menjadi monster api,” gumam Abu. Adrian tertawa terbahak-bahak.
“Hmmm kudengar ada yang membicarakanku?” ujar Deasy yang sekarang muncul di teras. “Ayah yang membicarakan Ibu, bukan aku,” ujar Adrian takut-takut. “Tidak, bukan aku yang membicarakan kau, tapi duplikatku yang membicarakan kau, istriku,” sahut Abu sambil tersenyum jahil. Deasy memutar-mutar bola matanya. “Kau ini memang paling bisa ngeles. Ayo masuk, makanan sudah siap,” ujar Deasy.
“Kau dengar itu, putraku? Ayo kita serbu masakan Ibu!” seru Abu sambil mengangkat Adrian tinggi-tinggi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kontan saja Adrian meronta-ronta. “Ayah, ayah, turunkan dong! Malu! Aku kan sudah 11 tahun, sudah besar!” seru Adrian disambut gelak tawa dari Abu dan Deasy. “Tapi bagi Ayah kau tetap his little boy,” gumam Deasy jahil, membuat sebuah bantal hampir mendarat di kepalanya. “Ih Ibu, berhenti menggodaku!” seru Adrian.
Keluarga bahagia itu pun kemudian duduk di meja makan. Abu memimpin doa sebelum makan. “Ya Tuhan Ku, terima kasih atas pemberian makanan yang begitu lezat ini melalui istriku yang cantik jelita, semoga makanan yang aku, istriku, dan anakku hari ini menjadi berkah,” ucap Abu memimpin doa, disambut dengan ucapan “AMIN” yang lantang dari Adrian dan Deasy secara bersamaan.
Dalam sekejap saja, rumah yang mungil itu dihiasi dengan gelak tawa dan candaan dari keluarga kecil tersebut. Deasy menceritakan lelucon-lelucon yang membuat Abu serta Adrian tidak henti-hentinya tertawa.
“Ayah,” kata Adrian tiba-tiba, memotong lelucon yang dilontarkan oleh Deasy, “Lusa aku tanding. Semi final. Penentuan untuk ke final. Ayah bisa menonton aku kan? Jangan Ibu terus yang menonton,” pinta Adrian dengan nada suara yang sangat memelas.
“Lusa tanggal 10 ya? Maka kau anak paling beruntung sedunia, Nak! Ayah off tanggal itu,” jawab Abu sambil mengedipkan matanya. Sinar kegembiraan langsung terpancar dari wajah Adrian. “World greatest dad! You are my hero! Nanti Ayah akan lihat betapa jagonya anakmu ini yah, melebihi skill Cristiano Ronaldo!” seru Adrian girang sambil memeluk Abu erat-erat.
“Sstt….Ayah tahu kau itu jago tapi tidak usah dipublikasikan seperti itu,” sahut Abu geli. “Ngomong-ngomong, ouch, ayah kecekik nih, pelukanmu terlalu erat,” sambung Abu lagi. Deasy tergelak melihat tingkah laku anak dan suaminya itu. Ia kemudian menoleh ke jam. “Sudah pukul 9, Adrian, sudah saatnya tidur!” perintah Deasy. Abu mengangguk menyetujui.
“Tapi aku mau dibacakan cerita dulu sama Ayah sebelum tidur,” pinta Adrian, kemudian memasang tampang memelas. Wajahnya menjadi begitu menggemaskan. Abu mencubit pipi putra semata wayangnya itu keras-keras. “Tadi kau Ayah gendong tak mau, sekarang malah minta dibacakan cerita,” godanya. “Aduuh…. Ayah…sakit tahu!” seru Adrian, kemudian memukul Abu dengan bantal sofa. “Itu pembalasan untuk pelukanmu yang erat tadi,” goda Abu lagi.
“Sudah, sudah, sudah malam ini, kalau tetangga dengar ada kegaduhan dari rumah kita, mereka mungkin menyangka kita sedang berusaha mengusir ular dari rumah,” kelakar Deasy lagi. Abu tergelak, kemudian mengepit Adrian di ketiaknya, dan membawa Adrian masuk ke dalam kamarnya.
