Selasa, 04 April 2017

Aku Akan Selalu Berada di Samping Kau, Bab V

BAB V
Kesempatan Kedua
 
Setelah Edgeworth selesai mandi dan berpakaian, ia bersiap-siap ke kantor Phoenix terlebih dahulu untuk mengembalikan magatama dan minta maaf kepada Phoenix dan Maya atas sikapnya yang kasar. Sebelum ia pergi ke kantor Phoenix, Edgeworth menyempatkan diri untuk berkaca dulu. Ia cukup kaget dengan tubuhnya yang sekarang sangat kurus dan wajahnya yang sangat pucat, membuat ia tampak seperti penderita kanker, bukan penderita arrhythmia. 

Tenang saja, Edgeworth…. Setelah kau berdamai dengan Kay, ia pasti akan memasak berbagai macam makanan enak kesukaan kau dan bisa membuat berat badan kau menjadi normal lagi…

Edgeworth tersenyum pasrah. Yeah, kalau ia mau memaafkan aku.

Menyisir rambutnya sekali lagi, Edgeworth kemudian menyimpan magatama Maya dengan hati – hati ke dalam tasnya, dan berangkat menuju kantor Phoenix.

November 2nd, 2027
Wright Anything Agency

Kay, Franziska, Phoenix, dan Lang mendengarkan dengan penuh seksama laporan Maya setelah berhasil memanggil arwah Gregory Edgeworth. Maya membacakan kepada mereka semua penjelasan Gregory Edgeworth yang ditulis di dalam kertas. 

“Mr. Gregory bilang, ia berhasil membujuk Edgeworth agar mau keluar dari kamar dan minta maaf kepada kita semua, termasuk kau juga, Kay. Ia juga bilang, Edgeworth tidak henti-hentinya menangis saat melihat ia lagi…Ah, Edgeworth yang malang,” gumam Maya. “Kurasa ide kau memang berhasil, Kay, dan usaha aku untuk memanggil arwah Mr. Gregory tidak sia-sia.”

Kay tersenyum lemah. “Semoga saja Miles benar-benar menepati janjinya kepada ayahnya… Aku… aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali……. Bisa menjalani hari-hari bersamanya lagi….”
Bel kantor kemudian berdering. Dengan cepat Maya bangkit dari kursinya.

“Tunggu sebentar, aku akan lihat siapa yang datang.” 

Maya kemudian membuka pintu, dan alangkah terkejut serta bahagianya ia melihat Edgeworth berdiri di depan pintu kantor. Maya memperhatikan Edgeworth dengan seksama, setidaknya ia terlihat sedikit lebih baik sekarang, meski tubuhnya sangat kurus dan wajahnya sangat pucat. Sungguh saat yang tepat! Kay sedang berada disini, dan kami bisa mendamaikan mereka berdua dengan cepat! Pikir Maya senang.

“Halo.” Ucap Edgeworth kaku, bingung harus mengatakan apalagi.
“Halo, Tuan Edgeworth! Selamat pagi! Ah, cuaca mendung terus, ya? Bagaimana kabar kau? Kau, eh, kelihatan lebih sehat.”

“Aku, um, baik. Aku, eh, datang kesini untuk mengembalikan magatama milik kau, Maya. ”
“Magatama punya aku?” Alis Maya berkerut. “Bagaimana magatama aku bisa ada pada kau, Tuan Edgeworth?”

Edgeworth nyengir. “Karena kau memanggil arwah ayahku tadi malam, Maya. Dan magatama kau tertinggal di kamar aku setelah arwah ayah aku pergi. Ini, jangan sampai kau teledor lagi, barang ini bukankah sangat penting untuk kau?” Kemudian ia menyerahkan magatama itu ke tangan Maya.

“Oh!” Pipi Maya memerah seketika. “Terima kasih banyak, Tuan Edgeworth. Dan…eh…aku minta maaf jika aku lancang, tapi…yah…aku hanya ingin mencoba menolong kau, Tuan Edgeworth.”

“Tidak apa-apa, Maya. Well, um, aku justru, eh, sangat berterima kasih, karena kau, aku bisa berbicara dengan ayah aku lagi…Aku juga minta maaf atas sikap aku yang kasar kemarin pagi.”

“Sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ayo, silahkan masuk dulu, Tuan Edgeworth! Tidak baik berdiri di luar lama-lama dengan cuaca sedingin ini.” Ucap Maya. Baru saja Edgeworth membuka mulut untuk menolak, Maya sudah menggenggam pergelangan tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam kantor. Saat Edgeworth masuk dan melihat Kay sedang berada di dalam juga, suasana menjadi hening seketika. Selama beberapa detik, Edgeworth dan Kay hanya saling pandang dengan pipi merah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Halo, Kay.” gumam Edgeworth pelan sambil memandang ke lantai, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar sama sekali.

“Hai, Miles.” jawab Kay, juga sambil merunduk, tanpa memandang wajah Edgeworth sama sekali.

Phoenix dengan tak sabar menghela nafas dalam-dalam dan bangkit dari kursinya. Kemudian ia berdiri di tengah-tengah Kay dan Edgeworth. Dengan agak kasar, Phoenix menarik tangan Edgeworth dan Kay untuk membuat mereka saling berjabat tangan. 

“Kalian ini seperti anak SMA saja! Ayo, Kay, Edgeworth, apa kalian tidak punya kata-kata lain selain halo dan hai?” ucap Phoenix gemas. Lang, Franziska, dan Maya meledak tertawa. 

“Ayolah, Edgey-boy, katakan sesuatu,” ucap Lang. 

“Ayo, adik kecil bodoh, jangan diam saja seperti robot! Buktikan kalau kau masih mencintai Kay!” seru Franziska tiba-tiba sambil mengayunkan cambuknya. 

Sambil menghindar dari cambuk Franziska, Edgeworth menelan ludah.
“Maafkanakuatassikapaku,” gumam Edgeworth cepat sekali.
“Maaf?” tanya Kay dengan bingung. 

“Aku….aku….” Edgeworth memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, kemudian melanjutkan, “Aku… minta maaf kepada kau, Kay. Maafkan aku telah mempermalukan kau di pesta ulang tahun kau, maafkan aku atas sikap aku yang kasar saat kau sedang bersama Debeste, maafkan aku telah menyakiti hati kau dengan mengabaikan kau…Maukah…” Edgeworth kembali menelan ludah. “Maukah kau..memberi aku kesempatan kedua? Jika kau memberikan aku kesempatan… Aku bersumpah… Aku akan mencintaimu dengan benar.”

Kay diam saja. Tak lama kemudian, ia maju selangkah, dan menampar pipi kiri Edgeworth. Edgeworth menggosok pipi kirinya, dan menatap Kay dengan tercengang. Sementara Lang, Franziska, Maya, dan Phoenix juga ikut tercengang melihat reaksi Kay.

“Itu untuk kau menganggap kau terlalu lemah untuk aku dan merasa kau menjadi beban aku.” Setelah itu, Kay sekali lagi menampar pipi Edgeworth, kali ini pipi kanan. “Itu untuk kau telah membiarkan media mengalahkan kau dan kau menyiksa diri kau sendiri.” Tangan Kay terayun lagi, dan kali ini ia mencubit lengan kiri Edgeworth. “Itu untuk kau tidak pernah check-up ke dokter lagi dan membahayakan kesehatan kau.” Lalu ia mencubit lengan kanan Edgeworth. “Itu untuk kau membuat badan kau menjadi kurus sekali. Tapi tenang, Tuan Kepala Jaksa, kau tetaplah sangat tampan bagi aku.” 

Kay kemudian mengalungkan lengannya di leher Edgeworth, dan mencium bibirnya. Wajah Edgeworth menjadi sangat merah padam.

“Jadi kau mau memaafkan aku, Kay? Kau mau memberi aku kesempatan kedua?” tanya Edgeworth setelah mereka melepaskan ciuman mereka.  Kay mencubit pipi Edgeworth, dan mengecup pipinya.
“Tentu saja, Tuan Kepala Jaksa. The prosecution has no objection for give you a second chance.”
 
“T-teima kasih, Kay.” Gumam Edgeworth pelan, kemudian mengecup tangan Kay dengan lembut. Dalam sekejap, kantor itu dipenuhi dengan gumaman “Awwww.” Edgeworth buru-buru mundur selangkah, ia benar-benar lupa kalau saat itu sedang tidak berada di kantornya, melainkan di kantor Phoenix.

“Nah, akhirnya kita mendapatkan Edgeworth yang dulu! Semoga tidak ada lagi yang merintangi hubungan kalian,” ucap Phoenix. 

“Terima kasih, Wright. Ngomong-ngomong…. Aku juga ingin minta maaf kepada kalian semua, Franziska, Lang, Wright.. atas sikap aku yang kasar kemarin… Maaf aku sudah marah-marah dan mengusir kalian dengan kasar dari rumah aku seperti itu… Aku harap kalian mau memaafkan aku,” gumam Edgeworth pelan. Lang dan Phoenix mendengus tertawa.

“Sudahlah, Edgeworth. Kami sudah memaafkan kau dari awal. Tidak usah dipikirkan,” ucap Phoenix sambil menepuk punggung Edgeworth, yang dibalas oleh Edgeworth dengan senyuman kecil.
“Terima kasih, Wright.”
“Tuan Kepala Jaksa,” potong Kay,”apakah ini berarti saya bisa bekerja di kantor anda lagi?”
“Betul sekali, Yang Mulia. Ayo, kita ke kantor aku sekarang. Selamat pagi, semuanya.”
“Bye, Edgeworth! Bye, Kay! Hati-hati di jalan,” ucap Phoenix dan Maya. Edgeworth kemudian menggandeng tangan Kay, dan mereka berangkat menuju kantor Edgeworth.

November 2nd, 2027
Kantor Kepala Jaksa

“Huwaaah….” ujar Kay saat sampai di kantor Edgeworth. “Padahal aku meninggalkan kantor ini hanya kurang dari sebulan tapi rasanya seperti sudah berpuluh-puluh tahun. Oh, sofa merah, oh, set catur, aku benar-benar rindu pada kau.” 

Edgeworth tertawa kecil. “Jangan bilang kau jauh lebih merindukan sofa merah dan set catur dibanding pemilik dari kantor ini?” 

“Tentu saja tidak, Tuan Kepala Jaksa,” Kay terkikik. “Aku merindukan segala tentang kau, rambut kau, mata, hidung, alis, dan juga cravat kau.” Kay berdiri dan mengecup bibir Edgeworth dengan lembut. Edgeworth membalas mengecup bibir Kay, sementara ia mengalungkan lengannya di leher Kay. Kay membalas dengan mengalungkan lengannya di pinggang Edgeworth, sebelum mulai mencium Edgeworth dengan cepat dan ganas. 

“Jadi, apa yang kalian bicarakan?” tanya Kay saat mereka berhenti berciuman.
“Hm?”
“Apa yang kau bicarakan dengan Ayah kau? Sampai akhirnya kau mau bangkit lagi?”
“Yah, tidak begitu banyak, sebetulnya…. Dia menasihati aku… Dia bilang dia selalu mengawasi aku… Dan… ia mengatakan bahwa tiada hari tanpa ia terharu karena sangat bangga terhadap aku.” Edgeworth menjawab dengan suara tercekat. 

“Kau pasti sudah merindukannya lagi, ya?” tanya Kay sambil membelai punggung Edgeworth dengan lembut. 

“Y-yeah… Aku agak kecewa karena Ayah berbicara dengan aku hanya sebentar saja… W-well… Aku sempat menangis saat memintanya untuk tinggal. Sangat kekanak-kanakan, bukan?”

“Aku mengerti bagaimana perasaan kau, Miles. Aku juga merindukan Ayah setiap hari. Kadang aku berkhayal bisa berada di dalam pelukan atau pangkuannya lagi.”
“Kalau begitu, kenapa kau tidak meminta Maya untuk memanggil arwah Ayah kau, Kay? Setidaknya itu bisa mengobati rindu kau.”

Kay tersenyum lemah, dan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Miles. Meminta Maya untuk memanggil arwah Ayah hanya agar aku bisa berbicara dengannya lagi hanya akan membuat aku tidak bisa menerima kenyataan, Miles. Kenyataan bahwa Ayah sudah berada di alam yang berbeda dengan aku. Kenyataan bahwa Ayah sudah meninggal. Aku takut, jika aku melihat arwah Ayah lagi, aku akan marah dengan semua yang terjadi…dan itu hanya akan mengakibatkan luka lama yang sudah aku kubur menjadi terbuka lagi.”

Edgeworth tersenyum kecil. “Kau benar-benar bijaksana, Kay.” Kemudian tiba-tiba ia teringat lagi ucapan Ayahnya tentang Ibunya.

