Rabu, 10 Juni 2009

Tak Lekang Oleh Waktu, short story written by me

Di suatu kota di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joe Sandy dan Abu. Joe merupakan seseorang yang cerdas dan hidup sendiri tanpa orang tua. Sedangkan Abu adalah anak keluarga berada yang kurang beruntung karena kakinya pincang. Selain itu daya tahan tubuhnya lemah sekali.Namun persahabatan mereka tidak terhalangi oleh perbedaan itu. Keduanya sama-sama menyukai sulap. Mereka berdua sering sekali mempraktikkan trik-trik sulap bersamaan.
Suatu hari, ketika pulang ke rumahnya, Joe melihat iklan salah satu stasiun televisi swasta yang mengadakan acara “The Master.” Joe yang sangat menyukai sulap tertarik untuk mengikuti acara tersebut. Tentu ia tak melupakan sahabatnya Abu.
Dengan riang Joe mampir ke rumah Abu dan memberitahu soal acara The Master tersebut. “Ini saatnya kita menggapai mimpi kita,” kata Joe. “Menjadi pesulap professional.” Abu pun merasa gembira dan sangat tertarik. “Kapan audisinya dimulai, Joe?” tanyanya. “Minggu depan. Audisinya di Jakarta. Di Mal Emporium. Ayolah, kita harus ikut, acara ini benar-benar hebat,” kata Joe gembira.
Mendadak senyum menghilang dari wajah Abu. “Kurasa orangtuaku tidak akan mengizinkanku, Joe. Kau tahu.. mereka tidak pernah mendukung hobiku.” kata Abu. Joe memandang sahabatnya itu dengan perasaan iba. “Tapi, Abu, kau bisa mencoba membujuk mereka, kan? Mereka mau mengantarmu, kan? Ayolah… kau sudah 22 tahun, masa mereka tidak mengizinkanmu pergi?” kata Joe memelas.
Abu tersenyum. “Entahlah kawan… tapi aku akan mencoba bicara dengan mereka.” Jawabnya. Joe tersenyum senang. “Beri tahu aku setelah itu, ok?” katanya sambil mengedipkan mata. Kemudian Joe pulang kembali ke rumahnya. Sewaktu makan malam, Abu mencoba berbicara dengan kedua orangtuanya. “Pa, Ma, aku ingin mengatakan sesuatu, boleh?” tanya Abu sambil menyendok telur gorengnya.
“Boleh saja, apa yang ingin kau bicarakan, nak?” tanya Andre, ayah Abu. “Salah satu stasiun televisi swasta mengadakan acara The Master. Aku ingin sekali mengikutinya,audisinya di Jakarta, boleh kan Pa?” tanya Abu sambil memandang ayahnya. Reaksi ayah dan Ibu Abu langsung bisa ditebak. “Tidak.” Kata mereka berdua tegas. Abu menghela nafas. “Ayolah…pa, ma. Aku kan sangat menyukai sulap…” katanya lagi.
Pak Andre melempar serbetnya. “Tapi kami tidak menyukainya, Abu. Kau tahu, kau itu lemah, dan kami tidak suka kau memainkan permainan konyol seperti sulap itu!” katanya tegas. Ibu Abu, Rita, mengangguk menyetujui. Abu merasa kesal sekali. Matanya berkaca-kaca sekarang. “Papa dan Mama tidak pernah mengerti aku!” serunya sambil mengambil kruknya, dan ia masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintunya. Kedua orangtuanya hanya bisa diam melihat kekecewaan anaknya itu. Di kamarnya Abu bersungut-sungut. Beruntung sekali Joe, dia bebas melakukan apa saja yang dia mau, gerutunya dalam hati.
Keesokan harinya..
Seperti biasa Joe mampir ke rumah Abu. Joe dengan riang menceritakan bahwa tabungannya sudah cukup untuk pergi ke Jakarta. Ia membicarakan apa yang akan ia persiapkan untuk audisi nanti. Abu mendengarkan dengan murung. Joe akhirnya berhenti berbicara. “Kenapa kau, teman?” tanyanya. Joe menepuk pundak Abu. “Ayolah, hari ini cerah sekali! Kenapa mukamu mendung seperti itu?”
“Joe, orangtuaku tidak mengizinkan aku untuk pergi ke Jakarta dan mengikuti audisi The Master,” jawab Abu pelan. Joe tertegun. Ia merasa sangat iba dengan kawannya itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Kau pergi saja kesana… jangan gara-gara aku kau jadi tidak bisa menggapai mimpimu,” kata Abu. “Aku akan selalu mendukungmu”. Joe menggeleng. “Kau lupa janji kita? Bersama-sama selamanya.” Kata Joe sambil menatap Abu dengan serius. Abu menatapnya heran, dan tersenyum. “Ya.. tapi..”
“Aku akan membantumu keluar malam ini tanpa sepengetahuan orangtuamu.” Kata Joe sambil tersenyum. “Kau yakin?” tanya Abu. Joe tersenyum. “Yakin sekali. Kau tidak boleh tidak ikut audisi The Master. Kita akan pergi ke Jakarta malam ini.” Sambungnya lagi.
Abu tersenyum. Kemudian ia dan Joe mengaitkan kelingking mereka. “Bersama-sama, selamanya,” kekeh keduanya.
Malam pun tiba. Abu sudah bersiap-siap menunggu Joe. Sepanjang malam ia tak tidur. Detik demi detik ditunggunya. Sampai akhirnya bunyi pelan menghantam kaca jendelanya. Ternyata Joe, yang melempar batu ke kaca jendela kamarnya.“Psst,” kata Joe. “Ayo.” Joe ternyata bergelayut di jendela kamar Abu.
“Pelan-pelan.” Balas Abu, menyerahkan kruknya. “Jangan sampai orangtuaku bangun.”sambungnya lagi. Namun tangan Abu licin. Kruk itu tergelincir dari tangannya dan menghantam kepala Joe, kemudian terpelanting ke tanah dengan pelan. “Aw,” kata Joe. “Hati-hati dong, kawan!” Abu langsung nyengir. “Sori, sobat,” katanya. Terdengar suara Pak Andre yang sedang mendengkur. Abu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke luar jendela. Joe memeganginya. “Awas kakimu kena kepala aku,” bisik Joe dengan suara yang sangat rendah.
Joe akhirnya berhasil membantu Abu keluar. Mereka saling tos. “Ya! Jakarta, aku datang!” kata Abu sambil meninju udara. Joe terkikik. “Ayo.” Katanya geli.
Mereka berdua kemudian berjalan. Sampai akhirnya benar-benar keluar dari area rumah Abu. “Jadi,” kata Abu. “Kita ke Jakarta sekarang?” Joe terpingkal. “Mau nunggu tahun depan?” katanya riang. “Ayo, kejar mimpi kita sekarang!” Kedua sahabat itu tertawa di tengah sunyinya malam. Joe kemudian menyetop taksi. “Ke stasiun yah,” kata Joe sambil membantu Abu naik ke taksi tersebut. “Baik,” kata supir itu.
Selama perjalanan , Joe dan Abu terus membayangkan seperti apa mereka jika mengikuti acara The Master tersebut. Mereka akhirnya sampai di stasiun kereta api. Joe membantu Abu turun. Ia langsung ke loket tempat penjualan tiket. “Dua tiket untuk ke Jakarta,” kata Joe riang sambil merogoh sakunya. Penjual tiket kemudian merobek 2 tiket untuk mereka. “Tunggu setengah jam lagi, kereta akan datang.” Katanya. “Baiklah,” jawab Joe.
