Rabu, 10 Juni 2009

Kebimbangan Joe, short story written by me



             Alkisah di suatu kota, kota itu kota Bandung.. hidup seorang magician yang hebat, magician itu bernama Joe Sandy. Ia hidup dengan putra semata wayangnya, yaitu Gabriel. Joe adalah seorang duren alias duda keren karena istrinya sudah lama meninggal akibat kecelakaan. Gabriel, sang putra semata wayang memiliki penyakit kanker tulang sumsum. Gabriel tidak akan sembuh jika tidak ada juga donor tulang sumsum yang sesuai. Sulit sekali mencari donor yang tepat untuk Gabriel.
           Suatu hari, di sebuah rumah sakit di kota Bandung, dokter menasihati Joe agar segera mencari donor yang tepat untuk anaknya, atau Gabriel akan meninggal. Joe langsung emosi dan berkata,  "Gabriel tidak akan meninggal!"
               Kemudian Joe memasuki kamar rawat Gabriel. Ia segera mencium putra kesayangannya itu. "Bagaimana kondisimu, sayang?" tanya Joe. Gabriel menjawab, "Tidak begitu baik, pa, aku mimisan terus nih." Joe terdiam. "Kankernya mengganas lagi ya pa?" Joe hanya menjawab.. "tidak, tidak.." kemudian Gabriel berkata kembali "Papa jangan bohong.. aku ga akan bisa jadi pilot kan pa??" Joe hanya terdiam.. Perlahan - lahan air matanya menetes. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa menyembuhkan putraku? Sedangkan donor nya saja aku tidak bisa menemukannya!
           Kebimbangan terus melanda Joe.. sampai akhirnya, sahabatnya Abu Marlo memberitahu dia, bahwa ada seorang extreme magician yang ternyata, tulang sumsumnya cocok dengan Gabriel! Joe bertanya "Bagaimana kamu bisa tahu? Kalo tulang sumsumnya sama dengan Gabriel?" Abu pun tertawa, "Lupa Bos? Waktu itu aku kan minta sampel tulang sumsum Gabriel. Nah, kebetulan, waktu si extreme magician ini dites kesehatan sebelum dimasukkan ke penjara, aku cocokkin sampel tulang sumsumnya. Dan hasilnya sama." Joe merasa heran. "Siapakah extreme Magician itu?" Abu menjawab. "Namanya Limbad, dia dipenjara karena terbukti bersalah mengeluarkan kelelawar yang membuat kerusuhan di kota Tegal." Joe terkejut bukan main. "Apa?? Bagaimana mungkin bagian tubuh dia menjadi bagian tubuh putraku?"

Abu Marlo pun berkata "Kau memilih mana? Di tubuh putramu terdapat salah satu bagian tubuh extreme magician berdarah dingin, tapi dia selamat, atau, di tubuh putramu tidak ada bagian tubuh extreme magician berdarah dingin, tapi selamanya menderita?" Joe terdiam. Ia mengacak-ngacak rambutnya. "Argh! Ini gila!" ujarnya. Tapi kemudian tiba-tiba terbayang wajah Gabriel. Gabriel yang bercita-cita menjadi pilot...
Joe memejamkan matanya. "Bagaimana Joe?" tanya Abu. "Oh, baiklah, demi Gabriel akan ku lakukan apapun.. sekarang antar aku menemui Mr. Limbad itu!” sahut Joe. Kemudian, dengan diantar Abu, Joe pun menemui Limbad di penjara LP Cipinang Jakarta. Limbad yang diborgol dan dirantai benar-benar menyeramkan.
Joe bergidik. "Itukah?" bisiknya kepada Abu. Abu mengangguk. "Ya, kawanku, dan saya persilahkan kalian berdua untuk mengobrol.." ujar Abu sambil berlalu. Kini di ruangan yang gelap itu hanya ada mereka berdua.
"Hai" ucap Joe sambil menelan ludah. Limbad tak bergeming, dia hanya mengedikkan kepalanya sedikit. Joe menghela nafas. "Saya tak mau basa-basi." Limbad kemudian mengangkat alisnya. "Sahabat saya mengatakan bahwa tulang sumsum anda cocok dengan putra saya Gabriel." Lagi-lagi Limbad diam tanpa kata. Joe menelan ludah. Dia menunggu Limbad berbicara. Setelah beberapa detik, Joe akhirnya berkata,"maukah anda mendonorkan tulang sumsum anda demi putra saya?" Limbad hanya memicingkan mata. Tiba-tiba ia bersuara. "Jika ya, apa untungnya bagi saya?" Joe tercengang. "Untung? Kau akan mendapat pahala karena telah menyelamatkan hidup seseorang!"
Limbad tersenyum licik. "Aku tak pernah kenal anakmu. Apa manfaatnya bagi aku?" Joe kembali tercengang. "Usianya baru 9 tahun!" emosi Joe mulai naik. “Lalu? Masalahnya apa jika usianya 9 tahun? Peduli apa aku?” Tanya Limbad dengan seringai menyeramkan.
“Tidakkah kau merasa iba melihat anak berumur 9 tahun menderita dan bertarung dengan nyawa?” ujar Joe sedikit berteriak. Nafasnya mulai memburu. Bodoh, pikirnya. Bagaimana mungkin aku mengharapkan penjahat kelas kakap ini menolong Gabriel? Abu, awas kau, akan kuganyang kau, pikir Joe dalam hati.
“Itu urusanmu, bukan urusanku.” sahut Limbad dengan senyum licik. Joe menghela nafas. “Kulihat ada banyak sekali kebimbangan dalam wajahmu. Kau pria malang, dengan segala kebingungan dan beban hidupmu,” kata Limbad tertawa. Joe merasa api kemarahan membakar dirinya. “Kau… jika kau berada di posisi saya, kau akan melakukan hal serupa!”
Limbad tertawa seram. “Hahahaha… baiklah. Ku lihat kau sepertinya ayah yang hebat. Kau bawa dulu anak itu bertemu denganku, dan aku akan mempertimbangkannya.” Joe diam. Gila! Harus membawa Gabriel bertemu dengan manusia seram ini? Tapi ini demi Gabriel. “Baiklah aku akan mencoba membujuk anakku.” ujarnya. “Baiklah aku kan menunggu.. Mr..?” Tanya Limbad. Joe tersenyum kecil. “Joe.” Mereka pun berjabat tangan. Joe pun keluar dengan perasaan campur aduk. Gila. Benar-benar gila! Seumur hidup belum pernah ia temui orang semisterius dan seseram itu!
Ketika sampai di rumah sakit, Joe langsung menceritakan semuanya kepada Gabriel. Gabriel hanya diam ketika mendengarkan cerita Joe. Setelah Joe selesai bercerita, ia angkat bicara. “Tapi Pa, Papa bilang ia adalah magician yang jahat. Melepas kelelawar dan membunuh. Ia akan menjadi bagian dari tubuhku.
“Papa tahu.. tapi… hanya dia yang cocok untuk mendonorkan tulangnya. Kau mau sembuh atau tidak?” tanya Joe. Gabriel tersenyum, kemudian mengangguk. Keesokan harinya, Joe membawa Gabriel menemui Limbad di penjara. Joe kemudian meninggalkan mereka berdua dan menguping dari luar.
“Gabriel.” kata Gabriel perlahan. “Limbad.” ujar Limbad sambil memamerkan giginya. “Jadi.. kaulah anak hebat yang diceritakan ayahmu.” ujar Limbad. Gabriel mengangguk. Ia terlalu takut untuk berbicara.
“Mari kita lihat… kau 9 tahun. Berarti kau kelas 4 SD?” tanya Limbad perlahan. Gabriel hanya mengangguk. “Dulu aku sangat benci sekolah.” kata Limbad lagi. Gabriel tidak berkata apapun, hanya menoleh ke luar, melihat Joe menguping. "Kau suka sekolah?" tanya Limbad lagi. Gabriel mengangguk. Selama beberapa menit mereka bercakap-cakap, Joe sendiri kurang bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka sampai akhirnya ia mendengar Limbad bertanya kepada Gabriel.
“Kau sangat menyayangi ayahmu?” tanya Limbad lagi. “Ya, Pak Limbad.” Jawab Gabriel sambil menelan ludah. Limbad tertawa. “Pak? Panggil aku paman saja.” ucapnya. “Ya, tapi kau bukan pamanku.” sahut Gabriel. Limbad kembali tertawa.
“Gabriel, setelah bertemu denganmu, saya putuskan untuk membantumu.” Kata Limbad sambil mengedipkan mata. Merasa tak percaya, dan kegirangan, Gabriel langsung menghambur ke pelukan Joe dan berkata, “Papa! Papa! Dia akan melakukannya!”
“Ya, sayang.” ujar Joe pelan sambil mengelus rambut Gabriel. Ia merasa sedikit lega. Tapi juga khawatir. Apa benar, orang itu tulus akan membantu Gabriel?? Keraguan menghampiri dirinya. Ah, apa salahnya untuk optimis, pikir Joe. Joe membawa Gabriel kembali ke rumah sakit untuk diperiksa. Setelah Gabriel tertidur, Joe berbincang dengan Dokter Darko.
“Sudahkah kau menemukan donor yang tepat untuk dia?? Joe, saya khawatir, kanker itu semakin ganas menggerogoti tulang sumsumnya.” bisik Dr Darko. “Sudah.” jawab Joe pelan. “Siapa, Joe?? Ini berita bagus!” kata Dr. Darko gembira.
“Limbad. Ia sudah setuju akan mendonorkan tulang sumsumnya untuk Gabriel” jawab Joe lagi. Dr. Darko yang sedang meminum air putih, tanpa sengaja menyemburkan airnya ke muka Joe. “Argh! Apa-apaan sih kau Darko!” teriak Joe sambil membuka dan mengelap kacamatanya. “Limbad?? Kau masih waras kan Joe?” tanya Darko sambil memegang dahi Joe. “Ya iyalah! Kau ini kenapa sih?” tanya Joe tak sabar.
“Dia adalah magician yg terkenal jahat, Joe. Banyak yang menilai bahwa dia adalah penyihir hitam! Dan kau, sebagai magician juga, sebaiknya tidak berhubungan dengan magician seperti itu! Kau gila! Kau mau Gabriel mewarisi darah magician berdarah dingin itu, hah?” kata Darko. “Apapun akan kulakukan demi Gabriel, tidak peduli apa konsekuensinya! Aku tidak akan perduli apa yang akan orang katakan!” ujar Joe yang sudah berdiri.
Dr. Darko hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Terserah kau, Joe. Saya sebagai sahabatmu hanya bisa mengingatkan.” Bisiknya. Dasar keras kepala, pikir Dr Darko. Tapi ia hanya bisa diam ketika Joe menyudahi percakapan mereka berdua.
Keesokan paginya…
Joe yang tengah tertidur di atas selimut Gabriel dikagetkan oleh bunyi ponselnya. Ternyata telepon dari Abu. “Ya?” kata Joe, masih dalam keadaan mengantuk. “Joe, Mr Limbad setuju untuk melaksanakan operasi besok pukul 10 pagi. Tolong bersiaplah.. Besok saya dan Richard Rain akan membawa Mr. Limbad kesana.” Kata suara Abu di seberang sana. “Baiklah. Trims banyak, Abu.” Jawab Joe, kemudian ia mematikan ponselnya. Gabriel pun terbangun. “Papa?” panggil Gabriel.
“Ya, Nak?” sahut Joe. Gabriel mencoba duduk. “Tadi papa bicara dengan siapa? tanya Gabriel polos. “Om Abu. Ia membawa kabar baik!” kata Joe riang. “Kabar apa, Pa?” tanya Gabriel antusias. “Ia mengatakan, kalau kau akan dioperasi besok. Mr Limbad akan diantar oleh Om Abu dan Om Rain kesini.” Ujar Joe sambil tersenyum. Mata Gabriel bersinar.
Tok tok! Terdengar suara pintu diketuk. “Masuk.” kata Joe. Dr Darko dan suster Angel pun masuk ke dalam kamar. “Gabriel, pinjam Papamu sebentar ya. Suster Angel, tolong jaga Gabriel dulu sebentar.” kata Dr. Darko. “Baik Dokter.” jawab suster Angel. Joe dan Dr. Darko keluar dari kamar rawat Gabriel. Joe menutup pintu agar Gabriel tidak mendengar percakapan mereka.
“Saya tidak mau basa-basi. Tadi dapat telpon dari Rain. Mereka akan mengantar Limbad ke rumah sakit ini besok.” kata Darko serius.
“Ya, ya. Tadi Abu juga sudah menelepon kok.” jawab Joe santai. “Joe, apa kau yakin dengan semua ini? Tatap mata saya, Joe!” ujar Darko. “Darko, jangan mulai! Saya tahu apa yang akan saya lakukan!” sahut Joe dingin. Joe pun masuk ke kamar Gabriel dan tidak menghiraukan Darko yang hendak berbicara kembali.
Hari yang ditunggu pun tiba. Pukul 9 pagi, rumah sakit sudah dijaga ketat dimana-mana. Setelah mondar-mandir di lobi rumah sakit dengan cemas, akhirnya Limbad datang dengan kursi roda didorong oleh Rain dan Abu Marlo, masih dengan tangan dan kaki diborgol. Joe mengamatinya dari atas hingga bawah. “Rain, Abu, bisakah kalian menjaga Gabriel di kamarnya?” Tanya Joe. “Dengan senang hati, sobat.” Jawab Rain dan Abu bersamaan. Mereka kemudian pergi ke kamar Gabriel. Joe menghampiri Limbad. “Siapkah kau?” bisiknya ke telinga Limbad. Limbad tersenyum licik dan mengangguk.
Limbad akhirnya dibawa ke ruang operasi. Ia akan dibius terlebih dahulu sebelum Gabriel dibawa juga ke ruang operasi. “Siap? 1,2,3! “ perintah Dr. Darko dan ia menempelkan tabung oksigen ke hidung Limbad. “Sepertinya dia mulai tertidur Dokter!” ucap suster Angel.
“Bagaimana tekanan darah? Detak jantung?” tanya Dr. Darko lagi. “Normal.” kata suster Angel. Selama beberapa menit, semuanya seperti baik-baik saja. Joe mengintip dari luar dengan harap-harap cemas. Dalam hatinya tak henti-hentinya ia berdoa. Tiba-tiba suster Angel berteriak. “Tekanan darah naik! Detak jantung juga menurun!” Dr. Darko dan tim medis lainnya panik. “Sial!” ujar Darko.
Ketika mereka sedang berusaha mengembalikan tekanan darah dan detak jantung Limbad ke titik normal, tanpa diduga, Limbad membuka matanya, mengencangkan badannya hingga seluruh infus dan selang yang ada di tubuhnya copot. Kemudian dari tangannya ia mengeluarkan api yang mengenai Dr. Darko.
“AAAAAAARGGGGGGHHHHHHHH!” jerit Dr. Darko kesakitan. Kericuhan langsung terjadi. Tim medis berteriak-teriak ketakutan. Limbad pun melompat bangkit dan menendang pintu ruang operasi hingga menjeblak terbuka dan hancur. “Oh, sial!” jerit Joe. Ia berusaha mengejar Limbad. Tapi tidak terkejar.
Kemudian Joe kembali lagi ke ruang operasi untuk menolong Dr. Darko yang terbakar. Dr Darko masih menjerit kesakitan. Di saat genting itu, Joe langsung menggunakan kekuatan pikirannya. Ia langsung mengambil sapu tangannya dan dengan kekuatan pikirannya, ia memanggil ember kosong untuk melayang kepadanya.
Sapu tangan itu pun ia celup ke dalam ember. Kemudian secara ajaib ember itu terisi air. Tanpa pikir panjang, langsung disemburkannya ember itu ke Darko. Darko yang sedari tadi mengaduh kesakitan, langsung terdiam.
“Jaga dia! Aku harus mengejar Limbad!” perintah Joe ke suster Angel. Angel yang masih ketakutan hanya mengangguk. Joe langsung menelepon Abu dengan ponselnya. “Abu, Rain, jaga Gabriel baik-baik, Limbad membuat kekacauan di ruang operasi! Aku sedang mengejarnya, jangan sampai Gabriel disentuh olehnya!” teriaknya dengan keadaan berlari. “Baik. Baik Joe!” sahut Abu di seberang.
Joe terus berlari. Sialan, pikirnya. Ketakutan terburuknya terjadi. Limbad tidak tulus menolong Gabriel. Itukah akal-akalan dia hanya untuk membuat kekacauan di rumah sakit? Dasar psikopat!
Joe terus berlari mengikuti jejak darah yang disebabkan luka dari kaki Limbad akibat diborgol. Namun, tiba-tiba saja jejak darah itu menghilang. “Oh. “ ujarnya. “Menyenangkan. Jejaknya hilang. Bagus!”
Joe kemudian berusaha menerka-nerka kemana Limbad pergi. Ketika tiba-tiba.. PRANG! Sesosok manusia berambut gimbal muncul melewati pecahan kaca dan melompat ke punggung Joe. Dia adalah Limbad. Limbad kemudian mengalungkan tangannya ke leher Joe...
Joe yang masih kaget, terbatuk akibat tercekik. Ia meronta , berusaha melepaskan diri. Tapi Limbad terlalu tangguh. Joe terpelanting ke lantai sampai hidungnya berdarah. Joe meringis kesakitan. Dengan marah ia melemparkan pisau yang tergeletak di sampingnya. Tapi Limbad menghindar. Joe yang merasa sangat marah, mengeluarkan api dari sapu tangannya dan berusaha melemparnya ke Limbad. Tapi tak mempan!
“Cuma segitu kah kemampuanmu? Haha…” seru Limbad sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian secepat angin ia pergi dan menghilang. Joe yang tubuhnya masih terasa sakit akibat terpelanting berusaha bangun.
“Joe! Joe!” terdengar suara Rain memanggilnya. Rain kelihatan pucat dan shock. “Kau tidak apa-apa, Joe?” tanya Rain sambil membantu Joe bangun. “Tidak apa-apa.. kenapa kau kesini? Dimana Gabriel?” tanya Joe balik sambil berusaha bangun. “Ia ada bersama Abu. Tadi Abu memerintah aku untuk mencarimu Joe. Hidung Gabriel berdarah.” jawab Rain, masih gemetaran.
“Apa?” kata Joe tersengal-sengal. “Ayo. Antar aku! Lalu bagaimana Darko? Ia baik-baik saja?” tanyanya lagi. “Dr. Darko sedang bersama Angel. Tampaknya ada beberapa luka bakar tapi sepertinya tidak serius.” jawab Rain.
“Joe, sebenarnya apa yang terjadi?? Kulihat tadi para suster berteriak ketakutan,” tanya Rain sambil berusaha mengimbangi langkah Joe yang begitu cepat. “Limbad. Ia membuat kekacauan di ruang operasi. Sekarang aku kehilangan jejaknya.” gumam Joe sambil terus menoleh ke kanan-kiri, waspada kalau-kalau saja Limbad muncul.
Mereka pun sampai di kamar rawat Gabriel. Abu langsung menyambut mereka. “Joe!” seru Abu. “Kau… kenapa hidungmu?” Tanya Abu cemas. “Tidak apa-apa.” ucap Joe. “Gabriel?” panggilnya perlahan. Gabriel yang sedang tiduran , mencoba untuk duduk. Gabriel tampak pucat. Hidungnya juga berdarah. “Ya ampun.” Gumam Joe. Ia kemudian melepaskan mantelnya. “Pakai ini Nak. Kau tidak boleh kedinginan.” Kata Joe. Gabriel kemudian menerima mantel Joe. “Pa.. apa yang terjadi?” tanya Gabriel.
“Tenang Nak, semua akan baik-baik saja.” Jawab Joe lemas. “Berbaringlah.” sambungnya. Joe kemudian sedikit menjauh sedikit dari tempat tidur Gabriel. “Bagaimana ini? Dr Darko sedang cedera, padahal hanya dia yang mengerti Gabriel.” Bisik Joe ke Abu. “Sedangkan aku harus segera menemukan Limbad!” sambungnya lagi.
“Joe, kita ini sahabatmu, kau tidak usah khawatir. Pergi dan carilah Limbad. Kami akan menjaga Gabriel.” sahut Rain. “Joe, ini untukmu, untuk berjaga-jaga.” kata Abu sambil melempar pistol dan Joe menangkapnya. Joe terdiam. “Baiklah, terima kasih banyak sobat. Kalau ada apa-apa, telpon aku!” ujarnya.
Joe kemudian keluar dari kamar Gabriel. Ia kemudian masuk ke ruang operasi. Mengherankan, kamar operasi yang sudah acak-acakan itu sunyi sekali. Joe mengeluarkan pistolnya, berjaga-jaga. “Darko?” bisiknya. “Angel?”
Joe terus melangkah mencari-cari Dr Darko dan Angel. Sampai akhirnya…
“Mereka baik-baik saja.” Ujar suara perlahan yang dingin. Joe membalik perlahan.
Angel sedang ditodong dengan pistol di bagian kepalanya oleh Limbad. Di samping mereka ada Dr. Darko yang masih diperban sana sini. “Turunkan.” kata Joe pelan. Limbad tak bergerak. Angel berkeringat saking takutnya.
“Aku bilang, turunkan! Kau tuli ya?” kata Joe setengah berteriak. “Well, well, well… Mr Joe, hebat sekali kau. Kau kira aku akan begitu saja menyerahkan tulang sumsumku dan menolong putramu?” ujar Limbad diiringi tawa menyeramkan.
“Ayolah, Mr. Limbad! Angel tak ada hubungannya! Akan mendapat untung apa kau jika membunuhnya? Akan mendapat untung apa kau dengan membuat kekacauan disini?” sengal Joe. “Aku mendapat kepuasan sendiri,” sahut Limbad perlahan. “Aku akan berhenti membuat kekacauan jika kau menyuruh temanmu untuk membebaskan aku tanpa syarat. Dan aku akan mendonorkan tulangku untuk anakmu.”
“Tapi, aku tidak punya wewenang untuk itu! Kau gila!!” jerit Joe. Ia tak habis pikir. Benar-benar membingungkan. Jika ia menembak Limbad sekarang, maka ia sama saja membunuh Gabriel. “Kalau begitu kau tak memberiku pilihan.” Kata Limbad. Ia akan menarik pelatuk pistol itu ketika tiba-tiba……..wussss!! Dua orang masuk ke ruang operasi dan menendang Limbad. Limbad terkejut.Pistol pun terjatuh dari tangan Limbad. Joe kaget. Siapa mereka? Oh, ternyata Rom dan Sam!
“Rom? Sam?” teriak Joe heran. “Sedang apa kalian?” serunya. “Minggir!” jerit Sam. “Rom, bawa Angel dan Darko keluar dari sini!” teriak Sam. Rom langsung membawa Angel dan mendorong Darko yang masih berada di atas tempat tidur. Limbad tidak bisa mencegah mereka kabur, ia masih mengerang kesakitan akibat tendangan Rom dan Sam.
Sam mengacungkan pistolnya ke arah Limbad. Limbad hanya menatapnya. “Lakukan.” Katanya perlahan. “Tembak, dan darahnya akan langsung mengalir.” sambungnya lagi. Tak ada sedikit pun nada ketakutan dalam suaranya.
“Mau apa kau Sam? Mau apa kau?” seru Joe. “Menembaknya.” sahut Sam kalem. “Jangan! Jika kau menembaknya, kau membunuh Gabriel!” teriak Joe. Sam menatapnya keheranan. Di saat lengah, Limbad mengambil plastik berisi cairan infuse yang telah bolong sedikit. Ia kemudian melemparkannya ke Sam. Cairan itu langsung mengenai mata Sam. Sam mengaduh kesakitan.
“SAM!” teriak Joe sambil berusaha memegang Sam yang hendak ambruk. “Kau………” Joe merasa marah sekali, kemudian ia berusaha menembak Limbad di kakinya. Tidak mempan. Limbad berdiri kokoh layaknya Ksatria. Limbad balas menembak. Joe dengan sigap menghindar dan menggeser Sam yang masih mengaduh kesakitan. Tembakan Limbad meleset. Tembakannya memecahkan kaca.
Joe balas melempar gunting operasi yang ada di sebelahnya. Gunting itu hanya mengenai borgol Limbad dan terpelanting jatuh. Di tengah hiruk pikuk itu, 4 orang polisi masuk. “Angkat tangan!” seru salah satu dari mereka. Mereka mencoba menembak Limbad, tapi meleset. Limbad dengan cepat melancarkan tembakan membabi buta. 3 orang polisi itu langsung ambruk. Dengan cepat Limbad keluar dari ruang operasi. Polisi yang tidak terluka berusaha mencegah Limbad kabur tapi gagal.
“Oh.” gumam Joe. “Sam? Sam, kau tidak apa-apa?” tanya Joe. “Mataku.. arggh.. perih!!” rintih Sam. Joe kemudian mengambil sapu tangannya dan mengelap cairan infus yang mengenai wajah Sam. Perlahan-lahan Sam membuka matanya. Polisi yang tidak terluka itu kemudian menatap 3 orang kawannya yang terluka, Sam yang mengucek-ngucek matanya, dan Joe yang masih memegang Sam. Ia menatap dengan tatapan mata yang sangat dingin.
“Berapa banyak lagi orang yang harus menjadi korban agar anakmu bisa selamat?” bisiknya geram ke telinga Joe. Joe tidak bisa menjawab. Ia merasa bersalah. “Kau egois.” Bisik polisi itu lagi. Sam terbatuk. “Aldi, kau jangan menyalahkan dia. Bukan salah Joe!” sahut Sam. “Diam, Sam. Seharusnya kau bisa menangkapnya. Tapi kau malah membiarkan magician itu lolos.” Kata Aldy dingin. Joe tidak berkata apapun. “Joe,” potong Sam. “Kejar Limbad. Atau dia akan membuat lebih banyak orang menjadi korban  lagi.” ujarnya.
            “Tapi, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian!” sahut Joe. “Ada aku.” gumam Aldi. Joe bimbang, tapi akhirnya ia melepaskan Sam. Kemudian ia keluar dari ruang operasi itu. Joe mengambil ponselnya. Ia kemudian menelepon Rain.
            Di kamar Gabriel…
           “Ya?” bisik Rain yang masih terjaga. “Bagaimana Gabriel, Rain?” Tanya Joe sambil terus berjalan. Rain menoleh ke Gabriel. “Tidak baik, Joe. Ia sedikit mimisan tadi. Kau baik-baik saja? Kau sudah menemukan Limbad?” bisiknya. “Ya, tadi dia melukai 3 orang polisi. Sekarang dia kabur lagi.” sahut Joe. “Rain, tolong beri Gabriel obat yang ada di tas ranselnya. Tasnya ada di kursi sebelah tempat tidurnya.” Sambung Joe lagi.
          “Baiklah sobat. Jaga dirimu baik-baik.” Kata Rain, kemudian ia menutup teleponnya. Gabriel terbangun. “Om Rain? Apakah tadi Papa yang menelepon?” tanyanya. “Ya Gabriel. Tetap berbaringlah nak.” Sahut Rain. “Mana Papa?? Om, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Gabriel lagi. Rain kemudian mengambil obat yang ada di tas ransel Gabriel. “Minum ini, Nak. Papamu menyuruh Om untuk meminumkan obat ini.” Jawab Rain.
Gabriel menurut. Ia meminum obat itu. “Om belum jawab pertanyaanku. Ada apa? Kenapa Papa tidak datang juga? Apa mereka membatalkan operasi aku, om?” tanya Gabriel. “Tidak Gabriel. Sebentar lagi ayahmu akan datang………” perkataan Rain terpotong. Dreet!! Tiba-tiba semua lampu rumah sakit padam. Semuanya menjadi gelap. “Ya ampun, apalagi ini?” bisik Rain. “Kenapa semuanya menjadi gelap, om Rain??” kata Gabriel.
“Entahlah. Mungkin listrik padam.” Jawab Rain. Ia kemudian membangunkan Abu yang masih tertidur. “Abu.. abu! Bangun lampu padam.” Katanya sambil menggoncang badan Abu. “Heh? Ada apa ini?” kata Abu terbangun. “Entahlah,tiba-tiba saja lampu padam.” Jawab Rain. Rain kemudian menelepon Joe kembali.
        Di dekat ruang operasi…
       “Joe, masuk, Joe!” bisik Rain. “Ya, ya Rain?” jawab Joe, masih sambil mengacungkan pistolnya. “Disini mati lampu, Joe. Bagaimana ini?” bisik Rain. “Disini juga mati lampu, Rain. Bawa Gabriel ke ruang rawat dengan generator, di lantai atas. Dia tidak mungkin bertahan dengan listrik mati.” bisik Joe. “Baiklah Joe.” ujar Rain. “Abu, Gabriel, Joe menyuruh kita ke ruang rawat di lantai atas. Di sana ada generatornya. Ayo.” Ajak Rain. Mereka pun bersiap-siap. Abu mendorong tempat tidur Gabriel. Joe masih melangkah pelan. “Untung aku selalu membawa senter” gumamnya kepada dirinya sendiri. Ia mengeluarkan senter dari saku celananya. “Mana kau? Buktikan merahmu, Limbad!” kata Joe geram. Tidak ada tanda-tanda apapun di sepanjang lorong itu. Sepi, layaknya sebuah terowongan gelap. Joe terus mengarahkan senter & pistolnya, ketika sebuah suara langkah kaki tiba-tiba terdengar…
            Joe mencoba mencari sumber suara langkah kaki tersebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Senter terus ia arahkan sambil melangkah perlahan. Tak ada tanda-tanda pemilik langkah kaki tersebut. Joe kemudian mengarahkan senternya ke lantai. Tidak ada jejak darah. Kemana makhluk itu pergi? Pikirnya dalam hati. Joe terus melangkah di tengah kegelapan......... Suara langkah kaki itu tak terdengar lagi. Tak ada siapapun disana. ”Halo halo bandung...” panggil Joe. Tapi, benar-benar tak ada orang. Joe merasa jantungnya berpacu. Bagaimana Gabriel, Abu, Rain, Darko, Angel, Rom, Aldi dan Sam?? Apakah mereka baik-baik saja?? Joe mengambil ponselnya, hendak menelepon Rain. Tapi, malang, sinyal tak ada! ”Oh bagus sekali.” ucap Joe kesal. Selama beberapa menit, tidak ada suara apapun. Yang terdengar hanyalah suara angin yang berhembus memecah keheningan dan menyebabkan jendela yang terbuka menjadi tertutup. Suara langkah kaki kembali terdengar. Kali ini suaranya jauh lebih kencang dari yang pertama.
“Siapa disana?” tanya Joe. Tak ada yang menjawab. BLETAK! Tiba-tiba Joe merasakan sakit luar biasa di tengkuknya. Ia merasa tengkuknya dipukul oleh ikat pinggang. Joe langsung roboh. ”Siapa kau??” teriaknya. Ia langsung menyalakan senternya.
              Ternyata, yang memukulnya adalah Abu. ”Joe?? Ya ampun! Maafkan aku!” kata Abu ngeri. Joe mendelik. ”Kau mau membunuhku?” teriaknya. “Maaf sekali Joe! Kupikir kau Limbad! Gelap! ” kata Abu sambil mengulurkan tangannya. ”Ya, ya. Yang jelas aku rajin potong rambut.” kata Joe, menyambut tangan Abu. “Kenapa kau disini? Kenapa kau tidak bersama Rain dan Gabriel?” tanyanya lagi.
             ”Justru itu Joe! Aku kehilangan mereka! Tadi terdengar suara kaca pecah, dan Rain menjerit, tapi, aku kehilangan mereka! Kita terpisah!” sahut Abu panik. ”Apa??? Ya ampun, bagaimana jika Rain terluka??’ sengal Joe. ”Entahlah, aku tak tahu,” gumam Abu. ”Mari, lewat sini, ” kata Joe tersengal. Gelap sekali di rumah sakit. Joe terus menyalakan senternya. ”Aku tidak tahu jalan. Di ruang apa sih kita?” gumam Joe seperti berbicara kepada dirinya sendiri. ”Entahlah,” sahut Abu. Mereka terus berjalan menyusuri lorong yang panjang itu. Mereka berdua terus melangkah sampai...
           ”Awww!” Gedubrak! Abu jatuh terpeleset. Joe kaget. ”Abu! Hati-hati dong! Jalan lihat-lihat!” kata Joe. ”Ya, mana aku bisa melihat kalau gelap begini?” sahut Abu sewot. Joe mengarahkan senternya ke lantai. ”Tunggu,” gumamnya. Darah. Ya, darah! Joe mencolek darah tersebut. “Limbad.” bisiknya. Darah itu kelihatan berceceran. Joe terus menyinari darah tersebut dengan senter, ketika tiba-tiba ia menemukan... sebuah sendal! “Gabriel!” kata Joe panik. Sendal Gabriel ada di jejak darah Limbad! “Joe, kenapa Joe?” tanya Abu cemas.
           “Lihat ini! Sendal Gabriel ada di jejak darah Limbad! Argh! Gabriel diculik olehnya!” kata Joe dengan amat panik. Abu menelan ludah. ”Tenang, kawan! Gabriel akan baik-baik saja!” ujarnya. ”Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lagi. ”Kita ikuti jejak darah ini,” gumam Joe. ”Lewat sini.” Mereka berbelok ke arah kanan...


           Sementara itu, di dekat kamar mayat...
Gabriel tak henti-hentinya menatap Limbad dengan kebencian. Ia terus menatap Rain, Aldi, Rom, Sam, yang tergeletak pingsan, dan Darko serta Angel yang diikat di kursi dan ditutup mulutnya. ”Mengapa kau melukai mereka?? Mereka kan tidak punya salah kepadamu!” kata Gabriel tegas. ”Diam kau, kutu kecil.” sahut Limbad. ”Dr. Darko sedang terluka! Dan suster Angel perempuan! Orang-orang selalu berkata betapa jahatnya kau, dan sekarang aku yakin sekali!” teriak Gabriel.
           Suster Angel menggelengkan kepalanya, berusaha memberi tahu agar Gabriel tidak melawan Limbad. Limbad hanya tersenyum sambil mengarahkan pistolnya ke arah leher Gabriel. ”Kau lebih hebat dari pada yang kupikir, anak Einstein.” katanya. ”Jika kau tidak mau mendonorkan tulangmu untukku, kenapa tidak kau bilang dari awal? Kau tidak perlu membuat rusuh disini!” kata Gabriel geram. ”Oh ya?? Ingin tahu apa jawabannya, Einstein?” kata Limbad, hidungnya semakin dekat dengan hidung Gabriel. ”Nyaris sisa hidupku, dan keluargaku dihabiskan di penjara.” ujarnya. ”Lalu?” tantang Gabriel. ”Dan, ketika sahabat ayahmu yang bodoh itu mengatakan soal pengoperasian tulang sumsum ini, aku merasa inilah saatnya aku bebas.” kata Limbad. ”Sinting. Apa hubungannya dengan ayahku?” kata Gabriel.
          Limbad tertawa seram. "Aku sudah merencanakan ini sejak ayahmu datang dan membicarakan soal tulang sumsummu. Kau pikir kenapa aku mengiyakan untuk mendonorkan tulangku ke tulangmu? Di rumah sakit ini mereka menyembunyikan obat dan kunci. Jika aku meminum obat itu, aku akan menjadi sangat sakti, tidak akan terluka. Dan kunci itu akan mengeluarkan keluargaku dari penjara. Maka aku menyetujui untuk mendonorkan tulangku, sehingga mereka membawaku ke sini.” seringai Limbad. Gabriel mencibir. ”Kenapa kau tidak datang dari dulu saja? Pengecut! Lagipula dari mana kau tahu, bahwa obat dan kunci itu ada disini? Untuk apa mereka menyimpan kunci di dalam rumah sakit?” ucap Gabriel dengki.
Limbad kembali tertawa. ”Anak bodoh. Kekuatanku melemah semenjak di penjara. Aku masih kuat, tapi tidak sekuat dulu. Kurasa aku akan menjadi gila di penjara itu. Tapi aku tidak tidur. Sam dan Rom, polisi bodoh itu sering membicarakan obat karya Master Deddy Cobuzier dan kunci yang ada di rumah sakit ini. Walaupun mereka membicarakannya pelan dan dari jarak jauh, tapi, aku tetap bisa mendengarnya. Tentu Abu tidak tahu mereka sering membicarakannya. Bodohnya, mereka sendiri yang membawaku kesini.” kata Limbad panjang lebar. ”Mereka pikir aman menaruh kunci dan obat itu disini. Mereka bilang ini rumah sakit yang paling aman.” sambungnya. Gabriel menatapnya tak percaya. Jadi ini semua karena kecerobohan Rom dan Sam?? Gabriel menatap Rom dan Sam yang masih tergeletak pingsan. Kalau papa, tahu.. pikir Gabriel.
 ”Tapi, tetap saja, tidak ada hubungannya dengan aku dan ayahku!” ujar Gabriel lagi. ”Jika kau menginginkan obat dan kunci itu, kau bisa melakukannya sendiri kan? Mengapa harus membawa-bawa aku, ayahku, dan teman-teman ayahku?” kata Gabriel serak. ”Disitulah permainan ini dimulai. Teman-teman ayahmu mencoba membunuh aku. Aku tidak terima. Dan, ayahmu bisa kujadikan boneka. Pasti ia akan mau mengambilkan obat dan kunci itu jika taruhannya adalah kau.” jawab Limbad, mendekatkan hidungnya ke Gabriel. Gabriel hanya bisa menelan ludah. ”Ayahku tidak tahu menahu soal obat dan kunci itu!” seru Gabriel. ”Ya. Tapi sahabatnya tahu. Aku yakin mereka sedang bersama saat ini.” kata Limbad, matanya berkilat mengerikan.
           Limbad mengangkat dagu Gabriel. ”Kalau begitu, kau peralat saja om Abu! Atau om Rom! Atau om Sam! Kan mereka yang tahu soal obat dan kunci itu!” seru Gabriel lagi. ”Tidak.” kata Limbad. ”Aku tidak mau mempermainkan polisi seperti mereka. Tidak menarik. Aku ingin bertarung sesama magician. Aku sering mendengar Abu mengatakan bahwa ayahmu magician yang hebat.” ujarnya. ”Kau jahat...! Padahal kau belum lama mengenal ayahku. Lalu setelah ayahku berhasil menemukan obat itu apakah kau akan mendonorkan tulangmu?” cibir Gabriel.
Limbad mendengus. "Kita lihat nanti." jawabnya. "Seharusnya ayahku tidak langsung mempercayaimu!" gerutu Gabriel. Limbad menatap Gabriel tajam-tajam. ”Berikan nomor telepon ayahmu.” bisiknya.
           Di tempat Joe dan Abu...
           Mereka terus berjalan menyusuri lantai yang telah dipenuhi genangan darah tersebut. Nafas Abu mulai tersengal-sengal. “Joe, pelan-pelan Joe!” kata Abu. Joe tidak mendengarkan. Pikirannya berpacu. Ya Tuhan, bagaimana jika Gabriel telah tergeletak tak bernyawa?? Jejak darah itu terus mereka ikuti, walau tidak begitu jelas juntrungannya. Joe hampir menyerah. “Apa ini?” kernyit Joe saat melihat dirinya menginjak sesuatu yang lengket. “Lilin?” kata Joe heran. Siapa yang menyalakan lilin disini? Ujung lilin itu masih sedikit menyala. Joe merasa perasaannya tiba-tiba tidak enak. “Lewat sini,” perintahnya kepada Abu. Mereka kemudian berbelok. Dan... ruangan itu terang sekali... ternyata... terang karena api!
”Oh Tuhan!” jerit Joe. Ia tidak bisa melihat apa-apa lagi selain api yang sudah menjalar kemana-mana. ”LARI, ABU! LARI!!!!!!!!!!!!” teriak Joe. Mereka berdua pun lari dikejar-kejar api yang menjalar. Tiba-tiba, salah satu kayu dari langit-langit rumah sakit jatuh dan hampir menimpa Joe. ”Joe! Awas!” jerit Abu sambil mendorong Joe ke pinggir. Kayu itu menimpa kaki Abu. Abu menjerit kesakitan. Api terus menjalar. ”Abu!” jerit Joe. ”Kau tidak apa-apa?” serunya. Api terus menjalar makin cepat. Joe merasa bagian depan kemejanya sedikit terbakar. Api itu semakin dekat menjalar ke Abu..
.        ”JOE! PADAMKAN JOE!” teriak Abu. ”Ya, tentu saja! Tapi tidak ada air!” Joe balas berteriak. “KAU GILA????????” jerit Abu. “KAU MAGICIAN APA BUKAN?” teriaknya lagi. “Oh ya, benar!” kata Joe. Besi, pikirnya putus asa. Aku perlu besi, besi!!! Jeritnya dalam hati.Joe kemudian melihat Jendela yang berteralis. Dengan segala kemampuannya, ia mematahkan salah satu teralis jendela tersebut.. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Joe mengetuk-ngetukkan jarinya ke besi dari teralis jendela itu. Namun yang keluar adalah…
            “Bebek???” kata Abu keheranan. Joe tertegun. Kenapa bisa bebek-bebek itu yang keluar?? Bebek-bebek itu menari-nari dan berkwak kwak kegirangan. “Joe, konsentrasi, Joe!” pinta Abu lemas. Joe memejamkan matanya. Ia kembali mengetuk-ngetukkan jarinya ke besi tersebut. BYURR!! Pancuran air mengalir dari ujung besi itu. Seperti selang, Joe memadamkan api tersebut menggunakan besi itu. Tapi air tersebut terlalu kecil. Api masih terus menjalar. Joe terus menyemburkan air dari besinya. Namun lama kelamaan air tersebut habis. “Ya ampun!” Api terus menjalar, mendekati Abu. Joe terus mengetukkan jarinya ke besi, dan akhirnya air yang menyembur keluar lebih besar. Perlahan lahan api mulai mengecil, sampai akhirnya benar-benar padam. Joe langsung menyingkirkan kayu dari kaki Abu. “Tak ada, air, “ gumam Abu. “Ada-ada saja.”
          “Sudahlah, yang penting kita sudah lolos dari maut,” sahut Joe kesal. “Kau tidak apa-apa? Kau bisa berjalan?” “Cuma terkilir sedikit,” gerutu Abu sambil mencoba berdiri. “Dari mana…” sambungnya. “Dari mana api itu berasal , Joe..?” “Kurasa dari lilin yang masih menyala tadi. Apinya akhirnya membesar. Tidak cuma 1 lilin tadi, tapi ada beberapa.” Balas Joe sambil tersengal-sengal. “Tapi siapa Joe yang begitu ceroboh menyalakan lilin dan menjatuhkannya?” tanya Abu lagi.  “Entahlah. Ku rasa para perawat yang sedang kebingungan mencari jalan.” Kata Joe. “Dan bebek tadi….” Kata Abu. “Bagaimana bisa kau mengeluarkan bebek??” Joe mendelik. “Mungkin karena aku ingin makan bebek panggang.” gumamnya sebal.
Abu tertawa lemah. “Ayo.” Kata Joe. Mereka akhirnya menemukan sebuah pintu. Pintu besi berkarat yang dipasang rantai di depannya. “Kau tahu pintu ini tembus kemana, Joe? Bagaimana jika kita salah jalan?” tanya Abu, menggigil kedinginan.
            Joe mengutak-atik pintu itu. Ia berusaha melepaskan rantainya. Terlalu kuat. “Aku tidak tahu, Abu. Mungkin tembus ke kamar mayat atau semacamnya. “ kata Joe. “Oh ayo, bukalah!” Joe menendang pintu itu keras-keras. Namun dia tidak mendapat apapun selain jempolnya menjadi sakit sekali. Abu susah payah menahan tawa. “Tidak ada jalan lain kah?” kata Abu, memandang sekeliling yang gelap. “Kau lihat kan tak ada pintu yang lain lagi. Kita tersesat.” keluh Joe. Abu dan Joe sama-sama memandangi pintu itu. Berdebu.
         “Hey lihat,” kata Abu. “Ada tulisannya.” Joe mengelap pintu yang berdebu itu. Ia mengarahkan senternya. Lama-lama tampak tulisan yang ada di pintu tersebut. Joe dan Abu bersama-sama membacanya. “Jika kau masuk, kau ada di 2 pilihan, kesenangan seumur hidup atau mati.” Joe dan Abu saling bertukar pandang. Sungguh aneh. Kenapa di sebuah rumah sakit ada pintu dengan tulisan seperti itu? Pikir Joe. Abu menelan ludah. Tentu ia mengetahui apa maksud dari tulisan itu.
          “Joe, sebaiknya kita pergi dari sini.” Kata Abu sambil menarik lengan Joe. “Pergi? Jika kita pergi, mau kemana?” tanya Joe. “Kau lihat! Jalan buntu dimana-mana!” bisik Joe. Abu merasa cemas. Joe sama sekali tidak tahu tentang batu dan kunci itu… “Aku serius Joe. Sama saja kita bunuh diri jika masuk.” Kata Abu. Joe pura-pura tidak mendengarkan. Ia berusaha mencerna apa yang dimaksud dengan tulisan itu. “Bagaimana cara membukanya? Dan maksud dari tulisan ini apa??” bisik Joe. Abu mendadak gemetaran. Ia harus memberitahu sahabatnya itu…
           “Joe, aku tahu maksud dari tulisan ini.” Gumamnya. Joe tercengang. “Mereka pasti menyimpan obat dan kunci itu disini….” Sambung Abu seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Obat?? Kunci?? Bicara apa sih kau?” tanya Joe tak sabar sambil mengetukkan besi yang masih ia pegang kepada rantai pintu tersebut. Sebelum Abu menjawab, pintu menjeblak terbuka. Abu dan Joe melangkah masuk. Lembab sekali di dalam. Langit-langitnya penuh dengan sarang laba-laba. Bau lumut menusuk hidung. “Kau belum jawab pertanyaan aku, Abu. Obat dan Kunci apakah yang engkau maksud?” tanya Joe.
             Abu menghela nafas. “Obat sakti. Yang diciptakan Master Deddy Cobuzier. Obat itu akan membuat peminumnya menjadi magician yang tak terkalahkan. Tapi, dia membuat obat itu dalam 2 botol, yang satu obat asli dan yang satu obat palsu. Obat yang palsu akan membuat peminumnya menjadi seperti patung, tidak punya ekspresi, dan mau disuruh melakukan apapun.Dan kunci itu adalah kunci utama yang bisa membebaskan seluruh magician hitam yang telah dipenjara.”Joe tercengang. “Lalu untuk apa dia menyimpannya ke rumah sakit ini?” tanyanya mengernyit. Pikirannya masih dipenuhi oleh Gabriel.
             “Obat itu telah disalahgunakan oleh magician hitam. Mereka menjadi kuat setelah meminum obat itu...kalangan magician putih berusaha merebut obat itu dari kalangan magician hitam..sungguh mengerikan.. Pertempuran.. Nyawa melayang dimana-mana.” kata Abu. “Apakah yang kau maksud kerusuhan di kota Tegal itu?” tanya Joe sambil memegangi dadanya. “Ya,” bisik Abu. “Tapi akhirnya Master Deddy berhasil merebut obat itu kembali. Dia menitipkannya kepada Ayahku. Ayahku teman lama dia. Ayahku menaruhnya disini, di rumah sakit ini.”
            Joe merasa ada tangan tak kelihatan menampar pipinya. “Limbad...” kata Joe. “Apa?” tanya Abu. “Mungkinkah Limbad terus bertahan disini agar mendapatkan obat pembawa bencana itu?” tanya Joe. Joe menatapnya. Ia sama sekali tidak perduli soal obat dan kunci itu.. yang dia pikirkan adalah bagaimana Gabriel.. “Kalau begitu, kenapa manusia itu tetap bertahan disini? Seharusnya dia dengan mudah pergi jauh-jauh dari sini jika tak ingin mendonorkan tulangnya untuk Gabriel.” tanya Joe lagi.
           “Entahlah. Soal itu aku tidak tahu.” Kata Abu. Joe kemudian mengecek ponselnya. Ah, sinyal masih tidak ada. Dalam hati ia berharap menemukan Gabriel masih tersenyum dengan piamanya. “Ugh, bau sekali.” Joe menutup hidung. Mereka terus berjalan.... Suara tetes air memecah keheningan malam. Mereka terus melangkah... sampai akhirnya terdengar suara pintu berderit.
“Joe.. kau dengar itu??” tanya Abu. “Ya..ya.. waspadalah.. Tetap di belakangku.” kata Joe. “Berjaga-jaga jika ada orang masuk.” “Joe, bagaimana jika kita kembali ke pintu masuk tadi? Perasaanku tidak enak.” Bisik Abu. “Kau tahu,” sahut Joe. “Kadang-kadang kau pintar juga.” Mereka kemudian mencoba berbalik ke pintu masuk.. Pintu itu telah dirantai kembali. “Oh.” gumam Joe. Ia mengetukkan besinya kembali. Pintu itu tak bergeming. Tidak menyerah, Joe berusaha menembaknya dengan pistolnya. Tetap tidak bergeming. “Kurasa kita harus terus, Abu.” Kata Joe lemah.
             Di tempat Gabriel...
             Limbad mengeluarkan bola kristal dari sakunya. “Warisan dari ayahku.. Magician yang hebat.. akan terus dikenang sepanjang masa..” gumamnya. “Kau lihat ini?” Gabriel mencibir. “Itu hanya bola kaca bodoh, kalau jatuh juga akan pecah.” Kata Gabriel meremehkan. Limbad tertawa. “Bodoh. Kita akan segera menemukan di mana ayahmu yang hebat.” katanya.
             Limbad kemudian memejamkan matanya dan menaruh tangannya di atas bola kristal itu. Muncul bayangan Joe dan Abu di dalam bola itu, yang sedang tertatih-tatih mencoba mencari jalan keluar. “Ah ya. Kelihatannya ayahmu sedang berada di ruangan tempat obat itu disimpan. Pintu berantai, tentu saja.” Katanya. Matanya berkilat. “Lebih cepat dari dugaanku.” gumamnya. Gabriel memandang bola itu dengan ngeri.. Papa.. cepatlah keluar dari sana.. batinnya putus asa. Rom, Sam, Aldi, dan Rain masih pingsan. Dr. Darko serta Angel juga memandang bola kristal itu dengan ngeri.
            Limbad tak memperhatikan bahwa Dr Darko mengambil pecahan kaca ketika ia menyerang mereka semua. Dr. Darko dengan tenang terus mencoba mengiris tali yang mengikatnya. Tangan Dr Darko berdarah kena pecahan kaca. Ia terus mencoba memutuskan tali itu.
Di tempat Abu dan Joe..
         “Lewat sini,” kata Joe, terus berjalan. Namun akhirnya jalan itu buntu... “Oh sial! Kemana arah kita??” kata Joe kesal. Terdengar suara gemuruh... Abu mencengkeram lengan kemeja Joe.. “Joe, suara apa itu...?” tanya Abu takut. “Aku tidak tahu! Tetap berjaga-jaga!” sahut Joe. Suara gemuruh itu semakin dekat.... Mereka bertukar pandang ngeri. Oh! Ada air yang mengalir deras sekali! Abu dan Joe berlari sekencang-kencangnya. Tapi, air itu menyapu mereka dengan sangat cepat. Joe merasa pipinya terbentur dinding. Sakit sekali. Ia mendengar suara BUK yang begitu keras. Sepertinya Abu juga terbentur. Dengan panik tangannya meraba-raba Abu. Dalam hatinya bersyukur, karena Abu masih mengeluarkan denyut nadi. Abu ternyata pingsan. Sial, tadi api, sekarang air, gerutunya.
 Joe berusaha terus berenang sambil membawa Abu. Berat sekali. Berapa sih berat badan dia? gerutu Joe. Panik, Joe berusaha mencari jalan... Ia berdoa.. Merasa putus asa.. Joe merasa mereka akan mati di tempat ini... Konyol.. Kemudian di dalam memorinya terbayang wajah Gabriel..Limbad..Darko..Angel..Rain..Rom..Sam..Aldi.. Joe memejamkan matanya... Kau bodoh Joe.. kalau kau membiarkan dirimu mati konyol disini... Ingat Gabriel... dia masih membutuhkanmu.... bisik suara dalam kepalanya.. Joe membuka matanya... Tak ada jalan... Air semakin meninggi , sampai ke batas dadanya.... Secara tiba-tiba ia menemukan ruangan yang dipenuhi cahaya.. dengan putus asa, ia mencoba berenang ke cahaya itu..
               Di tempat Gabriel..
               Dr. Darko akhirnya berhasil membuka tali yang mengikatnya dengan pecahan kaca tersebut. Ia berusaha tetap tenang. “Ambil saja obat dan kunci itu sendiri... Pengecut. Kalau kau berani, kau akan langsung kesana.” Lagi-lagi Gabriel mencibir. Limbad mendelik. “Aku tidak mau kekuatanku hilang jika masuk ke dalam ruangan itu untuk mengambil obat itu.” Katanya. Gabriel tertawa sinis. “Haha. Kau payah! PAYAH! Ayahku jauh lebih pemberani dari pada kau!” katanya. “Oh ya? Kau bilang aku payah?? Tidakkah kau tahu, berapa nyawa yang telah kumatikan saat memperebutkan obat itu?” seru Limbad, matanya menyala-nyala.
             Gabriel hanya diam. Papa, cepatlah kemari... batinnya.. Tiba-tiba BLAK! Dr. Darko yang masih sedikit lemah, memukul Limbad dengan kursinya. Limbad terjatuh pingsan. Gabriel menjerit tertahan. Dr Darko langsung membuka tali yang mengikat Angel. “Pergilah Gabriel, Angel! Aku harus membangunkan mereka! Carilah Joe dan Abu, cepat!!” seru Darko. Angel langsung meringis. “Darko, kau masih terluka!! Bagaimana jika dia terbangun?” kata Angel ngeri sambil menunjuk ke Limbad yang masih pingsan. “Sudah... pergi saja! Aku akan baik-baik saja!” sahut Darko. Angel tidak mau berdebat. Ia langsung menggendong Gabriel dan membawanya pergi.
Darko berusaha membangunkan Aldi, Rom, Sam, dan Rain. Ia menampar pipi mereka sekeras-kerasnya. Mereka semua akhirnya bangun. “Darko?? Sebenarnya ada apa? Mana Gabriel? Mana Abu? Kenapa dia?” tanya Rain bertubi-tubi. Sam tampak pucat, mulutnya menganga sedikit. Aldi dan Rom tampak bingung. “Panjang ceritanya. Yang jelas kita harus segera keluar dari sini.” Jawab Darko. “Ayo! Kita harus mencari Abu dan Joe!” “Tapi, Gabriel...? Dimana dia?” tanya Rom panik. “Ia bersama Angel. Ayo!” perintah Darko. Mereka pun melangkah keluar.

            Di tempat Joe....
             Joe tidak peduli cahaya yang muncul itu apa, yang dia tahu, dia harus menggapai ruangan yang penuh dengan cahaya itu... Agar selamat dari maut... Joe terus berusaha menggerakkan kakinya.. Walau kakinya terasa sakit sekali dan matanya berkunang-kunang.... Dengan satu hentakan, Joe langsung menggapai ruangan itu. Ia tak ingat apa-apa lagi, tiba-tiba saja ruangan itu tertutup. Joe berusaha mencerna ruangan apakah itu?? Penuh dengan sinar cahaya berwarna putih.. Silau sekali. Joe melepaskan pegangannya dari Abu. Joe mengetuk-ngetukan jarinya kembali ke besi yang ia pegang. Air langsung muncrat dari ujung besi itu. Joe menyemburkannya ke muka Abu. Abu terbatuk dan bangun.
            “Tidakkah kau bisa membangunkanku dengan cara yang lebih halus?” kata Abu sambil menyeka mukanya. Joe tersenyum. “Lihat... cahaya di mana-mana.” kata Joe. Abu menengadah. “Ya, cahaya. Masalahnya kita akan keluar dari sini atau tidak?” sambungnya. Joe berpikir keras. Kelihatannya ruangan itu panjang sekali dan tak berujung. “Betul-betul hebat, bisa-bisanya kita berdua nyasar disini.” Kata Joe. “Bagaimana kalau kita jalan saja? Pasti ruangan ini ada ujungnya.” usul Abu. Joe mengangguk. Mereka berjalan, tidak ada apa-apa di ruangan itu selain cahaya.
             Sementara itu, Darko, Rom, Sam, Aldi masih terus mencari Joe dan Abu. Mereka terus melangkah ditemani pistol di tangan.. Mereka terus berjalan, harap-harap cemas akan kondisi Joe, Gabriel, Angel, dan Abu... “Hey lihat! Ada yang berkilau,” kata Abu. Joe menoleh. “Apa itu?” tanyanya. Abu membuka plastik berkilau itu... terdapat 2 botol kecil dan sebuah kunci...
“Joe! Joe! Ini obat itu!” kata Abu. “Oh ya?” tanya Joe tak tertarik, ia masih menerka-nerka kemana mereka akan keluar. “Sebaiknya dibawa saja,” kata Abu. Ia memasukkan obat dan kunci itu ke dalam sakunya. “Terserah kau,” kata Joe tanpa menoleh sedikitpun ke Abu. Joe mengetuk-ngetukkan jarinya ke dinding. Seakan-akan ia bisa menemukan jalan keluar jika mengetuk-ngetukkan jarinya.
         Joe menemukan bagian dinding yang retak... Dengan iseng ia mengetukkan besinya ke dinding itu. Bagian retak dinding itu membuka. “Masuk,” kata Joe. “Sepertinya kita bisa keluar dari sini.” “Bagaimana jika kita salah memasuki ruangan? Bagaimana jika kita tersesat lebih jauh ?” tanya Abu. “Apa salahnya mencoba?” tanya Joe tak sabar. Abu menyerah. Ia memasuki lubang di dinding itu, tapi kepalanya terbentur. “AW!” katanya. Joe menggeram tak sabar. “Kau tidak sadar kau itu tinggi? Tundukkan kepalamu dong!!” serunya. “Baiklah, baiklah!” jawab Abu. “Pegang obat ini!” ujarnya. Mereka terus berjalan... dan akhirnya Joe sadar mereka telah sampai di halaman rumah sakit. Joe merasa lega, tapi pikirannya masih ke Gabriel dan teman-temannya yang lain. Halaman rumah sakit itu luass sekali. Kemudian Darko, Aldi,Rain, Rom dan Sam muncul. Mereka memekik kegirangan melihat Joe. “Joe!!! Tadi kami menemukan jejak sepatumu, oh syukurlah kau baik-baik saja,” kata Aldi girang. “Ah Joe rupanya kau disini... bagaimana.. kau..menemukan botol itu??” tanya Sam kebingungan.Ia langsung mengenali botol yang dipegang Joe.
          “Tidak penting. Dimana Gabriel dan Angel?” sambar Joe. Darko menggeleng. “Kita kehilangan mereka.” gumamnya. Joe langsung merasa lemas. Tiba-tiba Limbad muncul dari belakang pohon, bersama Gabriel. Limbad menodongkan pistolnya ke leher Gabriel. Joe terkejut bukan main. “Kau! Jauhkan pistol itu dari putraku!” jerit Joe. Limbad tersenyum. “Berikan dulu botol itu dan putramu akan selamat.” “Jika kau menyakiti putraku, aku akan memenggal lehermu!” jerit Joe.
          “Kau tidak ingin ada yang terluka kan?? Gampang saja, berikan botol itu, dan semua akan senang.” kata Limbad tenang. “JOE! JANGAN! JANGAN BERIKAN BOTOL ITU APAPUN ALASANNYA!” teriak Abu. Joe merasa bimbang. Ia tidak punya pilihan… Peduli amat dengan botol ini… Teman-teman, maaf, kata Joe dalam hati, memejamkan matanya. Ia melempar botol itu. Darko menjerit ngeri. “JOE!! APA YANG KAU LAKUKAN??” jerit Sam. Limbad langsung mencoba menangkapnya. Namun Rain lebih cepat. Ia menangkap botol itu terlebih dahulu. Rain tersenyum penuh kemenangan. Namun senyum nya tidak lama, karena Limbad mengeluarkan pancaran sinar putih dari tangannya dan menghantam dada Rain. Joe terpekik ngeri. Rain terpelanting ke atas dan ia terjatuh ke bawah. Ketika terpelanting ke bawah, ekspresi Rain menampakkan keterkejutan. Ia sudah meninggal. Darko menganga ngeri. Limbad kemudian mengambil botol itu. .Joe hendak mengejarnya. Ia tidak akan membiarkan Limbad lolos begitu saja… Namun Darko mencegahnya. “Joe! Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan…” kata Darko sedih. “Kalau kau mengejarnya kau sama saja dengan bunuh diri!” sambung Rom, masih menahan Joe..
           “LEPASKAN, DARKO, ROM!DIA MEMBUNUH RAIN!” teriak Joe sejadi-jadinya. “DIA MEMBUNUHNYA! AKAN KUBUNUH DIA!” Ia tidak memperdulikan apa-apa lagi. “PERGI, PERGI KALIAN! BAWA GABRIEL!!!” seru Joe, tidak menghiraukan suara-suara yang menyuruhnya kembali…
Angin malam mencabik paru-paru Joe. Ia tidak peduli. Yang ia tahu, Limbad tidak boleh lolos… Joe merasakan detak jantungnya berpacu dengan nafasnya. Dia tidak akan membiarkan orang yang telah membunuh sahabatnya lolos begitu saja.. Dia akan meminumkan obat yang palsu ke Limbad…
Joe terhuyung. Sepatunya licin kena darah. Joe mengatur keseimbangannya kembali.. Ia kembali berlari, Joe tidak memikirkan apapun selain mengejar Limbad… Terdengar suara ledakan. Joe menoleh ke belakang dengan ngeri. Ia berusaha tidak mengeluarkan teriakan. Dari jauh tampak Darko, Aldi, Sam dan Rom bertarung dengan 4 sosok berjubah hitam. Sepintas Joe melihat Rom terjengkang ke belakang. Darko tampak menari-nari menghindari sinar berwarna abu-abu itu. Sial! Dari mana 4 magician itu datang?
Joe terus berlari. Jangan sekarang, batinnya putus asa. Jika mereka mati juga, itu semua salahku, batinnya lagi. Bertahanlah teman-temanku… Dasar bodoh, seharusnya aku tidak meninggalkan mereka… Joe terus berlari sampai akhirnya ia tersandung sebuah tubuh yang tergeletak. Ia tidak sempat memeriksa tubuh tersebut… Telinganya menjadi tuli seketika, bunyi pecahan kaca, ledakan, isak tangis dan lolongan ketakutan bercampur menjadi satu….
Dan akhirnya, itu dia! Sosok jubah hitam yang masih berlari. Tanpa pikir panjang Joe langsung mengetukkan tangannya ke besi. Besi itu mengeluarkan sinar putih panas dan menghantam kaki Limbad. Limbad terhuyung dan jatuh.
“Mencoba mengagetkanku, eh?” tantang Limbad. Ia mengeluarkan sinar biru dari tangannya. Sinar itu menghantam tangan Joe. Joe terpelanting ke belakang. Wajahnya membentur tanah, dan ia merasakan darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya. Joe menatap tajam-tajam Limbad dengan penuh kebencian. Kemudian ia kembali mengetukkan jarinya ke besi yang masih ia pegang. Sinar kuning kembali muncul. Limbad menghindar dari sinar itu. Sinar itu menghantam semak-semak dan membakarnya. Api sekarang berkobar di belakang mereka. Limbad kembali mengeluarkan sinar biru. Joe kembali terpelanting ke samping.
