Minggu, 10 Januari 2016

Janji Seorang Sahabat

JANJI SEORANG SAHABAT
Di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joshua Rendy dan Hans Santoso. Joe adalah seseorang yang cerdas dan hidup sendiri tanpa orang tua. Sedangkan Hans adalah anak keluarga berada yang kurang beruntung karena memiliki penyakit yang mematikan, yaitu hemofilia .Namun persahabatan mereka tidak terhalangi oleh perbedaan itu. Keduanya sama-sama menyukai sulap. Mereka berdua sering sekali mempraktikkan trik-trik sulap bersamaan. Pada suatu hari, Joe yang sedang duduk santai di rumahnya, tidak sengaja melihat iklan audisi “Magic Grand Prix” yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta. Joe yang sangat menyukai sulap, sangat bersemangat dan tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dengan cepat ia berkunjung ke rumah Hans, dan memberitahukan tentang kompetisi itu. Hans tentu saja tertarik dan menyambutnya dengan antusias. “Ini saatnya kita menggapai mimpi kita, Hans! Menjadi pesulap professional!” kata Joe dengan riang gembira. “Kapan Joe mulai audisinya?” tanya Hans dengan antusias. “Tanggal 5.. 2 minggu lagi. Audisinya di Jakarta…bisa kau bayangkan bila kita menang, Hans? Kita akan terkenal… orang-orang mengelu-elukan kita.. bahkan kita bisa tampil di London Teater!” seru Joe gembira. Hans tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, aku akan memberitahu orangtua aku. Semoga mereka mengizinkan aku ikut kompetisi itu!” Joe mengedipkan matanya. “Beritahu aku setelah itu, ok?” kemudian Joe pulang ke rumahnya.
Waktu makan malam pun tiba. Hans dengan takut-takut menceritakan tentang kompetisi “Magic Grand Prix” tersebut. Ternyata, orangtua Hans sama sekali tidak suka dan tidak mengizinkan Hans untuk mengikuti audisinya. Tentu saja,  Hans merasa kecewa sekali dengan kedua orangtuanya. “Mama dan Papa memang tidak pernah mengerti aku!” serunya,, dan ia masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintunya. Kedua orangtuanya hanya bisa diam melihat kekecewaan anaknya itu. Keesokan harinya, seperti biasa Joe mampir ke rumah Hans. Joe dengan riang menceritakan bahwa tabungannya sudah cukup untuk pergi ke Jakarta. Ia membicarakan apa yang akan ia persiapkan untuk audisi nanti. Hans mendengarkan dengan murung. Joe akhirnya berhenti berbicara. “Kenapa kau, teman?” tanyanya. Joe menepuk pundak Hans. “Ayolah, hari ini cerah sekali! Kenapa mukamu mendung seperti itu?”
“Joe, orangtuaku tidak mengizinkan aku untuk pergi ke Jakarta dan mengikuti audisi Magic Grand Prix,” jawab Hans pelan. Joe tertegun. Ia merasa sangat iba dengan kawannya itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Kau pergi saja kesana… jangan gara-gara aku kau jadi tidak bisa menggapai mimpimu,” kata Hans. “Aku akan selalu mendukungmu”. Joe hanya terdiam. Ia sebenarnya sangat ingin mengikuti audisi kompetisi itu bersama-sama dengan Hans. Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Tapi jika orangtua Hans tidak mengizinkan, apa boleh buat. Joe tidak bisa memaksa, ia juga tidak bisa berbuat apapun, ia juga maklum akan keputusan orangtua Hans, mengingat Hans memang sangat lemah, dan penyakit hemofilianya bisa merenggut nyawanya kapan saja. Joe mengangguk pelan. “Kalau itu keputusan orangtuamu, baiklah kawan, aku bisa mengerti,” ujar Joe. “Tapi kau harus janji padaku,” jawab Hans. “Berjanjilah kau akan memenangkan kompetisi itu! Kalau tidak aku akan sangat marah kepadamu!” kata Hans diiringi gelak tawa Joe. Mereka berdua kemudian mengaitkan kelingking mereka. “Best Friends Forever!”kekeh keduanya.