“Jadi……Ayah akan membacakan cerita tentang King Arthur,” kata Abu sambil menurunkan Adrian ke tempat tidurnya. Abu kemudian mengambil buku cerita yang sudah using di rak.  “Siapakah King Arthur itu, Ayah?” tanya Adrian bersemangat. “Ia adalah seorang raja asal Inggris, raja yang sangat bijaksana,” jawab Abu. Kemudian Abu mulai membacakan cerita tentang King Arthur. Tak terasa, setengah jam pun berlalu.
“Akhirnya….. pedang itu berhasil dicabut oleh Arthur. Seluruh penduduk mengelu-elukannya, dan mereka menobatkannya sebagai raja. Mulai saat itu, ia dipanggil ‘King Arthur’,” kata Abu menutup ceritanya. “Dan sekarang, waktunya kau tidur, phyton cilik,” sambung Abu lagi sambil mengetukkan buku tersebut dengan pelan ke kepala Adrian. Perlahan-lahan Abu berdiri, kemudian mematikan lampu kamar Adrian.
Abu perlahan-perlahan keluar dan hendak menutup pintu kamar saat Adrian memanggilnya dengan pelan. “Ayah?” panggil Adrian. Abu menoleh. “Ya Nak?” tanya Abu dengan suara yang rendah. “Aku menyayangimu, Ayah. Sangat menyayangimu,” sahut Adrian malu-malu. Abu mendengus tertawa. “I love you too, son,” jawabnya geli. “Nah sekarang tidur dan jangan berkata apa-apa lagi.” Abu kemudian menutup pintu kamar Adrian dengan pelan.
2 hari kemudian…….
Abu, Deasy, dan Adrian tengah bersiap-siap berangkat ke pertandingan Adrian ketika ponsel Abu tiba-tiba saja berbunyi. “Tunggu disini, aku mau menerima telepon dulu,” kata Abu sambil menyelipkan seragam tim Adrian ke dalam bagasi mobil.
“Ya, Noel ada apa?” kata Abu saat kembali masuk ke dalam rumah.
“Abu, kau sedang ada dimana? Bisa kah kau ke Jakarta sekarang? Seorang produser melihat video penampilan kita di Hard Rock CafĂ© dan ia sangat tertarik. Ia minta demo rekaman kita dan ingin bertemu dengan semua personil band kita,” sahut Noel, teman Abu di seberang.
Abu merasa bagai disambar petir. “Noel, kenapa kau mengabari begitu mendadak begini? Aku sudah janji kepada anakku untuk menonton pertandingannya,” ujar Abu gusar.
“Ini kesempatan sekali seumur hidup, Abu. Si produser tidak bisa bertemu kita lain hari. Kalau kau tidak mau ikut menemuinya itu terserah, tapi berarti kau bukan anggota band kita lagi,” ancam Noel. “Beri saja Adrian pengertian, dia pasti maklum,” sambung Noel. Abu menutup teleponnya dengan kasar. “Sial!” gumamnya kesal.
Dengan langkah gontai Abu melangkah keluar rumah dan menghampiri Deasy serta Adrian yang sedang bersandar pada mobil. “Lama sekali sih? Adrian bisa telat ke pertandingannya,” ujar Deasy. Abu menghela nafas dalam-dalam.  “Kenapa, ada apa Ayah?” tanya Adrian. Abu kembali menghela nafas, kemudian ia berjongkok agar tingginya sama dengan Adrian sekarang. “Nak, tadi om Noel menelepon,” ujar Abu sambil meletakkan tangannya di pundak Adrian. “Lalu?” tanya Adrian lagi.
“Seorang produser tertarik terhadap band Ayah. Dia ingin bertemu dengan semua personil band Ayah. Dia tidak bisa menemui kami lain hari, hanya hari ini,” kata Abu lagi sambil menatap Adrian dengan serius. “Jadi artinya?” tanya Adrian kaku. “Artinya, maaf sekali Nak, Ayah tidak bisa menonton pertandinganmu hari ini,” kata Abu pelan. “Maafkan Ayah, Nak, tapi ini demi masa depan keluarga kita yang lebih baik,” bujuk Abu mencoba memberi pengertian.
