Selasa, 04 April 2017

Aku Akan Selalu Berada di Samping Kau (Ace Attorney Fanfiction)

Note: Cerita ini adalah sebuah fanfiction dari game Nintendo DS, Ace Attorney (Gyakuten Saiban) jadi mungkin untuk memahami sebagian yang terjadi dalam cerita ini, pembaca harus main gamenya terlebih dahulu. Versi Inggris dari fanfiction ini bisa dibaca disini :) https://www.fanfiction.net/s/12329147/1/I-Will-Always-Here-For-You

Rating: T (Teen) untuk sedikit konten seksual dan ketergantungan kepada obat-obatan.

Sinopsis: Miles Edgeworth, seorang Kepala Jaksa di Los Angeles, Amerika,  yang sangat tampan, tidak pernah tertarik pada wanita manapun. Sampai akhirnya, mantan asistennya, Kay Faraday, yang sudah lama menghilang dari kehidupannya selama 8 tahun, muncul kembali dan menjadi asistennya. Mereka pun saling jatuh cinta. Awalnya, hubungan mereka sangat mulus, sampai akhirnya Edgeworth didianogsa menderita aritmia (kelainan jantung), dan membuatnya dihadapkan dua pilihan yang sulit: mempertahankan hubungannya atau menghentikan hubungannya demi kebaikan mereka berdua.

BAB I

Sang Gadis yang Mencuri Hatinya

October 8th, 2026
Kantor Kepala Jaksa
18.00
Miles Edgeworth menghela nafas, menggosok dahinya, dan meminum tehnya. Ia merasa sangat lelah setelah menjalani hari yang cukup panjang di kantornya. Ia memandang telepon genggamnya sesekali dengan penuh harap, sambil menuang dan meminum tehnya. Beberapa saat kemudian, telepon genggamnya berbunyi, dan tiga buah pesan masuk. Edgeworth mengambil telepon genggamnya dan membaca satu demi satu pesan yang masuk. Ia membaca pesan pertama dari Phoenix Wright, sahabat karibnya sejak SD:

“Maaf Edgey, aku tidak bisa, aku sudah berjanji kepada Maya akan menemaninya membelikan hadiah untuk ulang tahun Pearls. Mungkin lain kali, oke?”
Menghela nafas, sang Kepala Jaksa kemudian membaca pesan yang kedua, dari adik adopsinya, Franziska von Karma.

“Adik kecil yang bodoh, kau lupa aku sudah berjanji untuk nonton di bioskop dengan Lang? Kalau kau mau ikut, silahkan.” Edgeworth tersenyum kecil dan menjawab, “Tidak, Franziska. Selamat berkencan dan bersenang-senang dengan pacar kau. Sampaikan salam aku untuk Lang.” Yeah, menurutnya bukanlah ide yang baik bila ia ikut menonton di bioskop bersama adik adopsi dan pacarnya yang sedang dimabuk asmara. Mungkin ia malah hanya akan menyaksikan mereka berdua berciuman dan berpelukan di dalam bioskop. Edgeworth kemudian membuka pesan yang terakhir, dari Detective Gumshoe.

“Tuan Edgeworth, pal! Sangat menyenangkan kalau bisa ikut, tapi Maggey sedang sakit. Maaf sekali, Tuan Edgeworth!”
Tersenyum kecil, Edgeworth mematikan telepon genggamnya dan membenamkan diri di atas sofa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa kesepian. Ia bukan tipe orang yang mengajak teman-temannya makan malam setiap hari. Ia hanya ingin refreshing, mengobrol, dan melupakan sejenak segala beban dan tekanannya sebagai seorang kepala jaksa di kota sebesar Los Angeles. Tapi ia lupa, seluruh sahabatnya sekarang sudah memiliki pasangan masing-masing. Mereka punya kehidupan cinta di luar pekerjaan mereka, tidak seperti dia. Wright sudah bertunangan dengan Maya. Franziska berkencan dengan Lang sudah hampir satu tahun. Detective Gumshoe bahkan sudah menikah dengan Maggey.

Ah, betapa bodohnya dia. Tentu mereka lebih memperhatikan pasangan mereka masing-masing dibanding ajakan makan malam darinya. Mungkinkah setelah mereka semua menikah dan memiliki keluarga, mereka akan melupakannya? Dia tidak tahu bagaimana rasanya jika berada dalam hubungan. Dia tidak pernah memiliki pacar sebelumnya, bahkan hingga sekarang saat usianya sudah menginjak 34 tahun. Tentu, banyak sekali wanita yang mendekatinya, tapi tak satupun dari mereka membuatnya tertarik. Bukan karena ia asexual atau bukan karena ia seorang gay. Banyak yang berspekulasi bahwa ia adalah seorang gay dan memiliki perasaan terhadap Wright. Tapi, tidak, ia mengakui di dalam lubuk hatinya bahwa ia menyayangi Wright, tapi tak lebih dari sebagai saudara. Ia hanya tidak mengerti akan cinta. 

Di saat kesepian seperti ini, mungkin akan sangat indah jika memiliki pacar….Edgeworth meneguk tehnya lagi, dahinya berkerut. Sial. Ada apa sebenarnya dengan aku? Aku seorang kepala jaksa, dan aku iri kepada teman-teman aku yang telah memiliki pasangan? Edgeworth mengernyit. Edgeworth, kau berusia 34 tahun dan kau memiliki pikiran seperti anak SMA berusia 17 tahun?

Edgeworth tersadar dari lamunannya saat ia mendengar pintu kantornya diketuk. “Masuk,” ucapnya pendek. Seorang wanita yang sepertinya sudah berusia 23-25 tahun, dengan rambut berwarna abu-abu gelap terurai panjang, dan memakai blazer serta celana berwarna coklat muda melangkah masuk. Edgeworth tidak mengenali wanita ini, tapi dalam hatinya ia mengakui kalau wanita ini cantik. 

“Silahkan duduk, Nona,” ucap Edgeworth, berusaha seramah mungkin. “Apa ada yang bisa aku bantu?”

Si wanita tidak langsung menjawab, ia melihat Edgeworth dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Tuan Edgeworth, ternyata bertambah tua membuat ingatan kau memburuk eh?” ucap wanita itu geli, kemudian terkikik. Meski ia sudah tidak mendengar tawa itu selama beberapa tahun, tapi Edgeworth masih mengenali suara tawa itu. 

“Kay…………?!!” ucapnya gugup. “Astaga, kau tumbuh begitu cepat, aku benar-benar tidak mengenali kau! Kau sangat berbeda, Kay. Eh, apa kabar, Kay?” 

“Sangat baik, Tuan Edgeworth! Aku dengar kau adalah Kepala Jaksa di LA sekarang. Aku sama sekali tidak terkejut.” jawab Kay dengan ceria.

“Ya, begitulah. Ah, sudah berapa tahun sejak terakhir kali kita bertemu?”
“8 tahun, Tuan Edgeworth! Kau percaya itu? Waktu cepat sekali berlalu, ya? Usia aku 25 sekarang, Tuan Edgeworth! Dan tebak, aku baru saja lulus bar exam!” ucap Kay lagi sambil menunjukkan lencana jaksa penuntut di dadanya dengan bangga.

“Wow. Aku ikut senang mendengarnya, Kay,” jawab Edgeworth kikuk. Entah mengapa, ia merasakan sensasi aneh di dadanya untuk bisa melihat Kay lagi setelah bertahun-tahun. 

“Dan untuk itulah, aku kesini, Tuan Edgeworth! Aku ingin…..aku ingin kau menjadi mentor aku, dan aku ingin melamar menjadi asisten kau! Yah, tentu hanya jika kau mau dan tidak keberatan,tentu saja.. Aku tidak bisa memikirkan jaksa lain yang cocok menjadi mentor aku,” ucap Kay dengan terburu-buru.

Memiliki asisten dan menjadi mentor Kay? Well, dia rasa itu bukan ide yang buruk. Kay akan membantunya, dia tidak akan merasa kesepian selalu sendirian di kantor lagi, dia bisa membantu Kay mewujudkan impiannya untuk mengikuti jejak almarhum ayahnya, Byrne Faraday. Dia sudah mengenal Kay lama, dan ia percaya Kay tidak akan mengecewakannya. Edgeworth tersenyum, kemudian menjawab, “Baiklah, Kay. Selamat datang di kantor aku.”


Sebulan sudah berlalu sejak Kay datang ke kantornya dan menjadi asistennya. Seperti yang ia tebak, Kay sangat banyak membantunya dan tidak mengecewakannya. Kay juga sangat cepat belajar, sehingga Edgeworth yakin gadis ini akan menjadi seorang jaksa penuntut yang hebat suatu saat nanti.
Waktu semakin berlalu, Edgeworth semakin dekat dengan Kay. Mereka melakukan segala sesuatu berdua. Mereka menyortir berkas-berkas kasus berdua, menyelidiki tempat kejadian perkara berdua, dan juga bekerja sebagai tim berdua di pengadilan. Saat Kay menangani kasus, Edgeworth bertindak sebagai penasihatnya. Ia merasa sangat bangga terhadap kemajuan Kay yang begitu pesat dari hari ke hari. Karena Kay dan Edgeworth selalu bersama-sama dan sepertinya tidak terpisahkan, muncul lagi rumor bahwa mereka berkencan.

Suatu hari, Edgeworth datang pagi-pagi sekali ke kantor. Ia merasa kurang enak badan dan belakangan ini kepalanya sering pusing secara tiba-tiba. Tapi ia tidak menghiraukannya, karena ia pikir ini hanyalah akibat stress pekerjaan biasa. Ia kemudian menyeduh teh seperti yang biasa ia lakukan, meneguk tehnya, mulai membaca berkas kasus yang bertumpuk di meja, tapi ia tidak bisa konsentasi. Ia merasa lebih pusing dari sebelumnya. Matanya kemudian beralih ke koran yang tergeletak di sofa. Ia kemudian membaca koran itu. Ia hampir menyemburkan tehnya saat membaca berita tentang dirinya dan Kay.