Mereka kemudian duduk. Sambil membunuh waktu, Joe dan Abu bercanda tak henti-hentinya. Mereka bermain suit gunting kertas batu, dan terus tertawa. Orang-orang yang berlalu lalang menatap mereka dengan heran, karena tentu Joe dan Abu sudah bukan anak-anak lagi.
Tanpa terasa setengah jam berlalu. Kereta yang ditunggu akhirnya datang. Penumpang pun turun. “Ayo,” kata Joe semangat. Joe membantu Abu berdiri. Dengan semangat Joe dan Abu menaiki kereta itu. Beruntung sekali banyak tempat duduk yang sudah kosong. Joe dan Abu langsung duduk. “Kira-kira,” kata Abu, “apa yang akan mereka katakan setelah melihat atraksi sulap kita, ya Joe?”
“Abu, Abu, pikiranmu terlalu jauh… kita sampai disana saja belum,” kata Joe sambil tertawa lepas. Abu balas tertawa. “Haha.. aku kan cuma berandai-andai saja,” katanya.
Perjalanan mereka terasa sangat singkat. Tiba-tiba saja mereka sudah sampai di Jakarta.
Abu tertidur dalam perjalanan itu. Joe menepuk-nepuk pipinya. “Abu, bangun, ayo, kita sudah sampai.” kata Joe.
Abu mengucek matanya. ”Sudah sampai? Cepat sekali.” katanya. Joe langsung membantu Abu berdiri. “Inilah Jakarta.” bisik Joe sambil memandang sekeliling. Mereka kemudian berjalan keluar dari stasiun tersebut. Angin malam yang dingin tidak meruntuhkan semangat 2 anak muda yang ingin mengejar mimpinya itu.
“Sekarang, yang kita lakukan adalah mencari tempat menginap,” kata Joe. Abu mengangguk. “Asik sekali nih, berhari-hari di Jakarta,” kata Abu. “Audisinya tanggal berapa sih Joe? “Tanggal 6.. Masih seminggu lagi,” sahut Joe. Joe kembali menyetop taksi, dan mereka langsung meminta tolong supir taksi itu untuk ikut membantu mencarikan tempat penginapan.
             Sementara itu, di rumah Abu…
Pak Andre yang terbangun akibat kucing yang hendak merampok ikan, terkejut melihat kamar putranya sudah kosong dan jendelanya terbuka. Ia langsung membangunkan Bu Rita.
“Mama… Abu tidak ada di kamarnya!” seru Pak Andre. Bu Rita yang tengah tertidur nyenyak langsung terbangun. “Papa, jangan bercanda!” seru Bu Rita. “Ayo, periksa saja kamarnya!” kata Pak Andre sambil sedikit menyeret Bu Rita.
Bu Rita langsung terkejut melihat kamar Abu yang sudah kosong dan jendelanya yang terbuka. “Sepertinya Abu kabur lewat jendela.. Kalau tidak kenapa jendelanya terbuka?” kata Pak Andre. “Papa, anak kita itu pincang, dia tidak mungkin bisa melewati jendela itu sendirian!” sahut Bu Rita. Pak Andre terdiam dan berpikir sejenak. “Pasti ada orang yang membantunya keluar.” katanya.
Pak Andre dan Bu Rita saling bertukar pandang. “JOE!” kata mereka berbarengan. “Pasti Joe mengajaknya untuk mengikuti audisi The Master itu…” kata Pak Andre.
Bu Rita tertegun. “Kalau memang iya… ya ampun, mereka Cuma berdua malam-malam gini, Papa, sungguh mengkhawatirkan!” kata Bu Rita. “Mama tenang dulu.. kita telpon polisi.” kata Pak Andre mencoba menenangkan Bu Rita.
Di Jakarta..
Supir taksi itu terus menerus berbelok ke sana kemari. Joe yang tadinya santai saja, sekarang mulai cemas. “Pak?? Bisakah Bapak membawa kami ke wisma terdekat?” tanyanya, tetapi suaranya terdengar aneh. Supir itu tidak menjawab sama sekali. Ia terus mengendarai taksi dengan kecepatan yang tinggi. “Pak, Anda bisa mendengar saya Pak?” tanya Joe, berusaha tetap tenang. Supir itu kemudian mengerem mendadak. Ia berbalik menatap mereka berdua, dan menyeringai. Tiba-tiba ia mengacungkan pisau.
Joe dan Abu berusaha tidak berteriak. “Apa maumu?” tanya Joe tercekat. Supir itu menyeringai menyeramkan. “Berikan uangmu sekarang juga.” Katanya. Atau.. “Kau akan merasakan ini.” Katanya lagi sambil mengacungkan pisau yang berkilat itu. “Tapi, tapi.. kami tidak punya uang! Uang ini masih kami butuhkan untuk menginap!” kata Joe serak. Supir itu tertawa. “Memangnya apa peduliku?? Harta atau nyawa?” tantangnya sambil menyeringai.
Joe merasa kalut. Ya ampun, kalau ia tidak menyerahkan dompetnya, mereka mungkin akan mati. Tapi jika ia menyerahkan dompetnya, akan bertahan dengan apa mereka?
“Cepat! Serahkan dompetmu!” kata supir itu lagi. Joe tidak bergerak. Abu secara tiba-tiba mengetukkan kruknya ke kepala supir itu. Supir itu berteriak kesakitan, kemudian Joe secara sigap langsung membuka pintu taksi, dan berlari. Abu tertatih-tatih di belakangnya. Joe langsung berteriak memanggil sahabatnya itu. Si supir taksi menggerutu dan langsung menghilang di tengah gelapnya malam. Kedua sahabat itu kembali terkekeh. “Tidak ada yang bisa mengalahkan kita,” kata Abu.
Joe mengangguk senang. Mereka berdua terus berjalan. “Sekarang, satu pertanyaan,” kata Joe. “Dimana sih kita?” Abu mengangkat bahu. “Pasti ada wisma di dekat sini.” katanya.
“Kalau begitu ayo kita cari, sobat,” kata Joe. Hari sudah sangat larut. Joe memasukkan tangannya ke saku. Dengan sabar ia menunggu Abu yang jalannya sangat lambat. Ketika mereka sedang asyik melihat-lihat, sesosok orang berbalutkan pakaian serba hitam tiba-tiba menabrak Joe. Joe hampir terjengkang ke selokan. “Hey,” serunya. “Kalau jalan lihat-lihat dong! Punya mata tidak sih?”
Orang tadi tidak menjawab, melainkan terus berlari. Setelah dibantu bangun oleh Abu, Joe meraba-raba kantongnya. Oh! Dompet dan tasnya sudah tidak ada. “Hey, kembalikan dompetku!” seru Joe yang secara ekspres berlari mengejar orang itu. Abu mengikutinya dari belakang. Joe berhasil mengejar orang itu. Joe melompat ke punggung orang itu sehingga mereka berdua terjengkang jatuh. Joe langsung menghajar orang itu. Tapi kemudian orang itu balas menendang perut Joe, kemudian berlari jauh dan cepat sekali, seperti cheetah. Joe mengerang sambil memegangi perutnya. Kacau!! Dompet dan tasnya sudah dicuri sekarang.
Abu menghampirinya. “Joe maafkan, aku, aku tidak bisa mengejar orang itu,” kata Abu.
Joe mengangguk. “Memangnya aku tidak tahu kondisi kakimu? Tidak apa-apa , Abu,” ujar Joe sambil membersihkan pakaiannya dari debu.
“Sekarang, bagaimana kita?? Dompet dan tasku dicuri padahal semua uangku ada disana!” kata Joe lemas. “Kau membawa uang, Abu?” Abu menggeleng. “Aku cuma membawa 10 ribu, aku benar-benar lupa membawa dompet..” kata Abu menyesal.
Joe menatap sahabatnya. Ia tidak bisa menyalahkan Abu. Tentu Abu tadi tidak ingat untuk membawa dompet karena terburu-buru turun dari jendela..