“Kay, Ayah juga mengatakan bahwa aku…aku harus minta maaf kepada Ibu atas sikap aku yang kasar di rumah sakit dan… ia juga bilang bahwa aku harus memaafkan Ibu. Bagaimana menurut kau? Jujur saja… sulit bagi aku untuk bisa memaafkannya.”

Sambil membelai pipi Edgeworth dengan lembut, Kay menjawab, “Miles. Aku sependapat dengan Ayah kau. Menyimpan dendam itu tidak baik. Aku tahu Ibu kau telah melakukan kesalahan di masa lalu… Memang, aku tidak tahu bagaimana sakitnya diabaikan oleh seorang Ibu, karena Ibu aku sudah meninggal setelah melahirkan aku…Tapi… Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan? Seperti aku yang memberi kau kesempatan kedua… Kau beruntung, Miles. Setidaknya Ibu kau masih hidup, dan sehat… Kau masih punya kesempatan untuk merasakan kembali pelukan dan kasih sayang seorang Ibu… Lakukan itu, Miles. Minta maaf dan memaafkan. Sebelum kau menyesal karena semuanya terlambat.”

Edgeworth menatap Kay dengan tajam. Inilah mengapa ia jatuh cinta kepada Kay. Kay sangat bijaksana untuk usianya, melebihi dirinya. Dia sangat tangguh dan selalu ceria dalam situasi apapun. Ia sangat kagum dengan mata hijaunya yang memancarkan aura seseorang yang selalu memandang sesuatu dari sisi positif. 

“Terima kasih, Kay. Aku…lebih lega sekarang. Aku…aku akan meminta maaf kepada Ibu.”
“Kau tahu dimana dia tinggal sekarang, Miles?”
“Y-yeah… Dia mengirim aku kartu namanya beberapa waktu lalu.. Aku tidak pernah melihatnya, tapi aku ingat, ulang tahun Ibu sebentar lagi. Tanggal 10 November.”

“Kalau begitu, ambil kartu itu dan kita kunjungi Ibu kau nanti di hari ulang tahunnya. Kau berjanji?”
“Baiklah. Terima kasih banyak sekali lagi, Kay.”

Edgeworth memiringkan kepalanya lagi dan mencium Kay, yang dibalas oleh Kay dengan cepat dan ganas.

Saat mereka berhenti sejenak untuk udara, Kay memainkan cravat Edgeworth dengan tangannya, kemudian memandang Edgeworth dengan pandangan yang sangat menggoda penuh arti.
“Ada apa, Kay? Mengapa kau memandang aku seperti itu?”
“Kau masih mencintai aku, kan?”
Edgeworth mengangguk pelan. Tentu saja, Kay! Kau satu-satunya wanita yang mengisi hati aku. Apa yang ia mau?
“Apakah kau sudah minum obat kau, Miles?”
Edgeworth kembali mengangguk. 

“Bagus. Anggap saja ini hadiah selamat-datang-kembali-hubungan-kita,” ucap Kay, dan sebelum Edgeworth bisa bertanya atau berteriak “TUNGGU DULU” atau “KEBERATAN”, Kay sudah merobek cravatnya, kemudian dengan sangat cepat membuka kancing kemeja dan jasnya. Tersenyum licik, Kay kemudian melempar cravat, kemeja, dan jas Edgeworth ke atas sofa. 

“H-hey, Miss Faraday!” seru Edgeworth. “The prosecution has an objection! Kau merobek crava—MPPPH!” protes Edgeworth terpotong dengan ciuman Kay yang begitu ganas dan tak beraturan. Edgeworth membalas ciuman Kay dengan lidahnya, kemudian, tanpa disadarinya, ia merobek kaos dan bra Kay. Keduanya telanjang dada sekarang. Kay tertawa terbahak-bahak.

“Kau adalah pemain yang tajam Tuan Kepala Jaksa? Oh, dasar anak nakal!” 

Balas tertawa, Edgeworth memeluk Kay dengan sangat erat, dan ia bisa merasakan dadanya dan dada Kay menekan satu sama lain. Ia bisa merasakan detak jantungnya dan detak jantung Kay saling beradu, layaknya sebuah harmoni dalam music orchestra. Ia bisa merasakan kehangatan dalam pelukan ini, sesuatu yang hilang dari hidupnya belakangan ini. Mulut mereka saling beradu lagi, sementara tangan Edgeworth dengan nakal memainkan payudara Kay. Saat mereka berhenti berciuman kembali untuk udara, Edgeworth berlutut, dan mencium serta menjilat payudara Kay dengan ganas.
“Miles…. kau menjilat...menjilat seperti.... Sapi yang kelaparan akan susu!”

Seperti sapi?!! Menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak, Edgeworth bangkit kembali, dan kali ini menyerang leher Kay dengan ciumannya. Kay terkikik geli, kemudian perlahan-lahan mendorong Edgeworth untuk berbaring di lantai. Kay merangkak di atasnya, dan membelai dadanya dengan pelan.

“Apa kau siap, Miles?” bisik Kay.
“Lebih dari siap.” 

Tersenyum licik, Kay membuka rok dan celana dalamnya, sebelum ia membuka ikat pinggang dan celana Edgeworth. Dunia terasa bagaikan surga untuk Edgeworth saat itu. Ia benar-benar tergila-gila dengan segala sesuatu tentang kekasihnya, rambutnya, mata hijaunya, bau parfumnya, senyumnya…. 

Tak henti-hentinya Edgeworth menggumamkan nama Kay dan berbisik “I love you” saat tubuh mereka akhirnya menjadi satu. Ia akhirnya bisa melakukan seks bersama Kay tanpa diserang sakit dada lagi, tanpa harus membuat Kay ketakutan lagi… Saat mereka mencapai klimaks, Edgeworth mencium bibir dan leher Kay lagi, kemudian berkata, 

“Kau adalah gadis yang mencuri hati aku.”
“Dan lebih baik kita tidak memberitahu Ibu kau tentang ini.

November 10th, 2027

Hari ini adalah hari ulang tahun Ibu Edgeworth. Setelah mengambil kartu nama Ibu Edgeworth dari rumah Edgeworth, Kay dan Edgeworth bersiap-siap untuk berangkat menuju kediaman Stella Edgeworth. Selama menyetir dan mencari alamat Ibunya, berbagai pikiran muncul di benak Edgeworth. Seperti apa rupa suami baru Ibu? Seperti apa wajah saudara tiri aku? Apa yang akan Ibu katakan jika melihat aku muncul di depan pintu rumahnya? 

Mereka berhenti sejenak di sebuah toko untuk membeli seikat bunga mawar dan sebuah kado, kemudian melanjutkan perjalanan mencari alamat ibu Edgeworth.

November 10th , 2027
Rumah Stella Edgeworth

Mereka akhirnya sampai di alamat yang mereka cari. Edgeworth benar-benar terkejut akan keadaan rumah sang Ibu. Dari luar, rumah itu kelihatan kecil dan kusam. Perasaan bersalah menghantui Edgeworth. Sang Ibu tinggal di rumah seperti ini, sementara ia tinggal di rumah yang sangat mewah… Ia berdiri terpaku di depan pintu yang sepertinya sudah sangat usang, memegang bunga yang baru dibelinya, terpaku, dan gugup. 

“Ayo, Miles.” bisik Kay sambil mendorong Edgeworth sedikit. Dengan gugup dan tangan bergetar, Edgeworth memencet bel. Tidak lama kemudian, Mrs. Stella keluar, dan betapa terkejutnya ia melihat putra kecilnya, yang memakinya saat terakhir mereka bertemu, berdiri di depan pintu rumahnya, dengan membawa seikat bunga dan sebungkus kado.

“H-halo, Ibu.” bisik Edgeworth terbata. “S-selamat ulang t-tahun, Ibu.” Kemudian dengan tangan bergetar, dan tanpa memandang wajah sang Ibu, Edgeworth menyerahkan bunga dan sebungkus kado yang dibawanya.

“MILES! OH, NAK! Terima kasih banyak!” seru Mrs. Stella sambil menerima bunga dan kado dari Edgeworth, kemudian membenamkan Edgeworth ke dalam pelukannya. Setelah itu Mrs. Stella mencium kepala Edgeworth berkali-kali. Air matanya bercucuran dan jatuh ke rambut Edgeworth. Kay yang tersentuh melihat kejadian itu, air matanya ikut tumpah.

Mrs. Stella sepertinya memeluk Edgeworth sangat lama sekali sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. Dengan kikuk ia menghapus air matanya.

“Maaf… Ayo, silahkan masuk, Nak, Nona Faraday……”

Mereka bertiga kemudian masuk, dan saat Edgeworth masuk ke dalam rumah ibunya untuk pertama kalinya, ia kembali merasa bersalah. Ibunya benar-benar hidup dalam kemiskinan. Rumah itu sangat kotor, kecil, dan juga bau. Tentu bukan tempat tinggal yang baik untuk seseorang menikmati masa tuanya. Edgeworth memandang berkeliling, dan ia tercengang melihat sebagian dinding rumah itu ditutupi oleh kliping berita tentang dirinya. Ia kemudian melihat foto saat ia masih berusia 3 tahun bersama Gregory dan Stella dibingkai dengan sangat rapi, dan di sebelah foto itu, terletak guntingan kliping berita dengan headline : Baca wawancara kami dengan jaksa penuntut pendatang baru yang jenius, Miles Edgeworth! Dan di bawahnya, Ibunya menuliskan, “Sangat bangga kepada kau, my baby boy =).”
Ibunya ternyata tidak pernah melupakannya… Ibunya selalu memikirkannya sepanjang waktu…

Edgeworth dan Kay kemudian duduk di atas sofa yang sudah sangat usang. Mrs. Stella tampak sangat salah tingkah.

“Maaf, rumah aku tidak nyaman… Kotor dan kecil.. Hehe… Eh, kalian mau minum apa, Miles, Nona Faraday? Aku hanya punya air putih hangat…”

Kay melambaikan tangannya. “Tidak usah repot-repot, Mrs. Edgeworth.” Lalu ia menyenggol Edgeworth. “Miles. Katakan sesuatu.” bisiknya karena Edgeworth diam saja.

“M-mom,” ucap Edgeworth sambil mengangkat kepalanya, “Eh….dimana… suami kau?”
Mrs. Stella tersenyum lemah. Saat melihat ibunya tersenyum, Edgeworth baru menyadari betapa cantiknya ibunya..dan ia memiliki mata dan bentuk hidung yang sama dengannya.

“Ia sudah meninggalkan aku dan menikah lagi, Miles. Ia juga membawa Andreo & Geraldo. Aku tinggal sendirian disini.”

Dalam sekejap, kemarahan yang dipendam Edgeworth kepada ibunya selama bertahun-tahun berubah menjadi rasa iba dan rasa bersalah. Ibunya tinggal di rumah kotor dan kecil seperti ini di masa tuanya, sedangkan aku, putranya satu-satunya hidup bergelimang harta dan kemewahan……

“Dan…. Apa yang kau lakukan untuk membiayai hidup kau, Mrs. Stella?” tanya Kay.
Sesaat, wajah Mrs. Stella memerah. Dengan malu ia menjawab, “Aku menjadi tukang cuci pakaian panggilan. Para tetangga biasanya memanggil aku untuk menggunakan jasa mereka.”

Edgeworth terperangah. Ia, seorang Kepala Jaksa di Los Angeles, mempunyai mobil sport dengan harga ribuan dolar, tinggal di rumah yang sangat mewah, dan ia membiarkan ibunya menjadi seorang tukang cuci pakaian…. 

“Ibu... Maafkan aku.. Sungguh..” bisik Edgeworth pelan. “Maafkan aku atas sikap aku yang kasar di rumah sakit kepada kau, Ibu… Maaf aku juga selalu mengabaikan semua surat-surat yang kau kirimkan… Aku… Kalau saja aku tahu kau hidup seperti ini, Ibu….”

Mrs. Stella tersenyum lemah dan membelai rambut Edgeworth dengan lembut.

“Nak, tidak apa-apa, sungguh. Ibu mengerti kau marah saat melihat Ibu di rumah sakit, Ibu tahu kau sangat terluka karena Ibu telah menelantarkan kau… Maafkan Ibu sekali lagi, ya? Maukah kau memaafkan Ibu?”

“T-tentu, Mom.”

Mrs. Stella membenamkan Edgeworth ke dalam pelukannya lagi. Dan Edgeworth tiba-tiba merasakan kehangatan yang luar biasa dalam pelukan Ibunya itu. Ia merindukan ini… Pelukan hangat seorang Ibu…

“Miles, bagaimana dengan penyakit kau? Apa kau sudah sembuh? Ibu marah sekali ketika membaca berita yang bilang kau berbohong tentang penyakit kau…”
“W-well… sudah lebih baik, I-Ibu.”