Kay Faraday dan Kepala Jaksa Miles Edgeworth Berkencan?
Kay Faraday, 25 tahun, dan Kepala Jaksa Miles Edgeworth, 34 tahun, dikabarkan berkencan. Hal ini dibenarkan oleh teman terdekat Kepala Jaksa Miles Edgeworth, Phoenix Wright (34 tahun) yang akan segera menikahi tunangannya, Maya Fey. Berikut petikan wawancara kami saat menemui Tuan Wright di lobi ruang sidang.
“Ya betul, Edgeworth dan Kay berkencan. Meski mereka tidak pernah mengakuinya, atau setidaknya, belum mengakuinya. Kay adalah asisten dan murid Edgeworth sejak beberapa bulan lalu, dan mereka selalu melakukan segalanya berdua. Kalau saya perhatikan, Edgeworth nyaris tidak pernah melepaskan pandangannya dari Kay. Dan, semenjak Kay menjadi asistennya, Edgeworth jauh lebih sering tersenyum daripada dulu, ia sangat dingin. Sebagai teman baiknya, tentu saya sangat bahagia, akhirnya ia menemukan wanita yang tepat untuk mengisi hatinya.”

Edgeworth berhenti membaca, meneguk tehnya lebih cepat lagi, dan bersumpah akan membunuh Wright jika bertemu dengannya. Dasar orang media yang tidak punya kehidupan. Mengusik kehidupan pribadi orang lain seperti ini. gerutunya sebal. Ia membaca ulang kata-kata yang diucapkan Wright.

Kalau saya perhatikan, Edgeworth nyaris tidak pernah melepaskan pandangannya dari Kay.

Alis Edgeworth berkerut semakin dalam. Benarkah itu? Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Kay? Sialan kau, Wright. Mengapa kau memperhatikan aku sampai sedetail itu? Tapi Edgeworth mengakui, ia memang merasa sangat bahagia setiap kali Kay berada di dekatnya. Perasaan bahagia itu tak pernah ia rasakan sebelum Kay menjadi asistennya. 

Apakah aku akhirnya jatuh cinta, setelah 34 tahun aku berada di dunia ini? Apakah aku benar-benar jatuh cinta kepada Kay Faraday?

Edgeworth mengernyit lagi, dan menggelengkan kepalanya. Tidak. Ini pasti tidak lebih dari perasaan bangga seorang mentor terhadap muridnya. Lagipula……Kay 9 tahun lebih muda dari aku! 

“Pagi, Tuan Edgeworth!” sapa Kay ceria. Edgeworth tidak menjawab. 

Perasaan itu lagi. Kenapa jantung aku harus berdebar-debar hanya karena ia memanggil nama aku?
“Hellooooo? Tuan Edgeworth? Kau baik-baik saja? Kau pucat sekali, Tuan Edgeworth…kau sakit?” tanya Kay sambil menekan dahi Edgeworth dengan telapak tangannya. 

Gulp. Edgeworth menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Apa gadis ini sadar tubuhnya sangat berdekatan dengan aku sekarang? 

“Tuan Edgeworth! Badan kau panas, kau benar-benar sakit! Apa kau mau aku antar pulang, Mr. Edgeworth?” ucap Kay lagi dengan nada penuh kekhawatiran. 

“Tidak, Kay, aku baik-baik saja, sungguh,” jawab Edgeworth, dan setelah ia selesai berbicara, ia batuk kencang sekali. Batuknya kasar dan kering, membuat Kay semakin panik. 

“Tidak, Tuan Edgeworth! Kau tidak baik-baik saja. Berbaringlah di sofa, Tuan Edgeworth. Aku akan segera kembali, aku akan ke apotik,” ucap Kay. Tapi Edgeworth menggenggam tangan Kay. Selama beberapa detik, ada kesunyian yang canggung di antara mereka berdua. Edgeworth kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kay dan berkata kikuk, “Maaf Kay, maksud aku, kau tak perlu repot-repot, eh……..”

Kay, yang wajahnya memerah, menjawab, “Tidak apa-apa, Tuan Edgeworth. Tunggu disini, aku tidak akan lama,” gumam Kay kikuk dan ia keluar dari kantor dengan setengah berlari. 

Tolol, dasar tolol, kau tolol, Miles Edgeworth. Apa yang aku pikirkan, menggenggam tangannya begitu aja? Dia kelihatan sangat tidak nyaman.
Sial.
Apakah aku benar-benar jatuh cinta kepada wanita yang telah aku kenal sejak ia berusia 10 tahun?
Bodoh.
Kenapa aku tidak bisa mengerti akan perasaan aku sendiri?
Aku butuh jawaban. Kepada siapa aku harus bertanya?
Wright? Tidak. Dia akan meledek aku habis-habisan.
Franziska? Tidak. Dia akan memukul aku dengan cambuknya dan berkata betapa tololnya aku tidak dapat mengerti perasaan aku sendiri.
Ah. Tentu saja. Lang. Dia tidak akan meledek aku dan dia akan memberikan nasihat-nasihat bagus.

Pintu kantor kembali terbuka, membuat Edgeworth terlonjak. Kay kembali dari apotik, membawa beberapa bungkus obat dan kompres. 

“Berbaringlah, Tuan Edgeworth,” ucap Kay. Edgeworth tidak menjawab apa-apa dan berbaring di atas sofa. Kay kemudian mulai mengompres dahinya. Edgeworth beberapa kali harus menelan ludah. 

Wajah Kay yang begitu dekat dengannya saat ia mengompresnya membuat Edgeworth sulit sekali berkonsentrasi. Oh Tuhan, apa dia sadar dia ada di posisi yang sangat intim sekarang?

Setelah selesai mengompres Edgeworth, Kay menuangkan obat batuk dan menyuapi Edgeworth.
“Bagaimana perasaan kau, Tuan Edgeworth?”
“Jauh lebih baik, Kay. Terima kasih.” Jawab Edgeworth penuh dengan rasa terima kasih.
“Ah, itu bukan apa-apa, Tuan Edgeworth. Aku rasa lebih baik kau pulang saja sekarang, Tuan Edgeworth! Istirahatlah. Biar aku yang menangani semua pekerjaan hari ini.”

Edgeworth mengangguk, berdiri perlahan, dan bermaksud memberikan kecupan terima kasih di pipi Kay. Awalnya ia sungkan untuk melakukannya, tapi, bagaimanapun, Kay pantas mendapatkannya. Kay banyak membantunya dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebuah kecupan terima kasih di pipi, hanyalah hal yang bisa dilakukannya setelah Kay begitu banyak membantunya. Kay, yang sedang membereskan bungkusan obat di meja, berbalik dengan cepat. Akibatnya, secara tak sengaja, bibir ia dan bibir Edgeworth saling bersentuhan. Edgeworth melotot, dan mundur beberapa langkah. Sementara Kay ternganga sedikit.

“Kay…….! Sungguh, aku tak bermaksud…….Aku tak sengaja….aku…aku….” seru Edgeworth terbata. Sebelum ia bisa melanjutkan, Kay berdiri dan menampar pipinya. Kemudian dengan marah ia berteriak, “Kau pikir wanita macam apa aku ini, Tuan Edgeworth?!!!!” Lalu Kay berlari keluar dan membanting pintu.

“LANG!”seru Edgeworth kesal. “Aku kesini karena ingin curhat dengan kau, bukan mendengar kau mentertawakan aku terus-terusan!”

“Maaf, Edgey-boy,” ucap Lang sambil meneguk minumannya, masih tertawa terbahak-bahak. “Tapi, Jesus Christ! Kau berusia 34 tahun, dan kau adalah seorang Kepala Jaksa, Edgey-boy! Dan kau bertingkah seperti anak SMA berumur 17 tahun!”  

“Sudah aku bilang, aku tidak sengaja! Aku hanya ingin memberikan kecupan di pipinya, dan kemudian ia berbalik, dan, dan…….”

Lang mengusap matanya. “Edgey-boy. Akui saja. Jujur saja pada aku. Kau jatuh cinta kepada Nona Faraday, bukan?”

“Justru karena itu aku ingin bicara kepada kau, Lang! Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti.” jawab Edgeworth sambil menggaruk hidungnya. 

“Mph. Tidak mengerti, oke. Nah, sekarang, jawab pertanyaan aku. Dengan jujur. Apa yang kau rasakan saat Nona Faraday bersama dengan kau?”

“Jantung aku berdebar-debar. Dan well….Aku merasa aku selalu ingin memandang wajahnya.”
“Apa kau pernah merasakan seperti itu terhadap wanita lain? Kau bekerja dengan banyak wanita sebelumnya, bukan?”
Edgeworth mengernyit, kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

Lang menjentikkan jarinya. “100%, Edgey-boy. Kau jatuh cinta kepada Nona Faraday. Karena itulah yang aku rasakan juga terhadap adikmu Franziska sebelum kami berkencan.”

Edgeworth mengangkat alisnya. “Tapi, Lang! Kay 9 tahun lebih muda dari aku! Aku mengenalnya sejak ia masih berusia 10 tahun, tidakkah menurut kau ini….salah? Bisa dikatakan aku ini termasuk pedofil?”

“Astaga, Edgey-boy. Tentu saja tidak. Tuan Wright dan Nona Fey juga punya perbedaan usia yang hampir sama dengan kalian berdua. Jadi, tunggu apalagi, Edgey-boy? Ungkapkan perasaan kau terhadap Nona Faraday.” 

“Apa?” ucap Edgeworth. “Lang, dia menampar pipi aku karena aku tak sengaja mencium bibirnya selama beberapa detik. Jika aku bilang bahwa aku jatuh cinta kepadanya, ia akan melempar aku ke dalam lift!”

Lang kembali tertawa. “Heh, heh, heh, heh. Astaga, Tuan Kepala Jaksa meminta aku mengajari tentang cinta, hffft. Kau mau jawaban, bukan? Jangan menjadi pengecut, Edgey-boy! Aku rasa Nona Faraday menyukai kau juga!”