“Haduh, bisa-bisa kita jadi gelandangan disini.” Keluh Joe. Abu hanya diam, ia bingung mau berkata apa.
“Sekarang bagaimana………..?” perkataan Joe terpotong. Petir tiba-tiba menggelegar, angin berhembus kencang, dan tik tik tik… gerimis mulai turun, kemudian lama-lama membesar menjadi hujan yang sangat deras. “Aduh… hujan lagi… ayo Abu, kita harus berteduh.” ajak Joe sambil menarik Abu dan membantunya berjalan. Mereka kemudian berteduh di bawah pohon taman. Joe merasa sangat bingung sekarang... Mau kemana mereka? Mau makan apa? Mau tidur dimana? Pupus sudah mengikuti audisi The Master. Kenyataannya, dompet dan barang-barang mereka dicuri, dan mereka terdampar di bawah pohon taman.
Hujan tak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Malah semakin deras, dengan petir menggelegar yang cukup besar. Mereka tak mungkin lama-lama berteduh di bawah pohon itu.
Joe menoleh ke Abu. Abu tampak berkeringat dan menggigil. Joe memegang dahi Abu. Panas sekali. Joe merasa sangat bersalah sekali. Ia kemudian melepaskan jaketnya, dan menyelimutkannya ke Abu. “Seharusnya aku tidak membawamu ke sini,” kata Joe. Abu tidak menjawab, ia terus-terusan menggigil. Kenapa akhirnya malah jadi seperti ini sih? Malang betul nasib kita, ratap Joe.
Bayangan hitam kemudian muncul di hadapan Joe. Sosok bayangan itu makin lama makin nampak jelas. Awalnya Joe merasa ngeri takut-takut itu adalah pencopet lagi. Namun ketika orang itu menampakkan diri di bawah cahaya, kelihatannya ia bukan orang jahat. Seorang pemuda tinggi yang sangat tampan, kelihatannya ia habis berdagang. Pemuda itu menatap mereka berdua dengan heran. Kemudian pemuda itu menghampiri mereka.
“Wah, sedang apa kalian disini?” tanya Pemuda itu ramah. Dari wajahnya ia kelihatan iba melihat Joe dan Abu.
“Kami dirampok. Kami datang dari Bandung, tadinya kami mau mengikuti audisi The Master tapi semua barang-barang kami ludes dirampok.” jawab Joe. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Memang harus hati-hati, di Jakarta itu rawan kejahatan. Ayo, ikut ke rumahku, kalian bisa berteduh disana, tidak baik disini, dingin sekali.” Kata pemuda itu lagi dengan ramah. “Tapi kami tidak mau merepotkan.” kata Joe. Pemuda itu menggeleng. “Tidak, tidak.. lagian disini dingin sekali, dan sepertinya teman kau sakit.” Kata Pemuda itu lagi sambil menunjuk Abu yang masih menggigil. “Ya,” kata Joe. “Baiklah jika kau memaksa. Rumahmu jauh dari sini?” tanya Joe.
Pemuda itu tersenyum. “Tidak kok, tidak begitu jauh.” jawabnya. Joe kemudian memapah Abu. Ia kepayahan memapah Abu sendirian. “Perlu bantuan?” tanya Pemuda itu lagi. “Ya , tolong dong...” kata Joe. Pemuda itu membantu memapah Abu. “Hey, aku belum mengetahui namamu.” Kata Joe. Pemuda itu tersenyum. “Aku Rain,” jawabnya.
“Oh Aku Joe dan ini sahabatku Abu.” Rain tersenyum. “Senang bertemu kalian, Joe, Abu.”
Joe dan Rain kemudian memapah Abu. Ternyata memang benar rumahnya tidak terlalu jauh. Rumah Rain ternyata berada di seberang tempat pembuangan sampah.
“Tidak bagus memang, maklumlah, namanya juga ga mampu,” kata Rain tersipu. “Ya ampun jangan bilang begitu, kami berterima kasih sekali kau sudah mau menolong kami.” kata Joe. Rain mengetuk pintu. “Ibu!! Aku membawa tamu nih!!” serunya. Seorang wanita paruh baya kemudian membuka pintu. “Rain? Ini siapa?” tanyanya ramah.
“Ini teman-teman baruku Bu.” kata Rain. “Ayo masuk.” Joe dan Rain masuk sambil memapah Abu. “Ya ampun, kalian basah kuyup,” kata Ibu itu ramah. “Keringkan dengan ini.” Ibu Rain memberikan handuk kepada Joe. Joe langsung mengeringkan badannya dan Abu dengan handuk tersebut.
“Dia sakit bu,” kata Rain sambil menunjuk Abu yang masih kelihatan menggigil. Ibu itu mendadak tampak iba. Ia kemudian menyiapkan kompres. “Pakai ini,” katanya ramah sambil menyerahkan kompres ke tangan Joe. Joe langsung mengompres Abu. Ibu Rain yang ramah itu duduk. “Rain, aku tidak pernah melihat mereka berdua sebelumnya.” katanya ramah.
“Aku memang baru melihat mereka tadi bu.. Kasihan mereka berdua. Berteduh di bawah pohon saat hujan besar.” kata Rain.
Ibu Rain tampak terkejut. “Oh. Dari mana kalian berasal, Nak?” tanyanya ramah.
“Bandung, Bu. Kami ke Jakarta hendak mengikuti audisi The Master, tapi, uang dan barang-barang kami dicuri,” jawab Joe. “Ya ampun, kasihan sekali. Siapa namamu, Nak?” tanya Ibu Rain lagi. “Aku Joe dan ini Abu.” jawab Joe sambil menunjuk Abu.
“Oh... hujan masih deras diluar, sebaiknya kalian tinggal disini untuk beberapa malam,” kata Ibu Rain lagi. “Tapi Bu... Kami tidak mau merepotkan..” kata Joe. Rain menggeleng. “Tidak apa-apa kok!”