“Oh, syukurlah, Nak. Setiap hari Ibu selalu berdoa agar kau sembuh dan Ibu selalu khawatir akan terjadi apa-apa pada diri kau..” Mrs. Stella kemudian melepaskan pelukannya, menatap Edgeworth dengan seksama, kemudian air matanya bercucuran lagi. “Astaga, Nak, Ibu tidak pernah menyadari betapa tampannya kau.”

Edgeworth tersenyum kecil, kemudian berkata,”Ibu… Maukah..maukah kau tinggal bersama aku di rumah aku?”

Ibunya memang telah menelantarkannya saat ia masih kecil, tapi bagaimanapun, Mrs. Stella adalah ibunya, darah dagingnya, dan telah mengandungnya selama 9 bulan. Ibunya telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya. Tidak, ia tidak akan membiarkan ibunya tinggal sendirian di tempat kotor dan kumuh seperti ini.

Baik Kay dan Mrs. Stella ternganga.
“M-miles?? Kau tidak mungkin serius, kan?” tanya Mrs. Stella.

“Ibu, aku serius. Sangat serius. Tidak sepatutnya kau tinggal di rumah seperti ini. Aku…..aku tidak mau menelantarkan ibu aku sendiri, Mom. Aku mohon. Aku…aku tak mau kau menjadi tukang cuci pakaian keliling lagi….”

“Oh, astaga, Nak! Tentu saja Ibu mau ! Ibu bisa menjaga dan mengawasi kau! Oh, Nak! Terima kasih banyak!” Mrs. Stella lalu menyerang pipi Edgeworth dengan ciumannya. Kay senang sekali melihat itu semua. Ia telah berhasil mempersatukan kembali kekasihnya dan calon ibu mertuanya.

Sudah satu bulan Mrs. Stella tinggal bersama Edgeworth. Awalnya, Edgeworth merasa canggung dan kikuk dengan ibunya, tapi lama kelamaan, ia menjadi terbiasa. Ia merasa bahagia sekali sekarang. Kay telah kembali kepadanya, ia sudah berdamai dengan ibunya. Hubungan Kay dengan ibunya juga sangat baik, bahkan ibunya memaksa Kay untuk memanggilnya “Ibu” juga. 

Setiap hari, sebelum berangkat bekerja, Mrs. Stella bersama Luciana selalu memasak makanan favoritnya. Selain itu, Mrs. Stella selalu mengecup pipi Edgeworth sebelum ia berangkat bekerja. Meski ia sudah berusia 35 tahun, tapi Edgeworth sangat senang dicium oleh ibunya. Hal yang tak pernah ia dapatkan selama tinggal di rumah Von Karma.  Dan Edgeworth benar-benar menyesal karena baru sekarang ini, ia menyadari bahwa ibunya sangat menyayanginya.

December 4th , 2027
Rumah Miles Edgeworth

Hari ini adalah hari Sabtu, dan Kay serta Edgeworth sudah berencana akan menghabiskan akhir pekan untuk check up ke dokter. Kay menjadi sangat cerewet sekali karena sudah lama Edgeworth tidak melakukan check-up ke dokter. Ia terus-terusan mengoceh, membenarkan jam tangan Edgeworth, dan menyisir rambut Edgeworth lebih dari sekali. 

“Miles, lihat jadwal check up kau! Aku tidak percaya kau melewatkan check-up selama sebulan lebih! Dokter Leona pasti akan sangat marah kepada kau, Miles, astaga… dan lihat betapa masih banyaknya obat-obatan kau! Bagaimana jika kau tidak sadar meminum obat yang sudah kadaluarsa? Miles, kau bukan sakit demam, bukan chicken pox, ini jantung, Miles, jantung kau! Alat organ yang paling vital dalam hidup kau….” Oceh Kay tanpa henti sambil menyisiri rambut Edgeworth. Edgeworth kemudian menutup mulut Kay dengan tangannya. 

“Mph!” Kay menurunkan tangan Edgeworth dari mulutnya dengan gemas. “Miles, apa-apaan kau ini! Aku hampir tidak bisa bernafas, tahu!”

“Kau cantik sekali ketika kau marah, Kay,” goda Edgeworth. “Secantik Cruela Devil.”
“Miles!” Kay memonyongkan bibirnya, kemudian memukul kepala Edgeworth dengan sisir yang telah ia pegang. “Tega-teganya kau menyebut kekasihmu ini Cruela Devil! Rasakan ini! Ini ! Dan ini!” 

Edgeworth tertawa terbahak-bahak. “Habis kau cerewet sekali! Ayo, kita berangkat sekarang, nanti kita terlambat.” 

“HOLD IT!” seru Kay tiba-tiba. “Anda terlalu pucat, Tuan Kepala Jaksa! Ketampanan anda tersembunyi di balik kepucatan itu! Sini, aku poles dulu wajah kau!” Kemudian Kay mengambil sekotak bedak dari laci meja kamar Edgeworth yang nyaris tidak pernah Edgeworth sentuh, dan menyerang wajah Edgeworth dengan spons bedak. Edgeworth berusaha keras menghindar.

“Hey!! Aku tidak mau dipakaikan bedak! Kay! Cukup! Aku bukan badut! Aku tidak butuh make-up, HEY!” 

Wajah Edgeworth menjadi sangat putih akibat bedak sekarang. Kay tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. 

“Miles, kau seperti…seperti seekor domba!”
“Pertama sapi, sekarang domba, aku ini pacar kau atau daftar menu makanan kau?”
“Ha ha, itu pembalasan karena kau telah memanggil aku Cruela Devil.” Kay kemudian mengecup pipi Edgeworth. 

“Miles, Kay, sarapan sudah siap!” terdengar suara Mrs. Stella memanggil mereka. Mereka kemudian ke ruang makan untuk sarapan sebelum berangkat check-up.

“Hati-hati di jalan ya Nak, jangan menyetir dengan kecepatan tinggi,” ucap Mrs.Stella sambil mengecup pipi Edgeworth dan pipi Kay. “Semoga hasil check-up nya bagus.”

December 4th , 2027
Hickfield Hospital
Dr. Leona’s Office

“Woah, Tuan Kepala Jaksa! Ini benar-benar kejutan! Senang sekali bisa melihat anda lagi,” sapa Dokter Leona dengan gembira saat Edgeworth dan Kay sampai di rumah sakit. “Sudah berapa lama anda tidak melakukan check-up, Tuan Kepala Jaksa?”
“Satu bulan, Dokter Leona,” jawab Kay.

Dokter Leona ternganga lebar sekali. “Satu bulan, Tuan Kepala Jaksa? Astaga, sadarkah anda  betapa berbahayanya jika anda melewatkan check-up anda? Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada jantung anda? Bagaimana kondisi jantung anda, dan sebagainya? Apa yang membuat anda mengabaikan jadwal check-up anda begitu lama, Tuan Kepala Jaksa?”

“Er…um…. Aku tidak mau membicarakannya, Dokter,” gumam Edgeworth dengan malu.
“Baiklah, saya tidak mau mencampuri urusan pribadi anda. Nah, sekarang, buka kaus anda, dan berbaringlah di tempat tidur itu.” 

Kay kemudian membantu Edgeworth melepas kausnya dan berbaring di atas tempat tidur. Entah mengapa, meski sudah sering mengantar Edgeworth check-up ke dokter, Kay selalu merasa ketakutan. Dokter Leona kemudian mengecek detak jantung Edgeworth dengan stetoskopnya, sambil memijit  dan menekan dada Edgeworth dengan pelan. 

“Ow…ow…ow..pelan-pelan, Dokter.” rintih Edgeworth. Dokter Leona mengangkat sebelah alisnya.
“Sakit, Tuan Kepala Jaksa? Hmmm…ini aneh, padahal aku memijit dan menekan dada anda dengan pelan….”

“Apa yang aneh, Dokter? Apa kondisi jantung Miles semakin memburuk?” tanya Kay dengan panik sambil menggigit kukunya.

“Saya belum tahu, Nona Faraday. Sebentar, saya akan membuat catatan detak jantung Tuan Kepala Jaksa dan akan saya bawa ke lab untuk dianalisa. Kalian tunggu disini.” 

“Miles, jangan-jangan kondisi jantung kau semakin memburuk karena kau mengabaikan check-up begitu lama,” ucap Kay setelah Dokter Leona pergi. “Miles, seharusnya aku mengawasi kau, maafkan aku.”

“Kay, untuk apa kau minta maaf? Kau adalah kekasih aku, bukan dokter atau perawat aku.” jawab Edgeworth sambil mengecup tangan Kay. Tak lama kemudian Dokter Leona muncul kembali dengan menggenggam sebuah clipboard.

“Jadi…. Bagaimana diagnosisnya, Dokter? Bagaimana kondisi jantung Miles?” tanya Kay dengan gugup.
“Dari data yang ada…. Kondisi jantung anda benar-benar lemah, Tuan Kepala Jaksa. Jantung anda berdetak sangat lambat. Normalnya, untuk orang dewasa, detak jantung orang dewasa seharusnya di angka 60-100 detak per menit. Kau, kau hanya di 30-40 detak per menit, Tuan Kepala Jaksa.”

“Dan apa artinya itu, dokter?” tanya Edgeworth sambil menelan ludah.
“Anda harus dioperasi pemasangan alat pacu jantung sekali lagi, Tuan Kepala Jaksa. Sangat riskan kalau anda hanya….”
Gulp. Operasi lagi?!! No way…….pikir Edgeworth.
“Maksud anda, Miles harus dipasang DUA alat pacu jantung?!” seru Kay histeris. 

“Tepat sekali, Miss Faraday. DUA alat pacu jantung. Karena jantung Tuan Kepala Jaksa kondisinya sudah sangat, sangat lemah. Tapi, untuk langkah pertama, saya harus melakukan suntik di dada anda untuk……..”
“Apa?!!! Suntik di dada?!” seru Edgeworth dengan nada suara yang sangat tinggi tanpa ia sendiri menyadarinya.

“Ya, Tuan Kepala Jaksa. Suntikan ini namanya Revascor. Ini untuk mencegah anda mendapatkan serangan jantung mendadak. Potensi anda kena serangan jantung meningkat 70%, Tuan Kepala Jaksa… Kalau saja anda tidak mengabaikan check up anda…” Dokter Leona menghela nafas. “Kita tidak mau mengambil resiko anda terkena serangan jantung sebelum dioperasi pemasangan alat pacu jantung tahap 2. Sebentar, saya akan ambil obat suntiknya.”

Selain takut kepada lift, Edgeworth juga sangat takut kepada jarum suntik. Mata Edgeworth melebar ketakutan dan ia mencengkeram tangan Kay erat sekali saat Dr. Leona mengeluarkan jarum suntik dari laci meja kerjanya. Jika situasinya tidak sedang seserius itu, Kay akan tertawa terbahak-bahak melihat wajah hijau Edgeworth yang ketakutan karena hendak disuntik. 

“Jangan kau lepaskan tangan kau, Kay,” gumam Edgeworth.
“Tidak akan, Miles. Ini tidak akan lama, hanya satu suntikan, dan selesai. Tidak perlu takut, aku disini untuk kau, Miles.”

“Oke. Bisa anda berbaring kembali, Tuan Kepala Jaksa?”

Dengan perlahan, Kay membantu Edgeworth untuk berbaring kembali. Dokter Leona kemudian menancapkan jarum suntik itu ke dada Edgeworth secara perlahan, kemudian dengan cepat mencabutnya kembali.

“OOOOOOOOOOWWWW!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Edgeworth sejadi-jadinya. Kay merasa marah sekali. Ingin rasanya ia memukul kepala dokter itu sekarang juga. Kenapa ia tidak menyuntik Miles secara perlahan? Kasar sekali cara dia menyuntik!

“Dokter,” ucap Kay, berusaha agar tidak terdengar marah, “Apa anda tidak bisa menyuntik Miles lebih pelan? Sepertinya..itu…terlalu keras…dan terlalu….kasar…”

“Maaf, Nona Faraday. Tapi memang beginilah cara menyuntik pencegahan serangan jantung.” Jawab Dokter Leona dengan tenang. “Ayo, 4 kali lagi saja, Tuan Kepala Jaksa, setelah itu anda boleh pulang.”
“4 kali lagi?!” seru Edgeworth. “Tidak bisakah saya pulang sekarang—“

“Sayangnya, aturannya anda harus disuntik 5 kali, Tuan Kepala Jaksa. Siap?” 