Tanpa disangka, Adrian kemudian membanting pluit yang diberikan Abu sebagai kado ulang tahunnya yang ke 10 ke kaki Abu. Ia kemudian membalikkan badan, dan hanya berkata, “Ibu, ayo. Kita naik bis saja ke tempat pertandingan,” Deasy melempar pandang mencela dan pasrah kepada Abu, lalu mengikuti putranya. Abu hanya bisa diam melihat kekecewaan sang istri dan sang anak.
Dengan langkah gontai Abu masuk ke dalam mobil dan mulai menyetir. Ia merasa bersalah sekali kepada Adrian. Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk menebus rasa bersalahnya kepada Adrian.
Akhirnya Abu sampai di Jakarta. Noel menyambutnya dengan antusias. “Ah, Abu, akhirnya kau datang juga. Pak Samuel sudah menunggu,” kata Noel girang. Abu hanya mengangguk dengan kaku. Mereka kemudian masuk ke dalam.
“Perkenalkan, Pak Samuel, ini gitaris kami,” kata Noel memperkenalkan Abu kepada Pak Samuel. Mereka pun berjabat tangan.  “Ah ya, ini pasti Abu,” kata Pak Samuel ramah. “Saya sudah menonton video permainan anda saat bermain gitar. Sungguh skill yang luar biasa,” ujarnya. “Banyak terima kasih,” kata Abu, merasa sedikit tersanjung. “Saya juga sudah mendengarkan demo rekaman kalian. Sungguh musik yang luar biasa unik. Perpaduan slow rock dan keroncong, eh? Saya betul-betul ingin mengontrak kalian. Bisakah kalian minggu depan datang kembali ke sini, untuk negosiasi kontrak? Bawa demo rekaman kalian yang lain juga ya,” kata Pak Samuel.
Gumam bergairah terdengar dari semua anggota band Abu. Mereka kemudian berjabat tengan dengan Pak Samuel. “Adrian pasti tidak akan marah lagi setelah kau beri tahu kabar bagus ini,” kata Noel sambil menepuk-nepuk pundak Abu. Abu hanya tersenyum kecut. Ia kemudian masuk ke mobilnya dan menyetir menuju Bandung kembali.
            Hari sudah sangat larut saat Abu kembali tiba di Bandung. Ia menyangka Adrian sudah tidur, tapi ternyata tidak. Tampak Adrian menonton tv dengan wajah sangat kusam. “Nak?” panggil Abu pelan. Adrian menoleh perlahan. “Bagaimana pertandingannya? Pasti jagoan Ayah cetak gol kan?” kata Abu berusaha menggoda Adrian. Adrian tidak menjawab sama sekali. Ia mendadak bangkit, kemudian berkata, “aku benci kau! Pengingkar janji nomor satu di dunia!” serunya, kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya. Abu hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.
            “Pertandingannya gagal total. Adrian sangat kecewa kau tidak menontonnya. Ia menjadi bermain sangat buruk. Bahkan ia diejek teman-temannya karena ia satu-satunya anggota tim yang tidak ditonton oleh ayahnya,” Deasy menyahut dari balik koran. Abu semakin dihantui rasa bersalah yang amat mendalam.
            “Begitukah? Dengar, aku juga sangat ingin menontonnya. Tapi pertemuan tadi sangat berharga! Kau tahu? Akhirnya band aku akan dikontrak studio rekaman,” kata Abu. Ia mengira Deasy akan kegirangan dan meloncat-loncat gembira, tapi nyatanya tidak. Deasy hanya mengangkat bahunya. “Adrian hanya ingin kau melihatnya bermain bola, tidak lebih,” ujarnya.