            “Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.
“Nah sekarang makan dulu,” kata Rain sambil menunjuk ke meja yang sudah reot. Joe merasa beruntung sekali. Baik sekali orang-orang ini, pikirnya, padahal mereka baru mengenalnya. Ia kemudian makan makanan yang telah dihidangkan dengan diam.
Ibu Rain kemudian mengeluarkan dua buah tikar. “Maaf sekali, tempat tidurnya kurang,” katanya malu-malu. Joe tersenyum kecil. “Tidak apa-apa Bu,” katanya.
Rain menoleh ke Abu. “Ibu, kurasa, Abu bisa tidur di tempat tidurku, kasihan dia, ia tidak boleh tidur di lantai,” katanya. Ibu Rain mengangguk. “Mari, Nak,” katanya ramah sambil membantu Abu bangun dan membawanya ke tempat tidur Rain.
Dalam sekejap rumah yang kecil itu langsung sunyi. Joe melihat jam tangannya..Sudah pukul 1 pagi. Apa yang akan dikatakan Ibu Rita dan Pak Andre jika melihat anaknya telah menghilang? Joe tidak bisa tidur. Ia merasa bersalah sekali sudah membawa-bawa Abu.
“Nak, Nak? Bangun Nak,” bisik suara lembut yang menyentuh pipinya. Joe membuka matanya. Hari sudah cerah ternyata. “Sarapan sudah siap.”
Joe mengucek matanya dan memakai kembali kaca matanya. Tampak di meja reot itu ada setumpuk roti. Joe merasa tidak lapar, tapi Ibu Rain terus memaksanya untuk makan.
Joe akhirnya menyerah. Ia menurut dan akhirnya memakan roti itu. Ketika sedang asyik makan, Abu keluar dari kamar Rain.
“Abu, kau sudah sembuh?” tanya Joe. Abu mengangguk, diam tanpa kata.
“Oh syukurlah, Mari makan, Nak!” kata Ibu Rain sambil mendorong piring ke arah Abu.
Abu tersenyum dan duduk. “Terima kasih, Bu,” kata Abu.
“Ibu, apakah Ibu punya telepon?” tanya Abu tidak jelas, mulutnya penuh dengan roti sekarang. “Ya Nak? Maaf aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas,” kata Ibu Rain lembut.
Abu menelan potongan rotinya. “Apakah Ibu memiliki telepon? Bolehkah aku meminjamnya?” tanya Abu hati-hati. “Oh, maaf sekali, sayangnya aku tidak punya,” kata Ibu Rain.
Joe angkat bicara. “Er... kalau begitu.. adakah wartel di dekat sini, Bu?” tanyanya.
Rain menggeleng. “Jauh sekali, Joe. Mungkin memakan waktu 2 jam untuk sampai ke sana.” kata Rain. “Oh,” kata Joe. “Baiklah.”
Rain kemudian mengemas barang-barangnya. “Kau mau kemana?” tanya Abu. Rain tersenyum. “Berjualan.” sahutnya. “Bolehkah kami ikut membantumu?” tanya Joe. Rain kemudian menatap ibunya dengan bimbang. “Jika kalian mau, silahkan,” kata Ibu Rain lagi dengan ramah. “Tapi hati-hati!” Mereka bertiga kemudian berjalan ke luar rumah. Joe membantu membawakan barang-barang dagangan Rain.
“Biasanya kau berjualan di mana?” tanya Abu. “Di pinggir jalan,” jawab Rain. Setitik rasa kasihan muncul di benak Joe. “Setiap hari kau berjualan seperti ini, Rain? Memangnya kau tidak sekolah?” tanya Joe. Rain tertawa kecil. “Untuk makan saja susah, apalagi sekolah. Tidak, aku tidak sekolah, sekolahku putus sejak kelas 2 SD. Sejak ayahku meninggal, aku membantu Ibu. Berjualan makanan” jawabnya.
Joe bertukar pandang dengan Abu. Joe menyadari, masih banyak orang yang ternyata kurang beruntung dari pada dirinya. Ia selama ini menganggap dirinya malang karena tak memiliki orangtua, padahal seluruh warisan orangtuanya jatuh kepadanya. Melihat Rain, Joe menyadari selama ini ia kurang bersyukur.
Rain kemudian menggelar barang dagangannya. “Nanti hasilnya kita bagi 3, siapa tahu cukup untuk ongkos kalian pulang.” Kata Rain. Joe mengangguk. Sungguh anak baik, pikirnya.
Mereka menunggu dan menunggu. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 1 jam, 2 jam... tetap tidak ada pembeli. Sinar matahari yang begitu panas membakar tengkuk Joe. Sambil bersandar di tiang Joe dan Abu menguap. Joe benar-benar heran. Kok bisa anak ini tidak jenuh melakukan aktivitas seperti ini sehari-hari? Pikirnya.
Dengan iseng Joe kemudian mengambil sapu tangan Abu. Ia kemudian memelintir sapu tangan itu sampai berubah menjadi api dan apinya kembali menghilang. Rain yang sedari tadi melamun memandangnya dengan takjub.“Wow! Kau bisa sihir?” tanya Rain takjub.
Abu tertawa. “Itu bukan sihir, itu sulap,” jelasnya dengan geli. Joe tersenyum malu.
“Wow! Hebat! Kau bisa yang lainnya lagi?” tanya Rain dengan mata yang berbinar-binar.
“Kau punya benda atau sesuatu?” tanya Joe. “Cuma ini,” kata Rain, kemudian mengambil pulpen panjang kecil dari sakunya. Joe menerima pulpen itu.
“Kau punya tisu?” tanya Joe lagi. Rain mengeluarkan tisu dari kantong celananya.
“Lihat ini,” kata Joe. Ia membungkus pulpen itu dengan tisu... kemudian setelah dibuka, pulpen itu telah terpelintir. Rain memandangnya tak percaya. “Hebat, hebat! Dari mana kau belajar seperti itu?” tanyanya.
“Ya dengan latihan saja. Semua orang pun bisa, asalkan rajin latihan,” kata Joe sambil mengedipkan mata. Rain masih terlihat takjub. “Kau bisa sulap juga?” tanyanya kepada Abu.
“Bisa.” Jawab Abu. Ia mengambil pulpen Joe yang telah terpelintir, kemudian membungkusnya kembali dengan tisunya. Setelah dibuka, pulpen itu telah menghilang.
Rain bertepuk tangan. “Hebat! Aku tidak pernah melihat yang seperti itu!” katanya girang.
Orang-orang yang sedari tadi berlalu lalang tanpa memperhatikan ketiga pemuda itu sekarang merubung. Secara tiba-tiba Joe dan Abu melakukan atraksi sulap dadakan.
Joe dan Abu memperagakan trik-trik sulap sederhana. Orang-orang pun dibuat takjub oleh mereka. Kemudian tanpa diminta, orang-orang itu memberikan uang kepada mereka.
Setelah selesai melakukan atraksi, mereka bertiga hendak menghitung uang, namun sebuah mobil hitam muncul.
“Oh,” bisik Rain. “Satpol PP! Darko!” katanya panik. Joe dan Abu menoleh. “Darko? Satpol PP?” tanya mereka tidak mengerti. Seorang petugas satpol PP berpakaian seragam serba hitam turun dari mobil. “Itu, itu Darko, satpol PP paling bengis!” kata Rain. “Ayo!”
Secara terburu-buru Rain merapikan barang dagangannya. Mereka kemudian berlari. Joe yang masih penasaran, menoleh ke belakang. Satpol PP yang bernama Darko itu tampak menghancurkan dan mengacak-ngacak barang dagangan pedagang lain. Terdengar isak tangis si pedagang dari kejauhan.
“Jahat sekali orang itu!” kata Joe. Ia ingin sekali menghampiri Darko, petugas satpol PP itu. Namun Rain menahannya dan menggelengkan kepala. “Jangan! Jangan melawannya! Dia punya pentungan yang bisa membuatmu menjadi gegar otak!” kata Rain memperingatkan.
Joe mengangkat sebelah alisnya. “Menurutku tanpa dipentung pun, Joe sudah gegar otak. Otakmu miring kan Joe, saking cerdasnya,” gumam Abu. Joe terbahak. Rain nyengir. “Ayo kita pulang.”
Mereka bertiga berjalan dalam diam ketika tiba-tiba 2 orang pemuda berpakaian preman menghadang mereka. “Well, well. Bertemu lagi dengan si kecil yang tampan ini,” kata preman yang cukup jangkung. Rain menelan ludah. “Mau apa lagi kau Sam?” tantangnya.
Preman yang bernama Sam melipat tangannya. “Rain..rain... Kau tetap telmi seperti dulu. Tentu kami ingin uangmu.” katanya lagi. Rain menggeleng. “Tapi, aku tidak punya uang! Barang daganganku sama sekali tidak laku!” katanya. Suaranya serak sekarang.
Preman yang bernama Rom tertawa bengis. “Jangan coba membohongi kami, Rainie kecil,” kekehnya. Ketakutan mulai melanda mereka bertiga. Seseorang kemudian muncul. Ternyata Darko, si satpol PP yang tadi. “Wah kita kedatangan tamu,” kata Darko. Ketiganya nyengir sekarang. “Lihat, Darko. Anak ini membawa bodyguard,” kata Sam sambil menunjuk ke arah Joe dan Abu yang masih terpaku di tempat mereka. “Jangan ganggu mereka! Mereka temanku!” pinta Rain memelas.
Darko menghampiri Joe. Darko mengendus Joe. “Sepertinya dia anak orang kaya. Rom, Sam, pegang dia.” Rom dan Sam kemudian memegangi Joe. “Jangan!” seru Abu dan Rain bersamaan. Joe meronta berusaha melepaskan diri. “Berapa uang yang kau punya?” tanya Rom. Joe menggertakkan giginya. “5 ribu!” serunya. “Ah, bohong,” kata Sam. “Kau pasti punya lebih dari itu.” Sambungnya lagi sambil mencengkeram rambut Joe.
“Sudah kubilang aku hanya punya 5 ribu!” seru Joe dengan suara tertahan. Matanya menyipit kesakitan akibat dicengkeram rambutnya oleh Sam.
“Rom, Darko, pegang kedua orang itu,” kata Sam sambil menunjuk Abu dan Rain yang bersiap lari. Rom dan Darko langsung memegangi Abu dan Rain. Kruk Abu terjatuh.
“Kau tahu apa ini?” tanya Sam sambil menyeringai menyeramkan. Ia mengacungkan pisau yang berkilat. Mata Joe terbelalak ngeri.
“Berani sumpah aku hanya punya 5 ribu!” seru Joe, keringat dingin mulai menetes di wajahnya. “Dasar pembohong!” seru Sam, kemudian BUK! Sam menusukkan pisau yang dipegangnya ke perut Joe. Darah perlahan-lahan mengucur dari perut Joe. Joe jatuh berlutut. Matanya sekarang berair karena menahan sakit.
“JOE! JOE! BERTAHANLAH!” seru Abu yang masih meronta berusaha melepaskan pegangan Darko yang begitu kencang. Sam tersenyum jahat. Dengan puas ia menatap Joe yang masih merintih kesakitan. “Lari, Abu, lari Rain...” kata Joe lemah. Sam tertawa.
Abu yang tidak terima sahabatnya dilukai, langsung memukul Darko dengan kruknya. Darko yang kaget mengaduh kesakitan. Rain mengikutinya. Ia kemudian meninju tulang kering Rom dan berhasil melepaskan diri. Tanpa pikir panjang, Abu menendang tangan Sam. Pisau pun jatuh dari tangan Sam.
Abu langsung mengambil pisau itu. Perlahan-lahan ia mengiris tangannya dengan pisau itu hingga tangannya berdarah. “Abu... apa yang kau lakukan?” tanya Rain ngeri. Abu menunjukkan telapak tangannya yang berdarah kepada 3 orang preman itu. “Kau tahu, aku ini penderita AIDS.” Kata Abu. Darko, Rom, dan Sam melangkah mundur. “Darahku beracun.” Katanya lagi sambil menunjukkan telapak tangannya.
“Kalau kalian menyentuh darahku, kalian akan menjadi penderita AIDS juga.” Kata Abu lagi. Darko, Rom, dan Sam memandangnya ngeri. “Orang itu penderita AIDS, larii!!” seru mereka bertiga, takut akan darah yang ditunjukkan oleh Abu. Mereka pun lari lintang pukang dan menghilang dari peredaran.
Abu tersenyum penuh kemenangan. Rain terkekeh. “Kau cerdik.” Katanya.
Mereka langsung menghampiri Joe yang masih berlutut. “Joe.. Ya Tuhan Joe.. Bertahanlah sobat..” kata Abu cemas. “Cari bantuan, cari bantuan...” kata Joe tertahan. Darah mengalir banyak sekali dari perutnya.
Rain memberikan sapu tangannya. “Hentikan pendarahannya dengan ini dulu,” katanya. “Aku akan mencari bantuan, kalian tunggu disini.” Kata Rain, kemudian ia berlari.
Abu membalut luka Joe dengan sapu tangannya. Dengan cemas ia memeriksa kondisi sahabatnya itu. “Kau cerdik.” kata Joe dengan suara yang masih tertahan. “Benar-benar cerdik.”
Abu tersenyum kecil. “Mereka ternyata penakut.” katanya.
“Abu,maafkan aku telah membuatmu terdampar di sini,” kata Joe masih dengan suara tertahan. “Tak ada yang perlu dimaafkan,” kata Abu tegas. “Kau sahabatku. Bertahanlah, kawan...” kata Abu cemas. Sapu tangan putih Rain sudah berubah menjadi merah sekarang.
Kemana Rain?? Kenapa dia lama sekali?? Abu makin merasa panik karena darah yang dikeluarkan Joe semakin banyak.
Sementara itu, di rumah Abu...
Pak Andre dan Bu Rita telah melapor kepada polisi. Bu Rita tak henti-hentinya terisak. “Bagaimana jika mereka dirampok? Bagaimana jika mereka tidak punya apapun? Bagaimana jika mereka tersesat dan tak tahu jalan?” kata Bu Rita sambil terisak di bahu Pak Andre.
Pak Andre bingung harus berkata apa selain menghibur istrinya. “Joe akan menjaga Abu, Mama tenang..” kata Pak Andre pelan.
“Tapi bahkan Abu tidak membawa ponsel ataupun jaketnya,” isak Ibu Rita lagi. Pak Andre bingung sekarang. Abu, Joe dimana kalian, Nak?? Batinnya sedih. Seharusnya aku mengizinkannya mengikuti audisi itu... Rasa bersalah menghantui Pak Andre.