Dokter Leona kembali menyuntik dada Edgeworth, membuat Edgeworth terus berteriak sejadi-jadinya. Kay menggenggam tangan Edgeworth dengan sangat erat, berharap setidaknya genggaman tangannya bisa membuat rasa sakit yang diderita Edgeworth sedikit berkurang. Setelah 20 menit yang menyiksa dan seperti neraka untuk Edgeworth, akhirnya ia diperbolehkan pulang.

“Oh ya, Dokter, kapan kira-kira Miles harus dioperasi tahap 2?” tanya Kay saat ia membantu Edgeworth memakai pakaiannya kembali dan bersiap-siap untuk pulang.

“Nanti akan saya telepon anda, Miss Faraday. Selamat siang, Tuan Kepala Jaksa, Miss Faraday. Selamat berakhir pekan.”

December 4th, 2027
Rumah Miles Edgeworth

“Kay, Miles? Bagaimana hasil check-up nya?” tanya Mrs. Stella saat mereka pulang ke rumah. Ia khawatir melihat putra satu-satunya itu kelihatan sangat kesakitan setelah pulang dari rumah sakit.
“Miles harus dioperasi lagi, Mom,” jawab Kay. “Operasi pemasangan satu alat pacu jantung lagi. Dr. Leona bilang, kondisi jantung Miles sudah benar-benar sangat lemah sehingga satu alat pacu jantung saja tidak cukup. Ini akibat Miles terlalu lama mengabaikan check-up nya.”

“Oh, astaga, Nak…” desah Mrs. Stella sambil memeluk Edgeworth. “Tidak seharusnya kau mengabaikan check-up… Dua alat pacu jantung? Lalu, kapan kau akan dioperasi lagi, Miles?”

Edgeworth mengangkat bahunya. “Aku belum tahu, Mom. Dr. Leona bilang ia akan mengabari kami.”
“Kenapa dada kau ada memar seperti itu, Miles?” tanya Mrs. Stella setelah menyadari ada memar bekas suntikan di dada Edgeworth. “Kau jatuh?”

“Tadi Miles disuntik di dadanya oleh Dr. Leona,” Kay tiba-tiba terkikik. “Mom, seharusnya kau melihat bagaimana ketakutan dan wajah Miles berubah menjadi hijau saat disuntik. Ia kelihatan seperti Shrek!”

 Mrs. Stella tertawa terbahak-bahak, sementara Edgeworth cemberut.

“Nah, Miles, karena kau akan dioperasi lagi, kau harus makan makanan yang bergizi! Daging, sayur, wortel, brokoli, dan sebagainya!” ucap Kay. Edgeworth mengerang pelan.

“Tidak mau! Kau tahu betul aku tidak suka segala macam sayur, Kay……..”
“Tapi kau harus, anak nakal! Kau harus makan makanan yang sehat! Setuju, Mom?”
“Kay benar, Nak,” ucap Mrs. Stella. “Kau harus makan makanan bergizi. Ayo, kita masak, Kay! Satu mangkuk besar sup sayur hanya untuk Miles, bagaimana, kau setuju?”

“Setuju sekali! Ayo, kita masak di dapur, Mom! Dan Miles, jadi anak baik, tunggu disini, berbaring di sofa dan tonton koleksi DVD Steel Samurai kau sementara aku dan Ibu memasak!” 

Edgeworth mengangkat bahunya, menggerutu pelan karena tidak bisa protes, lalu berbaring di atas sofa. Ia kemudian menyalakan DVD Steel Samurai miliknya dan mulai menonton. 

Baru saja 10 menit Edgeworth menonton DVD Steel Samurai miliknya, Kay sudah keluar dari dapur.
“Kay? Sudah selesai memasaknya? Cepat sekali,” tanya Edgeworth heran. 

“Tidak, Miles. Aku akan keluar untuk belanja wortel dan tomat sebentar di Shop Ink Mall. Tidak ada tomat dan wortel di dapur. Aku juga mau sekalian belanja lipstick dan make up, punya aku sudah habis.”

Edgeworth memutar bola matanya. “Dasar wanita. Kau mau aku antar?”

“Tidak usah, Miles. Kau istirahat saja. Aku tidak akan lama. Sampai nanti.”

Kay mengecup pipi Edgeworth, kemudian pergi berbelanja. Sementara ibunya masih sibuk di dapur, Edgeworth melanjutkan menonton DVD Steel Samurai miliknya. Kemudian, tanpa disadarinya, ia tertidur. Saat Mrs. Stella keluar dari dapur dengan membawa secangkir teh, dilihatnya Edgeworth sudah tertidur pulas di atas sofa sedangkan DVD Steel Samurai nya masih menyala. Mengerutkan keningnya, Mrs. Stella kemudian mematikan DVD itu. Saat memasukkan keping DVD itu ke dalam kemasannya, Mrs. Stella tertawa pelan. Ia sama sekali tidak menyangka putranya, sang Kepala Jaksa, ternyata adalah penggemar acara untuk anak-anak. 

Tidak tega untuk membangunkan Edgeworth, Mrs. Stella mengambil selimut dari kamar Edgeworth dan menyelimutinya. Dengan penuh kasih sayang ia kemudian mengecup dahi Edgeworth. Melihat wajah putranya yang begitu damai dalam tidurnya, perasaan bersalah muncul di benak Mrs. Stella. Seandainya saja dia dulu tidak naïf dan tidak tergoda dengan lelaki itu… Mungkin ia bisa mengawasi dan menjaga kesehatan Edgeworth dengan baik. Jika saja dia tidak menelantarkan Edgeworth, mungkin Edgeworth tidak akan sakit parah seperti ini. Putra satu-satunya ini baru berusia 35 tahun, dan ia sudah harus dipasangi 2 alat pacu jantung…. Sambil menyeka matanya yang tiba-tiba basah, Mrs. Stella kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak. Ia kemudian menyetel radio untuk mendengarkan lagu sambil memasak. 

“…Maaf pemirsa, lantunan lagu dari Bryan Adams tadi harus kami interupsi. Breaking news, pemirsa! Shop Ink Mall kebakaran, dan menurut sumber kami, beberapa orang telah berhasil dievakuasi, tapi ada satu yang masih terjebak di lantai 3. Sumber kami mengatakan bahwa yang terjebak di lantai 3 adalah jaksa penuntut Kay Faraday.”

PRANG. Mrs. Stella menjatuhkan piring yang hendak dicucinya. Kay?!! Kay terjebak di gedung yang terbakar?? Apa yang harus aku katakan pada Miles??

Sebelum Mrs. Stella mengatasi rasa shock-nya, Edgeworth sudah muncul di dapur. Mrs. Stella rupanya tidak sadar kalau ia menyetel radio itu dengan volume yang keras.
“I-ibu!” seru Edgeworth. “K-kay! Tadi aku dengar di radio…. Apa aku salah dengar?!”
Mrs. Stella hanya mengangguk pelan. Mata Edgeworth melotot, kemudian ia memutar badannya.
“Miles, tunggu, Nak!” seru Mrs. Stella. “Kau mau kemana, sayang?”
“Aku akan pergi kesana!” jawab Edgeworth sambil memakai jaketnya dengan terburu-buru tanpa menoleh ke arah Mrs. Stella.
“Tunggu, Nak! Ibu juga ikut!”

December 4th, 2027
Shop Ink Mall
Los Angeles City

Dengan tergesa-gesa Edgeworth memarkir mobilnya, kemudian turun diikuti ibunya. Kerumunan orang banyak sekali, semua menengadah menatap gedung Shop Ink Mall yang sudah terbakar dengan api ganas. Edgeworth kemudian menerobos kerumunan orang-orang itu, dan bertemu dengan salah satu polisi yang sedang sibuk bicara dengan walkie talkie. 

“Officer!” seru Edgeworth. “Apa Kay Faraday masih terjebak di dalam sana?”

“Tuan Kepala Jaksa? Ya, benar, Nona Faraday masih terjebak, kami sedang memanggil tim untuk menyelamatkannya….”
“Berapa lama?!!” teriak Edgeworth.
“Kira-kira 45 menit, Tuan Kepala Jaksa….”

“45 MENIT?!!!” teriak Edgeworth sejadi-jadinya. “Kay bisa dilahap habis oleh api itu!!!” Lalu, tanpa pikir panjang lagi, Edgeworth membuka jaketnya, kemudian melemparkannya ke tanah. 

“H-hey!!” seru sang polisi. “Tuan Kepala Jaksa, apa yang hendak anda lakukan?! Tunggu disini! Anda tidak boleh kesana! Terlalu berbahaya!” Sang polisi kemudian memegang pinggang Edgeworth dengan kencang untuk mencegahnya masuk ke dalam gedung. 

“Lepaskan! Lepaskan aku!” teriak Edgeworth, lalu ia menendang tulang kering sang polisi hingga sang polisi kesakitan dan melepaskan cengkeramannya dari pinggang Edgeworth. Edgeworth kemudian berlari ke arah gedung mall itu, mengabaikan teriakan ibunya dan kerumunan orang-orang yang menyuruhnya untuk kembali.

Edgeworth kemudian mulai memanjat gedung mall yang terbakar itu. Kaki dan tangannya bergetar, sakit dadanya mulai kambuh, dan ia mulai sesak nafas. Edgeworth tahu tindakannya ini bodoh, ia tahu ini sangat berbahaya, ia takut ketinggian, tapi ia tidak peduli. Yang ia pikirkan adalah Kay terjebak di dalam sana, dan ia harus menyelamatkannya. Sekarang ia mengerti kenapa Wright rela melakukan sesuatu sebodoh menyebrang jembatan yang terbakar untuk menyelamatkan Maya. Ia selalu mengatakan Wright adalah seorang idiot, karena nekat mempertaruhkan nyawanya. Dan disinilah ia sekarang, memanjat bangunan yang terbakar untuk menyelamatkan Kay. Karena saat seseorang mencintai, ia akan bersedia melakukan hal sebodoh dan seberbahaya apapun.

Dengan susah payah Edgeworth berusaha menghindar dari api yang menjalar, dan berpegangan pada salah satu jendela. Beberapa kali ia hampir terpeleset, namun berhasil melanjutkan memanjat. Sakit dadanya terasa lebih parah dari sebelumnya, tapi ia mengabaikannya. 

Nggh!!!!! Ayo, ayo, dada aku, mohon kerjasama kau, Kay terjebak di dalam, ayo, lanjutkan, sedikit lagi kau sampai di lantai 3!! Kay… kau akan baik-baik saja…Kau harus baik-baik saja…. 

Terengah-engah dan mulai kehabisan nafas, Edgeworth melanjutkan memanjat lagi, sementara api semakin membesar. Edgeworth menghindar lagi, sepatunya terasa sangat licin. Ia kemudian menggerakkan kakinya sedikit untuk melepaskan sepatunya ke bawah. Setelah bertelanjang kaki, Edgeworth menjadi lebih mudah untuk memanjat. Akhirnya ia sampai di lantai 3. Betapa leganya ia saat mendengar suara Kay.

“TOLONG! TOLONG AKU! AKU HAMPIR KEHABISAN NAFAS! KAKI AKU TERTIMPA TIANG!”

“Kay!” seru Edgeworth. “Tenang, Kay, aku akan segera datang!”
“M-m-miles?”
“Ya, Kay, ini aku! Tetap tenang!”

Edgeworth kemudian memanjat ke kiri, mengikuti arah suara Kay. Ia melewati dua jendela, dan saat sampai ke jendela keempat di lantai 3, ia bisa melihat bayangan Kay dari luar. Dengan hati-hati Edgeworth masuk melalui jendela itu. Setengah berlari, ia menghampiri Kay yang sudah lemas dengan kaki tertimpa tiang.

“MILES!” seru Kay. “Miles, astaga, ini sangat berbahaya, jantung kau…”
“Ini bukan saatnya membahas soal jantung aku, Kay!” teriak Edgeworth. “Kita harus segera keluar dari sini!” 

Mengabaikan rasa sakit tak tertahankan di dadanya, Edgeworth mencoba mengangkat tiang yang menimpa kaki Kay. Berat sekali. Akhirnya, setelah 4 kali percobaan, Edgeworth berhasil menyingkirkan tiang itu.

“Kau bisa berjalan, Kay?”
“Y-ya, Miles.”
“Kalau begitu, cepat panjat jendela itu! Aku akan mengikuti kau dari belakang!”

Kay mengangguk, kemudian berlari keluar melalui jendela, sementara Edgeworth mengikutinya dari belakang. Memanjat gedung bukanlah hal yang baru bagi Kay, dan ini merupakan salah satu keahliannya. Ia bisa turun dari gedung dengan cepat, sebelum akhirnya pingsan di halaman, dan paramedis langsung menaruh tabung oksigen di mulutnya dan membawanya ke dalam ambulans.