            Abu merebahkan dirinya ke sofa. “Jadi apa yang mesti kulakukan untuk menebus kesalahanku padanya?” tanya Abu sambil memejamkan matanya dalam-dalam. “Beberapa hari lagi kan ia ulang tahun. Beri ia kado ulang tahun. Ia sudah lama ingin action figure The Dark Knight Rises, kalau kau belum lupa,” jawab Deasy.
Action Figure The Dark Knight? Bukannya dia sudah punya?” tanya Abu heran. “Ya, tapi yang dia punya kan Batman. Dia ingin action figure Joker,” sahut Deasy. Tiba-tiba Abu teringat sesuatu. Ia kemudian menepuk dahinya kencang-kencang. “Oh,” gumam Abu. “Aku baru ingat. Tahun lalu memang dia minta aku untuk membelikan action figure Joker itu untuk ulang tahunnya yang ke 12,” ujarnya. Deasy tersenyum kecil. “Kalau begitu, tepati janjimu. Jangan kau ingkari lagi,” sahut Deasy. Abu mengangguk mantap. “Semoga ia memaafkanku jika aku membelikannya action figure itu,” gumamnya.
“Ngomong-ngomong, minggu depan aku harus menemui kembali Pak Samuel, produser yang mau mengontrak bandku untuk nego kontrak,” kata Abu lagi. Deasy hanya mengangguk. “Ya semoga sukses, aku hanya bisa mendoakanmu dari sini,” jawabnya.
Beberapa hari telah berlalu, tapi Adrian masih saja marah kepada Abu. Abu merasa sangat sedih atas sikap anaknya itu. Mereka yang tadinya begitu akrab, kini berjauhan hanya karena Abu ingkar janji sekali. Bujukan Deasy pun tidak mempan untuk Adrian, yang dasarnya memang sangat keras kepala.
Akhirnya, hari dimana Abu harus menemui Pak Samuel untuk negosiasi kontrak pun datang. Dengan tergesa-gesa Abu berpakaian, memakai setelan jas terbaiknya. Adrian yang sedang bermain Nintendo DS, sama sekali tidak menghiraukan Abu, bahkan bertanya dan menyapanya pun tidak.
“Barang-barang yang diperlukan sudah kukemas di dalam tasmu,” kata Deasy. “Semoga beruntung sayang, semoga lancar semuanya.” sambungnya lagi. Deasy kemudian merendahkan suaranya dengan sangat pelan, membuat Abu harus sedikit menunduk untuk mendengar apa yang dikatakannya. “Dan jangan lupa, action figure Joker,” bisik Deasy. “Pasti,” jawab Abu mantap. Setengah berlari ia mencoba menghampiri Adrian.
“Jagoan, Ayah berangkat dulu ya,” kata Abu sambil mencoba mengecup rambut Adrian. Tapi bukannya menjawab, Adrian malah mendorong Abu menjauh dan hampir membuat Abu terjungkal. Spontan saja Deasy langsung menegur Adrian. “Adrian, apa-apaan sih kau ini! Lihat ayahmu hampir saja terjatuh!” seru Deasy gusar. Adrian hanya mendelik dan kembali memainkan Nintendo DS nya.
“Tidak apa-apa kok,” gumam Abu, memaksakan diri untuk tersenyum, meski hatinya merasa sangat sedih. “Sudah ya, aku berangkat dulu,” sambung Abu lagi, kemudian melangkah keluar rumah dan menuju mobilnya dengan sangat gontai.
Saat menyetir, Abu tidak dapat berkonsentrasi sama sekali. Ia terus memikirkan Adrian. Hatinya benar-benar gundah karena sudah seminggu Adrian tidak mau berbicara kepadanya dan terus menerus bersikap kasar. Ia menjadi tidak sabar untuk segera membeli action figure Joker dan memberikannya kepada Adrian.
Tik…tik….tik…. hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Petir pun menggelegar-gelegar. “Duh!” gerutu Abu, merasa jengkel karena tidak bisa memacu mobilnya dengan kencang akibat hujan deras. Hujan makin lama makin deras, membuat kaca depan jendela mobil Abu menjadi sangat berembun. Abu menjadi kesulitan untuk melihat.
Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Malah semakin deras dengan petir yang maha dahsyat. Kaca jendela mobil Abu sudah berubah menjadi putih sekarang. Dengan panik ia memencet-mencet tombol pengaktif wiper mobilnya. Wipernya macet dan tidak berfungsi. Abu tidak dapat melihat apapun sekarang, ia hanya bisa mendengar suara klakson dari mobil lain.
Dengan panik Abu membanting setir ke kanan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Karena tidak dapat melihat apapun, mobil Abu pun menabrak trotoar, dan terguling, diiringi jeritan para pengendara dan pejalan kaki yang menyaksikannya.
Tepat pada saat itu, Deasy yang tengah mencuci piring tidak sengaja menjatuhkan piringnya sehingga menimbulkan suara PRANG yang memekakkan telinga. Adrian kemudian tergopoh-gopoh keluar dari ruang keluarga.
“Ibu, ada apa?” tanya Adrian. “Tidak apa-apa Nak, Ibu tidak sengaja memecahkan piring,” jawab Deasy. “Bermainlah kembali.” Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Makanya kalau cuci piring jangan sambil melamun,” godanya, kemudian melangkah kembali ke ruang keluarga. Deasy tidak menanggapi. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Wajar saja, karena sebelumnya Deasy tidak pernah menjatuhkan piring saat sedang mencuci. Ya Tuhan, batinnya. Apakah terjadi sesuatu kepada suamiku? Lindungilah ia selalu, Tuhan, batin Deasy.
Sementara itu, di lokasi kecelakaan Abu……..
Polisi beserta ambulans telah datang. Orang-orang merubung untuk menyaksikan. Mereka meringis melihat mobil Abu yang sudah ringsek dan penyok. Polisi berkali-kali harus berteriak dan memerintah massa untuk mundur agar proses evakuasi lancar. “Mundur, saudara-saudara, tolong mundur agar tidak memperlambat proses evakuasi,” seru salah satu polisi hampir habis sabar.
Seorang polisi berbadan tegap kemudian berusaha mengecek mobil. Ia menyisiri dari depan hingga belakang dengan cemas dan hati-hati. “Sudah ketemu penumpang mobil itu?” tanya sang pimpinan dari sebrang. Si polisi menggeleng putus asa. “Tidak ada. Kosong,” ujarnya.
“Kalau begitu telusuri sekitarnya. Mungkin ada yang terlempar,” perintah sang kepala polisi. Polisi berbadan tegap mengangguk mantap. “Siap, Komandan!” serunya. Kemudian dengan langkah perlahan dan sangat hati-hati, sang polisi menyusuri jalan di sekitar bangkai mobil Abu. Ia memicingkan matanya dan menoleh ke setiap sudut.
Tak berapa lama, tercium bau amis yang ia yakini adalah darah. Ia terus melangkah dengan pelan. Benar saja. Baru beberapa langkah, sang polisi menemukan tubuh Abu tertelungkup di sekitar rerumputan. Kemejanya telah robek, dilumuri darah disana – sini, wajahnya pun dipenuhi dengan luka gores.
Dengan hati-hati sang polisi membalikkan tubuh Abu dan memeriksa denyut nadinya. Abu sudah meninggal. “Komandan!” serunya. “Aku menemukannya! Penumpang mobil itu!” serunya lagi. Sang atasan kemudian berlari menghampirinya. “Ada tanda pengenal? Siapa tahu pria ini memiliki keluarga,” ucap sang komandan. Mereka kemudian menyusuri sekitar Abu kembali dengan hati-hati sampai akhirnya menemukan dompet Abu. Para polisi itu kemudian menelepon nomor yang tertera di dompet Abu.
Di rumah keluarga Santoso…….