Di Jakarta..
Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya Rain datang bersama 2 orang laki-laki. “Ini Indra dan ini Robert, teman lama,” kata Rain kepada Abu. “Ya ampun darahnya banyak sekali,” kata Robert. “Kau bisa berdiri?” tanyanya. Joe  mengangguk lemah. Indra dan Robert kemudian membantu Joe berdiri. “Kenapa bisa begini, Rain?” tanya Indra.
“Trio Rom, Sam, dan Darko. Mereka memalak kami. Joe bilang ia tidak punya uang dan Sam menusuk Joe.” jawab Rain. Indra dan Robert menggelengkan kepalanya. “Mereka bertiga memang selalu menindas yang lemah. Darko.. satpol PP tapi kelakuannya betul-betul biadab.” kata Indra. “Kita harus membawanya ke puskesmas terdekat. Indra, kau tidak punya sapu tangan lagi? Satu itu tidak cukup,” kata Robert. Indra meraba-raba sakunya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
“Tahan, akan sakit sedikit.” Kata Indra. “Supaya darahnya tidak mengalir terus.”
Indra kemudian memencet luka Joe dengan sapu tangannya. Joe mengaduh dan meringis kesakitan. Indra dan Robert memapah Joe. Rain dan Abu mengikutinya dari belakang.
Mereka melangkah dengan cepat sekali. Puskesmas itu memang agak jauh. Akhirnya mereka sampai. “Dokter Limbad, tolong obati anak ini, dia terluka parah,” kata Robert sambil menunjuk Joe. Seorang dokter berambut gimbal keluar dari ruang periksa. Ia menatap Joe dengan kaget.
“Ya ampun... kenapa bisa begini?” tanyanya. “Ayo, bawa ke ruang periksa.” katanya lagi.
Indra dan Robert memapah Joe ke ruang periksa. Abu masih sangat takjub melihat dokter tadi.
“Dokter tapi penampilannya seperti itu? “ bisiknya heran.
Rain terkekeh. “Ya.. tapi dia dokter yang hebat,” jawabnya. Rain dan Abu kemudian ikut masuk ke ruang periksa. “Berbaringlah,” kata Dr Limbad. Joe kemudian berbaring. Dr. Limbad kemudian memeriksa Joe, kemudian mengobati lukanya perlahan-lahan. “Apakah lukanya serius, Dr Lim?” tanya Rain cemas.
Limbad menoleh. “Tidak kok. Untung saja tidak mengenai lambungnya.. Memangnya kenapa dia sampai bisa ditusuk begini?” tanya Dr Limbad lagi. “Darko, Rom dan Sam. Mereka memalak kami semua.” kata Rain. “Joe menolak memberikan uangnya. Sam menusuknya. “ jelasnya lagi.
Limbad menghela nafas. “Mereka bertiga itu.. Aku tidak mengerti mereka sebenarnya..Selalu saja membuat onar.. Selalu memalak yang lemah...” kata Dr Limbad sambil membersihkan luka Joe dengan kapas. Joe meringis. Rain mengangkat bahu. “Entahlah Dr. Lim. Kau tahu nyaris setiap hari aku selalu dipalak oleh 3 orang itu,” katanya.
“Untung saja lukanya tidak dalam, kalau dalam, bisa mengenai lambung nya” kata Dr. Limbad lagi sambil memperban luka Joe. “Kapan mereka ber 3 berhenti membuat masalah?” kata Dr. Limbad lagi sambil mengencangkan perban Joe. “Selesai,” katanya.
Joe tersenyum. Ia kemudian duduk. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Dr. Limbad lagi.
“Sudah enakan Dokter, terima kasih,” kata Joe sambil meregangkan badannya. “Tangan dia juga terluka, Dr. Lim,” kata Rain sambil menunjuk Abu.
“Luka? Yang ini juga dilukai ketiga preman itu?” tanya Dr. Limbad.
Abu menggeleng. “Tidak dokter. Saya melukainya sendiri. Saya berpura-pura bahwa saya penderita AIDS. Saya bilang kepada mereka bahwa darah saya beracun,” jelas Abu panjang lebar. Indra, Robert, dan Dr. Limbad tertawa terbahak-bahak. “Pintar sekali idenya.. ternyata Darko juga pengecut, eh?” kata Dr. Limbad sambil memperban tangan Abu. Tidak sampai 10 menit Dr Limbad selesai mengobati Abu dan Joe.
“Berapa biayanya, Dokter Lim?” tanya Rain. “50 ribu,” jawab Dr Limbad sambil tersenyum. Joe mengangkat alisnya. Rain kemudian mengeluarkan seluruh uang hasil yang mereka dapatkan tadi, dan menyerahkannya kepada Dokter Limbad. “Indra, Robert, Dr. Lim, terima kasih banyak sudah membantu,” kata Rain. “Sama-sama, Rain.” Jawab Indra.
“Cepat sembuh ya, berhati-hatilah jika Darko, Rom, dan Sam muncul lagi,” kata Robert sambil menepuk punggung Joe. Joe mengangguk. “Ya, jangan terlalu banyak bergerak,” kata Dr. Limbad. Mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit itu. “Maafkan aku Joe...” kata Rain. Joe menatapnya heran. “Maaf? Untuk apa minta maaf? Kau kan tidak punya salah apa-apa,” kata Joe terheran-heran. “Aku menyerahkan semua uang kita... Kalian jadi tidak bisa pulang.” kata Rain sambil menunduk.
Abu memotongnya. “Ya ampun Rain! Uang kan bisa kita cari lagi besok! Yang penting Joe diobati! Tenanglah, tidak usah merasa tidak enak begitu!” kata Abu santai.
Rain tersenyum. “Baiklah, sekarang kita pulang.”
            Sesampainya di rumah Rain...
“Rain! Kenapa kau lama sekali Nak? Ibu khawatir sekali akan kondisimu!” kata Ibu Rain sambil mencium rambut putra kesayangannya itu. Ibu Rain kemudian menatap Joe yang perutnya diperban serta Abu yang tangannya diperban juga. “Kalian kenapa?” tanyanya cemas.