Sementara itu, Edgeworth masih berusaha keras untuk turun. Ia tidak sengaja melihat ke bawah, dan itu membuatnya menjadi pusing seketika. 

Gulp…. Orang-orang dan Ibu terlihat seperti semut dari atas sini….Sedikit lagi kau akan sampai di bawah, Edgeworth, sedikit lagi, tahan.. tahan…. 

Saat ia sampai di lantai 2, api tiba-tiba keluar dari jendela yang ia jadikan tempat untuk bertumpu. Kaget, Edgeworth melepaskan kedua tangannya dari pinggir jendela itu, dan ia terjun bebas ke bawah.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!”
“MILES!!!!!!!!!!!!!! ANAKKU!!!!!!!!!!”

“TUAN KEPALA JAKSA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Dan yang Edgeworth rasakan selanjutnya adalah, sekujur tubuhnya terasa sakit semua, seakan habis dihajar oleh ribuan orang, dan semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap.
To be continued…











Aku Akan Sealu Berada di Samping Kau, Bab IV



BAB IV
Menghadapi Media & Penyakit


October 8th, 2027
Kantor Kepala Jaksa

Kay melangkah masuk ke kantor Edgeworth. Dia menduga Edgeworth sudah duduk di dalam kantor, tapi ternyata tidak. Kantor itu kosong dan tidak ada siapapun di dalam. Kay mengerutkan alisnya. Edgeworth bukan tipe orang yang senang terlambat. Rasa khawatir kembali muncul di benaknya. Apa Miles sakit? Untuk sesaat, ia ingin mengeluarkan cell phone nya dan menelepon Edgeworth mengapa ia belum datang ke kantor. Tapi kemudian ia mendadak sadar kalau ia datang ke kantor Edgeworth bukan untuk bekerja.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari saku blazernya. Dengan hati-hati, ditaruhnya amplop itu ke meja Edgeworth. Ia memandang berkeliling, dan tersenyum lemah. Ia akan sangat merindukan kantor ini. Ia akan merindukan menertawai Edgeworth jika muncul kerut terlalu banyak di keningnya saat ia mengetik di laptopnya. Ia akan merindukan bermain catur bersama Edgeworth di dalam kantor ini setelah menangani kasus.

Ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi, bukankah ini yang Edgeworth inginkan? Bukankah Edgeworth terus menerus mengatakan untuk tinggalkan ia sendiri? Mungkin ini memang yang terbaik bagi mereka berdua. Tersenyum lemah, Kay melangkah keluar, memandang sekali lagi kantor yang membuat karirnya menanjak mungkin untuk yang terakhir kali, menutup pintu, dan berbisik,

“Selamat tinggal, Miles. Terima kasih untuk 9 bulan yang begitu indah.”

Tidak lama setelah Kay pergi meninggalkan amplop di kantor, Edgeworth datang. Ketika Edgeworth masuk ke dalam, hal pertama yang dilihatnya adalah amplop yang ditinggalkan Kay di atas meja kerjanya. Edgeworth mengambil amplop itu, membukanya, dan membaca surat yang ada di dalam.

To: Tuan Edgeworth
Tuan Edgeworth.
Bersama dengan surat ini, saya sampaikan pengunduran diri saya dari kantor Anda. Terima kasih banyak atas bimbingan dan ilmu yang anda berikan kepada saya sehingga karir saya sebagai jaksa penuntu  menanjak.
Ingin rasanya saya bekerja lebih lama bersama anda, tapi keadaan yang memaksa saya untuk berhenti dan mencari pengalaman baru.
Tertanda
Mantan asisten dan murid anda
Kay Faraday


Edgeworth membaca surat itu selama tiga kali untuk memastikan itu benar-benar tulisan tangan Kay. Mendadak, lututnya terasa lemas. Kay akhirnya pergi meninggalkannya sebelum ia minta maaf. Dan semua karena kesalahannya sendiri. Seandainya ia bisa memutar waktu dan memiliki kesempatan kedua…..

Edgeworth membaca surat itu sekali lagi, dan menemukan ada pesan tambahan di bawahnya.

PS: Jika kau pikir aku baik-baik saja, itu sama sekali tidak benar.

Edgeworth meremas surat dari Kay dan melemparkannya ke tempat sampah. Kemudian ia terhenyak di kursinya. Ia merasa tersesat dan tidak tahu harus melakukan apa. Seperti saat ia pertama jatuh cinta kepada Kay, ia kembali tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya ia inginkan.

Bukankah ini yang memang aku inginkan? Aku terus-terusan berteriak kalau Kay pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada aku. Aku berteriak kepada Kay untuk meninggalkan aku sendiri. Aku berteriak bahwa aku terlalu lemah untuk Kay. Aku bahkan berteriak kepada Kay agar melupakan hubungan kami. Lalu, mengapa aku merasa kecewa dan sesedih ini begitu ia benar-benar meninggalkan aku?
Bukankah ini yang memang aku inginkan?
Tapi, mengapa aku tidak mengerti? Apa yang sebenarnya aku inginkan?
Mungkin benar seperti yang dikatakan Franziska.
Aku adalah seseorang yang tolol.

Sudah satu minggu sejak Kay meninggalkan kantornya. Edgeworth kembali merasa kesepian. Ia termenung di kantornya, ia sesekali melirik ke arah pintu, dan berharap jika Kay akan muncul lagi. Ia kemudian mengeluarkan cell phonenya, melihat buku kontak, dan menatap nama Kay yang tertera di layar telepon genggamnya. Jarinya bergerak ke arah tombol dial, sebelum akhirnya ia menekan tombol cancel. Hati dan pikirannya dipenuhi dengan tanda tanya.

Dimana Kay sekarang? Apa dia baik-baik saja? Bekerja dimana ia sekarang?

Ia kemudian masuk ke menu pesan singkat dan membaca ulang pesan singkat yang dikirimkan Kay kepadanya saat mereka masih berkencan. Membaca ulang pesan-pesan itu membuatnya merasa Kay masih berada di dekatnya.

“Miles, aku lupa menaruh di mana lipstik aku, besok kau mau membantu aku mencarinya?”
“Miles, bisa kau telepon aku sekarang? Aku ingin pipis dan aku takut ke kamar mandi sendirian tengah malam begini”
“Miles, tadi ketika aku mandi, ada laba-laba di perut aku! Rasanya lebih mengerikan dari jeritan Winston Payne!”
“Miles, rerun Steel Samurai episode 54 di ITV Channel sekarang!”
“Miles, tahu tidak? Tetangga di apartemen sebelah menyanyikan lagu You’re Still The One, dan suara mereka seperti tikus tercekik!”
“Miles, aku mohon jangan lupa untuk membeli obat di apotik kalau obat kau habis!”

Tertawa kecil, Edgeworth kemudian bangkit dari kursinya untuk pulang ke rumah. Membaca ulang pesan dari Kay membuatnya teringat bahwa persediaan obat di rumahnya sudah habis. Menghela nafas, Edgeworth memutar mobilnya menuju apotik sebelum pulang ke rumah.

“Hai, Tuan Kepala Jaksa, ada yang bisa saya bantu?” sapa sang apoteker dengan ramah.
“Ya, saya mau beli obat anti arrhythmia.”

“Anda belum sembuh juga dari penyakit arrhythmia anda, Tuan Kepala Jaksa? Padahal anda sudah menderita penyakit itu hampir setahun, kan? Mengapa bisa lama sekali, Tuan Kepala Jaksa?”

Edgeworth diam saja. Dia sama sekali tidak mau membicarakan tentang penyakitnya kepada siapapun.

“Apa kau punya obat anti arrhythmia? Kalau tidak, saya akan cari ke apotik lain,” ucap Edgeworth sedikit jengkel.
“Oh iya! Sebentar, akan saya carikan….” Sang apoteker kemudian membongkar lemari obat-obatan yang terletak di belakangnya. “Nah, ini dia, Tuan Kepala Jaksa! Semuanya US$40.” 

Edgeworth menerima bungkusan obatnya, dan membayarnya. “Ini, terima kasih banyak.”

“Sama-sama, Tuan Kepala Jaksa! Semoga cepat sembuh. Selalu makan makanan yang bergizi, jangan sering begadang, dan jangan bekerja terlalu keras, Tuan Kepala Jaksa. Anda sangat tampan, sangat disayangkan jika pria setampan anda harus menderita penyakit seperti arrhythmia….”

Edgeworth mengangkat alisnya. “Terima kasih atas perhatiannya, Madame Apoteker. Selamat sore.”
Saat ia hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.
“Filmnya tadi benar-benar kocak! Kau lihat saat adegan Robert Downey bertemu dengan Aunt May? Ekspresi pemeran Spiderman yang baru itu lucu sekali!”
“Yeah, perut aku sampai linu gara-gara terus tertawa sepanjang film! Kau suka filmnya, Kay?”
“Sangat, sangat, sangat suka, Sebastian.”

Edgeworth membalikkan badannya. Dari kejauhan ia bisa melihat Kay bergandengan tangan dengan Sebastian Debeste, dan tampak sangat bahagia. Tampak Kay dan Sebastian saling menggelitik dan mengganggu satu sama lain. Melihat pemandangan itu, kemarahan Edgeworth muncul.

Baru satu minggu ia putus dengan aku dan meninggalkan kantor aku, dan sekarang ia sudah berkencan dengan Debeste? Apa yang ia lihat dari anak idiot itu? pikir Edgeworth geram. Masih dengan marah, Edgeworth terus memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. 

“Hey, Kay, bagaimana kalau kita makan Fetuccini? Kau suka sekali makanan itu, bukan? Biar aku yang membayar!”
“Tentu, Sebastian! Kau baik sekali kepada aku!”
“Kau yang terlalu baik kepada aku, Kay. Itulah mengapa aku jatuh cinta pada kau.”

Lalu, Sebastian memiringkan kepalanya, dan mencium pipi Kay. Edgeworth merasa darahnya langsung mendidih. Dengan marah ia membanting pintu mobilnya, kemudian menghampiri mereka berdua.

“Kau berani menyentuh Kay, Debeste?!” teriak Edgeworth keras sekali, membuat orang-orang yang sedang berjalan di sekitar menoleh ke arah mereka bertiga. Lalu, tanpa Edgeworth sendiri sadari, ia mengayunkan tangannya dan meninju mata Sebastian. Sebastian terhuyung dan hampir jatuh ke tanah sebelum Kay memeganginya.

“Tuan Edgeworth!” seru Kay. “Ada apa dengan anda?! Kenapa anda memukulnya seperti itu?! Apa salah Sebastian?!”
“Apa salahnya? Dia bersalah besar karena telah berani menyentuh kau, Kay!”
“Dan dimana letak kesalahannya?!”
“Karena….karena…” Edgeworth tergagap. “Tidak seharusnya ia menyentuh dan mencium kau di tempat umum seperti ini, Kay!”
“Dan itu tidak salah sama sekali, Tuan Edgeworth?!! Kenapa anda menjadi murka seperti itu?! Sebastian hanya mencium pipi aku, tidak lebih—“
“Oh, kau berkencan dengan Sebastian sekarang, Kay? Padahal baru satu minggu kita putus—“

“Dan memangnya kenapa?” teriak Kay. “Kita sudah putus. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Apakah anda lupa siapa yang mengatakan untuk meninggalkan anda sendiri? Apa anda lupa siapa yang mengatakan, bahwa anda terlalu lemah untuk saya, dan saya pantas mendapatkan pria yang jauh lebih muda dan lebih sehat dari anda? Apa anda lupa, siapa yang mengatakan untuk melupakan hubungan kita, untuk kebaikan saya sendiri, di hari ulang tahun saya? Apa anda lupa semua itu, Tuan Kepala Jaksa Iblis?!”

Orang-orang sekarang menonton mereka dengan tertarik. Beberapa jurnalis yang lewat mulai memotret dan merekam pertengkaran mereka.

“Bukankah ini yang anda inginkan?! Bukankah ini yang anda mau, agar saya meninggalkan anda sendiri?! Apa hak anda untuk melarang saya menemukan pria lain yang jauh lebih baik dari anda, yang bisa menerima dengan tulus segala perhatian yang saya berikan?” seru Kay lagi, kemudian ia maju selangkah, dan mendorong Edgeworth hingga Edgeworth jatuh tersungkur ke tanah. Kay kemudian membalikkan badannya, dan menggenggam tangan Sebastian. “Ayo, Sebastian!” Lalu mereka berdua pergi dan menghilang dari pandangan.

