Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

Seorang Miskin Membangun Mesjid Paling Aneh Di Dunia

Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara’ dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem”

Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)… Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.

Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-ciatanya yang amt mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan. Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairud ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.

Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada AKhiruddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritana soerang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan).

Subhanallah! Sekiranya orang-orang kaya dan memiliki penghasilan lebih dari kaum Muslimin di dunia ini berfikir seperti Khairuddin, berapa banyak dana yang akan terkumpul untuk kaum fakir miskin? Berapa banyak masjid, sekolah, rumah sakit dan fasilitas hidup lainnya yang dapat dibangun? Berapa banyak infra struktur yang dapat kita realisasikan, tanpa harus meminjam ke lembaga dan Negara yang memusuhi Islam dan umatnya?

Dari buku “Keajaiban Sejarah Ustmani”, oleh : Ust. Urkhan Mohamad Ali

Minggu, 03 November 2013

Al Quran pantas dibakar? Great note from a friend, silahkan direnungkan baik-baik :D

Barusan baca salah satu tret bermutu di ka*kus dengan judul yang sama.
Tret tersebut sendiri bersumber dari sini

Intinya bahwa ada baiknya kita sebagai muslim tidak mudah terprovokasi, ambil sisi baiknya, barangkali pendeta Terry yang mengajak untuk bersama-sama membakar Al-Qur'an pada tanggal 11 September hanya ingin menyadarkan kaum Muslim untuk kembali menyentuh Al-Qur'an, membaca kembali, mempelajari, menghayati dan menjalankan seperti yang tertuang di Al-Qur'an.
Berpura-pura membela Al-Qur'an tidak pernah lebih baik dari pada membacanya. Walau mungkin nanti hancur, tapi setidaknya ada satu dua ayat yang menyangkut dihati.

======================================================

Membaca artikel ini sungguh membuatku tertohok. Betapa selama ini aku sudah sangat jarang "membaca" benar-benar membaca Al-Qur'an.
Menyentuhnya hanya pada bulan Ramadhan, dan saat Ramadhan berlalu, Al-Qur'an kembali di tempatkan di rak paling sudut, kembali tak tersentuh, dan kembali berdebu.

Saat pagi ini aku kembali membaca berita ini :
http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201009/296609/Pembakaran.Alquran.Ternyata.Jadi.Dilakukan

atau melihat foto ini :


Apakah aku berhak marah?
Rasanya ingin marah, tapi apa hak ku untuk marah?
Jika selama ini, aku telah cukup jauh dari Al-Qur'an?
Hanya menjadikan Al-Qur'an teronggok disudut yang berdebu?
Jangankan membaca tafsirnya, membaca harfiahnyapun aku jarang.
Jika begini, bagaimana bisa aku disebut sebagai muslim? jika aku tidak cukup menjadikan Al-Qur;an sebagai kitab suciku?

Astagfirullah.... Astagfirullah.... Astagfirullah....

Maka mungkin, ini adalah teguran untuk ku.
Teguran, untuk kembali "menyentuh" Al-Qur'an.
Menempatkannya kembali sebagai kitab suci, benar-benar kitab suci, yang tidak hanya diagunggkan di lisan, tp juga dalam tindakan.
Menjadikannya sebagai pedoman hidup, bukan untuk disucikan, dicium dan dibersihkan secara fisik.

Maka jika itu sudah dijalankan,  tak akan ada pengaruhnya, jika seluruh orang Amerika membakar Al-Qur'an.
Karena aku akan menempatkan Al-Qur'an dihati, bukan di rak bukuku.
Menempatkannya dalam setiap langkah hidupku, bukan di mesjid-mesjid.

Maka biarlah mereka membakar Al-Qur'an fisik itu.
Karena Al-Qur'an sesungguhnya akan tetap bersemayam dalam hati umat muslim.

Maka bakarlah Al-Qur'an itu, karena tak akan ada pengaruhnya.
Karena berjuta-juta hafidz (penghapal Al-Qur'an) akan tetap menyenandungkan ayat-ayatnya di seluruh penjuru negeri.

ALLAHU AKBAR!!!


Nb. Aku ingin setiap muslim tidak mudah terpancing emosi oleh tindakan semacam ini. Jadikan ini sebagai teguran untuk umat muslim, agar kembali pada Al-Qur'an.
Mereka bisa membakar seluruh fisik Al-Qur'an, tapi Al-Qur'an sebenarnya ada dalam diri setiap muslim yang taat, wujud dalam setiap tindakan setiap muslim, bernafas dalam setiap langkah umat muslim.
Karena Al-Qur'an adalah pedoman hidup kita, umat muslim.
Al-Qur'an bukan untuk dicium dan dilihat dg penuh rasa hormat, tapi Al-Qur'an untuk direnungi, dipelajari dan dijalankan.
Semoga aku mampu, semoga kita mampu, semoga setiap muslim mampu!

Ya Allah, teguhkan hati kami, untuk selalu istiqomah di jalanMu!
Ya Allah, Sang Maha pembolak-balikkan hati, berilah hidayahmu untuk mereka yang membenci kami!
Dan jadikanlah kebencian itu, sebagai motivasi bagi kami untuk selalu dekat denganMu.
Amin Ya Rabb

Credit to: Ari Ratnayanti