Setelah percakapannya dengan Lang, Edgeworth berpikir keras saat di rumahnya. Dia harus memastikan ini semua. Dia rasa Lang memang benar. Bahkan di rumahnya pun, dia tidak bisa menyingkirkan Kay dari pikirannya. Dia masih memikirkan Kay. Sebelumnya, dia tidak pernah memikirkan seseorang terus-terusan seperti ini selain memikirkan almarhum ayahnya.

Jadi, dia benar-benar jatuh cinta pada Kay. Tapi bagaimana jika Kay tidak merasakan hal yang sama kepadanya? Dia ingat ketika dia iseng bertanya kepada Kay apakah dia memiliki pacar. Dan jawaban Kay adalah tidak. Ya, Kay adalah wanita single. Tapi itu bukan berarti Kay akan membalas perasaannya. Kay, dia muda, enerjik, pintar, dan….cantik. Sementara aku tua. Aku bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Apa yang akan aku rasakan jika Kay tertarik kepada pria lain?
Patah hati?
Dia tidak pernah merasakan hal seperti itu. Dia adalah pria yang menikah dengan pekerjaannya. Dia merasa patah hati jika kriminal berkeliaran dengan bebas. Bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ia berguling di tempat tidurnya, dan menutup matanya. Hal pertama yang muncul dalam pikirannya ketika ia menutup matanya adalah wajah Kay, dan senyuman Kay, yang sangat ia sukai. Tapi bagaimana jika senyuman itu dimiliki oleh pria lain pada akhirnya, bukan dia?

Cinta menyakitkan.
Tuhan. Jadi begini rasanya menahan perasaan kepada seseorang yang bahkan kau tidak tahu apakah ia mencintai kau juga atau tidak. Sepertinya aku harus minta maaf pada Wright karena mentertawakan dia saat ia melihat Maya menggenggam tangan pria lain.
Syukurlah, Wright tidak bisa membaca pikiran aku sekarang.
Aku butuh jawaban. Aku ingin tahu. Dan aku harus tahu.

Kay sekarang berdiri di depan meja kerja Edgeworth. Edgeworth sibuk mengetik di laptopnya, sama sekali tidak menyadari kedatangannya sampai Kay berdeham. Edgeworth memalingkan wajahnya dari laptopnya, dan menatap Kay dalam-dalam.

“Pagi, Tuan Edgeworth,” ucap Kay pelan.
“Halo, Kay, pagi,” jawab Edgeworth dengan suara yang tidak kalah pelan, kemudian kembali memandang ke arah laptopnya. 

“Tentang kemarin…….aku sungguh-sungguh minta maaf, Tuan Edgeworth. Aku……aku terkejut sekali kau tiba-tiba mencium bibir aku seperti itu, aku hilang kontrol, padahal aku tahu kau tidak sengaja, aku tahu kau bukan tipe pria yang seperti itu, aku..aku… Kalau kau mau memecat aku, tidak apa-apa, Tuan Edgeworth! Tapi sungguh, aku harap kau mau memaafkan aku atas sikap aku yang begitu kasar!”

Edgeworth tersenyum dan bangkit dari kursinya.
“Tidak apa-apa, Kay. Aku bisa mengerti. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku jadi kau,” ucap Edgeworth lembut, kemudian ia maju selangkah agar jarak ia dan Kay berdiri semakin dekat. Badannya langsung gemetar, dan jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Ia membuka mulutnya, kemudian menutup mulutnya lagi. 

Jangan menjadi pengecut, Edgeworth! Kau seorang Kepala Jaksa, dan kau tidak berani mengungkapkan perasaan kau terhadap gadis yang usianya 9 tahun lebih muda dari kau? Payah!

“Tuan Edgeworth?” tanya Kay khawatir. “Kau sakit lagi?” Perasaan Kay menjadi semakin tak enak karena Edgeworth maju selangkah lagi, membuat tubuh mereka hampir saling bersentuhan.

“Kay,” ucap Edgeworth, berusaha keras memantapkan suaranya, “Aku..aku ingin mengatakan sesuatu kepada kau. Aku..aku menyukai kau.” Astaga, payah sekali, Tuan Kepala Jaksa! Kau seharusnya mengatakan kalau kau mencintainya! 

Kay menatap Edgeworth dengan bingung. Apa maksud Tuan Edgeworth tiba-tiba mengatakan itu? Ia tidak pernah berbicara ataupun bertingkah seperti ini sebelumnya!

“Eh…terima kasih, Tuan Edgeworth. Senang jika ada yang menyukai aku, well, aku berusaha keras untuk menjadi orang yang baik supaya orang-orang menyukai aku,” ucap Kay sambil tertawa dengan salah tingkah. 

Bukan itu maksud aku! Ayo, Miles Edgeworth! 

“Eh……bukan itu maksud aku, Kay. Aku menyukai kau bukan karena kau orang yang baik…….Aku..menyukai kau…….karena……” Edgeworth menelan ludah. Katakan saja, Edgeworth! “Karena aku jatuh cinta kepada kau.”

Sunyi selama beberapa saat. Kay menatap Edgeworth dengan tak percaya. Apakah ini mimpi? Kepala Jaksa Miles Edgeworth, jaksa paling tampan di Amerika, tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepadanya? Kay mengangkat tangannya, dan menampar pipinya beberapa kali.
Ouch. Sakit sekali. Ini bukan mimpi. 

Ia juga telah jatuh cinta kepada Edgeworth sejak bekerja dan menjadi murid Edgeworth. Tapi tidak pernah, dalam pikiran yang paling gila sekalipun, bahwa Edgeworth akan jatuh cinta juga kepadanya. Di luar sana banyak sekali wanita cantik yang tentunya jauh lebih pantas untuk sang Kepala Jaksa! Sebenarnya, apa yang Edgeworth lihat darinya?

Kay menatap Edgeworth lagi, yang sekarang menunduk menatap sepatunya, dan wajahnya merah padam. Dia tidak mungkin serius, kan? Kay menunggu hingga Edgeworth mengangkat wajahnya, kembali dingin seperti biasa, dan berkata bahwa dia hanya membuat lelucon sebagai hukuman karena Kay telah menamparnya. Ia menunggu dan menunggu, dan Edgeworth tetap menundukkan kepalanya.

Dia benar-benar serius?!

“Buktikan.” ucap Kay pendek. Edgeworth mengangkat wajahnya dengan cepat.
“Apa maksud kau, Kay?” tanya Edgeworth gugup.
“Buktikan kalau kau benar-benar mencintai aku. Berikan aku bukti, Tuan Kepala Jaksa.” jawab Kay sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Edgeworth merasa jantungnya merosot hingga ke kakinya. Edgeworth menelan ludah. Edgeworth bersumpah dia hampir mati saat itu.

Ayolah, Miles Edgeworth! Kau tidak akan meninggalkan kasus yang tak terselesaikan, bukan?
“Aku punya bukti yang kuat, Nona Faraday.”

Maka Edgeworth melompat maju, memiringkan kepalanya, dan mengunci mulutnya dengan mulut Kay. Kay mencium Edgeworth balik, bibir Edgeworth terasa seperti campuran antara teh dan gula yang manis, dan ia sangat menyukainya. 

Edgeworth tidak pernah mencium seorang perempuan sebelumnya. Ciuman yang pernah ia rasakan adalah ciuman dari Wendy Oldbag yang sedang mabuk, dan ia tidak mau mengingat salah satu hal paling mengerikan yang pernah terjadi dalam hidupnya setelah peristiwa DL-6. Menurutnya, Kay sangat profesional. Mereka terus berciuman dengan lapar, hingga akhirnya berhenti untuk udara.
Kay terkikik. “Astaga, Tuan Edgeworth, untuk seorang Kepala Jaksa yang banyak dikagumi orang, kau benar-benar pencium yang buruk.”

Pipi Edgeworth memerah seketika. “Aku tidak pernah mencium wanita sebelumnya, Kay. Dan, maukah kau berhenti memanggil aku Tuan Edgeworth? Berapa banyak wanita yang memanggil pacar mereka ‘Tuan’?”

Kay terkikik lagi, dan menjawab, “Baiklah kalau begitu, Miles.”

Mereka berdua kemudian berciuman lagi, sebelum akhirnya dikejutkan oleh suara blitz dan suara ‘click’ dari luar jendela. Dengan kaget mereka berdua berhenti berciuman dan menoleh ke arah jendela. Beberapa wartawan memotret mereka dari luar jendela, dan salah satu dari wartawan itu berteriak, “Apa kubilang! Mereka berdua memang berkencan! Kepala Jaksa Miles Edgeworth akhirnya menemukan cinta juga!”

“Dan aku pikir Kepala Jaksa Miles Edgeworth adalah seorang asexual.”

“Nah, aku pikir dia adalah gay.”

Edgeworth mendengus. “Bahkan di dalam kantor aku sendiri aku tidak bisa punya privasi. Maafkan aku, Kay.”

“Heh, heh, heh, Miles.  Aku tidak peduli sama sekali. Dan aku tidak keberatan.” 

Kemudian mereka berdua berciuman kembali setelah para wartawan pergi. Beberapa kali Kay mencubit lengannya untuk memastikan sekali lagi bahwa ini semua bukan mimpi. Melainkan sebuah kenyataan. Kenyataan yang indah. 

Tapi, ia tidak sadar, kenyataan yang indah ini akan berubah menjadi suatu kenyataan yang pahit.

Tiga bulan berlalu sejak Edgeworth dan Kay resmi berkencan. Mereka menjadi pasangan paling terkenal di Los Angeles dan di Amerika, layaknya pasangan selebriti Hollywood. Banyak yang bahagia dengan hubungan mereka, tapi banyak juga yang tidak senang dan iri. Hampir setiap hari, jika jalan-jalan bersama Edgeworth, Kay harus menerima pandangan sinis dari para gadis yang menganggap ia tak cukup cantik dan tak pantas untuk Edgeworth. Tapi Kay tidak peduli. Ia mencintai Edgeworth. Dan Edgeworth juga mencintainya. Edgeworth bukan tipe pacar yang selalu mengatakan ‘I love you’ atau memberikannya bunga dan coklat setiap saat, tapi ia adalah pacar yang perhatian dan sangat baik. Dan itu lebih dari cukup untuk Kay.