Kriiing…….kriiiing……..kriiing…….telepon rumah berdering. “Adrian, tolong angkat teleponnya,” seru Deasy yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah. Adrian yang tengah asyik bermain Nintendo DS, menggerutu panjang pendek dan bangkit dari kursinya. Dengan ogah ia mengangkat telepon itu. “Kediaman keluarga Santoso disini, Adrian berbicara,” kata Adrian kaku. “Ah jadi benar ya ini nomor rumah keluarga Santoso. Maaf Nak, kalau boleh tahu, apakah anda mengenal Abu Marlo Santoso?” tanya suara dalam itu.
“Tentu saja. Dia ayah saya,” jawab Adrian kaku. “Kalau boleh tahu anda siapa ya?” tanya Adrian lagu. “Nak, kami dari kepolisian dengan sangat menyesal harus memberimu kabar ini. Ayahmu mengalami kecelakaan dan sudah meninggal. Sekarang jenazahnya ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Kami turut berduka cita.”
Perlu beberapa detik bagi Adrian untuk mencerna kata-kata tersebut. “A—a—a—pa Bapak bilang?” tanyanya lagi gugup. “Ayahmu kecelakaan Nak. Kami sangat menyesal. Bisa kami bicara dengan Ibu mu?” tanya polisi itu lagi. Masih shock, Adrian menaruh gagang telepon dan memanggil Deasy. Mendadak saja wajahnya basah dipenuhi air mata.
“Adrian, kau kenapa Nak? Telepon dari siapa?” tanya Deasy bingung. Adrian tidak menjawab, ia hanya menyeret Deasy dan menyuruhnya untuk mengangkat gagang telepon itu. “Disini Deasy Santoso berbicara, ada apa?” tanya Deasy. “Apakah Anda adalah istri dari Bapak Abu Marlo Santoso?” tanya si polisi lagi. “Betul, ada apa?” tanya Deasy, perasaannya diliputi kecemasan. “Kami dari kepolisian. Dengan sangat menyesal kami harus mengabarkan bahwa suami anda mengalami kecelakaan dan telah meninggal dunia. Sekarang jenazahnya ada di RS Cipto Mangunkusumo,” sahut si polisi lagi.
Deasy merasa seperti tersambar petir. Ia tidak sanggup berbicara. Lututnya langsung lemas seketika. Jadi inilah jawaban atas perasaan tidak enaknya tadi. “B-b-b-a-i-k kalau begitu, terima kasih sudah mengabari,” ujarnya pelan, kemudian menutup teleponnya. Deasy menoleh kepada Adrian, dan, tiba-tiba saja mereka sudah berpelukan dan saling bertangis-tangisan.


3 hari kemudian….
Pemakaman Abu dilaksanakan. Bila Deasy tak henti-hentinya menangis, maka kebalikannya dengan Adrian. Ia tidak menangis, tidak menjerit, maupun berkata apapun. Ia hanya duduk, merengut, dan memandang ke arah lantai. Tak ada seorang pun yang tahu betapa terlukanya hati Adrian dan betapa ia sangat merasa bersalah. Ia sangat menyesal telah bersikap kasar terhadap Abu belakangan ini.
Saat para pelayat pulang, rumah terasa sepi sekali. Adrian masih tidak beranjak dari tempat ia duduk. Ia masih saja diam dan merengut. Deasy kemudian duduk di sebelah Adrian. “Aku memiliki banyak kesalahan kepada Ayah. Aku belum sempat minta maaf.” ucap Adrian lirih, pertama kalinya ia berbicara semenjak pemakaman.
“Ayah sudah memaafkanmu dari dulu. Sebelum ia berangkat, kau tahu ia mengatakan apa?” tanya Deasy sambil memandang wajah putranya itu dalam-dalam. Adrian menggeleng. “Dia mau membelikanmu action figure Joker yang telah lama kau impi-impikan itu. Dia bilang, dia sudah janji kepadamu,” kata Deasy.
Adrian mendongakkan kepalanya. “Benarkah dia berkata seperti itu? Dia memang janji mau membelikannya untukku tahun lalu. Tahun lalu aku memang minta kepadanya untuk membelikan action figure Joker sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 12,” ujar Adrian pelan. “Kalau begitu, Ibu, aku yakin dia akan menepati janjinya.”