Hari demi hari pun berlalu. Joe dengan giat berlatih untuk audisi Magic Grand Prix. Ia selalu berlatih bersama Hans. Tak terasa, tiba-tiba saja hari audisi akan tiba dalam kurun waktu 4 hari lagi. Joe semakin merasa tegang.  “Permainan sulapmu sudah sangat bagus Joe, tidak usah khawatir,” ujar Hans, ia geli melihat sahabatnya begitu gugup, padahal waktu audisi masih 4 hari lagi. “Kau akan datang dan mendukungku di audisi nanti kan?” tanya Joe penuh harap. Hans mengangguk mantap. “Tentu saja” ujarnya. Joe tersenyum, kemudian mengacak rambut Hans. “Kau memang sahabat terbaikku!” serunya sambil terkekeh.
Keesokan harinya, Joe kembali mampir ke rumah Hans. Ia ingin menyiapkan kebutuhan untuk audisi bersama Hans. Namun, alangkah herannya Joe, saat ia melihat ada mobil ambulans diparkir di rumah Hans. Perasaan Joe sangat tidak enak. Setengah berlari ia menghampiri rumah Hans, ketika tiba-tiba Pak Andre, ayah Hans, menghampirinya. “Joe…..Hans meninggal saat sedang tidur,” bisiknya sedih. Bagai disambar petir Joe mendengar kata-kata Pak Andre. Kemudian secara refleks ia berlari ke dalam ambulans tersebut. Dengan cepat Joe kemudian menyibakkan kain putih yang menutupi ranjang di dalam ambulans. Setelah menyibakkan kainnya, Joe tertegun. Tampak di depannya,sahabat terbaiknya, Hans, sudah terbujur kaku, memakai piama, wajahnya begitu pucat, matanya terpejam dan tangannya mendekap. Bibirnya tersenyum. Wajahnya terlihat begitu damai. Kalau tidak ada setetes darah kering yang muncul di ujung bibirnya dan ujung lubang hidungnya, Hans bisa disangka sedang tidur. Joe dilanda shock. Meski ia mengetahui tentang penyakit Hans, tetap saja Joe tidak siap untuk kehilangan sahabatnya. Perlahan-lahan ia jatuh berlutut.
2 hari kemudian, hari pemakaman Hans pun tiba.  Joe masih tidak percaya sahabat terbaiknya di dunia telah meninggalkan ia untuk selama-lamanya. Joe berusaha tampak tegar meski hatinya sakit sekali. Ia berjalan ke ruang depan rumah duka dengan langkah lesu, kemudian ia duduk. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tidak keluar.
“Joe?” panggil seseorang. Joe menoleh perlahan. Ternyata yang memanggilnya adalah Pak Andre. “Bolehkah aku duduk?” tanya Pak Andre lembut. Joe mengangguk perlahan, kemudian menggeser posisi duduknya. Ia berusaha keras untuk tidak menatap wajah Pak Andre.

Selama beberapa menit, terdapat kesunyian yang canggung di antara mereka berdua.  “Kau harus menang dalam kompetisi Magic Grand Prix itu, Joe. Jika kau tidak menang, Hans tidak akan pernah memaafkanmu,” gumam Pak Andre memecah keheningan. Joe hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa.  Ia hanya menggigit bibirnya, berusaha keras agar tidak menangis di hadapan Pak Andre.
Kemudian, secara tiba-tiba dan tak sadar, Joe menabrakkan kepalanya ke dada Pak Andre. “Hans bilang ia akan datang ke audisiku dan mendukungku! Tapi ia tidak menepati janjinya!” seru Joe tergagap, air matanya menetes secara perlahan ke kerah kemeja Pak Andre. Pak Andre memeluk dan membelai rambut Joe, layaknya Joe adalah seorang putranya sendiri. “Joe sayang, tenang Nak, Hans sudah lama sakit, kau tahu itu! Tak ada gunanya menangis. Hans tidak akan kembali! Ia sudah tidak kesakitan lagi,” ujar Pak Andre pelan. “Hapus air matamu Nak.” Joe melepaskan diri dari pelukan Pak Andre. Ia merasa malu karena tidak bisa mengontrol emosinya.  “Bolehkah aku melihat Hans untuk terakhir kali?” tanya Joe masih dengan suara sengau. “Bicara apa kau, Nak? Tentu saja boleh!” kata Pak Andre lembut.