Wajah Edgeworth memerah. Ia kemudian bangkit dan membersihkan celananya yang kotor akibat terjatuh tadi. Orang-orang sekarang memandanginya dengan berbisik-bisik dan dengan pandangan sinis. 

“Kau dengar semua yang dikatakan Nona Faraday tadi?”
“Yeah…. Tuan Kepala Jaksa ternyata adalah seorang bajingan!
“Memutuskan pacarnya di hari ulang tahunnya. Sungguh menjijikkan”
“Dia yang mengakhiri hubungannya dengan Nona Faraday, lalu dia marah karena Nona Faraday memiliki pacar baru. Idiot macam apa dia?”

Edgeworth menerobos kerumunan orang-orang itu dan berjalan dengan sangat cepat menuju mobilnya. Sementara para jurnalis mengejarnya di belakang.
“Hey, Tuan Kepala Jaksa, tunggu! Kami punya beberapa pertanyaan untuk anda.”
“No comment.”
“Tuan Kepala Jaksa, apa yang sebenarnya terjadi antara anda dengan Nona Faraday? Apa yang membuat anda mencampakkannya di hari ulang tahunnya?”
“No comment.”
“Mengapa anda mengatakan bahwa anda terlalu lemah untuk Nona Faraday? Apa ini ada hubungannya dengan penyakit arrhythmia anda yang tidak kunjung sembuh?”

“Aku bilang, NO COMMENT! Kehidupan pribadi saya bukan urusan anda!” teriak Edgeworth, kemudian ia membalikkan badan, dan meninju kamera wartawan yang mengintainya. Kamera wartawan itu akhirnya jatuh. Edgeworth kemudian berlari ke mobilnya, masuk ke dalam, dan menyetir dengan sangat cepat menuju ke rumahnya.


October 15th, 2027
Miles Edgeworth’s Home

Dengan terengah-engah Edgeworth masuk ke dalam rumahnya. Kemarahan telah membuat sakit dadanya kambuh lagi dan Edgeworth merasa ini sakit dada paling parah yang pernah dirasakannya. Dadanya terasa perih dan panas, seakan-akan ditusuk oleh ribuan jarum. Ia tidak tahu apa yang membuat dadanya terasa begitu sakit, apakah penyakitnya atau rasa cemburunya. Ia terhuyung dan hampir terjatuh di ruang tamu. Pelayan pribadinya, Luciana, wanita keibuan yang berumur 63 tahun, dan sudah bekerja untuk Edgeworth selama 8 tahun, dengan sigap menangkapnya dan membantunya duduk di kursi.

“Master Miles, sakit dada kau kambuh lagi?”  Edgeworth hanya mengangguk lemah.
“Master, dimana obat anda?”
“Di tas.” jawab Edgeworth lemah. Ia tak tahan lagi. Ia ingin menjerit sekeras mungkin. Ia ingin mati sekarang juga. Ia merasa dadanya akan meledak. 

Luciana kemudian membongkar tas Edgeworth dan membantu Edgeworth menelan obatnya. Tapi Edgeworth masih merasakan sakit dada yang sangat menyiksa. Matanya sekarang berair menahan sakit. Darah perlahan-lahan muncul dari kedua lubang hidungnya. 

“Master!” seru Luciana. “Master tunggu disini, saya akan panggil ambulans…”
“Tidak,” potong Edgeworth. “Ambilkan saja satu butir pil lagi.”
“Tapi, Master--!”
“Satu. Butir. Pil. Lagi.”

Luciana tidak berani membantah. Ia akhirnya mengambil satu butir pil lagi dan membantu Edgeworth menelannya. Edgeworth mengerjap, rasa sakit di dadanya dan mimisannya perlahan-lahan menghilang. 

“Bagaimana perasaan anda, Master?”
“Sudah lebih baik. Terima kasih banyak, Luciana.”
“Master, sebelumnya sakit dada anda tidak pernah sampai separah ini. Boleh aku tahu, apa anda yang mengganggu anda, Master?”
“Tidak, Luciana. Aku tidak mau membicarakannya. Aku..aku mau istirahat.”
“Baik, Master. Jika Master butuh apa-apa, panggil saja saya.”
“Ya, Luciana. Terima kasih banyak.”

Edgeworth masuk ke dalam kamarnya, dan mengganti cravat serta kemejanya dengan piama. Ia merebahkan diri di atas tempat tidurnya, dan memandang kosong ke arah langit-langit kamarnya.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Ia tahu, tindakannya tadi sangat bodoh. Meninju Sebastian padahal ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Bertengkar dengan Kay di depan umum. Dan meninju kamera wartawan. Pasti dalam beberapa hari ke depan, akan terbit berita-berita yang menyudutkannya dan menghinanya. Setelah ia mengingat-ngingat lagi apa yang baru saja ia lakukan, ia akhirnya menyesal telah bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.

Ia menarik selimutnya, memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Badannya terasa dingin sekarang. Ia mulai menggigil. Badannya terasa lemas dari sebelumnya. Dengan susah payah, ia meraba-raba botol obatnya dan menelan satu pil lagi. Ia tidak peduli jika ia harus mati karena overdosis—mungkin itu lebih baik daripada harus terus menerus menahan segala rasa sakit yang menyerangnya. Ia mencoba memejamkan mata lagi, dan kali ini ia berhasil tidur pulas.

October 15th, 2027
Apartemen Kay Faraday

“Ouch! Pelan-pelan, Kay!” ucap Sebastian saat Kay mengompres matanya yang ditinju oleh Edgeworth.
“Maaf Sebastian, tapi aku harus menekannya supaya mata kau tidak bengkak.”
“Aku tidak percaya Tuan Edgeworth bisa berbuat kekanak-kanakan seperti itu,” ucap Sebastian sambil menggelengkan kepalanya. “Jaksa lemah dan penyakitan itu,--“ 

“Jangan sebut dia lemah dan penyakitan!” seru Kay tiba-tiba sambil membanting kompres yang sedang dipegangnya . Sebastian menatapnya dengan heran. 

“Kay, ada apa dengan kau? Kau masih mau membelanya setelah ia mempermalukan kau di depan puluhan orang seperti tadi?” 

“Aku tidak membelanya,” ucap Kay ketus. “Aku hanya tidak suka kau menyebutnya lemah dan penyakitan, karena ia tidak seperti itu. Ia pria yang paling kuat yang pernah aku kenal.”

“Tch!” ucap Sebastian sambil melipat tangannya. “Aku mengerti. Jawab aku, Kay. Kau masih mencintai Tuan Edgeworth, bukan? Kau hanya menggunakan aku sebagai tempat pelarian saja? Tempat pelarian untuk melupakannya? Kay, dia mencampakkan kau di hari ulang tahun kau! Bagaimana mungkin kau masih bisa mencintai pria pengecut yang—“

“Cukup, Sebastian!” seru Kay. “Percakapan ini berakhir!”

Walau begitu, Kay mengakui bahwa semua yang diucapkan Sebastian memang benar. Ia masih mencintai Edgeworth. Ia tidak mungkin melupakan Edgeworth hanya dalam seminggu saja. Ia hanya menggunakan Sebastian sebagai tempat pelariannya. Ia tidak mencintai Sebastian, dan tidak akan pernah.

Karena hanya ada satu pria yang mengisi hatinya, dan pria itu bernama Miles Edgeworth.

Kay merasa marah. Mengapa Edgeworth harus menderita penyakit itu? Mengapa? Jika Edgeworth tidak pernah menderita arrhythmia, hubungan mereka akan sangat mulus. Jika Edgeworth tidak menderita arrhythmia, dialah yang akan berada di apartemennya sekarang, bukan Sebastian. Jika Edgeworth tidak menderita arrhythmia, ia tidak akan memandang rendah dirinya sendiri……
Masihkah ada harapan?

Baik untuk hubungannya dengan Edgeworth, dan juga kesembuhan untuk Edgeworth?

Dua minggu berlalu sejak insiden pertengkarannya dengan Kay dan insiden ia meninju Sebastian. Seperti yang sudah diduga Edgeworth, media-media memuat berita yang memojokkannya setelah kejadian itu. Mereka mengolok-ngoloknya hampir setiap hari, membuat plesetan atas namanya, dan bahkan membuat lelucon kejam tentang penyakitnya. 

“Kepala Jaksa Miles Edgeworth meninju Sebastian Debeste akibat cemburu setelah memergoki Mr. Debeste mencium pipi Nona Faraday, mantan pacarnya. Sungguh perbuatan yang memalukan dan tidak layak dicontoh untuk seorang Kepala Jaksa”

“Kepala Jaksa Miles Edgeworth mencampakkan kekasihnya, Kay Faraday di hari ulang tahunnya. Ia tidak lebih dari pria brengsek yang hanya bisa menyakiti hati wanita”

“Beredar rumor kalau Kepala Jaksa Miles Edgeworth hanya menggunakan Nona Faraday sebagai pelampiasan hasrat seksualnya”

“Beredar rumor kalau sakit arrhythmia Kepala Jaksa Miles Edgeworth hanyalah sandiwara belaka untuk menarik simpati masyarakat”

“Kepala Jaksa Miles Edgeworth terserang sakit dada saat pengadilan hari ini berlangsung. Ini menunjukkan betapa lemah dan tidak kapabel ia untuk menjabat sebagai seorang Kepala Jaksa”

“Masyarakat menuntut untuk mengganti Kepala Jaksa Miles Edgeworth karena menurut mereka Kepala Jaksa Miles Edgeworth bukanlah contoh yang baik dan tidak lebih dari seorang pria brengsek”

“Setelah Jaksa Iblis, Kepala Jaksa Miles Edgeworth memiliki nama julukan baru : Jaksa Bajingan”

“Hari ini, Kepala Jaksa Miles Edgeworth terlihat memasuki rumah sakit, lagi. Ini yang keempat kalinya dalam satu minggu, mari kita taruhan, kapan namanya akan tercatat di Guiness Book of World Record sebagai Prosecutor yang paling banyak masuk rumah sakit?”

Edgeworth menatap gambar karikatur dirinya yang sedang mencengkeram dada yang dimuat di salah satu koran, dan di sebelah gambar karikatur itu, terdapat tulisan “MOMMY…DADDY….. DADA AKU SAKIT… UWAA…MOMMY…DADDY… I WANT MILK…”  Dengan marah Edgeworth membanting dan merobek semua tumpukan majalah, koran, dan tabloid yang memuat berbagai headline yang mengejek dirinya dan melemparnya ke tempat sampah.  

Dipojokkan oleh media bukan hal yang baru baginya. Ia sudah populer, bahkan sangat populer sejak ia masih berusia 20 tahun. Ketenarannya bahkan menyaingi bintang-bintang papan atas Hollywood seperti Angelina Jolie dan Tom Cruise. Ketika menangani kasus SL-9, media juga memuat berita dan rumor yang memojokkannya karena diduga telah memalsukan barang bukti. 

Tapi saat itu berbeda. Ia masih sehat dan tidak memiliki penyakit apapun saat itu. Meski media juga memojokkannya saat menangani kasus SL-9, tapi mereka tidak memuat kata-kata sadis dan kejam seperti yang Edgeworth baca sekarang. Sehingga pemberitaan media kala itu tidak membuatnya depresi sama sekali, meski ia juga merasakan tekanan.  Sekarang media memperlakukannya seakan-akan ia adalah sebuah badut dan bahan olok-olok paling lezat.

Ia mencoba mengabaikannya, tapi lama-lama ia tidak tahan juga. Setiap ia masuk ke ruang sidang, ia harus selalu menerima tatapan sinis dan ejekan dari orang-orang. Jika sakit dadanya kambuh dan ia kepergok minum obat di tempat umum, dalam hitungan jam saja, media akan langsung memuat headline yang mengolok-ngoloknya. Ia terus berusaha mengabaikan, dan mengabaikan, sampai suatu hari ia membaca artikel yang menyebut-nyebut tentang ayahnya, dan ia tidak tahan lagi. 

“….Kepala Jaksa Edgeworth benar-benar gagal sebagai putra dari almarhum Gregory Edgeworth. Ia benar-benar jauh berbeda dengan almarhum Gregory Edgeworth. Almarhum Gregory Edgeworth tidak akan pernah meninju juniornya di muka umum. Almarhum Gregory Edgeworth tidak akan pernah meninju kamera wartawan hanya karena mereka ingin mewawancarainya. Dia seharusnya menjaga nama baik almarhum ayahnya. Saya rasa almarhum Gregory Edgeworth pasti sedang menangis di surga sana, melihat anak tunggalnya menjadi pria brengsek lemah yang memberikan nama buruk bagi kenangannya….”

Setelah membaca artikel itu, Edgeworth menolak untuk muncul di publik. Dia melewatkan sidangnya, mengabaikan kasus-kasus yang ditanganinya, tidak melakukan check up ke dokter lagi, bahkan tidak mau meminum obatnya lagi. Ia hanya berbaring terlentang di tempat tidurnya, tanpa melakukan apa pun. Makanan yang disiapkan Luciana untuknya hanya ia makan sebanyak tiga atau empat sendok. Berat badannya menurun drastis, kantung mata muncul di kelopak matanya, rambutnya menjadi acak-acakan tak beraturan, dan janggut tipis mulai muncul di dagunya.
Ia sedang mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. 

Ia tidak peduli. Lagipula, untuk apa dia hidup lebih lama lagi? Penyakitnya akan membunuhnya sewaktu-waktu pada akhirnya. Semua orang memojokkannya. Mungkin kematian lebih baik baginya. Jika ia meninggal, ia bisa bertemu lagi dengan ayahnya. Jika ia meninggal, media tidak akan mengolok-oloknya lagi dan akan mengganti headline mereka dengan betapa ia adalah seorang pria yang baik ia saat ia masih hidup.

Kay sangat khawatir dengan Edgeworth. Ia sudah membaca berita dan ejekan untuk Edgeworth yang dimuat di media. Ingin sekali rasanya bagi Kay untuk menelepon Edgeworth, bertanya apakah dia baik-baik saja, atau mengunjungi rumahnya untuk memastikan ejekan dari media tidak mempengaruhi Edgeworth sama sekali. Tapi ia tahu ia tidak bisa. Edgeworth pasti tidak akan mau bertemu dengannya dan akan mengusirnya. Maka dari itu Kay selalu mengontak Luciana untuk menanyakan bagaimana keadaan Edgeworth. Dan, Luciana selalu berkata kalau Edgeworth tidak pernah keluar dari kamarnya, hanya berbaring, tidak melakukan apapun, bahkan sudah lama tidak meminum obatnya lagi. Itu membuat kekhawatiran Kay semakin bertambah. Seandainya saja ada cara agar ia bisa membuat semangat Edgeworth bangkit lagi….

Kay juga merasa bersalah. Jika ia tidak menyebut-nyebut kejadian saat pesta ulang tahunnya, mungkin media tidak akan mengolok-ngolok Edgeworth seperti ini. Ingin sekali rasanya Kay minta maaf kepada Edgeworth..

Sebenarnya, Kay tidak mengerti kenapa Edgeworth membiarkan media menang atas dirinya. Kenapa Edgeworth menganggap serius perkataan media? Sebelumnya dia tidak pernah peduli apa yang orang katakan tentang dirinya. Pertanyaannya akhirnya terjawab saat membaca artikel tentang Edgeworth dan Gregory. Ia merasa geram sekali dan ingin rasanya menjejalkan lencana Yatagarasu-nya ke mulut jurnalis yang tega menulis artikel itu.

“Ini sudah keterlaluan!” teriak Kay sambil meremas koran yang baru selesai dibacanya.
“Ada apa, Kay?” tanya Sebastian.
“Orang-orang media. Mereka terus menerus mengolok-ngolok, memfitnah dan memojokkan Miles setelah kejadian itu. Mereka bahkan mengolok-ngolok tentang penyakitnya, dan sekarang mereka menulis artikel tentang gagalnya Miles sebagai anak Gregory!”

Sebastian mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kau begitu marah?”
“Marah? Kenapa? Tentu saja aku marah, Sebastian! Mereka menyebut Miles pria brengsek, menuduh Miles hanya berpura-pura sakit, mengatakan kalau Miles hanya menggunakan aku sebagai pelampiasan hasrat seksualnya, bahkan menggambar karikatur Miles yang sedang kumat saat pengadilan! Gara-gara mereka, Miles jadi stress berat dan bahkan tidak mau keluar dari kamarnya…”

“Oh,” Sebastian mendengus. “Jadi kau masih mengawasi dan mencari tahu keadaannya. Kenapa kau begitu peduli padanya, Kay?”
“Karena…….”
“Karena kau masih mencintainya. Benar begitu, Kay?”

Kay menelan ludah. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. 

“Bagaimana mungkin kau masih tetap peduli dan mencintai Tuan Edgeworth, Kay? Dia mencampakkan kau! Dia sendiri mengakui kalau dia tidak pantas untuk kau, tapi kau tetap saja peduli dan mencintainya.. Kapan kau sadar, Kay?? Kau tidak berarti apa-apa untuknya…”

“Cukup, Sebastian!” teriak Kay. “Kau tidak mengerti bagaimana perasaan Miles sekarang, dia menderita, Sebastian! Dia butuh seseorang untuk bersandar!”

“Menderita? Begitu ya? Kau tidak ingat saat aku harus menerima kenyataan bahwa ayah kandung aku sendiri adalah seorang kriminal dan ia terus menerus mengatakan aku adalah anak tidak berguna dan idiot? Dan bagaimana aku harus menghadapinya di pengadilan? Tapi apa aku lalu berlari ke kamar aku, dan membenamkan wajah aku ke bantal? Tidak. Aku berdiri dengan dua kaki aku sendiri. Tegak. Tuan Edgeworth memang lemah. Jika dia tidak lemah, dia tidak akan membiarkan media mengalahkannya!”

“Sebastian, siapapun akan merasa putus asa jika menderita penyakit parah dan orang malah mengejeknya setiap hari,” ucap Kay pelan, “Dan, kau lupa siapa yang membuat kau bisa berdiri tegak menghadapi ayah kau? Miles lah yang membuat kau bisa menghadapi ayah kau! Dan bisa-bisanya kau bilang dia lemah—“

“Justru karena itu! Padahal ia yang membuat aku menjadi seperti sekarang ini, ia yang menyemangati aku untuk memilih jalan yang berbeda dari Ayah, dan lepas dari bayang-bayang Ayah. Tapi kenapa ia bisa menjadi selemah ini? Karena penyakitnya? Karena hubungannya dengan kau yang tidak ada masa depan? Ia menyemangati aku supaya tidak menjadi pria lemah, dan sekarang ia malah menunjukkan kelemahan.”

Kay menggerutu pelan dalam hati, karena kata-kata Sebastian memang benar. Bagaimana caranya, supaya ia bisa membuat semangat Edgeworth bangkit lagi? Bagaimana caranya supaya ia bisa meyakinkan Edgeworth?

Lalu, sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ia harus minta bantuan Maya, Phoenix, dan Franziska.

“LAGI?!” seru Phoenix setelah selesai membaca artikel yang mengolok-ngolok Edgeworth. Dengan geram ia merobek koran itu. 

“Nick, ada apa? Kenapa kau marah-marah seperti itu?” tanya Maya sambil menyerahkan secangkir teh ke tangan Phoenix.

“Media sialan…… Mereka terus-terusan mengejek dan membuat berita yang memojokkan Edgeworth, Maya! Mereka membuat lelucon tentang penyakitnya, tentang hubungannya dengan Kay, dan masih banyak lagi…. Ini sudah keterlaluan!”

“Aku setuju, Nick… tapi bagaimanapun Edgeworth sangat terkenal, dan kita tidak mungkin membungkam media—“ perkataan Maya terpotong oleh Kay yang tiba-tiba melompat masuk ke dalam. 

“Kay, astaga! Berapa kali kami harus katakan, jika mampir kesini jangan membuat kami terkena serangan jantung!” seru Maya. Kay nyengir lemah. 

“Maaf Maya, maaf Tuan Wright. Aku hanya ingin berbicara kepada kalian…. Tentang Miles… aku sangat khawatir dengannya,” gumam Kay. 

“Yeah, kami juga, Kay. Media terus menerus mengejek dan memojokkannya… Seperti tidak ada bahan berita lain saja… Dan Edgeworth tidak pernah menjawab telepon atau membalas pesan singkat kami… Kami tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, dia tidak pernah muncul lagi di publik sekarang… Bahkan menelantarkan semua kasus yang sedang ditanganinya..” Phoenix menghela nafas. 

“Aku berkomunikasi dengan Mrs. Luciana, pelayan pribadinya, dan kondisi dia benar-benar tidak baik, Maya, Tuan Wright. Dia terus-terusan mengunci diri di kamarnya, makan hanya tiga atau empat sendok sehari, tidak melakukan check up ke dokter lagi, tidak pernah meminum obatnya lagi, dan tadi malam Mrs. Luciana menelepon aku kalau ia memergoki Miles sedang meminum dua botol wine. Dia….dia sepertinya sedang mencoba membunuh dirinya sendiri secara perlahan-lahan.”

“APA?” seru Phoenix. “Edgeworth minum wine? Maya, Kay, ini tidak bisa dibiarkan, mengapa dia membiarkan ejekan media mempengaruhinya?”

“Ini semua salah aku,” ucap Kay pelan. “Sekitar dua minggu lalu, aku dan Miles bertengkar di tempat umum. Aku baru pulang menonton bersama Sebastian, kemudian Sebastian mencium pipi aku. Miles marah, dan ia meninju Sebastian. Lalu aku berteriak dengan keras tentang kejadian saat pesta ulang tahun aku, bagaimana ia mencampakkan aku di hari ulang tahun aku, bagaimana ia menyuruh aku untuk meninggalkan dia…. Para jurnalis lewat, ia juga meninju kamera jurnalis yang hendak bertanya kepadanya, dan gara-gara kejadian itulah media mengejeknya setiap hari.”

Maya menutup mulutnya dengan tangannya.
“Kay, tapi itu bukan salah kau. Yang salah adalah para jurnalis yang senang sekali mencampuri urusan dan kehidupan pribadi orang lain!”

“Tetap saja aku penyebab semuanya, Maya! Semua hinaan, cacian, dan ejekan yang didapat Miles, semua gara-gara aku! Aku ingin sekali minta maaf kepadanya, dan mencoba menyemangatinya, tapi aku tahu ia pasti akan menolak aku dan tidak akan mau bertemu dengan aku. Jadi, aku ingin minta tolong kepada kalian, guys. Maukah kalian bicara dengan Miles untuk aku? Semangati dia kalau ejekan media seharusnya tidak membuatnya menjadi kehiangan semangat hidup seperti ini!”

Phoenix mengangguk mantap. “Jangan khawatir, Kay. Kami akan ke rumah Edgeworth besok dan mencoba membujuknya.”

“Serahkan semuanya kepada kami, Kay,” ujar Maya. 

“Terima kasih banyak, Maya, Tuan Wright. Aku mengandalkan kalian, guys.”

Keesokan harinya, seperti yang telah direncanakan, Phoenix dan Maya berangkat ke rumah Edgeworth. Mereka juga mengajak Franziska serta Lang. Lebih banyak orang yang mencoba berbicara dengan Edgeworth, lebih baik. Agar Edgeworth tahu bahwa ia memiliki orang-orang yang peduli kepadanya.

Phoenix menekan bel pintu rumah Edgeworth. Tidak lama kemudian, Mrs. Luciana keluar.
“Halo, Mrs. Luciana. Kami ingin bertemu dengan Edgeworth,” ucap Phoenix. 

Mrs. Luciana menghela nafas pendek, dan dengan pasrah menjawab, “Maaf, Tuan Wright. Nona Maya. Nona Von Karma. Tuan Lang. Tapi Master tidak ingin bertemu dengan siapapun. Ia sudah memerintahkan kepada saya agar tidak mengizinkan siapapun masuk. Lebih baik kalian semua pulang saja. Saya benar-benar minta maaf. Saya hanya menuruti perintah Master Miles.”

“Bullshit.” ucap Phoenix jengkel, kemudian ia menerobos masuk sebelum Mrs. Luciana bisa mencegahnya.

“H-hey, Tuan Wright! Tunggu! Master Miles akan sangat marah kepada saya! Hhey!”

Phoenix berpura-pura tidak mendengarkan. Ia kemudian berjalan ke depan pintu kamar Edgeworth, dan mengetuk pintu itu dengan sangat kencang. 

“EDGEWORTH!” teriak Phoenix. “EDGEWORTH! Hentikan semua omong kosong ini! Aku tahu kau ada di dalam, Edgeworth! Buka pintunya! Kami ingin bicara dengan kau! Ini bukan kau yang kami kenal, Edgeworth! Buka pintunya!” 

Edgeworth yang sedang minum wine di kamarnya, menoleh ke arah pintu dengan jengkel.
Itu suara Wright. Mau apa dia kesini? Berpura-pura bersimpati kepada aku? Atau hanya ingin melihat bagaimana rival dan temannya ini hancur?

Edgeworth melanjutkan meminum wine nya, dan mengabaikan ketukan pintu yang semakin keras.