Mereka semua duduk. Rain kemudian menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Rain ternganga tidak percaya. “Jahat sekali mereka! Dan Darko... aku benar-benar membencinya! Kerjaannya hanya menyiksa dan memalak pedagang jalanan saja! Tapi kau tidak apa-apa kan, Nak Joe, Nak Abu?” tanyanya lagi dengan khawatir.
“Tidak usah khawatir, kami baik-baik saja,” kata Joe. “Besok Ibu akan ikut kalian, kalian tidak boleh Cuma bertiga lagi,” kata Ibu Rain. “Sekarang makan dan tidurlah.” Mereka makan dalam diam. Sesekali Joe melirik ke Abu. Sahabatnya itu tampak murung.
Rain dan Ibunya tidur terlebih dahulu. Abu melangkah keluar. Joe mengikutinya.
Abu menengadah menatap bintang-bintang di langit. “Sedang apa kau, Abu?” tanya Joe pelan.
Abu menoleh. “Kau lihat 2 bintang itu.... indah sekali.” Kata Abu sambil menunjuk ke langit. Joe menengadah. Di antara bintang-bintang yang berkilauan, memang tampak 2 bintang yang paling bersinar. “Yang depan itu bintangmu dan yang depan itu bintangku.” kata Abu. Joe tersenyum. Ia bingung harus mengatakan apa.
“Sedang apa ya Papa dan Mama? Mereka pasti senang aku menghilang. Aku banyak masalah.” kata Abu. Joe terdiam, kemudian berkata. “Jangan berkata seperti itu, mereka selalu menyayangimu.” Abu tertawa getir. “Kalau mereka menyayangiku, mereka pasti mendukungku untuk menjadi pesulap,” katanya.
“Orangtuamu hanya ingin yang terbaik bagimu,” kata Joe mencoba menghibur Abu.
Abu menggeleng. “Kau tahu, aku kadang-kadang merasa iri kepadamu. Kau bebas, kau cerdas, kau normal.” Kata Abu sambil menatap Joe. Joe menggelengkan kepalanya keras-keras. “Tidak, Abu. Kau jauh lebih beruntung dari aku! Kau punya orangtua yang menyayangimu, sedangkan aku hanya sendirian, aku hanya memiliki kau.” kata Joe tegas. “Sebaiknya kita tidur... sudah malam.. “ sambung Joe lagi.
Keesokan harinya…
Joe, Abu, Rain, dan Ibunya kembali berjualan di pinggir jalan. Seperti biasa, sepi pembeli. Rain mulai terlihat bosan dan patah semangat. “Tunjukkan atraksi sulap kalian lagi dong,” kata Rain. Ibu Rain menoleh. “Sulap?” tanyanya heran. “Ya, Ibu, mereka bisa melakukan sulap,” kata Rain semangat. Ibu Rain langsung tertarik. Joe kemudian mengambil pensil dari barang dagang Rain. Ia kembali memelintir pensil itu dengan tisu, dan setelah dibuka, pensil itu secara ajaib berubah menjadi peniti. Ibu Rain berbinar. “Keren,” katanya.
“Masih ada lagi,” kata Abu. “Lihat tangan saya kosong, Bu?” kata Abu sambil menunjukkan tangannya yang kosong. Ibu Rain mengangguk. Abu kemudian menyentuh bagian belakang telinga Ibu Rain.
Kemudian ia melepaskan tangannya, dan sekarang tangannya sudah memegang telur.
Ibu Rain bertepuk tangan. “Hebat! Hebat sekali Nak!” ujarnya kegirangan.
Orang-orang kembali merubung... Joe dan Abu kembali melaksanakan atraksi sulap dadakan.
Ketika masih asyik memeragakan trik-trik sulap, tiba-tiba terdengar suara kericuhan.
Joe menoleh. Darko, Rom, dan Sam. Mereka menghancurkan barang-barang pedagang, bahkan menginjak-injaknya. Pria paruh baya yang sudah berambut putih itu tidak terima barang-barangnya dihancurkan. Ia melawan trio Darko, Rom, dan Sam. Mereka kemudian adu teriak seru sekali. Joe tiba-tiba menyadari bahwa Darko juga membawa teman-teman satpol PP-nya.
“INI BARANG-BARANGKU! KENAPA KAU MENGHANCURKANNYA?” seru pria paruh baya itu.
Darko tertawa. “YA, TAPI KAU MELANGGAR ATURAN!” serunya sambil terus menendang barang dagangan pria itu. Istri dan anak pria itu menjerit dan terisak.
“AKU BARU DISINI! MANA AKU TAHU AKU MELANGGAR ATURAN? TIDAK BISAKAH KAU MEMBERITAHU SECARA BAIK-BAIK?” teriak pria paruh baya itu lagi.
Kini perhatian orang-orang sudah tidak kepada atraksi Joe dan Abu lagi, melainkan ke Darko dan pedagang yang beradu teriak seru sekali.
Pedagang-pedagang yang lain pun tidak terima. Mereka kemudian ikut beradu mulut... Berawal dari adu mulut itu, akhirnya keduanya menjadi bentrok, dan saling dorong. Berawal dari saling dorong, tiba-tiba saja melebar menjadi kerusuhan hebat. Entah karena emosi, Darko dan para satpol PP yang lain kemudian melemparkan tembakan membabi buta.
Orang-orang menjerit ketakutan. “LARI!” seru Rain, merapikan barang-barang dagangannya. Rain berlari secepat kilat. Suara tembakan membahana di belakang mereka. Darko dan para satpol PP itu juga menembakkan gas air mata. Segalanya menjadi kelabu secara tiba-tiba. Joe merasa sangat panik, karena ia tidak bisa melihat dengan jelas. Mana Rain? Mana Ibu Rain?Mana Abu? Ia hanya mendengar lolongan ketakutan orang-orang, dan suara pecahan kaca.
Joe merunduk dengan sigap, menghindari tembakan-tembakan yang makin membabi buta. “Oh Tuhan...” gumamnya, melihat tiba-tiba ada banyak sekali mayat dan darah berserakan.
Dengan panik Joe berusaha mencari-cari ketiga sahabatnya.. Dimana mereka?? Dimana mereka?? Serunya dalam hati. Joe dengan sigap menghindari pecahan kaca yang terbang ke arahnya. Ya ampun, dasar manusia.. pikirnya.. Hal sepele akhirnya menjadi seperti ini..
Joe terus berlari sambil menoleh ke sana sini.. Dia hanya melihat anak-anak yang menjerit ketakutan, dan orang-orang yang berlarian, tapi ia tidak bisa melihat Abu, Rain, maupun Ibunya..
Suara PRANG kembali terdengar, dan pecahan kaca yang banyak sekali terbang mengenai telinga kirinya. “Ahhh.... “ jerit Joe tertahan sambil memegangi telinga kirinya.
Joe terus mencari-cari Abu, Rain, dan Ibu Rain.. Perutnya terasa sakit apalagi luka bekas tusuknya belum pulih betul...
Tiba-tiba Rain menabraknya. “Joe, ayo Joe!” seru Rain sambil menggandeng tangan Joe. Mereka berdua dengan putus asa berusaha mencari Abu dan Ibu Rain, mereka harus keluar dari kerusuhan itu... Joe dan Rain terus-terusan lari sambil membungkuk menghindari tembakan dan pecahan kaca...
Dan, Joe melihat sesosok tubuh tertelungkup. Ia sangat mengenal tubuh itu, dengan ngeri ia mengajak Rain menghampiri tubuh yang tertelungkup itu. Abu belum meninggal, seru suara dalam kepalanya. Joe kemudian membalikkan tubuh yang tertelungkup tersebut. Ternyata bukan Abu.. Merasa lega namun juga cemas, Joe dan Rain terus berlari. Sepintas Joe melihat Darko, Rom, Sam, dan petugas satpol PP yang lain terus melancarkan serangan, muka mereka tanpa penyesalan sama sekali. Joe ingin sekali menghajar mereka, tapi keinginannya itu ia pendam. Yang penting ia harus menemukan Abu dan Ibu Rain dulu...
Joe terus memicingkan matanya.. Ia berusaha menguatkan diri melihat orang-orang mulai bertumbangan... Sampai akhirnya matanya menemukan dua sosok berjalan terpincang-pincang dan seorang perempuan..
“Rain, itu mereka!” seru Joe. “Ayoo!” Joe menarik tangan Rain dan mengejar kedua orang itu. Mereka berhasil mendekati kedua orang itu, ternyata benar itu adalah Abu dan Ibu Rain. “Kita harus segera keluar dari sini...” kata Joe setengah berteriak, agar suaranya terdengar lebih keras dari teriakan orang-orang.
Mereka dibutakan oleh asap yang berasal entah dari mana. Joe memicingkan matanya, dan ia melihat sebuah celah. “Kesana!” perintah Joe kepada sahabat-sahabatnya. Mereka berempat lari ke celah dari asap itu.. Dan tiba-tiba DOR! Suara tembakkan itu begitu memekakkan telinga Joe. Ia menoleh perlahan. Oh... ternyata yang tertembak adalah Ibu Rain!
“Ibu!!” jerit Rain histeris. Rain langsung memapah Ibunya secara gelagapan. Ibu Rain mengeluarkan banyak sekali darah. Joe hanya bisa tertegun, ia tidak bisa membantu Rain memapah ibunya karena ia sendiri sudah repot memapah Abu.
Mereka akhirnya berhasil keluar dari kerusuhan itu.... Mereka sampai di sebuah taman yang sepi. Rain terlihat sangat panik dan kalut. Rumah sakit masih sangat jauh dari tempat mereka. “Ibu... Bertahanlah, Ibu...” kata Rain dengan sedih. Ibu Rain tersenyum lemah.
“Ja-jadilah anak baik, Rain,” bisik Ibu Rain lemah dengan terbata-bata. Kemudian dengan pelan ia menengok kepada Abu dan Joe.
“Ka-kalian ja-jagalah Rain baik-baik.” kata Ibu Rain lagi. Air mata Rain mengalir. “Ibu, pasti Ibu bisa bertahan,” isaknya. Ibu Rain tersenyum. “Aku harus pergi sekarang.” Bisiknya, kemudian ia menutup matanya, dan tidak bergerak kembali. “IBU!!!!!TIDAK!” seru Rain terisak. Namun apa daya, ibunya kini telah tiada. Joe dan Abu menunduk. Memandangi Rain dengan perasaan sangat iba. Rain terus menangisi ibunya.
Joe meletakkan tangannya di bahu Rain. “Rain, ia ibu yang hebat, biarkanlah ia pergi dengan tenang,” kata Joe berusaha menghibur Rain. Rain masih terisak. “Darko.. Sam.. Rom... belum puaskah mereka menyiksaku??? Dulu Ayahku mereka bunuh sekarang Ibu!” jerit Rain. “Rain, hapus air matamu,” bisik Abu. “Tidak ada lagi yang dapat kau lakukan. Kita bawa jenazah Ibumu.”
Rain terlihat memaksakan dirinya untuk tegar . “Ya sudah.... kita akan menguburkan Ibu di dekat makam Ayah.” kata Rain. Mereka kemudian membawa jenazah ibu Rain, menggali kuburan dengan sekop milik Rain seadanya, dan memakamkannya di dekat makam ayah Rain.
“Aku sendirian sekarang.” kata Rain. “Masih ada kami. Ayo pulang.” kata Joe lelah.
Tiga sekawan itu kemudian berjalan dengan langkah gontai. Hari telah senja dan kerusuhan sudah usai. Sekarang ambulans wara-wiri untuk mengangkut jenazah yang telah menjadi korban kerusuhan tersebut.
“Apa kau masih tetap ingin berjualan, Rain?” tanya Joe hati-hati saat mereka sudah kembali ke rumah Rain. “Tentu saja... bagaimana mungkin aku hidup jika tidak berjualan?” sahut Rain.
Mereka kemudian kembali membantu Rain berjualan, namun kali ini pindah lokasi. Seperti biasa, barang dagangan tidak laku, Joe dan Abu akhirnya melaksanakan atraksi sulap.
Ajaib, uang yang terkumpul begitu banyak. Mereka semua pulang dengan riang. Di rumah Rain mereka menghitung uang yang berhasil mereka kumpulkan. “Banyak sekali,” kata Rain senang.