Teman-temannya, seperti Maya, Phoenix, Lang, Franziska, juga sangat bahagia dengan hubungan mereka berdua. Mereka tidak pernah bertengkar, dan selalu saling mengerti satu sama lain. Phoenix dan Franziska tidak henti-hentinya berpesan kepada Kay agar menjaga Edgeworth dengan baik, dan Kay bersumpah ia tidak akan mengecewakan mereka. Sejak kehilangan ayahnya, Byrne Faraday yang meninggal di pengadilan, Kay tidak pernah merasa hidupnya sesempurna ini. Karir yang bagus, penghasilan yang lebih dari cukup, pacar yang tampan dan mencintainya. Ah, dia tidak pernah sekalipun bermimpi akan kehidupan yang indah seperti ini.
Namun, suatu hari saat ulang tahun Edgeworth, kehidupan yang sempurna itu berubah.

“Oke, Miles, ini berkas terakhir yang harus kau tanda tangani. Setelah itu, kita bisa pulang dan merayakan ulang tahun kau!” ucap Kay sambil menaruh beberapa berkas ke atas meja kerja Edgeworth. Edgeworth tidak menjawab. Ia membelakangi Kay, dan tubuhnya bergetar hebat sekali.

“Miles?” panggil Kay pelan. Kali ini Edgeworth memutar kursinya, dan ia mencengkeram dadanya dengan kencang sekali. 

“K-kay…dada aku..sakit,” ucap Edgeworth lemah. Lalu secara tiba-tiba, lututnya melengkung, dan ia terjatuh dari kursi meja kerjanya.

“MILES!” teriak Kay panik, lalu ia berlutut di sebelah Edgeworth. Ia mengangkat kepala Edgeworth dengan hati-hati ke pangkuannya agar kepala Edgeworth tidak membentur lantai. Edgeworth menggertakkan giginya, mencengkeram dadanya lebih erat lagi.  “Ahn----!” seru Edgeworth lagi.
Selama beberapa saat, pikiran Kay menjadi kosong dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menangis memandangi kekasihnya mencengkeram dadanya dengan kesakitan di pangkuannya.
Panggil ambulans, idiot! Bisik sebuah suara di dalam kepalanya.

Benar. Dengan panik Kay meraba-raba kantongnya, dan ia baru ingat kalau ia menyimpan ponselnya di dalam tas. Mengutuk pelan, Kay mengangkat kepala Edgeworth dengan hati-hati dan berlari mengambil tasnya. 

“Miles, sayang, tahanlah, aku akan panggil ambulans, aku mohon, tahan!” seru Kay. Ia mengambil ponselnya dan menekan 911 dengan cepat. Tidak ada jawaban. Kay mencoba beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. Dengan putus asa akhirnya ia menelepon Phoenix.

“TUAN WRIGHT! TUAN WRIGHT!!!!!!!!” teriak Kay sejadi-jadinya.
“Kay?! Kay, ada apa? Kau baik-baik saja?!”
“Tolong ke kantor Miles sekarang, Tuan Wright, ia mencengkeram dadanya dan hampir pingsan,aku mohon bantuan kau, aku memanggil ambulans dan tidak ada jawaban………”
“Baiklah, Kay. Tetap tenang, oke? Aku akan segera kesana.” 

Kay menutup teleponnya, dan kembali berlari menuju Edgeworth. Wajah Edgeworth sudah sangat pucat pasi sekarang, dan seluruh wajahnya dipenuhi keringat dingin. Kay membelai rambut Edgeworth, air mata mengalir di pipinya dan jatuh ke wajah Edgeworth. 

“Bantuan akan segera datang, Miles, aku mohon, bertahanlah……..” isak Kay. Tidak berapa lama kemudian, Edgeworth tak sadarkan diri di pangkuan Kay.
“MILES!!!” teriak Kay sambil mengguncang badan Edgeworth dengan kasar. “MILES!!!!”

Rabu, 03 Agustus 2016

Ketagihan bikin Fanfiction!

Baru-baru ini, gw punya hobi baru. Apa itu? Bikin Fanfiction! Yup, semenjak kembali main game Ace Attorney, gw jadi ketagihan bikin Fanfic dari game ini, yang biasanya gw publish di situs Fanfiction.net atau Archive of Our Own. Bener deh, dua situs ini bikin nagih banget, soalnya member lain bisa ngasih review/masukan atas cerita yang kita buat, atau sekedar ngasih "kudos."
Buat kalian yang suka nulis, gw rekomendasiin banget kalian upload karya kalian ke dua situs ini!

Ini beberapa fanfic yang udah gw tulis dan selesai:

A Father's Love https://www.fanfiction.net/s/11874933/1/A-Father-s-Love

An Expensive Lesson https://www.fanfiction.net/s/11916121/1/An-Expensive-Lesson

Chaos in the House https://www.fanfiction.net/s/12046387/1/Chaos-in-the-House

I'm going to be strong https://www.fanfiction.net/s/11867821/1/I-m-going-to-be-strong-Revised-Story-from-titled-Wright-Sacrifice

If Tomorrow Never Comes https://www.fanfiction.net/s/12028861/1/If-Tomorrow-Never-Comes

Injured in Office https://www.fanfiction.net/s/11942397/1/Injured-In-Office

Papa's Promise https://www.fanfiction.net/s/11917256/1/Papa-s-Promise

Shattered Heart https://www.fanfiction.net/s/12081964/1/Shattered-Heart

Sleep Well, My Friend https://www.fanfiction.net/s/12067966/1/Sleep-Well-My-Friend

The Christmas Shirt https://www.fanfiction.net/s/11907698/1/The-Christmas-Shirt

The Sleeping Prince https://www.fanfiction.net/s/11905779/1/The-Sleeping-Prince

Turnabout Gunshot https://www.fanfiction.net/s/12066326/1/Turnabout-Gunshot

Ya kali-kali aja kalau teman sekalian lagi bosen dan ga ada kerjaan, mungkin dengan baca cerita-cerita gw bisa ngebunuh kebosanan kalian XD

Rabu, 29 Juni 2016

I'm going to be strong, cerita pendek berbahasa Inggris pertama gw

 Gambar ini digambar oleh gw sendiri sebagai bentuk representasi dari fanfiction Phoenix Wright yang gw tulis 

Hai semua! Udah lama banget ga update blog ya...Selain sibuk di dunia nyata, juga karena kecanduan game Phoenix Wright.
Oke, bagi yang belum pernah denger apa itu Phoenix Wright, game ini adalah game visual novel untuk Nintendo DS/3ds. Di dalam game ini, kita berperan sebagai seorang pengacara yang membela klien kita (atau biasa disebut jaksa pembela) dan di pengadilan, kita harus membuktikan kalau klien kita gak bersalah atas tuduhan yang ditujukan kepadanya. Di ruang sidang, kita harus menemukan kebohongan dari saksi disertai barang bukti. Game ini pertama kali diciptakan oleh Shu Takumi tahun 2001, dan menjadi salah satu game visual novel paling populer. Sejauh ini, game ini sudah punya 6 seri, dimana seri terbaru (Spirit of Justice) akan dirilis September 2016 mendatang. Saking populernya, game ini juga dibikin versi animenya yang tayang pertama kali tanggal 2 April 2016, juga film live action dengan judul Gyakuten Saiban yang rilis tahun 2012.

Nah, saking kecanduan dan saking sukanya sama karakter-karakter di game ini, gw akhirnya nulis Fanfiction game ini. Biasanya gw kalo nulis cerita, selalu dalam bahasa Indonesia, tapi karena orang Indonesia masih kurang familiar dengan game ini, maka gw bikin fanfictionnya dalam bahasa Inggris. Ini pertama kali gw nulis cerita dalam bahasa Inggris, dan tanpa ba-bi-bu lagi, inilah cerita yang gw tulis, judulnya "I'm going to be strong":

https://www.fanfiction.net/s/11867821/1/I-m-going-to-be-strong-Revised-Story-from-titled-Wright-Sacrifice

Ya kalo kawan-kawan sekalian mau dan tidak keberatan, tolong kritik dan sarannya, karena gw butuh banget itu.

Cheers!