“Tuan Edgeworth, tolong buka pintunya, kami hanya ingin bicara dengan kau, kami sangat khawatir dengan kau!”
“Adik kecil bodoh! Cepat buka pintunya! Jangan membuat kami jengkel!”
“Edgey-boy! Buka pintunya! Kami peduli pada kau, Edgey-boy!”

Kenapa mereka tidak meninggalkan aku sendiri saja?!!

“Edgeworth, kalau kau tidak mau membuka pintunya dalam 5 menit, aku akan mendobrak pintu ini, Edgeworth!” teriak Phoenix. Edgeworth mendengus. 

Yeah, coba saja kalau kau berani, Wright. Saat ia hendak menenggak botol wine nya lagi, pintu mendadak menjeblak terbuka. Maya, Phoenix, Franziska, dan Lang menerobos masuk. Dengan cepat Phoenix merebut wine yang ada di tangan Edgeworth dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

“H-hey!! Apa yang kau lakukan, Wright?! Kau mendobrak pintu kamar aku, kau menerobos kamar aku tanpa izin! Aku akan menuntut kau, Wright!”

“Edgeworth, lihat aku!” seru Phoenix sambil memegang wajah Edgeworth dan mengarahkannya ke matanya. “Ini bukan kau, Edgeworth! Kenapa kau membiarkan media mengalahkan kau??? Kenapa kau menutup diri dari semua orang?? Apa kau tidak ingin hidup lagi? Mana Edgeworth yang aku kenal? Mana Edgeworth yang selalu berdiri tegak, dan tidak menyerah dalam situasi seburuk apapun??”

“MEMANGNYA KAU MENGERTI APA?!” teriak Edgeworth sambil mendorong Phoenix. “Keluar, Wright! Kalian juga, Franziska, Lang, Maya! Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak butuh belas kasihan kalian!”

“Edgey-boy!” seru Lang. “Kami datang kesini karena kami peduli pada kau,--“
“Aku bilang, keluar, keluar, keluar! Luci---AHN--“ Edgeworth mencengkeram dadanya. Sakit dadanya kembali kambuh. Ia merasa sulit sekali untuk bernafas. Luciana masuk ke kamarnya, lalu dengan pelan meminta mereka semua pergi.

“Maaf sekali, Tuan Wright, Nona Maya, Tuan Lang, Nona Von Karma, tapi dengan segala hormat saya minta anda semua pergi sekarang juga. Tolong sekali, tolong, saya mohon. Master ingin sendirian dan saya mohon agar tidak memperparah kondisinya,” pinta Luciana dengan memelas. 

Phoenix, Maya, Lang, dan Franziska akhirnya menyerah dan meninggalkan rumah Edgeworth. Tentu tidak baik jika mereka membuat penyakit Edgeworth kumat lagi.

Kay menggigit bibirnya. Phoenix sudah memberitahunya tentang kejadian di rumah Edgeworth tadi. Phoenix adalah harapan terakhirnya untuk membuat Edgeworth bersemangat lagi, dan ternyata ia gagal. Sekarang,siapa yang kira-kira bisa menasihati Edgeworth? Siapa yang bisa membuat Edgeworth mendengarkan dia? Lalu tiba-tiba saja, sebuah ide muncul di benak Kay.

“Maya. Kau adalah seorang spirit medium, bukan?”
“Ya. Memangnya kenapa, Kay?” 

“Bisakah…bisakah kau memanggil arwah ayah Miles? Gregory Edgeworth? Dan memintanya untuk berbicara dengan Miles? Mungkin saja setelah bertemu dengan arwah ayahnya, Miles bisa merasa lebih baik….”
Mata Maya melebar, kemudian ia tertawa.

“Ide bagus, Kay! Tentu aku bisa! Apa kau punya foto almarhum Gregory Edgeworth? Aku hanya perlu fotonya supaya bisa memanggil arwahnya.” 

“Ada, aku punya!Miles memberikannya kepada aku beberapa waktu lalu…” Kay membongkar dompetnya, dan mengeluarkan foto Edgeworth bersama Gregory saat ia masih kecil. “Ini, Maya!” Kemudian Kay memberikan foto itu kepada Maya. Maya mengangguk mantap.

“Baiklah! Aku akan menjelaskan semuanya di kertas dan memanggil arwah Tuan Gregory! Serahkan saja kepada aku!”
“Terima kasih banyak, Maya.”
“Kay, ide kau brilian. Semoga cara ini berhasil.” ucap Phoenix.

Edgeworth berguling di bawah selimutnya. Badannya menggigil hebat sekali, rambut dan wajahnya sudah basah ditutupi oleh keringat. Untuk sesaat, ia terlihat seperti baru saja menyelam di kolam renang. Ia demam tinggi pada malam harinya setelah kedatangan Phoenix, Maya, Lang, dan Franziska tadi. Kepalanya bergerak dari sisi ke sisi di bantalnya, sementara ia mengigau tanpa henti.

“Kay…….. Ibu… Ayah…….No…….Ayah……kembali…….jangan ganggu Ayah…….tinggalkan aku sendiri….. Von Karma……kau membunuh Ayah……..Ayah…….kembali…….von Karma….lift…tembakan pistol… Kay…maafkan aku…..maafkan aku…….Ayah…maafkan aku… aku gagal sebagai anak kau…..”

Lalu tiba-tiba, Edgeworth merasakan sebuah tangan lembut membelai rambutnya.
“Miles,” panggil orang yang membelai rambutnya itu dengan lembut, “Lama tak bertemu.”

Edgeworth membuka matanya dan mengerjap. Ini tidak mungkin. Ini pasti hanya mimpi. Ini tidak mungkin sebuah kenyataan. Ini pasti sebuah mimpi yang sangat indah. Gregory Edgeworth duduk di sebelah tempat tidurnya, tersenyum melihat putra kecilnya yang kini sudah menjadi laki-laki dewasa.

“Ayah?” tanya Edgeworth serak. Meski ini hanyalah mimpi, tapi akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan ayahnya, setelah 26 tahun lamanya…  Ayah yang sangat dikaguminya dan dicintainya.
“Halo, Nak. Lama tidak bertemu.”

“AYAH!” seru Edgeworth lagi, kemudian ia duduk di tempat tidurnya, dan membenamkan kepalanya ke dada Gregory. Untuk saat itu, Edgeworth merasa dirinya seperti berusia 9 tahun kembali. Ia tidak peduli kalau ia adalah pria dewasa. Ia hanya ingin memeluk ayahnya dengan erat, dan tidak melepaskannya lagi, sehingga mereka tidak perlu berpisah lagi. Lalu, tangisnya pecah di dada Gregory. Gregory menaruh dagunya di atas kepala Edgeworth, dan mencium kepala Edgeworth. 

“Shhhh….shhhhhhhh…….shhhhhh….” ucap Gregory berusaha menenangkan Edgeworth.

Edgeworth kemudian melepaskan pelukannya dari Gregory dan mengelap kedua matanya. “Ayah, maafkan aku. Aku begitu cengeng dan lemah.”

“Tidak apa-apa, Nak. Tidak ada salahnya untuk menangis. Menangis menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki perasaan. Tidak ada yang salah dengan itu.”

“Ayah, aku gagal sebagai anak kau, Ayah!” seru Edgeworth tiba-tiba. “Aku…aku tidak pantas menjadi anak kau! Aku gagal menjaga nama baik kau!”

“Miles, Ayah selalu mengawasi kau, Nak. Dan tiada hari tanpa Ayah meneteskan air mata haru karena betapa membanggakannya kau bagi Ayah.”

“Tapi, Ayah! Aku…aku……”

“Ya, Nak. Ayah tahu tentang penyakit kau. Ayah tahu tentang hubungan kau dengan Kay. Ayah tahu tentang bagaimana media mengejek dan memojokkan kau setiap hari. Miles, memiliki penyakit bukan berarti kau lemah. Justru itu berarti kau jauh lebih kuat dari yang lain, karena kau bisa terus bertahan dan berdiri tegak dengan penyakit yang kau derita.”

“Tapi, Ayah! Sakit dada aku selalu kambuh setiap hari. Aku harus minum obat setiap dua jam sekali. Aku bahkan tidak kuat menemani Kay menonton film horror di bioskop. Aku juga tidak kuat menemani Kay menaiki wahana di taman hiburan! Aku….aku lemah, Ayah!”

“Dan itu bukan suatu kelemahan! Maka dari itu, Miles! Kau harus terus berjuang dan bertarung! Kau tidak boleh kalah oleh penyakit kau! Ayah melihat bagaimana kau membuat Sebastian Debeste menjadi percaya kepada dirinya sendiri. Ayah melihat bagaimana kau berjuang tanpa menyerah saat menangkap Calisto Yew dan Simon Keyes. Kau harus melakukan yang sama dengan dirimu sendiri! Percaya pada diri kau sendiri. Dan tegakkan kepala kau di tengah-tengah jurnalis dan media yang mengolok-olok kau, buktikan kepada mereka bahwa mereka salah besar! Ayah percaya kau pasti bisa, Nak. Kau pasti bisa melakukannya.”

Edgeworth terdiam. Kata-kata Ayahnya sangat perlu ia ingat..
“Oh ya, Miles, Ayah melihat bagaimana sikap kau kepada teman-teman kau pagi ini. Dan bagaimana sikap kau saat Ibu kau mengunjungi kau di rumah sakit. Itu bukan sikap yang bisa dibenarkan, Nak. Kau harus minta maaf kepada teman-teman kau. Phoenix. Maya. Franziska. Lang. Mereka semua peduli kepada kau. Juga Ibu kau.”

“Ayah, wanita itu meninggalkan aku saat aku masih berusia 5 tahun!”

“Dan ia ingin memperbaiki semuanya, kan? Ia sudah minta maaf kepada kau. Tidak ada yang lebih mulia dari memaafkan, Miles. Kau berjanji kepada Ayah? Kau akan minta maaf kepada teman-teman kau, dan kepada Ibu kau? Kau berjanji setelah ini kau akan kembali ke dunia luar, keluar dari kamar ini, dan tidak minum wine lagi? Kau berjanji, setelah ini, kau akan menjadi Miles Edgeworth, anak Ayah yang tidak pernah mengenal kata menyerah di dalam hidupnya? Dan kau akan bertarung sampai titik darah penghabisan dengan penyakit kau?”

Edgeworth tersenyum lemah. “Baiklah, Ayah. Aku berjanji.”

“Dan satu lagi. Kau berjanji kau akan bertemu dengan Kay, dan minta maaf kepadanya juga?”
“Ayah,” bisik Edgeworth. “Dia tidak akan mau memaafkan aku. Aku mencampakkan dia. Aku terlalu kejam kepadanya.”

Gregory menggelengkan kepalanya. “Dia akan, Miles. Dia akan. Karena seorang pria sejati tidak akan berpaling dari wanita yang dicintainya. Kau berjanji pada Ayah?”

“Baiklah, Ayah. Aku berjanji.”

Gregory balas tersenyum, kemudian membelai rambut Edgeworth sekali lagi dengan penuh kasih sayang. “Bagus. Itu baru anak Ayah. Ayah akan selalu mengawasi kau, dan kalau kau tidak menepati semua janji tadi, Ayah akan sangat kecewa. Sekarang sudah saatnya Ayah pergi.”

“Tapi…….” ucap Edgeworth kecewa. “Kita baru mengobrol sebentar…Tidak bisakah kau tinggal lebih lama, Ayah?”

“Tidak bisa, Nak. Tapi ingat, Ayah selalu mengawasi kau. Selamat tinggal, Nak. I love you, son.”

“I love you too, Dad. Thanks for everything.” Kemudian Edgeworth kembali tertidur pulas. Keesokan harinya, saat bangun, demamnya sudah turun dan ia merasa badannya jauh lebih segar. Ia tersenyum mengingat mimpinya semalam. Mimpi yang sangat indah, bisa kembali memeluk dan bicara dengan ayahnya. Entah kenapa, mimpi itu terasa nyata dan ia memikirkan semua kata-kata ayahnya di dalam mimpi. Ia berjanji kepada ayahnya untuk bangkit, dan ia akan menepatinya. Maka ia bangkit dari tempat tidurnya untuk mandi, ketika tiba-tiba menginjak sesuatu yang licin dan dingin di lantai. Dengan heran ia mengambil benda itu. Ternyata sebuah magatama.

Jadi, itu semua bukan mimpi. Merupakan sebuah kenyataan. Tersenyum kecil, Edgeworth memungut magatama itu dan menaruhnya di meja kamarnya, kemudian bergumam pelan sebelum pergi mandi.
“Terima kasih banyak, Maya.”
To be continued…