            “Ya.. haha..” kata Joe. Mereka kemudian membagi 3 uang itu. “Sepertinya cukup untuk ongkos pulang,” kata Joe gembira. Abu tiba-tiba menatapnya. “Loh?? Kita tidak jadi ke Mal Emporium nanti? Audisi The Master?” tanya Abu. Joe menepuk dahinya. “Ya ampun! Aku lupa... tentu saja,” jawab Joe. Abu tertawa. “Audisinya tinggal 3 hari lagi dan kau lupa?” kata Abu sambil mengacak rambut Joe dengan gemas. Joe balas tertawa.
“Berarti aku akan pisah dengan kalian?” potong Rain sedih. Joe dan Abu hampir lupa bahwa Rain ada di ruangan itu juga. Joe dan Abu bertukar pandang. “Er, Rain, tujuan kita ke Jakarta ini memang karena ingin mengikuti audisi The Master,” Joe menjelaskan dengan lembut.
Rain tampak kecewa sekali. Abu iba melihatnya. “Hmm... Bagaimana jika kau ikut kita, ke audisi The Master?” usulnya. Mata Rain berbinar kegirangan. “Sungguh? Tentu, tentu! Aku senang sekali!” Rain mendadak seperti lupa bahwa ibunya baru saja meninggal.
“Kita akan berangkat besok, kurasa uang ini juga cukup untuk menginap 2 malam,” kata Joe. Abu dan Rain mengangguk menyetujuinya. “Audisinya di Mal Emporium ya? Dari sini Cuma naik bus, kok,” kata Rain. “Baiklah... hari yang melelahkan, saatnya tidur!” ujar Abu.
Keesokan harinya, dengan hati yang riang, 3 orang sahabat itu bersiap-siap untuk berangkat. Mereka kemudian jalan sedikit ke halte bus. Di halte bus mereka bercakap-cakap sambil menunggu bus yang akan datang. Setelah sekitar satu jam menunggu, bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Joe, Abu, dan Rain masuk ke dalam bus itu, mereka kemudian mengambil tempat duduk bersebelahan.
Bus perlahan-lahan melaju. Joe menoleh ke jendela, kemudian ke Abu. “Kau tahu, akhirnya kita bisa menggapai mimpi kita,” kata Joe kepada Abu. Abu mengangguk, kemudian terbatuk. “Kau tidak apa-apa?” tanya Joe cemas. “Aku baik-baik saja kok.” jawab Abu.
Bus terus melaju perlahan... sampai...
“Serahkan uangmu, supir.” kata 2 orang yang sedari tadi duduk di sebelah supir. Salah satu menodongkan pistol di kepala si supir. Supir bus itu terlihat gugup. Penumpang yang ada di bus langsung terdiam. “Tetap jalan.” kata salah satu dari ketiga orang itu.
Rain menarik lengan jaket Joe. “Trio Darko, Rom dan Sam,” bisiknya. Joe memperhatikan keduanya. Rom, Sam, Darko. “Sial! Kenapa sih mereka selalu ada dimana-mana?” keluh Joe. Abu dan Rain mengangkat bahu. “Nasib kita sial....... selalu saja bertemu dengan para cowok cantik itu,” kata Abu sembari menyipitkan matanya. Joe terbatuk untuk menyamarkan tawanya. “Jangan melakukan gerakan apapun.” kata Joe lagi. Mereka bertiga kemudian diam.
Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main. Ia berusaha mengerem, namun, ia kehilangan keseimbangan, bus itu berbelok secara tiba-tiba, dan jatuh ke danau. Semua penumpang menjerit. Joe merasakan pipinya terbentur, dan mulutnya dipenuhi air.Bus itu sekarang mengapung di danau. Airnya sebatas pinggang Joe sekarang. Joe menjerit dalam hati. Kenapa sih untuk mengikuti audisi The Master saja berbagai rintangan harus dia hadapi? Dari mulai dirampok, ditusuk, kerusuhan, dan sekarang ini..
Joe berusaha tetap tenang. “Abu?” panggilnya pelan. Abu ternyata tidak pingsan. “Ya. Aku disini.” kata Abu. “Rain?” panggilnya. “Ya, ya, aku hidup!” jawab Rain.
Joe merasa lega sekarang .Kemudian ia menoleh. Ia baru sadar ternyata penumpang bus itu kebanyakan anak-anak!
Anak-anak itu menangis ketakutan. Joe tak punya pilihan. Ia harus menyelamatkan mereka semua. Joe melihat ke depan. Si supir, Rom, Sam, Darko tergeletak pingsan. Anak-anak itu menangis sampai akhirnya Joe berdiri dan berkata, “Tenang, kita harus keluar dari sini!” kata Joe sambil berusaha menenangkan anak-anak itu. Anak-anak itu tetap menangis. “Dengarkan aku, dengarkan aku!” serunya. Namun anak-anak itu tetap menangis...
Abu kemudian bersusah payah berdiri. “Hentikan.” Katanya. Semua anak-anak kemudian diam. Dan menoleh kepadanya. “Kami tidak akan membiarkan apapun terjadi pada kalian!” kata Abu tegas. “Kami akan mengeluarkan kalian. Kalian tidak usah takut!” serunya.
“Joe, Rain, ayo.” kata Abu. Joe mengangguk perlahan. Rain kemudian menyuruh anak-anak itu diam dan membagi mereka menjadi 2 barisan. Barisan pertama akan dikeluarkan oleh Joe, dan barisan kedua dikeluarkan oleh Rain.
Joe menggendong anak pertama. Anak itu menangis. “Tidak apa-apa,” bisik Joe menghibur anak itu. Joe kemudian membawa anak itu berenang ke tepi, diikuti Rain yang juga membawa anak lain. Rasanya jauh sekali ke tepi. Sedangkan bus makin miring, jika mereka terlalu lama maka semua akan tenggelam.
Joe dan Rain sampai ke tepi. Mereka menaruh anak-anak yang mereka bawa ke tepi. “Tunggu disini, jangan kemana-mana.” Kata Joe. Rain pun mengatakan hal serupa kepada anak yang digendongnya. Mereka kemudian berbalik ke bus yang semakin miring. Abu ikut membimbing mereka. Satu persatu anak-anak itu berhasil mereka bawa ke tepi.
“Sudah semua, ayo Abu!” kata Joe. Abu hendak melangkah keluar dari bus, tapi, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang anak.
“Tunggu! Masih ada satu!” kata Abu sambil berusaha mencari-cari sumber suara itu. Namun tiba-tiba.. bus itu perlahan menggeser dan sudah miring sekali. Abu tentu saja tidak menyadari kalau bus itu sudah menggeser jauh.
“ABU!” teriak Joe yang masih di tepi. Tanpa pikir panjang ia langsung melompat kembali ke danau itu. Rain berteriak memanggilnya, kemudian ikut melompat ke dalam danau.
Abu bersusah payah berenang dengan tidak lancar. Air sudah sebatas dada sekarang. Dengan panik ia mencari suara anak kecil yang masih menangis itu. Ia menemukannya. Anak laki-laki itu tampak menggigil kedinginan. “Tolong.. Kakiku terjepit.” Kata anak itu sambil meringis. “Tahan.” Kata Abu. Ia mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menyelam. Ia mencoba mencari apa yang menjepit anak itu. Ternyata sebuah tiang yang jatuh.
Abu kemudian berusaha mengangkatnya. Berat sekali. Di luar, Joe dan Rain masih berusaha menemukan Abu. Joe berkali-kali memunculkan kepalanya ke luar. “Abu, Abu!” panggilnya berulang-ulang. Abu berusaha mengangkat besi itu ketiga kalinya. Bus semakin miring sekarang.. Sedikit lagi mereka akan tenggelam. Saat mencoba mengangkat untuk yang keempat kalinya, Abu akhirnya berhasil mengangkat besi itu. Si anak membuka jendela bus dan menangis tersedu-sedu.
Joe mendengar suara tangisan anak itu. Dengan cepat ia mengulurkan tangannya. “Ayo, Nak, tidak apa-apa,” kata Joe. Anak itu kemudian menyambut tangan Joe dan Joe menariknya keluar. Joe langsung menyerahkan anak itu kepada Rain. “Bawa dia ke tepi. Aku harus menolong Abu, dia masih di dalam,” kata Joe.
Rain menurut. Rain kemudian menggendong anak itu ke tepi.
“Abu?” seru Joe sambil berharap dengan cemas. Abu kemudian muncul. Joe berusaha mengeluarkannya. Joe mengulurkan tangannya. Abu berusaha menyambutnya. Tangan mereka sama-sama basah sehingga Abu kesulitan memegang tangan Joe.
“Ayo.. pegang tanganku!” kata Joe serak. Ia terus berusaha menarik sahabatnya itu keluar dari bus. Abu kemudian mencengkeram tangan Joe. Joe berusaha menarik Abu sekuat tenaga. Bus semakin miring....Rain telah melompat kembali ke danau. Ia berusaha membantu Joe. Rain menarik baju Joe sekuat tenaga. Joe mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengeluarkan Abu. Ia menghentak keras-keras, dan akhirnya Abu keluar dari besi itu. Abu sudah pingsan. Ketika Abu keluar, bus itu langsung tenggelam, bersama si supir, Darko, Rom dan Sam.
Joe dan Rain langsung membawa Abu ke tepi. Anak-anak itu masih menangis. Rain kemudian pergi mencari bala bantuan. Joe merasa lelah sekali. “Abu, jangan tinggalkan aku.” bisiknya. Kemudian kepalanya membentur tanah.
Joe membuka matanya. Segalanya menjadi kabur. Joe menyipitkan matanya. Ia meraba-raba. Kemudian memakai kaca matanya kembali. Ternyata dia sudah ada di rumah sakit, rumah sakit sewaktu ia diobati lukanya beberapa hari yang lalu.
Joe keluar dari kamarnya. Rain langsung menyambutnya. “Joe! Kau tidak apa-apa!” kata Rain lega. Joe mengangguk. “Mana Abu? Bagaimana dia? Aku ingin bertemu dengannya.” kata Joe pelan. “Mari. Ia tidak begitu baik. Tapi Abu hebat. Anak-anak selamat semua berkatnya.” jawab Rain, sambil berjalan mengantar Joe ke kamar Abu.
Tampak Abu memejamkan matanya. Di hidungnya bertengger selang pernafasan. Joe menghampirinya. Rain kemudian meninggalkan mereka berdua. Abu membuka matanya perlahan-lahan. “Anak-anak selamat semua?” bisiknya. Joe mengangguk. “Tidak usah khawatir.” jawab Joe. Abu tersenyum lemah. “Ternyata aku bisa menjadi pahlawan juga. Aku bisa berguna juga.” kata Abu pelan.
“Tidak ada yang suka orang pamer,” kata Joe, dengan suara sengau. Abu tersenyum lemah. “Aku akan menemanimu disini sampai kau sembuh.” Kata Joe. Abu tersenyum. Dua hari mereka lewati.... Abu sampai merasa bosan di rumah sakit itu.
“Supaya tidak bosan, bagaimana jika kita melakukan permainan?” kata Joe, merasa kasihan dengan sahabatnya itu. “Permainan apa?” tanya Abu tertarik. Joe berpikir sejenak. Kemudian ia melihat suster yang lewat. “Bagaimana jika kau pura-pura mati, kemudian aku pura-pura menangis dan memanggil Dokter, kemudian kau mengagetkan mereka?” kata Joe sambil nyengir jahil. Abu tertawa lemah. “Sepertinya menyenangkan. Baiklah.”