Senin, 11 Januari 2016

LINE, Aplikasi yang mengajarkan memaafkan

Cerita ini adalah cerita yang saya tulis untuk mengikuti lomba LINE Story bulan Ramadhan 2015 lalu...silahkan membaca! :)
Rasyad dan Raffa adalah seorang kakak-adik yang tinggal di Bandung. Keduanya begitu akrab dan saling menyayangi. Rasyad, sang kakak, yang berusia 20 tahun, sangat lihai bermain gitar. Sang adik, Raffa , yang berusia 13 tahun memiliki bakat yang begitu luar biasa dalam bermain sepakbola. Mereka berdua begitu dekat, sangat jarang sekali bertengkar hingga membuat banyak orang iri.
Suatu hari, di hari pertama bulan Ramadhan, yang bertepatan juga dengan ulang tahun Raffa yang ke 14, Rasyad bermaksud untuk mengajak sang adik ke Dunia Fantasi, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Kebetulan, ia mendapat dua voucher gratis masuk ke Dufan dari teman sekantornya. Tentu saja Raffa senang sekali, karena sudah lama ia memang ingin pergi ke dunia fantasi. Dengan antusias, Raffa sudah bersiap-siap dari siang hari. Ia memakai pakaian terbaiknya dan menunggu sang kakak pulang di ruang tamu.
Pukul 4 sore, Rasyad pulang dari kantor. Setengah geli ia melihat Raffa yang sudah sangat siap menunggunya di ruang tamu. “Sudah tidak sabar rupanya? Rapi sekali kau,” ujar Rasyad setengah menahan tawa. “Ya kan biar nanti tidak buru-buru. Ayo kak cepat ganti bajunya, nanti jalanan macet,” jawab Raffa polos sambil setengah meloncat. Masih dengan menahan tawa, Rasyad melangkah ke kamarnya dan bersiap-siap.
Setelah Rasyad bersiap-siap selama kurang lebih 10 menit, berangkatlah mereka. Rasyad menyetir mobilnya dengan sangat hati-hati. Benar dugaan Raffa, jalanan sudah lumayan macet dimana-mana. Dengan gelisah Rasyad berkali-kali melihat arlojinya. Kalau begini terus, bisa-bisa sampai ke Dufan sudah tutup, keluh Rasyad dalam hati.
“Raffa, kamu tidak keberatan kan kalau kita ambil jalur lain? Macet dimana-mana. Bisa-bisa nanti ketika kita sampai Dufan sudah tutup,” kata Rasyad lembut. Raffa menoleh. “Terserah kakak saja, yang penting kita ke Dufan,” jawabnya sambil tersenyum. Rasyad kemudian memutar setirnya dan mencari jalan alternatif lain. Cukup lama mereka berputar-putar mencari jalan lain. Berkali-kali Rasyad melirik adiknya yang tampak gelisah. Rasyad bertekad tidak akan mengecewakan sang adik di hari ulang tahunnya ini. Ia pun menambah kecepatan mobilnya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dari arah berlawanan melaju sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Rasyad, yang sudah terlanjur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak dapat menghentikannya. Dan... BRAK!!! Tabrakan pun tak dapat dielakkan lagi. Rasyad hanya mendengar jeritan sang adik setelah itu ia tak sadarkan diri dan tak ingat apa-apa lagi.
Perlahan-lahan Rasyad membuka matanya. Segalanya tampak putih. Apakah aku sudah mati? Apakah ini di surga? pikir Rasyad. Rasyad mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Seorang perawat bertubuh mungil kemudian masuk. “Eh Nak Rasyad, sudah sadar, syukurlah..” ucap si perawat. Rasyad tidak dapat berpikir jernih. Tiba-tiba ia teringat dengan adiknya.
“Raffa! Raffa dimana, sus? Bagaimana keadaan adik saya?” tanyanya histeris. “Tenang Nak, kami rasa dia akan baik-baik saja. Memang dia belum sadar,” jawab sang suster lembut. “Saya mau melihatnya sus, dimana dia?” seru Rasyad. “Baiklah kalau begitu, akan kuantar kau kesana,” jawab sang suster dengan keibuan. Dengan dipapah sang suster, Rasyad berjalan terpincang-pincang ke kamar adiknya dirawat.
Alangkah terkejutnya Rasyad melihat sang adik yang terbaring lemah, penuh dengan luka dan lebam disana-sini. Rasyad meringis melihat berbagai macam selang dan infus dipasang di sekujur tubuh Raffa yang mungil. Perlahan-lahan, air mata Rasyad menetes. Ia membelai rambut adiknya dan berbisik, “Maafkan kakak ya de...” ucapnya lirih.
3 hari berlalu, Rasyad pun dinyatakan sehat dan boleh pulang ke rumah. Tapi Rasyad menolak karena ingin menjaga Raffa yang masih belum sadarkan diri. Dalam hatinya Rasyad tak henti-hentinya berdoa agar Allah tidak mengambil adik yang sangat ia sayangi.
Hari keempat di rumah sakit, Raffa akhirnya sadar, membuka matanya perlahan-lahan saat Rasyad sedang membacakan ayat-ayat Al-Quran di sampingnya.  Hati Rasyad melonjak gembira saat melihat mata adiknya terbuka. “Alhamdulillah ya Allah Kau mengabulkan doaku,” ucap Rasyad lirih. Rasyad langsung mencium rambut adik kesayangannya itu. “Bagaimana perasaan kamu, de? Maafkan kakak ya...” bisik Rasyad. “Haus,” ucap Raffa pelan.
“Sebentar kakak ambilkan minum,” ujar Rasyad. Ia kemudian mengambilkan minum dan membantu Raffa menghabiskan minumannya. Tiba-tiba saja Raffa mengernyit.
“Ada apa, dik? Minumannya tidak enak?” tanya Rasyad cemas. Raffa menggeleng lemah. “Bukan, kak. Kakiku kok tidak bisa digerakkan sama sekali ya?” tanya Raffa polos.  Bagai disambar petir Rasyad mendengar jawaban Raffa. “Apa?” pekiknya. “Coba gerakkan yang kiri, kemudian yang kanan,” kata Rasyad sambil memencet-mencet kaki sang adik. “Tidak bisa, kakak, kakiku seperti diikat di tempat tidur,” ucapnya. Masih terkejut, Rasyad memanggil dokter. Selama 20 menit Rasyad menunggu Raffa diperiksa oleh dokter. Rasyad berdoa dalam hati tidak akan terjadi apa-apa terhadap Raffa. Firasatnya tidak enak saat dokter keluar, karena wajah sang dokter tampak kusut.
“Apa yang terjadi pada adik saya, dok?” tanya Rasyad, takut mendengar jawaban sang dokter. “Tulang punggung adik kamu patah, Rasyad,” jawab sang dokter pelan. Rasyad menelan ludah. “Dan?” tanyanya takut. “Adikmu tidak akan bisa berjalan lagi. Ia lumpuh,” jawab dokter sambil menghela nafas.
Perlahan-lahan Rasyad merosot ke dinding. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. Mengapa jadi seperti ini, ya Allah? Mengapa niat aku untuk menyenangkan adikku malah menjadi malapetaka seperti ini? batin Rasyad pedih.
BRAK! Tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh. Dengan panik Rasyad berlari ke dalam kamar rawat Raffa. Didapatinya Raffa sudah tergeletak di lantai. Dengan sigap Rasyad menggendong Raffa. “Apa yang terjadi, Kak? Kenapa aku tidak bisa berdiri, malah terjatuh?” tanya Raffa polos saat sudah kembali berbaring di tempat tidur. Rasyad tidak tega untuk menjawab pertanyaan sang adik.
“Apa aku lumpuh, kak? Aku akan ditaruh di kursi roda?” desak Raffa lagi. Rasyad berpikir tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya dari Raffa. Dengan pedih ia mengangguk pelan. Tak disangka-sangka, Raffa kemudian menarik tangannya dari tangan Rasyad. Rasyad tertegun.
“Ada apa, Raffa?” tanya Rasyad heran. “Jangan sentuh aku lagi, Kak! Aku tidak mau ketemu kakak lagi! Semua ini gara-gara kakak! Gara-gara kakak!! Keluar ! Keluar kak! Aku tidak mau melihat wajah kakak lagi!” jerit Raffa. Tercengang, Rasyad tetap terpaku pada tempatnya. Tidak lama kemudian, dokter yang mendengar jeritan Raffa tergopoh-gopoh masuk.
“Ada apa ini? Kenapa kau berteriak-teriak, Raffa?” tanya Pak Dokter dengan lembut. “Dia, dok! Aku tidak mau ketemu dia! Dia yang sudah membuat aku cacat seperti ini! Aku ingin dia keluar!” teriak Raffa sejadi-jadinya. Perlahan Pak Dokter menghampiri Rasyad dan meletakkan tangannya di atas bahu Rasyad.
“Nak, lebih baik kau keluar dulu, tunggu sampai adikmu tenang. Paling besok juga dia sudah tenang,” ucap Pak Dokter. “Tapi, Dok...” kata Rasyad pelan. Pak Dokter menggelengkan kepalanya. Akhirnya Rasyad mengalah dan melangkah ke luar.
Hari-hari berikutnya, Raffa ternyata masih belum bisa menerima Rasyad kembali. Ini membuat hati Rasyad merasa sangat terluka. Adiknya yang begitu akrab, tidak bisa dipisahkan, sekarang rasanya jauh sekali. Rasyad juga merasa sangat bersalah karena telah membuat adiknya lumpuh. Berbagai cara dilakukan Rasyad untuk meluluhkan kembali hati sang adik, dimulai dari memberikan bunga, coklat, dan mainan, tapi itu semua tidak berhasil. Raffa tetap tidak mau berbicara dengan Rasyad. Sungguh merana Rasyad dibuatnya. Ia ingin sekali bisa kembali berbicara dengan Raffa.
Suatu hari, Rasyad sedang mengutak-ngatik smartphonenya. Ketika sedang mengakses internet, ia membaca review tentang sebuah aplikasi Instant Messaging bernama “LINE.” Dalam review tersebut, aplikasi instant messaging ini sedang hits, memiliki banyak fitur, dan membantu orang-orang dalam berkomunikasi. Tertarik, Rasyad pun mendownload aplikasi LINE tersebut. Ia berharap dapat kembali berkomunikasi dengan sang adik melalui aplikasi ini.
Setelah menunggu beberapa menit, Rasyad selesai menginstall aplikasi LINE dalam smartphonenya. Dengan iseng, ia pergi ke tombol “Add Friends” kemudian ia mencari nama adiknya, siapa tahu adiknya memakai aplikasi LINE juga. Dan... tara! Ternyata ID adiknya ditemukan. Rasyad kemudian meng-add-as friend Raffa.
Dengan jempol gemetar, Rasyad menulis pesan yang berbunyi, “Adikku yang tersayang, Please Forgive Me. I don’t know what I do. Please forgive me, I can’t stop loving you.” Rasyad kemudian mengirimkan pesan itu kepada id LINE Raffa.
Tring! Hp Raffa berbunyi. Raffa yang tidak pernah lepas dari handphone nya, langsung mengecek. Cukup terkejut ia melihat pesan LINE dari kakaknya. Raffa membacanya, tapi ia masih sangat marah. Ia langsung menghapus pesan itu.
Sementara itu, Rasyad yang gelisah menunggu balasan dari Raffa, tidak henti-hentinya mengecek handphone nya. Alangkah sedihnya ia saat melihat pesan yang ia kirim sudah berstatus “Read”. Rasyad tidak menyerah. Ia tetap berusaha minta maaf kepada Raffa. Ia kembali mengetikkan pesan untuk Raffa.
“Dear Raffa my lovely brother... kakak tahu kakak bersalah, sangat bersalah karena telah membuat kamu tidak bisa berjalan lagi.. tapi kakak mohon, maafkan kakak, kakak ingin kita seperti dulu lagi, bermain bersama, jalan-jalan bersama, kakak ingin melihat kehangatan mata kamu lagi, dik. Kakak mohon bukakan pintu maafmu untuk kakak, karena kakak sendiri tidak ingin kejadian seperti ini terjadi...” Sambil mengelap ingusnya, Rasyad kembali mengirimkan pesan LINE kepada Raffa.
Tring! Handphone Raffa kembali berbunyi. Raffa tetap tidak menghiraukan pesan LINE Rasyad. Ia hanya membacanya namun tetap enggan membalasnya. Rasyad pantang menyerah. Ia terus mengirimkan pesan LINE yang berisikan permohonan maaf, juga stiker-stiker lucu yang akhirnya membuat Raffa tertawa. Tapi tetap saja, Raffa tidak mau membalas pesan Rasyad. Karena jengkel, Raffa bermaksud memblock LINE Rasyad.
Sebelum memblock LINE sang kakak, Raffa kemudian iseng-iseng melihat timeline LINE nya. Raffa memang memiliki hobi melihat-lihat timeline LINE nya karena isinya banyak yang lucu-lucu dan bagus-bagus. Begitu pula dengan kali ini. Raffa dibuat senyum-senyum sendiri karena banyak yang mengucapkan semoga lekas sembuh untuknya di timeline LINE nya. Sampai akhirnya matanya terhenti pada sebuah status yang dishare oleh salah satu temannya.
Status itu berbunyi: “Tidaklah halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan beri dia salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala,dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” Dikutip dari Riwayat Abu Daud.
Bagai ditampar Raffa membaca status LINE tersebut. Ia akhirnya sadar bahwa ia telah berdosa karena telah menolak memaafkan. Setelah membaca status itu, Raffa akhirnya sadar bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan diganjar pahala oleh Allah SWT, apalagi ini perihal memaafkan kakak kandungnya sendiri, terlebih lagi bulan suci Ramadhan sedang berlangsung. Air mata Raffa menetes dan ia mengusapnya secara perlahan. Hati Raffa akhirnya luluh.
Raffa kemudian memaksakan diri turun dari tempat tidurnya. Ia kemudian memaksakan diri ngesot keluar dari kamar rawatnya untuk menemui Rasyad. “Kakak!” seru Raffa sambil tersendu-sendu. Rasyad, yang masih asyik mengotak-ngatik smartphonenya, kaget bukan kepalang, mendengar namanya dipanggil. Ia sangat terkejut melihat Raffa yang sekarang terduduk di lantai.
“Kak, maafin Raffa sudah mengabaikan permintaan maaf kakak. Raffa sudah tidak marah lagi sama Kakak. Ini semua bukan salah kakak, tapi rencana Allah. Maafin Raffa kak, sudah jahat sekali sama kakak. Kakak adalah kakak terbaik yang Raffa punya,” seru Raffa sambil menangis.
Rasyad, yang wajahnya bersimbah air mata sekarang, berlari menghampiri Raffa dan menggendongnya. Ia kemudian memeluk Raffa dan menciumi rambutnya. “Tentu saja kakak maafkan Raffa... Raffa, kakak sayang sekali sama Raffa, lebih dari apapun,” bisik Rasyad sambil memeluk adik kesayangannya itu. Kedua kakak-adik itu pun bertangis-tangisan, membuat para dokter dan suster menghambur keluar dan ikut terharu.
Raffa merasa bersyukur sekali, berkat LINE lah, hatinya dibukakan untuk memberikan maaf kepada sang kakak. Mungkin jika Raffa tidak pernah menginstall aplikasi LINE di handphonenya, ia tidak akan pernah membaca status LINE tentang hadits saling memaafkan yang mengantarkannya untuk memberikan maaf kepada kakaknya. Terima kasih, LINE, pikir Raffa lega.
Seminggu kemudian, Raffa diizinkan keluar dari rumah sakit. Meski sekarang ia harus duduk di kursi roda, tapi itu semua tidak menyulitkan karena Raffa tinggal mengirim pesan LINE kepada sang kakak atau pembantunya apabila ia membutuhkan bantuan. Tidak perlu repot-repot berteriak atau membunyikan bel. LINE memang luar biasa!