“Bunuh saja aku,” bisik Joe dengki. “Bunuh saja aku seperti kau membunuhnya, pengecut, iblis,”
“JANGAN SEBUT AKU SEPERTI ITU!” teriak Limbad,kembali mengeluarkan sinar putih dari tangannya. Joe kembali terpelanting ke samping.
Joe merasakan kemarahan membakar dirinya. Ia balas mengeluarkan sinar kuning dari besi. Sinar itu menghantam tangan Limbad. Limbad meringis kesakitan.
“Itu untuk Rain!” teriak Joe.
Limbad balas menyerang. Sinar biru kembali muncul, menghantam kaca mata Joe. Kaca mata Joe langsung pecah sebelah. Sebelum sempat mengeluarkan kekuatannya lagi, Limbad kembali mengeluarkan sinar dari tangannya. Sinar itu kembali menghantam Joe, dan Joe merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia merasa sekujur tubuhnya seperti ditusuk-tusuk pedang. Joe menjerit sejadi-jadinya. Limbad tampak menikmati permainan itu. Dengan santai ia menjentikkan jarinya. Joe terguling ke belakang.
“Perlu dari sekedar itu untuk habisi aku!” jerit Limbad, kembali menjentikkan jarinya. Joe sekarang menggelepar-gelepar layaknya ikan. Ia merasa tubuhnya seperti dibakar. Joe melolong. Keringat menetes di wajahnya. Jika memang harus seperti ini, jika memang ia harus mati konyol di tangan magician yang baru saja dikenalnya…

Di tempat pertempuran sahabat-sahabat Joe…
Keempat magician itu ternyata adalah sahabat Limbad yang tidak dipenjara. Mereka datang ke sana setelah memenuhi panggilan Limbad melalui kekuatan telepatinya. Magician yang bernama Indra terkekeh. “Kau berbakat jadi penari balet, eh Dokter?” katanya senang sambil terus mengeluarkan sinar abu-abu. Darko terus menghindar. “Kau tidak bisa menari selama-lamanya, eh Dokter,” kekehnya lagi.
Aldi berusaha menembak Indra dengan pistolnya. Tapi pistol itu tidak mempan untuk mereka. Akhirnya peluru pistol itu habis.
Indra terkekeh. “Ya ampun, ini lebih lucu dari yang aku kira.” Katanya. “Kau apakan orang itu, Robert?” kekehnya lagi. Robert, magician yang lain juga sedang bermain-main dengan Aldy. Ia mengacungkan tongkat sihirnya, mengangkat dan membanting Aldy terus-terusan dengan gerakan yang sangat malas.
“Kau tahu, aku paling suka permainan seperti ini,” jawab Robert tenang.
Rom dan Sam pun diserang oleh Michael dan Kevin. Rom bahkan merasa ia sebentar lagi akan encok karena kebanyakan jungkir balik menghindari kutukan Michael dan Kevin. Michael dan Kevin tak henti-hentinya tertawa. “Mari bermain, anak kecil,” kekeh mereka berdua. Mereka terus-terusan mengeluarkan sinar merah dari tongkat sihir mereka. Namun mereka berdua lengah. Mereka terlalu banyak tertawa. Sam dengan sigap menendang kaki Michael,sampai Michael terjatuh dan tongkat sihirnya lepas dari genggamannya. Sam langsung mengajak Rom lari. Mereka berhasil lolos.
“Cepat, cepat!” sengal Rom. “Sekarang dimana Gabriel, Abu, Angel dan Joe??”
“Ku harap mereka hidup,” jawab Sam lemas. Ayo, kita harus menemukan mereka sebelum Limbad menghabisi mereka!” kata Sam sambil meremas-remas tangannya.
Di tempat pertempuran Joe…
“Menyerah kah kau Joe?? Kau sendirian. Aku sudah memanggil sahabat-sahabatku. Mungkin teman-temanmu semua sudah mati.” Kata Limbad, menatap Joe yang masih meringis di tanah. “Kau pengecut,” sengal Joe. “Kau pengecut.” Limbad terkekeh. “Kurasa Gabriel juga sudah mati sekarang.. Anak lemah penyakitan… dan ayah yang bodoh… sungguh kombinasi yang betul-betul hebat…”
Joe merasa marah sekali. Dengan susah payah ia mengambil besinya kembali. Joe terhuyung dan berusaha berdiri. Ia mengetukkan jarinya kembali. Cairan infus keluar dari ujung besi itu. Joe menyemprotnya.
“Jangan sekali-kali kau menghina Gabriel, dasar kau iblis..” seru Joe sambil menyemburkan cairan itu ke mata Limbad. Limbad melolong seperti serigala yang kesakitan. Secara perlahan ia ambruk ke tanah. “Mataku, aku tidak bisa melihat!” serunya. Ia menjatuhkan botol yang ia pegang, dan botol itu pecah seketika.
Joe langsung mengeluarkan botol kecil berisi obat palsu dari sakunya. Ia langsung meminumkan paksa botol itu ke mulut Limbad. Semoga ini obat yang benar..batinnya. Semoga aku tidak salah meminumkannya…
Setelah selesai meminumkan obat itu, Joe menunggu dengan cemas. Limbad tiba-tiba mengeluarkan busa dari mulutnya. Ia menggelepar sedikit, kemudian perlahan-lahan matanya membuka. Tatapan matanya kosong… Dalam hati Joe bersorak. Berarti benar obat yang ada di sakunya adalah obat yang palsu. Joe kemudian memadamkan api yang berkobar.
2 siluet bayangan hitam kemudian muncul. Perlahan-lahan sosok itu semakin jelas. Rom dan Sam. “Joe!” seru mereka. “Joe, ya Tuhan kita benar-benar khawatir…” kata Sam. “Kau berantakan.” Kata Rom, memandang Joe yang kemejanya sudah compang camping disana sini, hidungnya yang berdarah, kacamatanya yang pecah dan bibirnya yang bengkak. “Yang penting aku hidup.” Sahut Joe. “Rom, Sam, dimana yang lain? Aku tadi melihat kalian diserang 4 magician itu.. dari mana mereka muncul?” tanya Joe. “Terlalu panjang ceritanya. Ayo, Darko dan Aldi terus-terusan diserang.” jawab Rom.
“Kita perlu membawa dia.” Kata Joe menunjuk Limbad yang tatapan matanya kosong. “Aku masih perlu tulang sumsumnya.”
Sam menatapnya keheranan. “Bagaimana kau…?” “Aku meminumkan obat yang palsu kepada dia. Beruntung, yang tadi aku lempar betul-betul obat yang asli.” jawab Joe. “Lalu dimana obat yang asli itu?” tanya Rom. “Pecah. Limbad tak sengaja menjatuhkannya ketika ia hendak menyerangku.” gumam Joe. Sam kemudian membantu Limbad bangun. “Kau ikut kami. Tapi tidak perlu dipapah. Paham?” kata Sam.Limbad mengangguk tanpa ekspresi.
“Rom, Sam, siapa lagi yang meninggal?” tanya Joe, berusaha menekan nada getir dalam suaranya. “Tidak usah khawatir. Gabriel, Angel, dan Abu tidak bersama kami. Kurasa mereka bersembunyi.” jawab Sam. Mereka berempat terus melangkah dengan cepat, menyusuri gelapnya malam.. Tampak Darko masih menari-nari, sesekali ia bersembunyi di balik batu taman, tapi batu itu berhasil dihancurkan Indra dan Robert.
Joe geram sekali melihat pemandangan itu. Dengan geram ia mengetukkan kembali jarinya ke besi, besi itu langsung mengeluarkan cahaya dan menyerempet pipi Robert. Robert memekik dan melihat ke arah Joe. “Ya ampun lihat siapa yang datang.” katanya. Kemudian Robert melihat ke Limbad. Ia kelihatan heran.
“Limbad, kenapa kau?” katanya. Sam tertawa getir. “Limbad sudah tidak punya kekuatan! Joe sudah menghilangkan kekuatannya, puas kau Robert?” serunya.
Robert menatap mereka tidak percaya. Dengan geram ia mengacungkan tongkat sihirnya. Joe langsung menangkisnya dengan besi. Ia berusaha keras menahan cahaya putih itu… Tidak, pikirnya putus asa.. tidak boleh ada yang mati lagi…
Rom dan Sam langsung menyerang Indra. Indra yang masih bermain-main dengan Darko, kaget dan terjatuh. Tongkat sihirnya melayang jauh. Sesosok tangan menangkap tongkat itu, entah siapa…
Joe merasakan dia tidak bisa menangkis serangan Robert lebih lama lagi. Jari-jarinya mulai terasa licin. Oh, coba keajaiban terjadi, batinnya putus asa..
Sebuah cahaya putih abu-abu kemudian melewati mereka secara tiba-tiba. Cahaya itu langsung menghantam dada Robert. Robert terpelanting. Matanya membelalak dan mulutnya menganga ngeri.
Joe menoleh. Siapakah yang menolongnya? Ia tidak bisa mengenali sosok tinggi itu. Matanya kabur sekarang. Kemudian ia mengenal suara yang sudah sangat dikenalnya. “Joe, joe! Kau tidak apa-apa kan? Kulihat mereka menyerang yang lain.”kata Abu. Joe terengah. “Dimana.. Gabriel dan Angel..?” tanyanya.
“Mereka ada di balik pohon itu. Aku menyembunyikan mereka.” Kata Abu.
“Abu, Limbad membunuh Rain. Dan sekarang keempat sahabatnya menyerang Darko, Aldi, Rom, dan Sam.” Kata Joe.
Abu meringis ngeri. “Dan dimana Limbad sekarang?” tanyanya. “Kekuatannya hilang. Aku berhasil meminumkan obat yang palsu.” Jawab Joe. Tiba-tiba ia sadar. “Tadi.. siapa yang membunuh Robert?” tanyanya. “Tak ada orang lain.”
Joe mengucek matanya. Ia melihat Abu masih memegang tongkat sihir.
“Kau? Bagaimana.. tapi…” Joe tergagap dan menunjuk tongkat sihir yang dipegang Abu. “Ya, kurasa aku hanya perlu sedikit latihan.” jawab Abu santai.
”Tapi kenapa kau tidak bisa memadamkan api waktu kita di dalam?” todong Joe.
Abu tertawa malu. ”Aku hanya bisa melakukan magic menggunakan tongkat sihir.” jawabnya. Joe memandangnya. Abu, sahabat karibnya yang ia kenal sebagai polisi, adalah seorang magician juga?
Mereka sampai di pertempuran Indra, Michael, Kevin, Rom, Sam, Aldy dan Darko. Berkali-kali Aldi dihantam ke belakang oleh Michael. Darko pun terus menerus terpelanting dihantam oleh kutukan yang digumamkan Kevin.
Joe dan Abu langsung terjun ke pertempuran itu. Joe langsung memukul kepala Michael yang masih asik mempermainkan Aldi. Michael tidak roboh. Ia langsung mengarahkan tongkatnya kepada Joe. Sinar kembali muncul, Joe dengan sigap merunduk. ”BERIKAN OBAT YANG ASLI ITU SEKARANG!” teriak Michael.
“BODOH KALIAN! OBAT ITU SUDAH TIDAK ADA! SUDAH PECAH!” teriak Joe. ”BOHONG!” jerit Indra. ”Rasakan ini!”
Sinar berseliweran dimana-mana.. Indra melambaikan tongkatnya dengan satu gerakan santai. Sinar merah yang menyilaukan menghantam Joe, Abu, Darko dan Aldi sekaligus. Mereka semua terpelanting ke tanah. Setetes darah mengalir dari mulut Joe.
Joe merebut tongkat sihir dari tangan Abu. Abu masih meringis kesakitan. Joe memejamkan matanya… Sinar putih keluar dari ujung tongkat itu. Sinar putih itu secara mengerikan mengangkat Michael dan Indra secara bersamaan ke atas dengan bunyi ledakan yang memekkakkan telinga. Mereka kembali terpelanting ke bawah. Tapi mereka tidak apa-apa. Wajah Indra sekarang terlihat mengerikan dengan luka baret panjang di pipinya.
“KAU PIKIR KAU BISA MENGALAHKAN KAMI, HAH?” seru Indra. Ia dan Michael mengeluarkan sinar kembali dari tongkat mereka, secara bersamaan. Sinar itu mengeluarkan bunyi gemuruh yang mengerikan, menghantam pohon kecil di dekat mereka. Joe langsung menghindar.
“Busuk, iblis..” serunya. Ia melemparkan batu ke arah Michael. Michael menghindar dengan gesit. “Wah, ada yang mau main lempar-lemparan,” ejeknya.
Tanpa pikir panjang Joe langsung melempar tongkat sihir itu kembali. Abu langung menangkapnya. “Abu, lakukan sesuatu, Abu....” pekik Joe tertahan. “Ya, ya!” seru Abu. Joe tidak bisa melihat apa-apa lagi, sekelilingnya dipenuhi oleh asap.
Abu memejamkan matanya... Ia mengetukkan jari ke tongkat sihir itu... Suara ledakan langsung terdengar. Joe melompat. Ia menutup matanya dengan ngeri.
Sunyi. Tak ada suara apapun.
Perlahan-lahan Joe membuka matanya. Rom, Sam, Aldi, Abu, Darko berdiri mengelilinginya. Joe menoleh ke kiri. Indra, Michael, serta Kevin telah tewas.
Joe perlahan-lahan berdiri. “Pertempuran yang bagus.” Gumamnya. Kelima sahabatnya tersenyum. Gabriel, Angel,dan Limbad muncul dari balik pepohonan. “Papa!” seru Gabriel, melompat ke pelukan Joe. Joe memeluk dan mencium putranya keras-keras. Angel gemetaran dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kau hebat...” kata Angel.
“Belum ada yang menjelaskan... dari mana keempat orang itu muncul?” tanya Joe sambil memegang dahi Gabriel. “Mereka muncul begitu saja ketika kami hendak mengejarmu. Mereka bilang, Limbadlah yang memanggil mereka. Melalui kekuatan telepati atau apalah... Mereka langsung menyerang kami semua. Kami berusaha menahan serangan mereka sampai kau datang, Joe, dan tiba-tiba saja Abu, Angel dan Gabriel menghilang.” Kata Sam sambil menatap Abu. “Aku mencoba melindungi Angel dan Gabriel,bukan karena takut kepada mereka,” gumam Abu.
“Dan ketika Robert menyerangmu dan kami berhasil membuat Indra lengah, aku langsung membawa Limbad. Ku tahu kau membutuhkan tulang sumsumnya.” Kata Sam sambil nyengir. Joe balas tersenyum. Sahabatnya memang sahabat sejati. “Tapi, aku heran, kenapa Limbad bisa mengetahui soal obat itu?” tanya Joe. “Dari mana dia tahu kalau obat itu disimpan disini?”
“Aku tahu.” Kata Gabriel muram. Semua menoleh padanya. “Dia menceritakannya kepadaku di ruang dekat kamar mayat. Ia bilang bahwa ia mendengar percakapan om Rom dan Om Sam.” Kemudian Gabriel menceritakan secara singkat tentang percakapan dia dan Limbad di ruang dekat kamar mayat.
Semua mata beralih kepada Rom dan Sam.
“Ceroboh,” kata Abu tegas. “Kalian tahu bencana apa yang bisa ditimbulkan jika ia berhasil meminum obat itu? Beruntung Joe meminumkan obat yang palsu.”
Rom dan Sam menunduk. Merasa bersalah. “Sudahlah,” kata Joe letih, “Ini bukan saatnya menyidang.” ucapnya. “Sekarang kita harus membawa jenazah Rain,” isak Angel.
Mereka pun melangkah... rumah sakit tersebut sudah benar-benar hancur. Darah, pecahan kaca, berserakan di halaman, kaca rumah sakit pun retak beserta dinding-dindingnya. Mereka sampai di jenazah Rain. Mata nya masih terbuka. Joe langsung menutup mata Rain. Menutup mulutnya dan menyapu darah dari hidung Rain dengan sapu tangannya. Ia kemudian membetulkan posisi tangan Rain.
“Tenanglah dirimu dalam kedamaian, kawan,” bisik Joe. Joe merapikan rambut Rain. Perlahan-lahan air matanya menetes. Joe membuka kacamatanya dan menyeka air matanya. “Kurasa saatnya memanggil polisi,” gumam Joe lelah.
Darko mengeluarkan ponselnya... dan ia menelepon polisi. Tak beberapa lama, polisi berdatangan. Mereka sebagian terkejut melihat kondisi rumah sakit yang kacau balau itu. Polisi langung menginterogasi Joe. Joe yang merasa sangat letih, hanya mampu menceritakannya dengan singkat.
“Papa, aku bangga dengan Papa,” kata Gabriel tiba-tiba. Joe hanya tersenyum.
Darko kemudian menghampiri mereka bersama dengan Limbad. Joe merasa tersentak. “Darko... rumah sakit ini hancur... lalu bagaimana dengan operasi Gabriel?” tanya Joe sambil memencet-mencet lukanya.
Darko tersenyum. “Itu tidak perlu kau khawatirkan. Aku juga bekerja di rumah sakit lain. Kita bisa mengoperasinya disana.” jawabnya. Joe balas tersenyum. Kemudian ia menoleh. Dilihatnya ambulans sedang mengangkat jenazah Rain dan jenazah-jenazah para suster dan tim medis rumah sakit yang terkena kutukan nyasar.
“Dia selalu baik padaku,” bisik Joe. “Dia selalu mengatakan, jika Gabriel sembuh, dia akan mentraktir kami makan sandwich.” Darko terdiam. “Joe.... itu bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu.” Kata Darko, iba melihat Joe yang mendadak kelihatan pucat sekali.
Keesokan harinya..
Joe dan yang lainnya menghadiri pemakaman Rain. Isak tangis merajalela di pemakaman itu, ayah Rain pun mendadak tampak tua sekali. Namun keluarga Rain tidak ada yang menyalahkan Joe. Mereka bahkan merasa berterima kasih sekali Joe mau membawa jenazah Rain pulang.
Joe hanya sedikit menitikkan air mata. Sahabatnya, telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.. Masih terbayang dalam benaknya bagaimana Rain berusaha menangkap botol itu.. dan ekspresi keterkejutannya... Gabriel yang menggelayut di lengannya pun menangis. Ketika jenazah selesai dikuburkan, Joe langsung pergi. Ia kemudian melewati taman dimana ia dan Rain bercanda dan ketika Rain meledek Joe menduda terus dulu. Perlahan-lahan air matanya mengalir, dan Joe terus berjalan sambil menyeka matanya.
Dua hari kemudian, akhirnya Limbad dan Gabriel akan melaksanakan operasi. Limbad benar-benar seperti patung, tidak ada ekspresi dan tidak berbicara. Joe, Rom, Abu, Aldi, dan Sam terus-terusan mondar mandir karena khawatir. Selama 4 jam operasi, Joe tidak duduk.
Sampai akhirnya Darko keluar dan tersenyum. “Sukses.” Katanya. Joe berbinar kegirangan. Kelegaan tampak di wajah Rom, Abu, dan Aldi.
Setelah selesai operasi, Gabriel dibawa ke ruang rawat. Joe langsung masuk ke ruang rawat itu. Gabriel tersenyum. Joe langsung mencium putra semata wayangnya itu. Gabriel benar-benar sembuh.
Darko dan Joe kemudian berbicara. “Bagaimana dengan Limbad?” bisik Joe.
“Tenang, Joe, dia akan kami simpan di ruang sakit jiwa,” kata Darko terkikik.
Joe terkekeh. “Ada-ada saja.”
Berita soal Joe yang menumpas para magician hitam itu langsung tersebar luas. Koran dan majalah bahkan memberitakan ini nyaris setiap hari. Seluruh penduduk mengelu-elukannya. Ketika membawa Gabriel pulang, ia disambut bak pahlawan. Walikota Kota Bandung pun sepakat menganugerahinya gelar “Master Joe.” Joe tidak bisa berkata apa-apa selain merasa terharu.
Setelah resmi dilantik menjadi Master, Joe datang kembali ke makam Rain. Ia berdoa di dekat makam itu. Tiba-tiba Joe merasakan ada tangan hangat yang memegang pundaknya. Perlahan ia menoleh. Rain. Ia memakai baju serba putih sekarang. Rain tersenyum. Joe balas tersenyum. Rain kemudian berbalik, pergi dan menghilang.
Joe merasakan kebahagiaan yang mendalam... Seumur hidup ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu.. Gabriel sembuh... ia dianugerahi gelar Master... Joe pulang ke rumah dengan hati riang, dalam hatinya ia merasa bahagia karena hidupnya akhirnya akan tenang.


--THE END—




2 komentar:

Arman Zega mengatakan...

panjang banget ya. haha. tapi keren kok ceritanya. imajinasinya luar biasa.

kunjung balik ya

Puspa Allamanda Blog mengatakan...

Belom sepanjang novel kok ;D haha makasih yaaa.. Oke menuju TKP :D