“Tunggu disini.” kata Joe. Kemudian ia keluar dari kamar Abu. “Dokter, dokter! Tolong! Teman saya tidak bernafas sama sekali, tolonglah, Dokter!” kata Joe, berpura-pura terisak sambil memohon kepada Dokter yang lewat. Dokter itu tampak panik, kemudian masuk ke kamar Abu. Joe mengedipkan matanya. Abu pura-pura memejamkan matanya.
Ketika si Dokter mencoba memeriksa detak jantung Abu, Abu langsung membuka matanya dan berteriak ,”KENA!” Si Dokter tentu saja terkaget-kaget. Ia langsung keluar dan marah-marah, menggerutu mereka seperti anak kecil.”Jantungku.. Ya Tuhan..” kata Dokter itu lagi dan pergi.
Joe dan Abu terkekeh. Joe tertawa terbahak-bahak. “Siap untuk mangsa berikutnya?” tanya Joe. Abu mengangguk. Joe kembali berpura-pura tersedu-sedu. Mereka kembali berhasil mengagetkan dokter lain. “Tidak lucu!” seru Dokter itu.
“Sekarang, mangsa yang terakhir, ayo kita kerjai Dr. Limbad.” Kekeh Joe. Abu mengangguk. Joe kembali ke luar kamar, mencari Dr. Limbad. “Dr Lim, tolonglah, temanku tidak bernafas,” kata Joe sembari berpura-pura terisak. Dr. Limbad tampak kaget. Ia bergegas menghampiri Abu. Abu kembali memejamkan matanya. Joe kemudian mengintip dari balik pintu.
Dr. Limbad memeriksa detak jantung Abu. Joe bersusah payah menahan tawa. Tapi Abu tidak bergerak sama sekali. “Ayo, Abu,” bisiknya. Namun Abu tetap tidak membuka matanya.
Dr Limbad menghampirinya. Dr. Limbad menepuk pundak Joe. “Joe, aku turut berduka,” gumamnya. Joe menatap Abu yang kelihatan masih tertidur dengan tidak percaya. Ia memaksakan untuk tertawa. “Dia cuma bercanda,” kata Joe sambil memaksakan tawa. Kemudian ia menghampiri Abu. “Ayo bangun.. Abu, kau bercanda kan?” kata Joe lagi dengan tawa yang sangat dipaksakan. Dr. Limbad hanya memandanginya dengan sedih. Joe mengguncang badan Abu. Abu tetap tidak bergeming. “Kau janji kita akan selalu bersama, Abu! Ayo bangun!” seru Joe sambil mengguncang badan Abu.
Dr Limbad berusaha menenangkannya. “Biarkan dia istirahat, Joe..” bisiknya. Perlahan-lahan air mata Joe menetes."Lihat, dia tersenyum. Dia meninggal dalam kedamaian." bisik Dr Limbad lagi. "Tapi tadi ia masih bersenda gurau denganku!" kata Joe sengau. Dr Limbad mengangguk. "Ya tapi benturan ketika kalian kecelakaan itu sangat keras." bisiknya.
Rain masuk ke dalam kamar Abu. Melihat Joe yang kelihatan sangat terguncang dan Dr Limbad yang berusaha menenangkan Joe, Rain langsung berkesimpulan: Abu sudah tiada.
Rain perlahan-lahan menghampiri Dr. Limbad. “Dr. Lim? Bolehkah aku meminjam telepon?” tanyanya. Limbad mengangguk. Rain kemudian ikut berusaha menenangkan Joe, dan meminta nomor telpon orangtua Abu. Joe yang masih terguncang kemudian memberikan nomor telpon orangtua Abu. Rain kemudian menelepon orangtua Abu. Bagai disambar petir orangtua Abu menerima kabar itu...
Dua hari kemudian, dua hari namun terasa seperti 5 menit bagi Joe, akhirnya Abu akan dimakamkan di Jakarta. Ia masih tidak percaya bahwa sahabat terbaiknya di dunia sudah tiada. Semuanya terasa berlalu begitu cepat dalam beberapa hari ini. Joe berusaha tampak tegar meski hatinya sakit sekali. Ia berjalan ke ruang depan rumah duka dengan langkah lesu, kemudian ia duduk. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tidak keluar.
“Joe?” panggil seseorang. Joe menoleh. Pak Andre. “Bolehkah aku duduk?” tanya Pak Andre lembut. Joe mengangguk. Ia berusaha keras tidak menatap wajah Pak Andre.
“Ini semua salah saya.” kata Joe. Pak Andre langsung mengangkat tangannya. “Tidak. Jangan berbicara seperti itu.” kata Pak Andre tegas. “Aku dan istriku tidak menyalahkanmu, ini semua sudah kehendak Tuhan. Putra kami sudah lama sakit, kau tahu itu,” kata Pak Andre lagi.
Joe mulai tidak bisa mengontrol emosinya. “T-tapi jika s-saya tidak membawanya ke sini, ia akan masih bersama anda!” kata Joe sambil menggertakkan giginya. Suaranya bergetar sekarang. “Joe, tenang Nak! Tidak baik menyalahkan dirimu!” seru Pak Andre lagi.
Secara tak sadar Joe menabrakkan kepalanya ke dada Pak Andre. Pak Andre kemudian mengelus rambut Joe dan memeluknya layaknya putranya sendiri. “I-ia selalu berkata ingin sekali tampil di hadapan jutaan orang! D-dan saya sudah membuat mimpinya kandas!” kata Joe tergagap. “M-maafkan aku! M-maafkan aku!” seru Joe lagi.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan! Kau akan melanjutkan mimpi Abu! Kau akan tetap mengikuti kompetisi itu, dan jadilah juara!” kata Pak Andre tegas. “Hapus air matamu Nak.” Joe melepaskan diri dari pelukan Pak Andre. Ia merasa malu karena tidak bisa mengontrol emosinya. “Bolehkah aku melihat Abu untuk terakhir kali?” tanya Joe masih dengan suara sengau. “Bicara apa kau, Nak? Tentu saja boleh!” kata Pak Andre lembut.
Joe kemudian masuk ke dalam rumah duka itu. Jenazah Abu masih berbaring disana, tangannya mendekap, matanya tertutup dan tersenyum. Wajahnya terlihat damai sekali. Ia bisa disangka sedang tidur. Perlahan-lahan Joe menatap jenazah sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kancing atas kemeja Abu terbuka. Joe kemudian mengancingkan kancing itu dengan pelan.
Secara perlahan-lahan, Joe kemudian menekukkan lututnya. Ia ingin bicara untuk yang terakhir kali kepada sahabat karibnya itu. Meski Joe tahu, tindakannya ini bodoh. Kepala Joe telah sejajar dengan kepala jenazah Abu sekarang. Joe kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Abu. “Hey ini aku, jagoan bodoh,” bisik Joe.
“Kau egois, eh? Katanya kau akan menemaniku sampai kapanpun. Kau bilang, kau akan selalu mendukungku. Tapi kau malah enak-enakan tidur disini,” gumamnya. Joe kemudian tertawa kecil. Ia kemudian menyedot ingus yang perlahan keluar dari hidungnya.
“Kau tahu, aku benci padamu. Aku benci kau melanggar janji kita untuk bersama selamanya.” lanjutnya lagi dengan suara yang sangat sengau. “Kau pergi begitu saja tanpa pamit. Tahukah kau itu perbuatan yang sangat tidak sopan?” Joe memaksakan diri untuk tertawa. “Aku benci kau, Abu. Aku benci kau meninggalkanku sendirian begitu saja seperti ini.” gumam Joe lagi. Selama sepersekian detik, Joe hanya menatap jenazah Abu dengan tatapan yang sangat kosong. Tiba-tiba di benaknya, terlintas sesuatu.
Joe melepas sebelah sepatu Abu dengan sangat hati-hati. Ia kemudian melepas sebelah sepatunya juga. Kemudian Joe mengeluarkan spidol dari sakunya. Ia kemudian menulis inisial namanya dan nama Abu di sepatu mereka masing-masing. Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Joe memakaikan kembali sepatu yang telah ia tulisi dengan inisial namanya dan nama Abu ke kaki jenazah Abu. Sekarang jenazah Abu tampak agak ganjil dengan mengenakan sepatu yang berbeda, dengan masing-masing sepatu bertuliskan huruf “JS” dan “AM”. Tanpa disadarinya, ia tersenyum. “Pergilah ke surga, biar para malaikat menjagamu kawan,” bisiknya. “Sampaikan salamku terhadap papa dan mama kalau kalian bertemu di surga.”
           Pemakaman pun berlangsung dengan singkat... Joe merasa lega, entah mengapa, meskipun hatinya terasa bagaikan diiris sembilu. Rain menepuk punggung Joe, berusaha menghiburnya. Joe hanya bisa tersenyum kecil kepadanya. “Aku harus pulang ke rumah.. memulai hidup baru.. Bisakah kau memberikan nomor telpon mu? Supaya sekali-sekali kita bisa berkomunikasi, “ kata Rain. Joe tersenyum. Ia kemudian memberikan nomor telponnya. Setelah selesai pemakaman, Rain pergi. Joe kemudian berpikir setelah Rain pergi.Pak Andre benar, pikirnya. Ia harus melanjutkan mimpi Abu.
Joe akhirnya mengikuti audisi The Master. Dari sejak audisi, Joe sudah membuat para juri terpukau.. Perjalanan Joe cukup panjang di The Master tersebut. Sampai akhirnya malam final tiba, dan Joe dinobatkan menjadi juara. Saat dinobatkan menjadi juara, Joe melihat kursi yang kosong, dalam hatinya ia berpikir, kursi kosong itu seharusnya diduduki oleh Abu.
           “Untuk siapa kemenangan ini kau persembahkan?” tanya pembawa acara The Master tersebut. Joe menghela nafas. “Untuk sahabat saya, Abu Marlo, yang tak lekang oleh waktu. Seharusnya ia juga berdiri disini bersama saya, tapi kini ia telah tiada. Seharusnya kami bersama-sama di kompetisi The Master ini, tapi ia pergi mendahului saya. Untuk itu, saya persembahkan kemenangan saya ini untuk mengenang persahabatan kami yang tak akan lekang oleh waktu,” kata Joe.
Seluruh hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Sebagian bahkan ada yang mencucurkan air mata. Joe menatap ke atas... Abu pasti sedang mengawasinya dari surga sana... Dirinya tidak akan lekang oleh waktu.. Dan saat itu, Joe baru menyadari bahwa Abu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan akan selalu hidup di dalam hatinya.

5 komentar:

Unknown mengatakan...

Penggemar sulap yaa?...nama tokohnya pesulap..cerita persahabatan....nice :)

Puspa Allamanda Blog mengatakan...

Iya , suka banget sama sulap hehe.. Makasih ya :D

Anonim mengatakan...

buset postingan tahun 2009, blogeer senior *rukuk ala orang jepang
sahabat sejati tak lekang oleh waktu, walau beda dunia
btw ini cerita joe sandy beneran?

Puspa Allamanda Blog mengatakan...

hwakakaka.. blog ini emang sempet mati suri 4 tahun.. baru mood idupin lagi sekarang2 ini.. hwakakaka bukaaan.. that's just my stupid imagination.. Abu Marlo kan masih idup :))

Unknown mengatakan...

wah rajin panjang bener ceritanya,hebat gan

di tunggu kunjungannya yah