-THE END-

Minggu, 10 Januari 2016

Janji Seorang Sahabat

JANJI SEORANG SAHABAT
Di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joshua Rendy dan Hans Santoso. Joe adalah seseorang yang cerdas dan hidup sendiri tanpa orang tua. Sedangkan Hans adalah anak keluarga berada yang kurang beruntung karena memiliki penyakit yang mematikan, yaitu hemofilia .Namun persahabatan mereka tidak terhalangi oleh perbedaan itu. Keduanya sama-sama menyukai sulap. Mereka berdua sering sekali mempraktikkan trik-trik sulap bersamaan. Pada suatu hari, Joe yang sedang duduk santai di rumahnya, tidak sengaja melihat iklan audisi “Magic Grand Prix” yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta. Joe yang sangat menyukai sulap, sangat bersemangat dan tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dengan cepat ia berkunjung ke rumah Hans, dan memberitahukan tentang kompetisi itu. Hans tentu saja tertarik dan menyambutnya dengan antusias. “Ini saatnya kita menggapai mimpi kita, Hans! Menjadi pesulap professional!” kata Joe dengan riang gembira. “Kapan Joe mulai audisinya?” tanya Hans dengan antusias. “Tanggal 5.. 2 minggu lagi. Audisinya di Jakarta…bisa kau bayangkan bila kita menang, Hans? Kita akan terkenal… orang-orang mengelu-elukan kita.. bahkan kita bisa tampil di London Teater!” seru Joe gembira. Hans tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, aku akan memberitahu orangtua aku. Semoga mereka mengizinkan aku ikut kompetisi itu!” Joe mengedipkan matanya. “Beritahu aku setelah itu, ok?” kemudian Joe pulang ke rumahnya.
Waktu makan malam pun tiba. Hans dengan takut-takut menceritakan tentang kompetisi “Magic Grand Prix” tersebut. Ternyata, orangtua Hans sama sekali tidak suka dan tidak mengizinkan Hans untuk mengikuti audisinya. Tentu saja,  Hans merasa kecewa sekali dengan kedua orangtuanya. “Mama dan Papa memang tidak pernah mengerti aku!” serunya,, dan ia masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintunya. Kedua orangtuanya hanya bisa diam melihat kekecewaan anaknya itu. Keesokan harinya, seperti biasa Joe mampir ke rumah Hans. Joe dengan riang menceritakan bahwa tabungannya sudah cukup untuk pergi ke Jakarta. Ia membicarakan apa yang akan ia persiapkan untuk audisi nanti. Hans mendengarkan dengan murung. Joe akhirnya berhenti berbicara. “Kenapa kau, teman?” tanyanya. Joe menepuk pundak Hans. “Ayolah, hari ini cerah sekali! Kenapa mukamu mendung seperti itu?”
“Joe, orangtuaku tidak mengizinkan aku untuk pergi ke Jakarta dan mengikuti audisi Magic Grand Prix,” jawab Hans pelan. Joe tertegun. Ia merasa sangat iba dengan kawannya itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Kau pergi saja kesana… jangan gara-gara aku kau jadi tidak bisa menggapai mimpimu,” kata Hans. “Aku akan selalu mendukungmu”. Joe hanya terdiam. Ia sebenarnya sangat ingin mengikuti audisi kompetisi itu bersama-sama dengan Hans. Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Tapi jika orangtua Hans tidak mengizinkan, apa boleh buat. Joe tidak bisa memaksa, ia juga tidak bisa berbuat apapun, ia juga maklum akan keputusan orangtua Hans, mengingat Hans memang sangat lemah, dan penyakit hemofilianya bisa merenggut nyawanya kapan saja. Joe mengangguk pelan. “Kalau itu keputusan orangtuamu, baiklah kawan, aku bisa mengerti,” ujar Joe. “Tapi kau harus janji padaku,” jawab Hans. “Berjanjilah kau akan memenangkan kompetisi itu! Kalau tidak aku akan sangat marah kepadamu!” kata Hans diiringi gelak tawa Joe. Mereka berdua kemudian mengaitkan kelingking mereka. “Best Friends Forever!”kekeh keduanya.
Hari demi hari pun berlalu. Joe dengan giat berlatih untuk audisi Magic Grand Prix. Ia selalu berlatih bersama Hans. Tak terasa, tiba-tiba saja hari audisi akan tiba dalam kurun waktu 4 hari lagi. Joe semakin merasa tegang.  “Permainan sulapmu sudah sangat bagus Joe, tidak usah khawatir,” ujar Hans, ia geli melihat sahabatnya begitu gugup, padahal waktu audisi masih 4 hari lagi. “Kau akan datang dan mendukungku di audisi nanti kan?” tanya Joe penuh harap. Hans mengangguk mantap. “Tentu saja” ujarnya. Joe tersenyum, kemudian mengacak rambut Hans. “Kau memang sahabat terbaikku!” serunya sambil terkekeh.
Keesokan harinya, Joe kembali mampir ke rumah Hans. Ia ingin menyiapkan kebutuhan untuk audisi bersama Hans. Namun, alangkah herannya Joe, saat ia melihat ada mobil ambulans diparkir di rumah Hans. Perasaan Joe sangat tidak enak. Setengah berlari ia menghampiri rumah Hans, ketika tiba-tiba Pak Andre, ayah Hans, menghampirinya. “Joe…..Hans meninggal saat sedang tidur,” bisiknya sedih. Bagai disambar petir Joe mendengar kata-kata Pak Andre. Kemudian secara refleks ia berlari ke dalam ambulans tersebut. Dengan cepat Joe kemudian menyibakkan kain putih yang menutupi ranjang di dalam ambulans. Setelah menyibakkan kainnya, Joe tertegun. Tampak di depannya,sahabat terbaiknya, Hans, sudah terbujur kaku, memakai piama, wajahnya begitu pucat, matanya terpejam dan tangannya mendekap. Bibirnya tersenyum. Wajahnya terlihat begitu damai. Kalau tidak ada setetes darah kering yang muncul di ujung bibirnya dan ujung lubang hidungnya, Hans bisa disangka sedang tidur. Joe dilanda shock. Meski ia mengetahui tentang penyakit Hans, tetap saja Joe tidak siap untuk kehilangan sahabatnya. Perlahan-lahan ia jatuh berlutut.
2 hari kemudian, hari pemakaman Hans pun tiba.  Joe masih tidak percaya sahabat terbaiknya di dunia telah meninggalkan ia untuk selama-lamanya. Joe berusaha tampak tegar meski hatinya sakit sekali. Ia berjalan ke ruang depan rumah duka dengan langkah lesu, kemudian ia duduk. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tidak keluar.
“Joe?” panggil seseorang. Joe menoleh perlahan. Ternyata yang memanggilnya adalah Pak Andre. “Bolehkah aku duduk?” tanya Pak Andre lembut. Joe mengangguk perlahan, kemudian menggeser posisi duduknya. Ia berusaha keras untuk tidak menatap wajah Pak Andre.