. Joe kemudian masuk ke dalam rumah duka itu. Jenazah Hans masih berbaring disana, tangannya mendekap, matanya tertutup dan tersenyum. Wajahnya terlihat damai sekali. Ia bisa disangka sedang tidur. Perlahan-lahan Joe menatap jenazah sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kancing atas kemeja Hans terbuka. Joe kemudian mengancingkan kancing itu dengan pelan.
Secara perlahan-lahan, Joe kemudian menekukkan lututnya. Ia ingin bicara untuk yang terakhir kali kepada sahabat karibnya itu. Meski Joe tahu, tindakannya ini bodoh. Kepala Joe telah sejajar dengan kepala jenazah Hans sekarang. Joe kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Hans. “Hey ini aku, jagoan bodoh,” bisik Joe.
“Kau egois, eh? Katanya kau akan menemaniku sampai kapanpun. Kau bilang, kau akan selalu mendukungku. Kau bilang, kau akan datang ke audisiku. Tapi kau malah enak-enakan tidur disini,” gumamnya. Joe kemudian tertawa kecil. Ia kemudian menyedot ingus yang perlahan keluar dari hidungnya.
“Kau tahu, aku benci padamu. Aku benci kau melanggar janji kita untuk bersama selamanya. Aku benci kau tidak menepati janjimu untuk datang ke audisiku, ” lanjutnya lagi dengan suara yang sangat sengau. “Kau pergi begitu saja tanpa pamit. Tahukah kau itu perbuatan yang sangat tidak sopan?” Joe memaksakan diri untuk tertawa. “Aku benci kau, Hans. Aku benci kau meninggalkanku sendirian begitu saja seperti ini.” gumam Joe lagi. Selama sepersekian detik, Joe hanya menatap jenazah Hans dengan tatapan yang sangat kosong. Tiba-tiba di benaknya, terlintas sesuatu. Joe melepas sebelah sepatu Hans dengan sangat hati-hati. Ia kemudian melepas sebelah sepatunya juga. Kemudian Joe mengeluarkan spidol dari sakunya. Ia kemudian menulis inisial namanya dan nama Hans di sepatu mereka masing-masing. Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Joe memakaikan kembali sepatu yang telah ia tulisi dengan inisial namanya dan nama Hans ke kaki jenazah Hans. Sekarang jenazah Hans tampak agak ganjil dengan mengenakan sepatu yang berbeda, dengan masing-masing sepatu bertuliskan huruf “JR” dan “HS”. Tanpa disadarinya, ia tersenyum. “Pergilah ke surga, biar para malaikat menjagamu kawan,” bisiknya. “Sampaikan salamku terhadap papa dan mama kalau kalian bertemu di surga.”
Joe akhirnya berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh Pak Andre dan Bu Rita. Tampak banyak sekali pesulap yang mengikuti audisi tersebut, mungkin jumlahnya ribuan. Joe mengambil nomor antrian dengan gugup, kemudian duduk di ruang tunggu. “Tenang saja, sulapmu kan sudah hebat Nak, aku yakin kau pasti berhasil,” kata Pak Andre sambil menepuk punggung Joe.  Joe hanya bisa tersenyum kecil, ia tidak bisa berkata apa-apa saking tegangnya. Sambil membunuh waktu, Joe kemudian mengeluarkan beberapa alat sulap dari tasnya. Karena terlalu bersemangat, akhirnya alat-alat sulap tersebut berserakan di lantai. Joe kemudian membungkuk dan mengambil kembali alat-alat sulapnya yang berceceran.