Deasy tersenyum simpul. “Adrian, ayahmu sudah tiada, jangan berpikiran konyol,” kata Deasy sambil membelai rambut Adrian. Deasy kemudian bangkit dari kursi dan menyiapkan makan malam. Adrian sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa di dalam hatinya ia merasa bahwa Abu akan kembali untuk menepati janjinya.
Waktu semakin berlalu, tidak terasa telah 4 bulan semenjak kepergian Abu. Deasy sudah bisa mengikhlaskan kepergian suaminya, bahkan ia telah belajar untuk melupakan Abu. Tapi tidak untuk Adrian. Hari ulang tahunnya yang ke 13 hanya tinggal sebulan lagi, dan keyakinan bahwa Abu akan kembali untuk menepati janjinya memberikan hadiah action figure Joker kepadanya semakin kuat. Ia berulang kali mengatakan hal ini kepada Deasy, membuat Deasy yang tadinya kasihan menjadi kesal.
“Adrian, lupakan Ayah!” seru Deasy sambil membanting garpu saat Adrian untuk kesekian kalinya mengatakan bahwa Abu akan kembali, membuat Adrian terlonjak. “Kau harus menerimanya! Ayah sudah bersama Tuhan dan tidak akan pernah kembali lagi!” seru Deasy dengan nada suara yang cukup tinggi. Adrian menatap ibu nya dengan mata berkaca-kaca. Selama beberapa menit, terjadi kesunyian yang canggung di antara mereka berdua.
“Maafkan Ibu, Nak, Ibu kasar, Ibu juga sangat merindukannya. Tapi kita harus ikhlas dengan kepergian Ayah,” bisik Deasy. Adrian hanya diam. Kemudian ia tiba-tiba bersuara memecah keheningan. “2 minggu lagi kan Ayah ulang tahun Bu. Aku ingin kita merayakannya, boleh kan Bu?” pinta Adrian dengan suara memelas.
“Baiklah, boleh saja,” jawab Deasy. “Dengan syarat, kau membantu Ibu membersihkan barang-barang Ayah sekarang,” sambungnya lagi. “Tentu, Bu, baiklah,” kata Adrian. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Abu biasa berlatih dengan teman-teman band nya. Ruangan itu tampak berantakan, dengan pick guitar dan alat musik dimana-mana.
Adrian dan Deasy mulai membersihkan ruangan itu. Perlu memakan waktu cukup lama karena ruangan itu telah dipenuhi debu dimana-mana. Saat menyapu ruangan, Adrian menemukan sebuah buku tebal yang berjudul “Cara Jitu Menjadi Gitaris Jagoan”. Dengan iseng Adrian membuka buku tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat melihat foto ia dan Deasy diselipkan di bagian paling depan buku tersebut.
“Ibu, lihat ini,” kata Adrian dengan penuh semangat dan menunjukkan buku itu kepada Deasy. “Ayah menyelipkan foto kita di halaman paling depan buku ini. Ia selalu melihat kita Bu!” Deasy ikut memandangi foto itu. Kemudian ia tersenyum kecil. “Dia memang pria paling sempurna di dunia,” gumamnya.
Malam hari pun tiba. Karena kelelahan setelah membersihkan ruang latihan Abu, Adrian tertidur pulas dengan cepat. Ia kemudian bermimpi. Tiba-tiba saja ia sedang berada di taman. Ia sedang duduk dengan santainya. Ketika matanya menyusuri sekitar taman, tampak seorang pria berbadan jangkung sedang berjalan membelakanginya dari kejauhan.
“Ayah!” panggil Adrian. Pria itu tidak menoleh sama sekali. “Ayah!” seru Adrian lagi, tidak menyerah. Pria itu terus berjalan. Dengan tergesa-gesa Adrian melompat bangkit dari bangku taman dan mengejar pria itu. “AYAH!” teriak Adrian sekencang-kencangnya. Pria itu perlahan-lahan menoleh. Benar, pria tersebut ternyata adalah Abu.
Dengan mendadak Adrian melompat ke pelukan Abu. Abu mencium rambut putranya itu keras-keras. “Ayah, maafkan aku, sudah bersikap kasar kepadamu,” bisik Adrian lirih. Abu tidak menjawab apa-apa. Ia kemudian menurunkan Adrian. Kemudian berbalik, dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Ayah!” seru Adrian. “Tunggu!” Tapi Abu keburu menghilang. Adrian perlahan-lahan membuka matanya. Mimpi yang sangat indah, dapat memeluk ayahnya kembali. Mimpi tadi semakin menguatkan keyakinan Adrian bahwa Abu akan kembali untuk menepati janjinya.
2 minggu kemudian……..
Hari itu adalah tanggal 24 Maret. Hari dimana Abu berulang tahun. Sesuai dengan permintaan Adrian sebelumnya, Deasy menyiapkan kue untuk merayakan ulang tahun Abu. Dengan penuh semangat Adrian menaburkan krim bertuliskan “SELAMAT ULANG TAHUN AYAH” di atas kue dan menaruh lilin di atasnya.
“Ibu, nyalakan koreknya!” seru Adrian antusias. Dengan pasrah Deasy menyalakan korek dan menyalakan lilin yang ada di atas kue. Kemudian, dengan penuh semangat Adrian membawa kue tersebut ke jendela. “Selamat ulang tahun Ayah! Aku sangat menyayangimu!” seru Adrian sambil menengadah menatap langit. Perasaan Deasy campur aduk antara geli dan tersentuh melihat tingkah laku anaknya itu.
Tanpa disangka-sangka, angin bertiup dan memadamkan lilin yang ada di atas kue ulang tahun itu. Deasy ternganga tak percaya. “Itu tidak mungkin,” bisiknya. “Ibu, Ayah meniup lilinnya, ayah meniupnya!” seru Adrian lantang. Belum habis akan keterkejutan Deasy, terdengar derap suara langkah kaki. Deasy dan Adrian sangat mengenali suara derap langkah kaki itu. Dengan ngeri mereka membalikkan badan.
Tampak Abu berdiri tegap, gagah seperti biasanya. Ia memakai setelan jas berwarna putih-putih, dan sepatu bot berwarna putih. Di tangannya ia memegang sebuah action figure Joker dengan tinggi 15 cm yang dibungkus oleh sebuah plastik.
“AYAH!” seru Adrian, ia kemudian berlari dan menghambur ke pelukan Abu. “Aku tahu Ayah akan kembali! Aku tahu Ayah pasti akan menepati janji Ayah!” seru Adrian. Abu tersenyum. “Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk yang kedua kali,” bisik Abu. Deasy yang hanya menonton dari tadi, akhirnya ikut menghambur ke pelukan Abu. Tangis Adrian dan Deasy pun pecah. “Jangan tinggalkan kami lagi, ku mohon,” bisik Deasy dengan suara sengau.
Abu kemudian menaruh action figure Joker itu ke dalam tangan Adrian. “Aku tidak bisa lama-lama,” gumamnya. Abu melepaskan diri dari pelukan Deasy dan Adrian, kemudian berjalan menuju pintu, melangkah keluar, kemudian dalam sekejap sudah menghilang. “Lihat Bu! Sudah ku bilang, Ayah pasti kembali! Ayah pasti menepati janjinya!” seru Adrian sambil mengangkat action figure Jokernya tinggi-tinggi. Deasy mengangguk, hatinya dipenuhi perasaan haru.
Adrian membuka plastik yang membungkus action figure Joker itu. Di belakangnya terdapat tulisan “Jagoan Ayah, ini kado untukmu. Jangan pernah lupakan Ayah ya?” Entah mengapa Adrian langsung tersenyum melihat tulisan itu. Ia baru sadar, bahwa sang Ayah akan selalu hidup di dalam jiwa dan raganya.

--TAMAT--