Selama beberapa menit, terdapat kesunyian yang canggung di antara mereka berdua.  “Kau harus menang dalam kompetisi Magic Grand Prix itu, Joe. Jika kau tidak menang, Hans tidak akan pernah memaafkanmu,” gumam Pak Andre memecah keheningan. Joe hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa.  Ia hanya menggigit bibirnya, berusaha keras agar tidak menangis di hadapan Pak Andre.
Kemudian, secara tiba-tiba dan tak sadar, Joe menabrakkan kepalanya ke dada Pak Andre. “Hans bilang ia akan datang ke audisiku dan mendukungku! Tapi ia tidak menepati janjinya!” seru Joe tergagap, air matanya menetes secara perlahan ke kerah kemeja Pak Andre. Pak Andre memeluk dan membelai rambut Joe, layaknya Joe adalah seorang putranya sendiri. “Joe sayang, tenang Nak, Hans sudah lama sakit, kau tahu itu! Tak ada gunanya menangis. Hans tidak akan kembali! Ia sudah tidak kesakitan lagi,” ujar Pak Andre pelan. “Hapus air matamu Nak.” Joe melepaskan diri dari pelukan Pak Andre. Ia merasa malu karena tidak bisa mengontrol emosinya.  “Bolehkah aku melihat Hans untuk terakhir kali?” tanya Joe masih dengan suara sengau. “Bicara apa kau, Nak? Tentu saja boleh!” kata Pak Andre lembut.
. Joe kemudian masuk ke dalam rumah duka itu. Jenazah Hans masih berbaring disana, tangannya mendekap, matanya tertutup dan tersenyum. Wajahnya terlihat damai sekali. Ia bisa disangka sedang tidur. Perlahan-lahan Joe menatap jenazah sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kancing atas kemeja Hans terbuka. Joe kemudian mengancingkan kancing itu dengan pelan.
Secara perlahan-lahan, Joe kemudian menekukkan lututnya. Ia ingin bicara untuk yang terakhir kali kepada sahabat karibnya itu. Meski Joe tahu, tindakannya ini bodoh. Kepala Joe telah sejajar dengan kepala jenazah Hans sekarang. Joe kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Hans. “Hey ini aku, jagoan bodoh,” bisik Joe.
“Kau egois, eh? Katanya kau akan menemaniku sampai kapanpun. Kau bilang, kau akan selalu mendukungku. Kau bilang, kau akan datang ke audisiku. Tapi kau malah enak-enakan tidur disini,” gumamnya. Joe kemudian tertawa kecil. Ia kemudian menyedot ingus yang perlahan keluar dari hidungnya.
“Kau tahu, aku benci padamu. Aku benci kau melanggar janji kita untuk bersama selamanya. Aku benci kau tidak menepati janjimu untuk datang ke audisiku, ” lanjutnya lagi dengan suara yang sangat sengau. “Kau pergi begitu saja tanpa pamit. Tahukah kau itu perbuatan yang sangat tidak sopan?” Joe memaksakan diri untuk tertawa. “Aku benci kau, Hans. Aku benci kau meninggalkanku sendirian begitu saja seperti ini.” gumam Joe lagi. Selama sepersekian detik, Joe hanya menatap jenazah Hans dengan tatapan yang sangat kosong. Tiba-tiba di benaknya, terlintas sesuatu. Joe melepas sebelah sepatu Hans dengan sangat hati-hati. Ia kemudian melepas sebelah sepatunya juga. Kemudian Joe mengeluarkan spidol dari sakunya. Ia kemudian menulis inisial namanya dan nama Hans di sepatu mereka masing-masing. Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Joe memakaikan kembali sepatu yang telah ia tulisi dengan inisial namanya dan nama Hans ke kaki jenazah Hans. Sekarang jenazah Hans tampak agak ganjil dengan mengenakan sepatu yang berbeda, dengan masing-masing sepatu bertuliskan huruf “JR” dan “HS”. Tanpa disadarinya, ia tersenyum. “Pergilah ke surga, biar para malaikat menjagamu kawan,” bisiknya. “Sampaikan salamku terhadap papa dan mama kalau kalian bertemu di surga.”
Joe akhirnya berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh Pak Andre dan Bu Rita. Tampak banyak sekali pesulap yang mengikuti audisi tersebut, mungkin jumlahnya ribuan. Joe mengambil nomor antrian dengan gugup, kemudian duduk di ruang tunggu. “Tenang saja, sulapmu kan sudah hebat Nak, aku yakin kau pasti berhasil,” kata Pak Andre sambil menepuk punggung Joe.  Joe hanya bisa tersenyum kecil, ia tidak bisa berkata apa-apa saking tegangnya. Sambil membunuh waktu, Joe kemudian mengeluarkan beberapa alat sulap dari tasnya. Karena terlalu bersemangat, akhirnya alat-alat sulap tersebut berserakan di lantai. Joe kemudian membungkuk dan mengambil kembali alat-alat sulapnya yang berceceran.
Saat tengah merapikan alat-alat sulapnya, tiba-tiba Joe menemukan sebuah foto.  Dengan heran ia mengambil foto tersebut. Ternyata, foto itu adalah foto ia dan Hans. Joe sama sekali tidak ingat pernah menyimpan foto ini. Tampak di dalam foto itu Hans kelihatan sehat dan sangat tampan dengan memakai jersey Manchester United berwarna biru. Tangannya yang diperban merangkul Joe yang terlihat sedikit menutup mata dalam foto itu. Joe menatap foto itu dengan seksama. Tangannya langsung bergetar. Secara perlahan Joe membalik foto itu. Ada sebuah pesan yang ditulis tangan oleh Hans. Dengan tangan bergetar Joe membaca pesan itu.
Dear Joshua Rendy aka David Copporfield gadungan super,
Selamat ulang tahun! Sukses terus! Panjang umur! Sehat selalu……(jangan seperti aku yang bolak-balik ke rumah sakit terus seperti setrikaan).. Cepat menikah! Cepat dapat jodoh! Cepat cari pendamping hidup! Buatlah bangga terus almarhum kedua orang tuamu! Buat mereka tersenyum dari surga! (jangan seperti aku yang cuma bisa menyusahkan kedua orang tua ku dan membuat mereka sedih terus) Maaf aku cuma bisa beri kau kado ulang tahun ini. Supaya kau ingat aku terus, hahahaha!!! Maaf juga aku menaruhnya diam-diam di dalam tasmu!
Wish you all the best, my best friend and my best brother!
Dari temanmu yang tampan
Hans Santoso
Mata Joe menyusuri bagian bawah belakang foto itu. Tampak sebuah gambar yang digambar oleh Hans. Joe kemudian memperhatikannya dengan baik-baik. Ternyata gambar tersebut adalah karikatur ia dan Hans. Dalam karikatur tersebut, Hans tampak mengangkat Joe di atas pundaknya. Di sebelahnya terdapat tulisan  “JOE SI JUARA MAGIC GRAND PRIX”.
Joe menggigit bibirnya.  Dadanya terasa sesak sekali, yang tidak ada hubungannya dengan asap rokok yang kini menjalar dari peserta lain di ruangan. Dalam hatinya ia merasa sangat tolol. Bagaimana mungkin ia baru mengetahui kalau Hans memberikan kado ulang tahun ini setelah Hans tiada? Ia tidak bisa mengucapkan terima kasih atau mengacak rambut Hans karena telah memberikan ini untuknya. Ia juga tidak bisa meledek gambar Hans yang seperti gambar anak usia kelas 6 SD.  Dengan perlahan Joe memasukkan foto itu ke dalam sakunya. Foto itu memberikan kekuatan untuk Joe.  Joe akhirnya mengikuti audisi Magic Grand Prix. Dari sejak audisi, Joe sudah membuat para juri terpukau.. Perjalanan Joe cukup panjang di kompetisi Magic Grand Prix tersebut. Sampai akhirnya malam final tiba, dan Joe dinobatkan menjadi juara. Saat dinobatkan menjadi juara, Joe melihat kursi yang kosong, dalam hatinya ia berpikir, kursi kosong itu seharusnya diduduki oleh Hans.
“Untuk siapa kemenangan ini kau persembahkan?” tanya pembawa acara Magic Grand Prix tersebut. Joe menghela nafas. “Untuk sahabat saya, Hans Santoso. Seharusnya ia juga berdiri disini bersama saya, tapi kini ia telah tiada. Seharusnya ia mendukung saya di kompetisi Magic Grand Prix ini, tapi ia pergi mendahului saya. Untuk itu, saya persembahkan kemenangan saya ini untuk mengenang persahabatan kami yang tak akan lekang oleh waktu,” kata Joe.
Seluruh hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Sebagian bahkan ada yang mencucurkan air mata. Joe menatap ke atas... Hans pasti sedang mengawasinya dari surga sana... Dirinya tidak akan lekang oleh waktu.. Dan saat itu, Joe baru menyadari bahwa Hans tidak pernah benar-benar pergi, melainkan akan selalu hidup di dalam hatinya.



Sabtu, 09 Januari 2016

Untuk adikku, Intan.

Intan Permata. Yup, itulah namanya. Rasanya baru kemarin, 7 tahun lalu, tepatnya Oktober 2009, saat aku membuka akun Facebook ku dan menemukan sebuah permintaan pertemanan dengan nick "Intan Permata Cleonova." Karena aku selalu senang jika ada orang yang meng-add Facebookku, dengan cepat aku menerima permintaan pertemanan itu. Aku tidak begitu ingat bagaimana awalnya kami bisa akrab, berbagi cerita tanpa canggung walau tidak pernah bertemu di dunia nyata. Yang aku ingat adalah, kita sama-sama penggemar talent show The Master, mungkin itu yang menyebabkan kami cepat akrab.

Awalnya aku tidak mengira dia masih duduk di kelas 6 SD ketika itu. Ketika dia berbicara tentang umurnya, alangkah terkejutnya aku, karena bahasanya sangat terstruktur, rapi, dan dewasa tidak seperti anak SD pada umumnya. Lalu ia bercerita bahwa ia ngefans berat dengan Robert Stevan, salah satu finalis The Master Season 2.
Aku yang saat itu masih kuliah di Bandung, dan memang saat itu sering bertemu dengan kak Robert (begitulah aku biasa memanggilnya) bertekad untuk menyenangkan anak ini, yang sudah menjadi teman curhatku dengan sangat menyenangkan. Maka aku pergi ke Istana Plaza, tempat biasa kak Robert nongkrong. Aku kemudian menelepon ke ponselnya Intan, kuberikan ponselku, agar Intan dapat berbicara dengan idolanya. Sungguh geli aku saat ia tergagap mendengar suara idolanya.

Intan sepertinya sangat berterima kasih kepadaku. Padahal apa yang aku lakukan, menurutku biasa saja. Ia menjadi sangat peduli padaku, membuatku jatuh sayang padanya, aku seperti menemukan seorang adik lewat Facebook.

Bahkan setelah 7 tahun berlalu, aku dan Intan tidak pernah putus komunikasi. Jika ia ada masalah, ia kerap curhat kepadaku. Dan bila aku update status di bbm yang menyiratkan moodku tidak enak, Intan pasti langsung bertanya ada apa denganku. Saat papaku meninggal, Intan-lah orang paling cepat kedua yang mengucapkan belasungkawa. Padahal ia hanya melihat statusku saja. Teman-temanku di dunia nyata bahkan kebanyakan tidak mengatakan apa-apa walaupun mereka sudah kukabari. Sangat membuatku terharu. Padahal siapa aku? Bukan kakaknya, bukan darah dagingnya, perbuatan baik yang pernah kulakukan kepadanya hanyalah membuat ia bisa berbicara di telepon dengan idolanya.   Kadang aku ingin tahu, sebenarnya apa rencana Tuhan dibalik mempertemukan aku dengan Intan lewat media Facebook 7 tahun lalu? Pastinya sebuah rencana indah.

Hidup ini aneh memang. Orang yang tiap hari bertemu, dulu sangat akrab, bisa tiba-tiba putus komunikasi begitu saja, seakan-akan kita tidak pernah saling mengenal. Orang yang hanya kita kenal melalui dunia maya, justru menjaga betul silaturahmi, bahkan lebih peduli kepada kita.
Untuk adikku Intan, terima kasih ya sudah menjadi teman curhat kaka yang asyik. Terima kasih selalu peduli dan memperhatikan kakak, bahkan lebih perhatian dari teman-teman kakak di dunia nyata. Semoga suatu saat kita bisa bertemu secara langsung ya de. Dan semoga komunikasi kita tidak pernah putus. Dan semoga Intan juga bisa tabah menghadapi kepergian Bapak.

Dari kakakmu, Kak Manda.

Sabtu, 10 Januari 2015

Kontes foto bayi yang marak di Instagram, memprihatinkan!

Halo semua.. akhirnya bikin postingan baru lagi setelah berapa bulan ya vakum? 2? 3?

Jadi begini... karena saya sudah punya bisnis desain online, dan saya sering promosi lewat instagram, jadi sedikit tahu tentang apa aja yang lagi ngehits di sosmed itu. Salah satunya adalah kontes foto bayi yang marak di IG. Dan saya sangat prihatin akan kontes seperti ini.

Lho, kenapa? Karena yang membuat kontes foto itu seakan2 memanfaatkan kasih sayang ibu kepada buah hatinya untuk mencari untung. Jadi, kontes foto yang lagi marak ini, mengharuskan
pemenang untuk transfer sejumlah uang berikut ongkirnya. Istilahnya "biaya pendaftaran akhir" untuk menebus hadiah si pemenang. Dan jumlah uang yang harus ditransfer gak tanggung2, bisa sampe ratusan ribu rupiah.
Lha, yang namanya lomba dimana-mana kan dapet uang ya biasanya? Ini kok malah harus transfer sejumlah uang? Bukankah itu sama aja dengan peserta membeli sendiri hadiahnya? Hehe, tanyakan lah pada rumput yang bergoyang :P
Salah satu teman saya cerita, dia pernah iseng ikutin anaknya kontes foto di instagram. Dan anaknya menang, dapet juara II. Lalu teman saya diharuskan transfer uang sejumlah 150ribu plus ongkir. Dan ternyata,hadiah yang didapet ga sebanding dengan uang yang ditransfer. Cuma piala plastik murahan, sertifikat print-an biasa yang bahkan ga ada piguranya, dan boneka seharga 20ribuan di pasar. Kalo ditotal2, paling habis 50ribuan buat hadiahnya. Gila, untungnya banyak banget ga tuh?
Lucunya, kalo peserta belum transfer BPnya, si pembuat kontes akan terus ngejar2 peserta kaya debt collector nagih utang. Saya pernah liat pembuat kontes foto curhat di Instagramnya tentang si peserta yang gak mau transfer uang. Kata dia: "kami cuma cari rejeki" Lhoo, cari rejeki kok dengan cara seperti itu, kan sama aja dengan bohongin orang, nanti rejekinya ga bakal berkah lho. Iya gak?
Mirisnya, banyak banget bunda2 yang ketipu sama kontes foto semacem ini. Karena mungkin terlalu seneng anaknya dapet juara, bunda2 langsung main transfer aja tanpa ngecek ulang hadiahnya sebenarnya apa.
Buat para bunda2, sebaiknya hati2 kalo ikutin buah hatinya kontes2 foto semacam ini, apalagi sampai ngasih no hp/alamat rumah... Modus penculikan biasanya berasal dari sini. Saran aku sih, kalo mau ikutin anak2 lomba, lebih baik ikutin lomba yang diselenggarakan di mal2. Emang persaingannya lebih ketat, tapi lebih aman dan yang jelas ga akan rugi ratusan ribu kan?
Bogor, 11 Januari 2014

Sabtu, 29 November 2014

Allamanda Digital Design, my new business!

Hello guys...

Udah lama banget ya ga ngepost entri baru... Sibuk di dunia nyata, haha..

Guys, pada bulan Oktober 2014 lalu, saya baru merintis usaha baru, yaitu usaha jasa desain online kecil-kecilan. Desainnya meliputi website, kartu nama, brosur, logo, desain kaos, poster, dan ilustrasi.

Ini dia nama usahanya, Allamanda Digital Design.


Mungkin brader and sister bertanya-tanya kenapa logonya seperti itu? Simpel aja sih, karena saya menjalankan bisnis ini sendirian, jadi anak perempuan yang ada di logo itu adalah ilustrasi diri saya sendiri, hehe..

Berikut contoh desain untuk klien yang sudah saya buat:






Distro "ALIT" (kaos pendidikan untuk anak-anak), pemiliknya adalah Rabi'atul Aprianti, sahabat saya sejak SMP juga menggunakan jasa saya untuk desain kaosnya.


ini dia kaosnya... lucu kan ? ^^ kalo mau order, ke facebook page nya ALIT.



 Kalau mau liat portofolio yang lengkap kesini aja:


Gimana, jadi tertarik kan? Kalau brader and sister tertarik, yuk order aja ke line allamanda29. Harganya murah lho... udah gitu bisa ditawar pula, so tunggu apalagi? ^^
Oh ya, jasa desain saya hanya soft copy saja untuk hasil akhirnya, tidak menerima percetakan.. 

Selamat berakhir pekan semuanya, dan ditunggu orderannya ^^



Senin, 31 Maret 2014

Dapet duit dari promosi link doang, kenapa enggak?

Ada info nih,
Buat yang lagi ol,bisa buat income hingga Rp3,000,000 ato lebih sehari tanpa modal. Daripada kita berfb, berwechat, whatsapp,bbman tapi gak menghasilkan..Saya mau berbagi 1 program dari US yang bisa buat duit sampingan. Free register tanpa dikenakan biaya. Tiada modus penipuan (kalau Anda rasa program ini bohong...Anda gak rugi apa2 juga, Anda gak keluar modal pun kan?)

Syarat: Anda ada fb, wechat, whatsapp dan suka online.Anda hanya perlu open link di bwh dan register sebagai member. Sesudah register Anda langsung dpt 25usd x 10,000 = Rp250,000..

kemudian Anda akan dapat link Anda sendiri seperti saya di bawah. Apa lagi Anda copy link Anda sendiri dan paste di fb, twitter, chat dan sbgnya. Setiap org yang buka link Anda dan Register, Anda akan menerima upah sebyk 10usd x 10,000 = Rp100,000 , mudahkan? Perusahaan ini membayar kita sbg pengiklan untuk meningkatkan trafic situs webnya setiap hari. Pencairan duit Anda bisa pilih, duitnya mau ditransfer ke rekening bank atau cek akan dipos langsung ke alamat rumah Anda. Tunggu apa lagi register sekarang link di bawah dan mulai berbagi.

Selamat mencoba dan menikmati duit gratis dari pengiklanan trafic. Belum coba belum tau kan? ga ada saalahnya buka link di bawah inii  ga rugi apapun karena tidak diminta modal sepeserpun , dicoba kalauu tidak percaya ...

Ini dia linknya!
http://tasks4job.com/?refer=78507
JANGAN LUPA CREATE  ACOUNT yah