Saat tengah merapikan alat-alat sulapnya, tiba-tiba Joe menemukan sebuah foto.  Dengan heran ia mengambil foto tersebut. Ternyata, foto itu adalah foto ia dan Hans. Joe sama sekali tidak ingat pernah menyimpan foto ini. Tampak di dalam foto itu Hans kelihatan sehat dan sangat tampan dengan memakai jersey Manchester United berwarna biru. Tangannya yang diperban merangkul Joe yang terlihat sedikit menutup mata dalam foto itu. Joe menatap foto itu dengan seksama. Tangannya langsung bergetar. Secara perlahan Joe membalik foto itu. Ada sebuah pesan yang ditulis tangan oleh Hans. Dengan tangan bergetar Joe membaca pesan itu.
Dear Joshua Rendy aka David Copporfield gadungan super,
Selamat ulang tahun! Sukses terus! Panjang umur! Sehat selalu……(jangan seperti aku yang bolak-balik ke rumah sakit terus seperti setrikaan).. Cepat menikah! Cepat dapat jodoh! Cepat cari pendamping hidup! Buatlah bangga terus almarhum kedua orang tuamu! Buat mereka tersenyum dari surga! (jangan seperti aku yang cuma bisa menyusahkan kedua orang tua ku dan membuat mereka sedih terus) Maaf aku cuma bisa beri kau kado ulang tahun ini. Supaya kau ingat aku terus, hahahaha!!! Maaf juga aku menaruhnya diam-diam di dalam tasmu!
Wish you all the best, my best friend and my best brother!
Dari temanmu yang tampan
Hans Santoso
Mata Joe menyusuri bagian bawah belakang foto itu. Tampak sebuah gambar yang digambar oleh Hans. Joe kemudian memperhatikannya dengan baik-baik. Ternyata gambar tersebut adalah karikatur ia dan Hans. Dalam karikatur tersebut, Hans tampak mengangkat Joe di atas pundaknya. Di sebelahnya terdapat tulisan  “JOE SI JUARA MAGIC GRAND PRIX”.
Joe menggigit bibirnya.  Dadanya terasa sesak sekali, yang tidak ada hubungannya dengan asap rokok yang kini menjalar dari peserta lain di ruangan. Dalam hatinya ia merasa sangat tolol. Bagaimana mungkin ia baru mengetahui kalau Hans memberikan kado ulang tahun ini setelah Hans tiada? Ia tidak bisa mengucapkan terima kasih atau mengacak rambut Hans karena telah memberikan ini untuknya. Ia juga tidak bisa meledek gambar Hans yang seperti gambar anak usia kelas 6 SD.  Dengan perlahan Joe memasukkan foto itu ke dalam sakunya. Foto itu memberikan kekuatan untuk Joe.  Joe akhirnya mengikuti audisi Magic Grand Prix. Dari sejak audisi, Joe sudah membuat para juri terpukau.. Perjalanan Joe cukup panjang di kompetisi Magic Grand Prix tersebut. Sampai akhirnya malam final tiba, dan Joe dinobatkan menjadi juara. Saat dinobatkan menjadi juara, Joe melihat kursi yang kosong, dalam hatinya ia berpikir, kursi kosong itu seharusnya diduduki oleh Hans.
“Untuk siapa kemenangan ini kau persembahkan?” tanya pembawa acara Magic Grand Prix tersebut. Joe menghela nafas. “Untuk sahabat saya, Hans Santoso. Seharusnya ia juga berdiri disini bersama saya, tapi kini ia telah tiada. Seharusnya ia mendukung saya di kompetisi Magic Grand Prix ini, tapi ia pergi mendahului saya. Untuk itu, saya persembahkan kemenangan saya ini untuk mengenang persahabatan kami yang tak akan lekang oleh waktu,” kata Joe.
Seluruh hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Sebagian bahkan ada yang mencucurkan air mata. Joe menatap ke atas... Hans pasti sedang mengawasinya dari surga sana... Dirinya tidak akan lekang oleh waktu.. Dan saat itu, Joe baru menyadari bahwa Hans tidak pernah benar-benar pergi, melainkan akan selalu hidup di dalam hatinya.



Tidak ada komentar: